"Cukup, Repan! Aku sudah benar-benar muak menghadapi situasi ini! Hubungan kita selesai!" Sasa melemparkan tatapan penuh rasa jijik ke arah pemuda di hadapannya.
Repan menetap di Kota Bogor.
Kota hujan ini menyuguhkan panorama alam yang sejuk dan asri di permukaan, namun menyimpan sisi kelam yang pekat di sudut-sudut tersembunyinya.
Di balik rimbunnya pepohonan dan kabut tipis, kota ini juga menjadi rumah bagi menjamurnya organisasi massa liar, kelompok kriminal jalanan, hingga oknum-oknum berseragam yang kerap memanfaatkan hukum demi keuntungan pribadi.
Bagaimana kelanjutannya..?
"Cerita ini sepenuhnya fiksi. Nama, tokoh, tempat, dan kejadian adalah karangan penulis."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Di dalam lubuk hatinya, Repan melayangkan perintah langsung.
'Sistem, kalkulasikan peta kekuatan mereka!'
[Anggota 1-10 - Kekuatan: 25-32]
[Bastian - Kekuatan: 39]
Bagan data transparan dari sistem bermunculan di atas kepala para anggota geng laksana bayangan biru melayang.
'Hmm... level kekuatan fisik anak buahnya nggak terlalu tinggi. Tapi si ketua cabang ini sedikit merepotkan...' Repan menarik napas panjang untuk menenangkan fokusnya.
'Namun dengan level kekuatanku saat ini yang berada di angka 50... ditambah dorongan Kick Boxing Lv.2 dan Wing Chun Lv.1... orang-orang ini bukan tandingan yang berarti!'
Sepuluh orang anggota geng itu menerjang maju secara serentak!
Wushhh! Wushhh!
Serangan jarak dekat datang menghujani Repan dari berbagai sudut. Namun Repan sama sekali nggak panik. Poros tubuhnya meliuk fleksibel dan lincah.
Setiap tebasan maupun pukulan lawan meleset tipis, seolah-olah ia sudah memprediksi dari mana arah datangnya serangan sebelum kepalan tangan mereka diayunkan.
Tak! Tak!
Repan menangkis pukulan dua orang musuh menggunakan teknik khas Wing Chun—sangat cepat, presisi, dan efisien. Detik berikutnya...
Buk! Buak!
Satu jab kilat bersarang di rahang kanan, satu lagi menghantam ulu hati. Dua berandalan langsung roboh mencium tanah.
Tak! Tak! Buak! Duak!
Dua tangkisan beruntun disusul dua tendangan melingkar. Tiga orang lagi tersungkur tak berdaya di atas aspal.
Sisa lima orang mencoba menyerang secara simultan dari sisi kiri dan kanan, namun Repan tetap tenang. Ia dengan sigap mengunci satu lengan lawan, menariknya ke depan untuk dijadikan tameng hidup. Empat penyerang sisanya langsung tertahan ragu.
Gagapnya pertahanan lawan langsung dimanfaatkan Repan untuk melepaskan gelombang serangan susulan.
Buk! Duak! Buk!
Kombinasi tinju dan hantaman siku melayang presisi mengincar area wajah, ulu hati, hingga titik-titik vital musuh. Mereka menjerit kesakitan sebelum akhirnya tumbang bertumpukan.
Hanya dalam kurun waktu satu menit, sepuluh orang personel geng motor ambruk dan mengerang tersiksa di tanah, sementara Repan berdiri tegap di tengah-tengah hamparan tubuh mereka.
Beberapa siswa dan warga sekitar yang kebetulan melintas di area luar pagar dari kejauhan langsung mengacungkan ponsel mereka dengan tangan gemetaran.
"Astaga! Dia nekat meladeni komplotan Geng GBA sendirian?!"
"Gila... sepuluh orang dilibas sekaligus tanpa ampun!"
Bastian menggetarkan giginya murka. Rona wajahnya memerah padam menanggung rasa malu yang teramat sangat.
"SIALAN!! NGGAK ADA YANG BERGUNA KALIAN SEMUA! MASA SATU LAWAN SEPULUH SAJA BISA KALAH KONYOL BEGITU, HAH?!" bentaknya kalap.
Dari sudut lapangan, Bimo menyaksikan adegan itu dengan sepasang mata yang membelalak lebar. Wajahnya memang masih dipenuhi luka lebam, namun raut mukanya kini dipenuhi oleh rasa takjub yang luar biasa.
'Sejak kapan... si Repan punya keahlian bertarung yang segila ini?!' batin Bimo kebingungan.
Bastian mengangkat tangannya lalu menunjuk lurus ke arah Repan.
"Kalian semua! Serbu dia bersamaan!! Jangan kasih dia napas sampai dia nggak bisa berdiri lagi!"
Tiga puluh orang anak buah yang tersisa langsung bersorak riuh membakar semangat.
"Bikin dia cacat sekalian!"
"Gue mau lihat mukanya nangis-nangis memohon ampun!"
"Ayo! Rame-ramein dia!"
Repan tetap bergeming di posisinya. Ia mengambil posisi kuda-kuda siap tempur—kaki kanan menggeser sedikit ke depan, sementara kedua tangannya terangkat mengunci pertahanan dengan teknik Wing Chun murni.
Seulas senyuman tipis terbit di bibirnya. Bukan senyuman keangkuhan, melainkan pameran rasa percaya diri yang absolut.
'Baiklah. Mari kita uji... apakah kapasitas baruku ini sanggup melibas tiga puluh orang sekaligus.'
Ketegangan di area lapangan meningkat drastis. Seluruh pasang mata tertuju lurus pada satu titik: Repan melawan tiga puluh orang berandalan motor. Dan Repan sedikit pun tak menyimpan rasa takut.
Melihat kokohnya posisi kuda-kuda Repan yang sama sekali tak menyisakan celah pertahanan, para anggota geng motor itu mendadak ragu untuk melancarkan serangan pertama, meskipun posisi mereka sudah mengurung Repan dari segala penjuru.
Menyaksikan anak buahnya malah beringut ragu, wajah Bastian kian memerah menahan amarah. Urat-urat di lehernya menegang keras.
"MAJU, TOLOL!!" teriaknya dengan suara meledak-ledak.
Wushhh!
Salah satu anggota geng yang berpostur paling lincah langsung melesat maju, bergerak cepat bagaikan pemangsa yang siap menerkam targetnya. Ia melompat ke udara, melayangkan tendangan melingkar yang mengincar langsung ke arah kepala Repan.
Namun... waktu seolah berputar lambat.
Repan menggeser poros tubuhnya sedikit lewat gerakan yang sangat halus dan presisi. Sepasang matanya yang tajam membaca alur pergerakan lawan laksana buku yang terbuka lebar.
Braaakkk!
Satu pukulan lurus yang sangat solid menghantam telak bagian tengah wajah berandalan tersebut. Tubuhnya terpelanting di udara, menghantam tanah dengan benturan keras, dan langsung tergeletak tak bergerak lagi.
Seketika itu juga, nggak ada satu pun yang berani tertawa. Mereka semua mulai sadar—lawan di hadapan mereka ini berada di level yang sepenuhnya berbeda.
"BRENGSEK! SERANG DIA BERSAMAAN!!" teriak salah satu anggota geng lain panik.
Mereka semua kehilangan kesabaran.
Wushhh!
Dua puluh sembilan orang sisanya langsung merangsek maju serentak, bergerak laksana gelombang air bah yang tak terhindarkan.
Tak! Tak! Tak! Tak!
Rentetan pukulan datang dari segala arah—depan, belakang, sisi kiri, maupun kanan. Repan menangkis beberapa serangan dengan teknik refleksnya, lalu meloloskan diri dari sisa tebasan lainnya. Tubuhnya menari lincah di antara kepungan pukulan mematikan.
Wush! Wush! Wush!
Ayunkan tendangan dan pukulan mentah melayang di udara, namun Repan terus mengayunkan kaki secara gesit dan efisien. Ia mementalkan serangan lawan memakai pertahanan Wing Chun, dan begitu menemukan celah sekecil apa pun...
Buak! Duk! Buak! Dak!
Satu per satu penyerang dihantam mundur sambil mengerang kesakitan. Tendangan swept bertenaga dari kapasitas Kick Boxing menyapu kaki lawan yang mencoba menyergap dari samping. Hantaman siku dan telapak tangan khas Wing Chun dilayangkan dengan kecepatan dan akurasi yang mematikan.
Di balik pagar luar lapangan, kerumunan massa mulai terbentuk. Puluhan siswa dan warga sekitar menyaksikan kekacauan di tengah lapangan tersebut dengan sepasang mata yang membelalak tak percaya.
"INI BENERAN NYATA?! DIA DIKEROYOK TIGA PULUH ORANG DAN MASIH BISA BIKIN LAWANNYA TUMBANG?!"
"Gila! Itu anak sekolah tingkat apa kok bisa sekuat itu?!"
"Cepat! Pisahkan mereka!" jerit seorang ibu-ibu dari balik pagar dengan nada panik.
"Nggak bisa, Bu! Itu kan anak-anak Geng GBA! Gila apa?!" sahut seorang pria warga sekitar yang tubuhnya gemetaran ketakutan.
"Mereka itu brutal! Siapa pun yang nekat ikut campur pasti ikut babak belur!"
Di tengah kekacauan pertempuran, Repan tetap mempertahankan fokusnya, walau fisiknya mulai menerima dampak benturan dari bentrokan massal tersebut.
Buaaak!
Satu pukulan keras sempat meloloskan diri dan mengenai pipinya, membuat kepalanya terlempar ke samping. Namun Repan sama sekali tak tersungkur. Sorot matanya masih menyalakan kobaran keberanian. Tanpa membuang waktu, ia langsung membalasnya dengan hujan pukulan beruntun!
Buk! Buk! Buk! Buk!
Puluhan pukulan dilepaskan dalam kurun waktu dua detik—mirip seperti kinerja mesin. Berandalan yang tadi melayangkan pukulan langsung roboh ke tanah, menggeliat kejang dengan deru napas yang memburu.
Lawan lain mencoba mengunci pergerakan Repan dengan memeluknya dari belakang.
Buuuk! Duak!
Repan menghantamkan sikunya secara brutal ke arah rahang belakang lawan, lalu memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan ke perut musuh hingga tubuh orang itu terangkat dari tanah.
Tetesan darah dan keringat mulai membahasi seragamnya, namun Repan masih berdiri tegak dengan kokoh.
Kini, hanya tersisa lima belas orang yang masih sanggup berdiri. Napas Repan mulai terasa agak berat, bidang dadanya naik-turun dengan cepat, namun sepasang matanya tak kehilangan fokus sedikit pun.
"Hahaha... ayo maju lagi lo semua, Bangsat! Cuma segini saja level kemampuan Geng GBA?! Lemah banget lo semua!!" teriak Repan lantang, menggemakan suara tantangan yang membelah area lapangan.
Pernyataan tajam itu sukses membuat beberapa anggota geng mendadak ragu... namun gengsi dan harga diri menahan mereka untuk mundur.
"BRENGSEK LO!!"
Mereka kembali merangsek maju.
Repan menggeser posisi kuda-kudanya. Kedua tangan yang semula berada di atas kini diturunkan ke posisi rendah. Kaki kanannya sedikit lebih maju. Teknik Wing Chun ditinggalkan sementara. Kini, saatnya ia mengerahkan potensi kekuatan penuh dari Kick Boxing.
'Tersisa lima belas orang lagi. Pakai Kick Boxing, aku bakal ratakan kalian semua dalam sekali tempur,' batin Repan seraya menyunggingkan senyuman dingin.
Para penonton di luar lapangan menahan napas mereka. Bentrokan tahap kedua tak lagi bisa dihindari. Dan kali ini... Repan bertekad untuk menuntaskan pertempuran ini hingga bersih.
Namun, tepat di saat Repan bersiap untuk melibas sisa anggota geng yang berdiri, sebuah suara melengking dari kejauhan mendadak memecah ketegangan atmosfer.
NGIUNG! NGIUNG! NGIUNG!
Suara sirine mobil kepolisian meraung nyaring, menggema memantul di sekeliling area lapangan.
"ANJING! POLISI!"
"Cabut, Bro! ADA POLISI DATANG!!"
"Bantu papah yang luka-luka! Bawa naik ke atas motor!"
Kepanikan seketika menyebar cepat laksana kobaran api. Barisan anggota Geng GBA mulai kocar-kacir. Beberapa di antaranya bergegas memapah rekan-rekan mereka yang sudah babak belur, berlari tersandung-sandung menuju ke barisan motor yang terparkir di pinggir lapangan.
Meskipun dua puluh lima personel mereka telah dibuat tak berdaya oleh Repan seorang diri, geng motor itu masih memiliki insting untuk melarikan diri. Mereka sangat paham, begitu sirine polisi terdengar, waktu mereka untuk meloloskan diri sudah sangat terbatas.
"Cepat starter motornya!"
"Bos! Polisinya makin dekat!"
Bastian, dengan raut wajah yang dipenuhi kobaran amarah yang membara, menatap tajam ke arah Repan dari jarak jauh.
"Repan! Anak bajingan lo! Lo beruntung banget hari ini!" teriaknya dengan nada melengking.
"Tapi dengar baik-baik ucapan gue! Urusan kita belum selesai! Gue bakal buru lo! Dan semua orang terdekat di sekitar lo juga bakal kena imbasnya! INGAT ITU!!"
Lalu, dengan satu hentakan gas yang meraung keras, puluhan sepeda motor melesat pergi meninggalkan area lapangan. Suara knalpot brong mereka memekakkan telinga, menyisakan kepulan debu dan bau bahan bakar yang menyengat di udara.
Repan tetap berdiri di tengah lapangan, deru napasnya masih memburu. Sepasang matanya menatap tajam ke arah melesatnya rombongan berandalan tersebut, dengan rahang yang mengeras kaku.
"Sialan... kalian yang beruntung. Kalau saja sirine polisi itu nggak bunyi, gue pastikan kalian semua masuk ruang inap rumah sakit hari ini," gumamnya jengkel.
Beberapa saat kemudian, kelima siswa korban perundungan yang sebelumnya dihajar—termasuk Bimo di dalamnya—perlahan sanggup berdiri menegakkan tubuh mereka kembali.
Wajah mereka dipenuhi memar kebiruan, namun ada pendar rasa lega yang terpancar jelas.
"Pan! GILA LO! Gue bener-bener nggak nyangka lo bisa seberani dan sejago ini! Lo belajar bela diri di mana coba?!" seru Bimo, berjalan tertatih-tatih menghampiri Repan dengan raut muka penuh kekaguman.
Repan hanya menaikkan satu alisnya, lalu menyahut lempeng, "Gue cuma otodidak belajar dari Tube."
"Hah?! Dari Tube? Jangan ngelawak deh lo, Bangsat. Lo kira gue anak TK yang gampang dibodohi?!" Bimo menyikut pelan lengan Repan, setengah bercanda, walau raut wajahnya masih memperlihatkan rasa takjub yang mendalam.
Para pengunjung dan warga yang menonton mulai membubarkan diri dari lokasi tersebut. Namun Repan dan Bimo masih tetap berdiri di tempat, menunggu kedatangan armada polisi yang mereka kira akan segera memasuki lapangan.
Namun, sosok yang mendadak muncul melangkah dari balik rimbunnya barisan pohon... ternyata bukanlah aparat kepolisian.
Seorang pria tampak melangkah tenang. Ia mengenakan setelan jas hitam berharga mahal, kemeja putih yang rapi, serta dasi yang terpasang agak longgar. Postur tubuhnya tinggi tegap dan berotot. Paras wajahnya tampan, dipadu dengan pancaran sorot mata yang teramat sharp.
Pria itu berjalan mendekati posisi Repan berdiri, lalu mengamati penampilan sang remaja dengan ketenangan yang luar biasa.
"Lumayan juga... Jarang sekali saya bisa bertemu dengan anak SMA yang memiliki kapasitas pertarungan sehebat ini," puji pria itu dengan vokal yang tenang namun terdengar berbobot.
Repan secara instan langsung memasang posisi siaga. "Siapa lo? Polisi?"
Pria itu terkekeh pelan. Tangannya merogoh ke dalam saku jas mewahnya, merengkuh sebuah gawai berbentuk kotak kecil yang ukurannya menyerupai walkie-talkie, lalu menekan salah satu tombol di bagian atasnya.
NGIUNG! NGIUNG!
Suara lengkingan sirine polisi kembali terdengar menggema dari pengeras suara alat kecil tersebut.
"Lihat? Suara sirine tadi cuma hasil rekaman dari alat ini," ucapnya sembari menyunggingkan senyuman santai.
Bimo langsung melongo tak percaya, sementara Repan semakin menajamkan pandangan matanya.
"Siapa lo sebenarnya? Dan apa tujuan lo melakukan ini?"
Pria itu bersedekap dada. "Perkenalkan, nama gue Edwan. Gue siswa dari SMA Global Internasional."
Senyuman di wajah pria bernama Edwan itu makin lebar. Namun kali ini, aura di sekitarnya terasa tajam bagaikan bilah pisau.
"Dan gue adalah salah satu petinggi dari Geng Raja Jalanan Pro... atau yang lebih populer dikenal dengan sebutan Geng RJP."
Repan seketika langsung menegang kaku. Bimo bahkan sampai refleks mengambil satu langkah mundur karena gentar.
'Sialan... Geng RJP?!' Repan menggertakkan giginya erat-erat.
Ia tahu betul reputasi dari nama besar itu. Geng RJP bukanlah kelompok berandalan motor kroco seperti Geng GBA. Mereka adalah kelompok elit yang memegang kendali di dalam lingkaran dunia bawah tanah Kota Bogor. Organisasinya terstruktur rapi, personelnya terlatih, dan bertindak sangat berbahaya.
Bimo gemetaran hebat dengan wajah yang memucat pias. Ia juga sangat paham betapa ngerinya reputasi kekuasaan Geng RJP di jalanan.
"Gue cuma berniat untuk menyaksikan secara langsung... sosok anak sekolah mana yang punya nyali besar sanggup membantai puluhan personel Geng GBA seorang diri," tutur Edwan santai, sembari menatap lurus ke dalam manik mata Repan.
Pertemuan di tengah lapangan tersebut, yang sekilas tampak seperti sebuah kebetulan konyol, kelak bakal menjadi awal mula dari sebuah takdir konflik yang jauh lebih raksasa. Dan Repan bisa merasakannya dengan sangat jelas—sebuah badai besar kini tengah melesat mendekati kehidupannya.