NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 4

Bab 004: Dua Pekerjaan

Pertanyaan di mata Kevin tidak bertahan lama.

Begitu suara notifikasi dari ponselnya berbunyi, dinding yang sempat retak itu langsung berdiri lagi. Dia membaca pesan, mengambil kemeja yang digantung di paku dekat pintu, lalu menggulung lengan bajunya.

"Kamu mau pergi?" tanya Meilin.

"Kerja."

"Sekarang?"

"Jam delapan."

Meilin menoleh ke layar ponsel. Pukul tujuh lewat dua puluh. Kevin baru tidur beberapa jam, tubuhnya belum pulih dari kerja malam, tapi dia sudah harus keluar lagi.

"Kamu kerja di mana?"

Kevin berhenti mengancingkan kemeja.

Tatapannya jelas berkata, sejak kapan kamu peduli?

Meilin membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Dia mengambil ponsel dan mengetik di Notes.

Aku perlu tahu supaya kalau ada apa-apa, aku tidak panik.

Kevin membaca sekilas.

"Startup kecil di Kuningan. Data analyst kontrak."

Meilin mengangguk. "Pulang jam berapa?"

"Tergantung."

Jawaban itu terlalu pendek, tapi Meilin tidak mengejar. Dia hanya melihat Kevin memasukkan laptop tua, charger yang kabelnya sudah dililit isolasi, dan botol minum kosong ke dalam tas.

Tidak ada bekal. Tidak ada uang lebih. Bahkan botol itu kosong.

Meilin mengambil botolnya sebelum Kevin sempat memasukkannya.

Kevin langsung menatap tajam. "Apa lagi?"

"Aku isi air."

Dia mengisi botol dengan air matang sisa semalam, lalu menyerahkannya kembali. Kevin menatap botol itu beberapa detik sebelum menerimanya.

"Jangan buka pintu untuk orang asing," katanya.

"Iya."

"Kalau Benny menghubungi lagi, jangan balas."

"Aku tahu."

Kevin seperti tidak puas dengan jawaban itu, tapi waktu mengejarnya. Dia akhirnya keluar, meninggalkan kamar dengan suara pintu yang kali ini tidak dibanting.

Sepeninggal Kevin, kos itu terasa terlalu sunyi.

Meilin memulai dari hal yang paling bisa dia kendalikan. Dia mencuci piring, membilas lantai dapur kecil, lalu memisahkan barang Kevin dan barang milik tubuh Meilin asli. Lipstik yang hampir baru, baju pesta murah dengan payet mengilap, struk belanja, dan beberapa bungkus perawatan wajah memenuhi kantong plastik.

Dia memotretnya satu per satu.

Mungkin bisa dijual di marketplace.

Saat membuka laci kecil di bawah meja, Meilin menemukan kotak cat air, beberapa kuas, dan buku sketsa yang sampulnya sudah melengkung. Tangannya berhenti.

Di dunia asalnya, dia memang mahasiswa seni. Tapi tubuh ini bukan tubuhnya. Dia tidak tahu apakah ingatan ototnya ikut pindah, atau bakat Meilin asli yang tertulis dalam novel ikut tinggal di jari-jari ini.

Dia membuka buku sketsa.

Halaman pertama penuh coretan kasar. Beberapa wajah, beberapa desain kain, banyak garis marah yang ditekan terlalu kuat sampai nyaris merobek kertas. Meilin membalik halaman kosong, mengambil pensil, lalu menatap meja lipat Kevin.

Dia mulai menggambar.

Awalnya garisnya kaku. Tangannya masih ragu, seperti dua orang berbeda sedang berebut memegang pensil. Tapi setelah beberapa tarikan, sesuatu di dalam tubuhnya mengalir lebih lancar. Garis meja. Lipatan kabel charger. Gelas plastik retak. Bayangan jendela di lantai.

Lalu tanpa sadar, dia menggambar punggung Kevin.

Punggung yang semalam berjalan menembus gang gelap. Punggung yang kurus tapi tegak. Punggung seseorang yang menolak tumbang.

Ketika sketsa itu selesai, Meilin terdiam lama.

Gambarnya bagus.

Bukan bagus biasa. Ada rasa sepi di garis bahu, ada keras kepala di posisi kepala yang sedikit menunduk. Kalau seseorang melihatnya, orang itu mungkin tidak tahu siapa pria dalam gambar, tapi bisa merasakan beban yang dia bawa.

Jantung Meilin berdetak lebih cepat.

Ini bisa jadi jalan.

Dia tidak punya ijazah di dunia ini. Tidak punya jaringan. Tidak punya uang. Tapi dia punya tangan ini.

Sore hari, Kevin tidak pulang.

Pukul delapan malam, dia hanya mengirim satu pesan singkat.

Kevin: Ada kerja tambahan. Jangan tunggu.

Meilin menatap pesan itu lama, lalu melihat dua bungkus mi instan yang tadi dibelinya dari uang koin dan saldo aplikasi yang tersisa. Dia seharusnya makan saja. Tapi membayangkan Kevin bekerja seharian lalu masih harus mengangkat barang malam-malam membuat dadanya tidak enak.

Dia membuka aplikasi peta dari lokasi yang pernah Kevin sebutkan di pesan lama. Ada gudang logistik kecil tidak jauh dari jalan besar.

Jangan menyusul. Itu akan terlihat mencurigakan.

Meilin menahan diri.

Dia memasak mi kuah polos dengan satu telur yang dibagi dua, lalu menyimpan sebagian dalam wadah plastik. Tidak enak. Terlalu sederhana. Tapi setidaknya hangat.

Menjelang pukul sebelas, suara langkah akhirnya terdengar di lorong.

Kevin masuk membawa bau debu, keringat, dan kardus. Di bahu kemejanya ada noda gelap. Tangannya memegang amplop kecil, mungkin bayaran langsung dari pekerjaan angkut barang.

Meilin berdiri dari meja.

"Aku buat mi."

Kevin menutup pintu. Matanya langsung jatuh ke wadah di tangan Meilin.

"Aku tidak minta."

"Aku tahu."

"Lalu?"

"Aku masak terlalu banyak."

Kebohongan itu buruk. Mereka sama-sama tahu dia tidak mungkin memasak terlalu banyak dengan persediaan sekecil itu.

Kevin menatapnya lama. Lelah membuat garis wajahnya terlihat lebih keras, tapi kali ini dia tidak langsung menolak. Dia mencuci tangan di wastafel, lalu duduk di lantai dekat meja.

Meilin mendorong wadah mi ke arahnya.

"Masih hangat."

Kevin membuka tutupnya. Uap tipis naik, membawa aroma bawang dan kuah instan. Sesederhana itu, tapi cara Kevin menatap makanan tersebut membuat Meilin hampir tidak sanggup melihat.

Dia pasti lapar sekali.

"Kamu sudah makan?" tanya Kevin.

"Sudah."

Kevin mengangkat mata.

Meilin menambahkan cepat, "Aku benar-benar sudah makan."

Baru setelah itu Kevin mengambil sumpit plastik dan mulai makan. Pelan, seolah tidak ingin terlihat terlalu membutuhkan. Meilin duduk di seberangnya, pura-pura membereskan buku sketsa.

Terlambat.

Kevin melihat gambar itu.

"Itu apa?"

Meilin refleks menutup halaman. "Bukan apa-apa."

"Gambar?"

"Cuma latihan."

Kevin mengulurkan tangan. Dia tidak memaksa, hanya menunggu. Sikap itu membuat Meilin sulit menolak. Akhirnya dia menggeser buku sketsa ke arahnya.

Kevin melihat gambar punggungnya sendiri.

Ruangan terasa hening.

Meilin menyiapkan diri untuk sindiran, mungkin tuduhan bahwa dia sedang pura-pura puitis. Tapi Kevin hanya menatap garis-garis itu dengan mata yang sulit dibaca.

"Ini kamu yang buat?"

"Iya."

"Sejak kapan kamu bisa menggambar seperti ini?"

Meilin menahan napas. Pertanyaan itu berbahaya.

Dia menunduk, lalu menjawab seaman mungkin, "Mungkin sejak aku mulai ingin hidup dengan benar."

Kevin tidak berkata apa-apa.

Tapi dia tidak mengejek.

Setelah selesai makan, dia menutup wadah kosong dan meletakkannya di samping buku sketsa. Sebelum masuk kamar mandi kecil untuk membasuh wajah, dia berhenti sebentar.

"Kalau kamu mau jual gambar," ucapnya tanpa menoleh, "jangan pasang harga terlalu murah."

Meilin tertegun.

Pintu kamar mandi tertutup.

Dia menatap buku sketsa, lalu menatap wadah mi kosong di meja.

Untuk pertama kalinya, rencana kedua di catatannya terasa bukan sekadar kalimat putus asa.

Cari uang.

Mungkin dia benar-benar bisa memulainya dari gambar itu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!