Naya Aurelia hanya ingin menjalani tahun terakhirnya di SMA dengan tenang. Sayangnya, ayahnya justru membuat keputusan gila: menikahkannya dengan anak sahabatnya. Lebih buruk lagi, calon suaminya adalah Arka Pradipta, ketua OSIS sekaligus laki-laki yang paling Naya benci. Demi menjaga reputasi keluarga, pernikahan itu harus dirahasiakan sampai mereka lulus sekolah. Setiap hari mereka bertengkar karena hal-hal sepele, saling menjahili, bahkan berlomba membuat satu sama lain kesal. Namun, ketika orang lain mulai mendekati Naya, Arka mendadak berubah posesif. Begitu pula Naya yang mulai merasa tidak nyaman melihat Arka bersama gadis lain. Tanpa mereka sadari, kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 28 — KESALAHPAHAMAN
Sore hari menjelang penutupan Garuda Bangsa Art Festival 35 diwarnai oleh warna jingga yang hangat di langit barat. Acara berlangsung sukses besar, namun kelelahan yang luar biasa melingkupi seluruh panitia.
Naya baru saja selesai merapikan kostum drakor dan peralatan teater kelasnya di ruang penyimpanan belakang panggung. Wajahnya yang sedikit memerah gara-gara riasan panggung tampak lelah namun puas. Saat berjalan menyusuri koridor samping menuju kantin untuk mengambil botol air, langkah Naya terhenti oleh percakapan dua orang siswi anggota divisi konsumsi yang berdiri di dekat tangga.
"Wah, pantesan tadi Arka dicariin Pak Danu nggak ada di sekretariat," kata salah satu siswi sambil merapikan ID card-nya.
"Iya, tadi gue liat sendiri Arka naik ke mobilnya di parkiran luar bareng Melisa," timpal siswi satunya lagi dengan nada berbisik. "Katanya Melisa minta anterin borong sisa makanan buat syukuran panitia ke restoran depan. Mana Melisa masuk ke kursi samping pengemudi santai banget lagi."
"Duh, mereka berdua emang serasi banget sih. Selesai festival langsung jalan bareng gitu."
Deg.
Kalimat itu menghantam dada Naya bagaikan tamparan tak kasat mata di tengah sore yang tenang.
Naya membeku di tempatnya berdiri, jemarinya meremas tali gaun retronya erat-erat. Seluruh rasa bahagia dan kepuasan atas suksesnya pertunjukan drama kelasnya menguap dalam hitungan detik, berganti menjadi sebuah lubang hampa yang teramat dingin dan sesak di dalam dadanya.
Arka... jalan bareng Melisa? Setelah festival selesai? batin Naya dengan napas yang mendadak terasa berat.
Naya tidak tahu bahwa kenyataannya, Arka terpaksa mengantar Melisa karena Melisa harus membawa tiga dus besar donat pesanan sponsor dari restoran depan untuk seluruh panitia, dan Dito—yang harusnya bertugas—mendadak dipanggil pembina untuk merekap laporan keuangan. Naya tidak tahu bahwa Arka menerima tugas itu murni demi tanggung jawab acara.
Sebab yang terlintas di kepala Naya yang diliputi rasa cemburu adalah kenyataan pahit bahwa Arka tidak pernah menolak Melisa. Bahwa di mata orang-orang, Melisa-lah yang pantas berdiri di samping sang Ketua OSIS, bukan dirinya yang selalu membuat masalah.
Naya membuang muka, melangkah pergi menuju gerbang sekolah tanpa menunggu Arka lagi.
Malam harinya di rumah keluarga Pradipta, atmosfer di dalam kamar tidur mereka terasa mencekam dan begitu kaku.
Arka baru saja selesai mandi usai memarkir mobilnya di garasi. Ia melangkah masuk ke kamar dengan kaus santai dan celana kain, bermaksud menanyakan respon Naya atas suksesnya festival hari ini. Namun, ia mendapati Naya sedang mengemasi buku-buku pelajarannya ke dalam tas dengan gerakan yang amat kasar dan dingin.
Arka menghentikan langkahnya di dekat meja belajar, mengerutkan kening. "Naya? Kamu tadi pulang duluan naik apa? Kenapa tidak tunggu saya di tempat biasa?"
Naya tidak menoleh. tangannya lincah memasukkan kotak pensil tanpa memandang Arka sedikit pun. "Naik angkot. Lagi pengin."
"Kamu tahu kan aturan kita?" suara Arka berubah sedikit lebih tegas. "Kamu seharusnya tidak berkeliaran sendirian sore-sore dalam kondisi lelah. Kalau ada apa-apa di jalan bagaimana?"
Naya menghentikan gerakan tangannya. Ia berbalik, menatap Arka dengan mata bulatnya yang dingin dan hampa—sebuah tatapan yang belum pernah Arka lihat sebelumnya.
"Suka-suka gue dong," balas Naya singkat, nadanya datar tanpa emosi. "Lagian lo kan sibuk. Mana sempat ngurusin gue."
Arka tersentak tipis, menghembuskan napas panjang. "Saya sibuk mengurus sisa konsumsi panitia, Naya. Itu tugas saya sebagai Ketua Pelaksana."
"Iya, tugas," cibir Naya dengan senyum sinis yang dipaksakan untuk menutupi rasa sakit di hatinya. "Tugas mengantar Melisa ke mana-mana, kan? Dari kemarin Melisa terus. Dari kemarin perhatian ke Melisa terus. Mending lo nggak usah pura-pura peduli sama gue deh, Arka."
Arka membelalakkan matanya kaget. Kesabaran dan rasa lelah usai festival membuat pertahanan tenangnya ikut runtuh. "Melisa? Kamu bahas Melisa lagi?! Tadi itu urusan pekerjaan, Naya! Melisa butuh bantuan mengambil donat sponsor buat panitia! Kenapa kamu selalu menyimpulkan sesuatu yang tidak benar tanpa bertanya dulu?!"
"Karena gue capek!" sembur Naya, suaranya naik satu oktav dan bergetar hebat. "Gue capek liat lo selalu punya alasan buat dekat sama dia! Lo bebas mau jalan sama siapa aja, lo bebas mau suka sama siapa aja! Kita ini cuma menikah gara-gara terpaksa sama janji orang tua kita, ingat?!"
Kata-kata Naya yang terlontar dalam emosi meluap-luap itu memukul kesadaran Arka bagaikan hantaman gelombang keras.
Arka membeku di tempatnya berdiri. Manik mata hitamnya menatap Naya dengan kilat kekecewaan dan rasa sakit yang teramat nyata. Rahangnya menegang keras.
"Ooh... jadi begitu menurut kamu?" suara Arka berubah menjadi sangat rendah, dingin, dan menusuk hingga ke ulu hati. "Pernikahan ini cuma keterpaksaan?"
Naya menelan ludah kasar, dadanya naik turun memburu. Ia tahu kata-katanya tadi terlalu tajam, tetapi rasa gengsi dan luka cemburunya menahan Naya untuk tidak menarik kalimat itu kembali.
Arka melangkah mendekat satu jengkal, menatap Naya lurus-lurus dengan nada bicara yang teramat dingin—sebuah ketenangan berbahaya yang jauh lebih menakutkan daripada bentakan.
"Kalau memang begitu anggapan kamu..." kata Arka pelan, setiap katanya dijatuhkan dengan penekanan yang menyakitkan, "...seharusnya kamu tidak perlu peduli saya jalan sama siapa atau dekat sama siapa. Kamu yang bilang sendiri, kan? Ini cuma status di atas kertas."
Deg.
Kalimat itu menghantam ulu hati Naya begitu dalam hingga rasanya napasnya berhenti seketika.
Arka memutar tubuhnya, menyambar jaketnya dari atas kursi, lalu melangkah keluar dari kamar dan membanting pintunya pelan—namun meninggalkan suara kait kunci yang bergema tebal di dalam keheningan.
Naya berdiri terpaku sendirian di tengah kamar. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes membasahi pipinya satu per satu.
Kalimat Arka—“Seharusnya kamu tidak perlu peduli”—bergema berulang kali di kepalanya, meninggalkan luka mendalam di dadanya.
Malam itu, dalam kesalahpahaman yang tak terucapkan dan gengsi yang membumbung tinggi, kedua remaja itu sama-sama menyadari betapa dalam kata-kata satu sama lain sanggup melukai hati mereka—membuktikan bahwa rasa benci di antara mereka telah sepenuhnya menjelma menjadi perasaan yang jauh lebih berbahaya.