Erlyn tidak pernah memilih untuk jatuh cinta pada kakak tirinya.
Saat ibunya menikah lagi dan membawanya pindah dari Pulau Belitung ke rumah kolonial tua di Surabaya, Erlyn bertemu Yu Chisen — pewaris keluarga Yu yang dingin, tampan, dan tidak banyak bicara. Dia pelukis. Dia lebih tua dua tahun. Dan mulai hari itu, mereka tinggal satu atap sebagai "kakak-adik."
Tapi Chisen bukan kakak yang biasa. Dia diam-diam melindunginya dari gosip sekolah, mengajarinya bahasa Inggris setiap malam, dan memasak untuknya saat tidak ada orang. Di balik pintu loteng yang selalu terkunci, dia menyimpan ratusan lukisan — semuanya adalah wajah Erlyn.
Saat ibunya meninggal, Chisen menjadi satu-satunya tempatnya bersandar. Saat ayahnya masuk penjara, Erlyn menjadi satu-satunya alasannya bertahan. Perasaan yang seharusnya tidak ada perlahan tumbuh di antara mereka — terlalu dalam untuk diabaikan, terlalu terlarang untuk diakui.
Pada malam badai itu, Erlyn memakai sepatu kristal pemberian Chisen dan mengetuk pintu kamarnya.
Dia yang duluan jatuh cinta. Dan dia yang duluan melangkah.
Empat tahun kemudian, badai datang lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Bab 27
Telepon
Pesan dari nomor tidak dikenal itu membuat Erlyn ingin mematikan ponsel.
Kakak tiri serumah? Yakin cuma kakak?
Angie merebut ponselnya sebelum Erlyn sempat menghapus pesan itu.
"Jangan hapus."
"Aku tidak mau lihat."
"Justru karena kamu tidak mau lihat, kita simpan." Angie mengambil tangkapan layar, lalu mengirimkannya ke ponselnya sendiri. "Bukti."
Jessica berdiri di samping mereka, matanya menajam. "Nomor baru?"
Erlyn mengangguk.
"Jangan balas," kata Jessica. "Kalau dibalas, mereka punya bahan lagi."
Angie menoleh. "Kamu sering menangani perang begini?"
"Cukup sering melihat orang bodoh merasa aman di balik akun anonim."
Mereka akhirnya tidak masuk toilet. Jessica membawa mereka ke perpustakaan yang lebih sepi. Di sana, Angie mulai mengumpulkan screenshot dari beberapa teman yang masih waras. Jessica menulis daftar grup mana saja yang sudah menyebarkan gambar. Erlyn duduk di antara mereka, merasa seperti kasus yang sedang disusun di atas meja.
"Kita lapor wali kelas," kata Jessica.
"Nanti makin besar," jawab Erlyn.
"Sudah besar."
"Kalau guru tahu, Mama juga bisa tahu."
Angie menatapnya. "Er, ini bukan salahmu."
"Aku tahu."
Tetapi tahu tidak selalu membuat dada lebih ringan.
Jika Mama tahu, Mama akan sedih. Jika Om Changli tahu, ia akan merasa rumah barunya gagal melindungi Erlyn. Jika Chisen tahu...
Erlyn berhenti pada pikiran itu.
Jika Chisen tahu, ia tidak tahu apa yang akan terjadi.
Sepulang sekolah, Erlyn berusaha terlihat biasa. Ia menjawab pesan sopir, masuk mobil, pulang, mengganti seragam, lalu turun ke ruang belajar tepat jam delapan. Semua dilakukan rapi. Terlalu rapi.
Chisen sudah duduk di sana.
"Kamu pucat," katanya sebelum Erlyn sempat membuka buku.
"Kurang tidur."
"Bohong."
Erlyn meletakkan buku dengan agak keras. "Koh mau mulai dari soal yang mana?"
"Yang membuatmu pucat."
"Tidak ada."
Chisen menatapnya. Diam. Tidak menekan dengan suara keras. Hanya menunggu sampai kebohongan itu lelah sendiri.
Ponsel Erlyn bergetar.
Angie: Aku sudah dapat screenshot dari grup XI. Ini sudah parah.
Notifikasi muncul di layar sebelum Erlyn sempat membalik ponsel. Chisen melihatnya.
Matanya berubah.
"Berikan ponselmu."
"Tidak."
"Erlyn."
"Ini urusanku."
"Kalau namaku dipakai untuk menyerangmu, itu juga urusanku."
Kalimat itu membuat Erlyn kehilangan jawaban.
Chisen mengulurkan tangan, tidak merampas, hanya menunggu. Erlyn menggenggam ponsel beberapa detik, lalu menyerahkannya. Ia merasa telanjang dengan cara yang aneh, bukan karena ada rahasia buruk di sana, melainkan karena semua kata kotor orang lain sekarang akan masuk ke mata Chisen.
Chisen membaca.
Satu screenshot.
Dua.
Tiga.
Wajahnya tidak berubah. Itu yang paling menakutkan. Tidak ada marah yang meledak, tidak ada kutukan, tidak ada pertanyaan bodoh seperti kamu baik-baik saja. Hanya diam yang semakin dingin.
Ia berhenti pada pesan anonim terakhir.
"Nomor ini mengirim langsung ke kamu?"
Erlyn mengangguk.
"Sejak kapan?"
"Hari ini."
"Yang foto mall?"
"Aku tidak tahu siapa yang ambil."
"Siapa yang pertama sebar?"
"Jessica dan Angie sedang cari."
Chisen menatap nama Angie dan Jessica di layar, lalu mengembalikan ponsel. "Kirim semua ke aku."
"Untuk apa?"
"Bukti."
"Koh mau apa?"
"Menyelesaikan."
Erlyn berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser. "Jangan."
Chisen mengangkat mata.
"Kalau Koh ikut campur, mereka akan bilang aku mengadu ke kakak tiri."
"Mereka sudah bilang lebih buruk."
"Tapi ini sekolahku."
"Dan kamu mau membiarkan mereka?"
"Aku mau tidak membuatnya lebih besar."
"Erlyn." Suara Chisen turun. "Mereka menyebarkan fotomu. Menulis soal keluargamu. Mengirim pesan langsung ke nomor pribadimu. Itu sudah bukan gosip."
Ia tidak bisa membantah.
Chisen berdiri, mengambil ponselnya sendiri.
"Kirim."
Kali ini, Erlyn tidak menolak.
Ia mengirim semua screenshot dari Angie dan Jessica. Chisen menerimanya, lalu keluar dari ruang belajar. Erlyn mengikutinya sampai koridor, berhenti ketika ia masuk ke ruang kerja kecil dekat perpustakaan.
Pintu tidak ditutup penuh.
Ia mendengar suara Chisen menelepon.
"Selamat malam. Saya Yu Chisen."
Nada suaranya berubah. Bukan lagi kakak yang menyuruhnya mengerjakan soal. Bukan lagi anak laki-laki yang menghindari pembicaraan loteng. Suara itu tenang, formal, dan terlalu dewasa untuk usia tujuh belas tahun.
"Saya mengirim bukti cyberbullying yang dilakukan murid sekolah Anda terhadap Tan Erlyn. Ini menyangkut penyebaran foto tanpa izin, pelecehan verbal, dan pesan anonim ke nomor pribadi."
Erlyn menahan napas.
Di dalam, Chisen diam mendengarkan jawaban. Lalu ia berkata lagi, lebih dingin.
"Saya tidak meminta Anda menunggu sampai viral."
Jantung Erlyn berdetak keras.
"Besok pagi, saya ingin semua unggahan itu diturunkan, sumber penyebaran dicatat, dan Erlyn tidak dipanggil sebagai pihak yang bersalah. Kalau sekolah tidak bisa menangani, keluarga kami akan bicara langsung dengan yayasan."
Keluarga kami.
Dua kata itu membuat tenggorokan Erlyn sakit.
Chisen tidak berteriak. Tidak mengancam murahan. Tetapi setiap kalimatnya seperti pintu besi yang ditutup satu per satu.
Telepon berakhir beberapa menit kemudian.
Chisen keluar dari ruang kerja dan menemukan Erlyn masih berdiri di koridor. Ia tampak tidak terkejut. Mungkin sejak awal ia tahu Erlyn mendengar semuanya.
"Besok sekolah seperti biasa," katanya.
"Koh tidak perlu..."
"Perlu."
"Aku belum selesai bicara."
"Aku sudah tahu kalimatmu."
Erlyn menatapnya, tenggorokannya masih terasa sakit karena dua kata keluarga kami. "Koh selalu begitu. Langsung memutuskan."
"Kalau rumah bocor, kamu tidak menunggu hujan berhenti untuk cari ember."
"Aku bukan rumah bocor."
"Bukan." Chisen menatapnya lebih lama. "Kamu orang rumah."
Kalimat itu membuat Erlyn diam.
Orang rumah.
Bukan beban. Bukan masalah. Bukan anak pindahan yang membawa gosip ke meja makan. Orang rumah.
Chisen mengembalikan ponselnya. "Makan dulu. Kamu belum makan malam."
"Koh tahu dari mana?"
"Wajahmu selalu begitu kalau lapar dan marah."
Erlyn ingin membantah, tetapi perutnya berbunyi kecil, terlalu jujur. Chisen tidak tersenyum. Ia hanya berbalik menuju dapur.
"Susu hangat atau nasi?"
Erlyn menatap punggungnya. "Dua-duanya."
"Serakah."
"Koh yang tanya."
Keesokan paginya, grup kelas sunyi.
Terlalu sunyi.
Screenshot yang kemarin berputar sudah dihapus. Admin grup angkatan mengirim pengumuman singkat tentang larangan menyebarkan foto dan fitnah personal. Wali kelas masuk dengan wajah serius, mengatakan sekolah sedang menelusuri akun anonim dan semua murid yang ikut menyebarkan akan dipanggil.
Siswi di baris belakang yang kemarin menyindir tidak menatap Erlyn sama sekali.
Saat istirahat, Angie berlari ke meja Erlyn.
"Gila. Semua hilang."
Jessica datang setelahnya. "Sumber awalnya sudah ketemu. Anak kelas sebelah. Katanya dipanggil BK dan orang tuanya."
Erlyn menatap layar ponselnya. Nomor anonim itu tidak mengirim apa pun lagi.
Tidak ada yang tahu persis apa yang Chisen katakan dalam telepon malam itu.
Yang jelas, pagi ini, tidak ada seorang pun yang berani menanyakan apakah kakak tiri itu cuma kakak.