Kisah perjalanan Pendekar Naga dalam membasmi kejahatan yang di sebabkan oleh Pendekar Aliran Hitam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adih Supriadi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 25
PERANG BESAR
Situasi perang di Pantai Rinjani, pantai yang indah dengan suasana bukit dan pasir yang putih bersih, serta ombak yang menghantam pantai dengan irama yang menenangkan.
Keindahan itu seketika sirna, terisi oleh ratusan tenda dan ribuan prajurit KHAN yang sudah 9 bulan menjadikan Pantai Rinjani sebagai markas besar dalam mengadakan misi penaklukan atau misi menguasai Kerajaan Rinjani.
Kerajaan Rinjani, kerajaan terkecil di Nusantara, tentu tak sanggup menghalau pergerakan invasi dari Kerajaan Khan yang terkenal hobi menjajah dan berperang.
Kerajaan Rinjani yang lemah dan tidak siap menghadapi serangan besar-besaran dari Kerajaan Khan, segera meminta bantuan dari Kerajaan Kencana dan Kerajaan Andalas yang selama ini sudah terjalin persahabatan yang erat.
Kerajaan Rinjani bersyukur karena Kerajaan Kencana dan Kerajaan Andalas bersedia membantu dengan mengirim bala tentara yang terlatih dan berpengalaman.
Dengan bantuan ini, Kerajaan Rinjani berharap dapat mengusir pasukan Khan dan mempertahankan kedaulatannya.
Pasukan gabungan dari Kerajaan Kencana dan Kerajaan Andalas segera bergerak menuju Pantai Rinjani, siap menghadapi pasukan Khan dan mempertahankan persahabatan serta kedaulatan Kerajaan Rinjani.
Jendral Tongji mengumpulkan perwira perang di berbagai titik, mengadakan rapat pagi hari untuk membahas strategi penyerangan terhadap Kerajaan Rinjani.
Beberapa pendekar bayaran dari Nusantara juga dikumpulkan, termasuk 10 pendekar baru yang datang demi bayaran tinggi dan membela pasukan Khan.
Mereka dijanjikan jabatan jika pasukan Khan berhasil menguasai Kerajaan Rinjani.
"Besok, 2 titik kanan dan kiri maju menyerang dengan kekuatan penuh untuk menguasai 10 persen wilayah," ucap Jendral Tongji.
"Wilayah tengah akan dikirim Pendekar Mata Malaikat untuk berduel dengan Pendekar Naga Putih dan mengalihkan perhatian mereka agar tidak membantu wilayah kiri dan kanan."
Para pendekar bayaran dibagi dua ke wilayah kanan dan kiri untuk membantu penyerangan dan mengatasi para pendekar di pihak lawan.
"3 hari setelah penyerangan, kita akan menyerang di hari ke 4 di pagi hari dengan menggunakan 50 persen pasukan," lanjut Jendral Tongji.
"Kita serang secara serempak mengelilingi wilayah tengah, dan ingat, penyerangan itu hanya untuk menghancurkan benteng-benteng atau bangunan yang ada. Jika benteng yang terbuat dari kayu itu hancur, kita mundur. Sore hari harus sudah mundur semuanya."
Setelah itu, pasukan Khan akan beristirahat selama 4 hari untuk menyiapkan penyerangan utama di hari ke 5.
"Jika semua ini berhasil, maka kita berhasil menguasai 60 persen wilayah dari Kerajaan Rinjani," ucap Jendral Tongji dengan percaya diri.
"Dan jika semua terlaksana, maka kita akan siapkan kondisi untuk menyerang langsung ke Kerajaan Rinjani."ucap Jendral Tongji.
"Pendekar Mata Malaikat, apakah kau siap untuk esok hari bertarung dengan Pendekar Naga Putih?" tanya Jendral Tongji dengan nada serius.
"Saya siap jendral... Esok hari jika saya tak mati, maka dapat dipastikan Pendekar Naga Putih lah yang mati," ucap Pendekar Mata Malaikat dengan nada percaya diri dan sedikit arogan.
Jendral Tongji tersenyum, puas dengan jawaban Pendekar Mata Malaikat.
"Bagus, saya percaya kemampuanmu. Pastikan kamu mengalahkan Pendekar Naga Putih dan mengalihkan perhatian mereka dari wilayah kiri dan kanan," ucap Jendral Tongji dengan nada perintah.
"Baiklah, rapat selesai. Esok pagi, wilayah kanan dan kiri kita serang sesuai rencana," ucap Jendral Tongji memberikan kata penutup.
Rapat bubar, dan para perwira pagi itu meluncur ke wilayah masing-masing untuk mengkoordinir rencana melakukan perang di esok pagi.
Matahari sudah naik ke atas, Jendral Tongji keluar dari tenda, melihat pantai yang indah dan hiruk pikuk kegiatan prajurit.
Jendral memanggil asistennya, menanyakan jumlah prajurit di wilayah tengah yang terluka.
Asisten menjelaskan bahwa yang terluka parah dan tidak bisa ikut sekitar 300 prajurit, dan yang meninggal sudah ribuan.
Dahi Jendral Tongji mengerenyit, tidak menduga akan mengorbankan banyak nyawa untuk menguasai Nusantara ini.
Jendral Tongji tidak mengira bahwa Kerajaan Rinjani mampu bertahan selama ini, dan tidak menduga banyak pendekar sakti yang terdapat di Nusantara.
"Di daerah Kerajaan Khan, pendekar sakti sedikit dan rata-rata menjabat atau menjadi orang kerajaan, sedangkan di sini, seorang pendekar tidak memiliki jabatan dan bekerja biasa, berkebun atau bertani," pikir Jendral Tongji dengan heran.
***
Sementara itu di Kerajaan Kencana, Jasiren sedang santai ngobrol dengan Raja Kencana.
Jasiren mengatakan keinginannya untuk bergabung dengan anaknya, Arden, di medan perang di wilayah Kerajaan Rinjani melawan Kerajaan Khan.
Awalnya, Raja menolak karena posisi Jasiren adalah penasehat kerajaan dan kehadirannya di kerajaan sangat diperlukan.
Namun, Raja juga memaklumi bahwa Jasiren sebagai pendekar sakti pasti jiwa pendekarnya membara dan ingin ikut bertarung membela kebenaran.
Apalagi ada anak pertama Jasiren di medan perang, yaitu Arden si Pendekar Naga Putih, yang bulan lalu terluka cukup parah terkena panah di kaki dan bertarung dengan Jenderal nomor satu dari Kerajaan Khan, yaitu Jenderal Tongji.
"Baiklah, Jasiren... Pasti kamu sudah berpikir banyak tentang hal ini sebelum kamu membicarakan hal ini ke saya... Saya izinkan kamu ke medan perang," ucap Raja Kencana dengan nada bijak.
"Kamu berencana berangkat kapan?" tanya Raja Kencana.
"Rencana 3 hari lagi saya berangkat, hari ini saya akan kirim utusan ke Perguruan Naga Langit untuk meminta bantuan agar Pendekar Naga Langit bersedia mengirim Pendekar Naga Hijau dan Hitam untuk ikut bergabung dengan saya," ucap Jasiren dengan tekad yang kuat.
"Baiklah, 3 hari lagi ya... Saya akan berikan 500 pasukan untuk ikut denganmu dan mengutus Jendela Cokro untuk ikut guna mengatur pasukan," ucap Raja Kencana dengan nada yang mendukung.
"Jendral Cokro, sini kamu..." ucap Raja Kencana memanggil Jendral Cokro, seorang jenderal perang yang cukup berpengalaman dan pernah ikut dalam peperangan antara Kerajaan Kencana melawan Kerajaan Jasinga.
"Jendral, saya tugaskan kamu untuk menyiapkan 500 prajurit dan kamu pimpin pasukan tersebut untuk ikut bersama Pendekar Jasiren guna membantu Kerajaan Rinjani menghalau invasi dari Kerajaan Khan," ucap Raja Kencana dengan nada yang tegas.
"Siap, Raja. Saya akan menjalankan perintah Raja dan saya akan bekerja sama dengan Penasehat Kerajaan, yaitu Pendekar Jasiren, guna membantu Kerajaan Rinjani menghadapi Kerajaan Khan," ucap Jendral Cokro dengan nada yang penuh semangat dan kesetiaan.
Jendral Cokro langsung bergerak untuk menyiapkan pasukan dan mempersiapkan diri untuk berangkat ke medan perang.
***
Esok harinya di Perguruan Naga Langit, sore hari.
Guru Naga Langit menerima kedatangan utusan dari Kerajaan Kencana yang diutus oleh Penasehat Kerajaan Kencana, yaitu Pendekar Jasiren, ayah Arden.
Guru Naga Langit berpikir dan merenung sejenak, lalu memanggil kedua muridnya, yaitu Oval dan Apis.
"Anak-anakku, Oval dan Apis, saya ingin meminta kalian untuk ikut serta ke Kerajaan Kencana untuk berangkat dengan Jasiren guna membantu Kerajaan Rinjani melawan Kerajaan Khan," ucap Guru Naga Langit dengan nada yang serius.
"Ikut bergabung dengan Arden yang sudah lama berada di garis depan Medan Pertempuran ."
Guru Naga Langit memutuskan untuk ikut serta dalam peperangan ini.
Oval dan Apis terkejut dengan keputusan Guru Naga Langit untuk ikut dalam peperangan.
"Guru, apa yang membuat Guru mengambil keputusan untuk ikut dalam peperangan ini?" tanya Oval dengan rasa penasaran.
"Jiwa pendekar ku tetap ada, yaitu membela yang benar," jawab Guru Naga Langit dengan tegas.
"Jiwa bertarung ku masih ada, apalagi Jasiren sahabat ku turun juga untuk ikut berperang, jadi saya putuskan untuk ikut bergabung."
"Karena invasi dari Kerajaan Khan, jika berhasil menguasai Kerajaan Rinjani, nanti akan menyerang kerajaan lain dan akan menjajah. Jika dibiarkan, akan berbahaya bagi kedamaian rakyat Kerajaan Kencana di masa yang akan datang. Karena sifatnya menjajah itu untuk mengambil hak orang lain, bukan untuk mensejahterakan rakyat," ucap Guru Naga Langit dengan nada yang bijak.