Wen Sekar tidak pernah suka dengan keramaian.
Di usia 26 tahun, dia hanyalah karyawan administrasi biasa di Kota Angin — gaji pas-pasan, tidak punya teman dekat, dan lebih memilih menghabiskan waktu sendirian di kamar kos-nya. Satu-satunya kenangan berharga adalah kasih sayang Kakek dan Nenek Wen yang membesarkannya sejak bayi, setelah ia ditemukan di pinggir jalan oleh mereka.
Suatu malam, tusuk konde mutiara peninggalan Nenek tiba-tiba memberikannya kemampuan luar biasa: sebuah ruang penyimpanan ajaib di mana waktu berhenti, dan mimpi-mimpi yang menunjukkan bencana dahsyat yang akan melanda dunia.
Sekar tidak menunggu. Dia mulai menimbun — beras, minyak goreng, obat-obatan, alat pertanian, senapan berburu, empat buku panduan bertahan hidup. Semua disimpan dalam ruang ajaibnya. Ketika orang lain masih tertawa, Sekar sudah siap.
Dan bencana datang. Satu per satu: banjir besar, gempa dahsyat, pandemi global, dan akhirnya — letusan Supervulkan Yellowstone yang menyelimuti bumi dalam musim dingin vulkanik selama sepuluh tahun.
Sendirian di dataran tinggi Pulau Karang, lalu di kedalaman Hutan Damai di Kalimantan, Sekar bertahan. Dia belajar menanam singkong, berburu babi hutan, membuat tempe, membangun rumah dengan tangannya sendiri. Dia menghadapi perampok, binatang buas, dan kesunyian yang tak berujung — dan menang.
Tapi kisah ini bukan hanya tentang bertahan hidup.
Di usia 46 tahun, Sekar menemukan seorang bayi perempuan yang dibuang di depan gerbang kota. Dan saat itu, dia teringat dirinya sendiri — bayi yang pernah dibuang di pinggir jalan, lalu diselamatkan oleh cinta tanpa syarat.
Sekar mengambil bayi itu dan menamainya Anin.
Dari seorang gadis pendiam yang bertahan sendirian, Sekar menjadi seorang Mama — meneruskan warisan cinta yang dulu diterimanya dari Kakek dan Nenek Wen.
Ini adalah kisah tentang seorang perempuan yang tidak membutuhkan siapa pun untuk hidup — tetapi menemukan alasan untuk hidup demi seseorang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 18
Bab 018
Stok Darurat
Dan untuk pertama kalinya sejak ruang itu terbuka, Sekar tahu ia harus mengambil sesuatu bukan untuk dirinya sendiri.
"Saya ambil dulu," kata Sekar.
Bu Sari masih tampak ingin menahan, tapi Dek Bayu menggigil kecil di pangkuan Mbak Ratna. Itu cukup untuk membuat semua orang diam.
"Hati-hati," kata Pak Darman.
Sekar mengangguk, lalu keluar ke hujan.
Jarak dari rumah Bu Sari ke rumah Kakek Nenek tidak jauh. Biasanya hanya beberapa langkah melewati pagar samping. Tapi malam itu air mengalir di halaman seperti parit kecil. Lumpur melekat di sandal. Hujan memukul punggungnya, membuat baju yang baru diganti kembali basah.
Begitu masuk rumah, Sekar mengunci pintu.
Tangannya langsung menyentuh tusuk konde mutiara.
Masuk.
Ruang penyimpanan ajaib terbuka, terang dan kering, terlalu tenang dibanding dunia di luar. Di zona obat, semua yang ia butuhkan berdiri rapi. Paracetamol. Termometer. Oralit. Masker. Sarung tangan. Minyak kayu putih baru. Betadine. Kasa steril.
Sekar mengambil tidak terlalu banyak.
Satu boks Paracetamol. Satu termometer. Beberapa sachet oralit. Masker beberapa lembar. Sarung tangan. Betadine kecil. Plester. Ia menaruh semuanya ke kantong plastik apotek yang memang ia simpan.
Lalu ia berhenti di depan zona makanan.
Kalau ia hanya membawa obat, Bu Sari mungkin masih bisa percaya. Tapi di rumah itu ada enam orang, termasuk anak kecil, dan pasar terputus. Banjir tidak akan surut hanya karena Bayu tidak demam lagi.
Sekar mengambil beras lima kilogram dari salah satu karung, memindahkannya ke kantong bekas belanja yang tidak mencolok. Ia menambah mie instan sepuluh bungkus, sarden kaleng empat, susu bubuk satu kantong, gula, teh, dan sedikit kopi. Tidak terlalu banyak. Cukup untuk alasan "stok pribadi dari kota", tidak cukup untuk membuka pertanyaan yang lebih berbahaya.
Sebelum keluar, ia memasukkan satu senter tambahan dan baterai ke sisi tas.
Keluar.
Ruang putih hilang. Hujan kembali menguasai pendengarannya.
Ketika Sekar masuk ke rumah Bu Sari, semua orang menoleh. Tas di tangannya tampak lebih berat daripada saat ia pergi.
"Kamu punya sebanyak ini?" tanya Mbak Ratna, terkejut tapi terlalu cemas untuk curiga penuh.
"Saya memang takut sakit waktu pindah dari kota," jawab Sekar. Ia meletakkan kantong obat di meja. "Ini Paracetamol. Tapi lihat suhu dulu."
Mbak Ratna menerima termometer dengan tangan gemetar. "Kamu punya termometer juga?"
"Iya. Saya beli sekalian."
Bu Sari menatap Sekar lama.
Sekar pura-pura sibuk membuka kemasan obat. Ia membaca aturan pakai di kotak dengan suara pelan, menyesuaikan usia dan berat Dek Bayu sebisanya. Ia tidak berani bersikap seperti dokter. Ia hanya melakukan hal dasar yang tertulis.
"Kalau panasnya tidak turun atau dia muntah terus, harus cari bantuan," kata Sekar.
Mas Eko tertawa pahit. "Bantuan dari mana? Jalan putus."
Tidak ada yang menjawab.
Termometer berbunyi. Suhu Dek Bayu cukup tinggi untuk membuat Mbak Ratna pucat.
Mereka memberi Paracetamol sesuai aturan. Sekar mencampur oralit dalam air matang hangat, lalu meminta Mbak Ratna memberi sedikit-sedikit. Dek Bayu merengek, tapi akhirnya menelan.
Bu Sari mengusap kepala cucunya. "Terima kasih, Nak."
"Jangan dulu. Tunggu turun panasnya."
Sekar menaruh masker dan sarung tangan di meja. "Kalau ada yang bersih-bersih air kotor, pakai ini. Luka kecil jangan dibiarkan. Saya juga punya Betadine."
Pak Darman mengambil Betadine itu dengan hati-hati, seperti benda mahal. "Ini susah dicari sekarang."
"Saya beli sebelum hujan."
Kali ini Bu Sari tidak bertanya apa-apa. Mungkin ia mulai mengerti bahwa Sekar punya lebih banyak persiapan daripada yang masuk akal. Mungkin ia memilih tidak membuka rahasia yang belum Sekar berikan.
Ketika Sekar mengeluarkan beras, mie instan, sarden, dan susu bubuk, Bu Sari benar-benar terdiam.
"Sekar..."
"Saya tidak bisa membawa banyak," kata Sekar cepat. "Tapi ini bisa untuk beberapa hari. Simpan di tempat tinggi. Jangan bilang ke banyak orang dari saya, Bu. Nanti semuanya datang ke sini."
Kalimat terakhir membuat ruangan membeku.
Itu bukan pelit. Semua orang tahu itu. Di luar, balai desa penuh keluarga yang kehilangan stok. Jika kabar bahwa Sekar punya makanan menyebar, rumah Kakek Nenek bisa menjadi titik tekanan baru.
Sekar mengambil buku catatan kecil dari tas, merobek satu halaman, lalu menulis cepat. Nasi dimasak sedikit saja. Mie instan jangan dimakan sekaligus. Susu untuk Bayu dulu. Sarden hanya jika lauk benar-benar habis. Obat penurun panas diberi sesuai jam, jangan diulang terlalu cepat.
"Kalau ada yang bertanya," kata Sekar pelan, "bilang ini sisa belanja sebelum hujan. Jangan sebut jumlahnya. Kalau nanti saya bisa bantu lagi, saya bantu lewat Bu Sari, bukan langsung ke banyak orang."
Mas Eko membaca catatan itu, lalu wajahnya berubah serius. "Kamu benar. Kalau semua tahu, rumahmu tidak aman."
Dan rumah Bu Sari juga ikut tidak aman.
Pak Darman mengangguk lebih dulu. "Benar. Kita simpan baik-baik."
Mas Eko menatap Sekar dengan ekspresi yang lebih rumit. "Kamu sudah memikirkan ini dari sebelum hujan?"
Sekar meremas ujung lengan bajunya. "Saya cuma... takut."
Jawaban itu sama seperti sebelumnya, tapi kali ini tidak terdengar kecil. Di ruangan yang dingin dan basah itu, takut berubah menjadi sesuatu yang menyelamatkan.
Bu Sari mendekat, lalu menggenggam tangan Sekar. "Takutmu membuat Bayu dapat obat malam ini."
Sekar menunduk.
Ia tidak tahu harus menjawab apa.
Mereka membagi tugas. Mbak Ratna menjaga Bayu dan memberinya minum sedikit demi sedikit. Bu Sari menanak sedikit nasi dengan hemat. Pak Darman memindahkan beras dan makanan kaleng ke rak atas. Mas Eko memeriksa pintu belakang agar air tidak masuk. Sekar membantu membersihkan kaki meja yang terkena lumpur, lalu diam-diam menaruh senter tambahan di dekat radio.
Satu jam kemudian, suhu Dek Bayu mulai turun sedikit.
Mbak Ratna menangis tanpa suara.
Mas Eko menutup wajah dengan kedua tangan sebentar, lalu mengusap rambut anaknya.
"Turun," bisik Mbak Ratna. "Panasnya turun."
Bu Sari memandang Sekar dengan mata basah. "Kamu menyelamatkan kami malam ini."
Sekar langsung menggeleng. "Obatnya yang membantu."
"Tapi kamu yang punya."
Sekar tidak bisa menyangkal itu.
Di luar, hujan sedikit melemah untuk pertama kalinya setelah berhari-hari. Namun kelegaan itu tidak bertahan lama. Dari arah jalan bawah, terdengar suara orang berteriak. Bukan teriakan panik kecil seperti melihat air naik. Ini teriakan yang lebih berat, diikuti bunyi gemuruh panjang dari kejauhan.
Pak Darman berdiri seketika.
Mas Eko membuka pintu sedikit.
Angin membawa bau tanah yang baru robek.
Lalu seseorang berlari di jalan, berteriak menembus hujan.
"Longsor! Jalan bawah kena longsor!"