Kania harus mengalami malam tergelap dalam hidupnya, ia dinodai dan kehilangan harga dirinya. Ketika kebenaran terungkap, orang-orang yang seharusnya menjadi tempat perlindungannya justru menjadi hakim yang paling kejam.
Tunangannya, Haris, langsung memutuskan pertunangan mereka, menganggap Kania sudah kotor dan tak layak lagi bersanding dengannya. Bahkan ayah kandungnya sendiri membuangnya, menyebutnya telah mencoreng nama baik keluarga.
Tanpa dukungan siapa pun, Kania terhempas ke jalanan, hingga seseorang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit dari keterpurukan.
Kini, ia kembali bukan lagi sebagai wanita lemah yang diusir, melainkan sebagai sosok yang berani menantang takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Red_Purple, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 2
"Suamiku…" panggil Nyonya Melani dengan nada lembut dan penuh perhatian, lalu meletakkan tangan lembutnya di lengan Tuan Aryan. "Aku mengerti bagaimana perasaanmu, Mas. Nama baik keluarga Aryan Wijaya sudah dibangun dengan susah payah selama puluhan tahun, tidak boleh sampai hancur hanya karena satu kejadian ini."
Tuan Aryan mengusap wajahnya dengan kasar, napasnya masih berat menahan amarah dan rasa malu. "Lalu apa yang harus kulakukan? Dia anak kandungku. Jika cerita ini menyebar ke luar, semua rekan bisnis, kolega, bahkan tetangga akan membicarakan kita! Reputasi keluarga dan perusahaan bisa jatuh dalam semalam!"
"Itulah yang ingin aku bicarakan," jawab Nyonya Melani pelan namun tegas, memastikan hanya didengar suaminya saja. "Kita harus bertindak cepat sebelum berita ini sampai menyebar keluar. Lebih baik mengasingkan Kania ke tempat yang jauh dan terpencil, jika perlu di daerah pedalaman yang jarang diketahui orang. Berikan dia cukup biaya untuk hidup sederhana, tapi pastikan dia tak bisa kembali ke sini atau berhubungan dengan siapa pun lagi di sini termasuk Bu Laras."
Tuan Aryan menoleh cepat, "Mengasingkan dia begitu saja? Bukankah itu terlalu kejam?"
"Pilih kejam atau menyelamatkan nama baik keluarga?" bantah Nyonya Melani dengan nada yang terdengar masuk akal. "Ingat, Sayang. Kania bukan lagi gadis yang sama seperti dulu. Dia kini membawa aib yang bisa menyeret kita semua. Jika berita ini tersebar, posisi kita terancam, dan masa depan Luna pun bisa rusak. Siapa yang mau menerima lamaran putri dari keluarga yang punya aib semacam ini?"
Nyonya Melani melanjutkan, nada bicaranya semakin meyakinkan dan memanfaatkan ketakutan suaminya. "Anggap saja ini cara terbaik untuk melindungi sekaligus menghukumnya. Biarkan dia hidup tenang di tempat lain tanpa mengganggu ketenangan keluarga ini. Seiring waktu, orang akan lupa, dan nama baik kita bisa pulih kembali. Kalau Mas membiarkannya tetap tinggal di sini, cepat atau lambat semua orang akan tahu dan akan membicarakan aib keluarga kita, apa kamu mau itu terjadi, Mas?"
Kata-kata itu menusuk tepat ke keraguan Tuan Aryan. Rasa sayang yang masih tersisa mulai tertutup oleh rasa takut kehilangan harta dan nama baik. Ia terdiam lama, lalu mengepalkan tangannya erat-erat.
"Baiklah…" akhirnya ia menjawab dengan suara berat dan tertekan. "Akan kulakukan seperti yang kamu katakan."
Nyonya Melani tersenyum puas, senyum yang tersembunyi di balik tatapan khawatirnya. "Tenang saja, Suamiku. Aku yang akan mengurus semuanya dengan rapi. Malam ini juga aku akan menyuruh orang untuk membawanya pergi sejauh mungkin,"
Tuan Aryan memutar tubuhnya dengan gerakan kaku, langkah kakinya terasa berat namun penuh amarah yang tertahan. Tanpa mengucap sepatah kata lagi, ia berjalan cepat menaiki tangga, menginjak setiap anak tangga seolah sedang menginjak harga dirinya sendiri yang terasa terinjak-injak.
Sesampainya di depan pintu kamar Kania, ia mendorongnya terbuka dengan hentakan keras hingga dinding bergetar. Di dalam ruangan itu, terlihat Kania yang duduk membeku di tepi tempat tidur, sementara Bu Laras berdiri di sampingnya mengelus punggung gadis itu dengan penuh iba. Di sisi lain, Luna berdiri di sisi lain ranjang, menatap Kania dengan ekspresi prihatin.
Tuan Aryan melangkah mendekat, meraih lengan Kania dengan genggaman yang sangat kuat dan kasar.
"Ayah! Apa yang Ayah lakukan? Sakit!" teriak Kania terkejut, berusaha menarik tangannya kembali.
"Diam dan ikut Ayah!" bentak Tuan Aryan tanpa melirik, lalu menyeret tubuh Kania yang lemah itu keluar dari kamar. Kakinya terseret di lantai, meninggalkan suara gesekan yang kasar.
"Ayah, lepaskan aku! Ini rumahku! Aku tidak mau pergi!" Kania memberontak sekuat tenaga, memutar badannya, mencoba melepaskan genggaman tangan Ayahnya. Tangannya memukul dan mencakar lengan ayahnya, air matanya kembali meluap deras. "Aku tidak bersalah! Mengapa Ayah memperlakukanku seperti penjahat?!"
"Tuan Aryan! Jangan begini, Tuan bisa melukainya!" Bu Laras berteriak panik dan segera berlari mendekat mencoba menahan, namun tangannya hanya bisa menggapai udara, didorong kasar oleh lengan Tuan Aryan hingga terhuyung mundur. "Tolong lepaskan Nona Kania, Tuan!"
Luna ikut berlari mengejar dari belakang, memohon dan berusaha menghalangi. "Ayah, tolong tenangkan diri, Ayah! Kak Kania tidak bersalah… Kita bisa bicarakan ini baik-baik."
Namun suara mereka tak didengar sama sekali. Tuan Aryan terus menyeret Kania turun menuruni tangga, tubuh gadis itu terhuyung-huyung, lututnya terbentur anak tangga hingga tergores dan berdarah, namun rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan luka di hatinya.
Begitu tiba di lantai bawah ruang tamu, Kania terjatuh terguling ke lantai dengan keras. Di sana sudah berdiri Nyonya Melani dengan wajah datar, diapit oleh dua orang pria berperawakan kekar yang berpakaian serba hitam, tangan mereka tergenggam siap melaksanakan perintah.
"Bawa dia pergi jauh sekarang juga!" perintah Tuan Aryan.
Kedua pria itu segera melangkah mendekat, meraih kedua lengan Kania yang masih berusaha merangkak menjauh.
"Tidak! Lepaskan aku! Biarkan aku pergi sendiri!" Kania berteriak sekuat tenaga, tubuhnya melengkung berusaha melepaskan diri, kakinya menendang ke sana kemari. "Ayah kejam! Wanita iblis ini pasti sudah meracuni pikiran Ayah!"
"Jangan bicara omong kosong!" sergah Nyonya Melani dengan nada meninggi, lalu menoleh ke pengawal itu. "Bungkam mulutnya dan cepat bawa dia ke mobil. Jangan biarkan dia membuat keributan di depan rumah ini!"
Bu Laras yang baru sampai dengan napas terengah-engah langsung berlutut di depan Tuan Aryan, memegang ujung celananya sambil menangis tersedu-sedu. "Tuan Aryan, kasihanilah dia! Dia masih anak kandung Tuan! Jangan buang dia seperti ini, atau Tuan akan menyesal suatu hari nanti!"
Namun Tuan Aryan memalingkan wajahnya, tak mau menatap lagi. "Dia bukan anakku lagi mulai detik ini. Jangan sebut namanya lagi di depanku!"
Kedua pria itu mengangkat tubuh Kania yang terus meronta dan berteriak, Nyonya Melani segera menahan lengan Luna saat putrinya itu hendak mengejar.
"Biarkan saja dia pergi! Wanita ternoda tidak pantas tinggal di rumah ini!"
Bu Laras yang masih berlutut segera bangun dan berdiri. Ia berlari secepat kakinya bisa membawa, napasnya terengah-engah, air matanya terus mengalir membasahi pipi keriputnya.
"Nona Kania! Tunggu! Ibu di sini!" teriaknya parau, suaranya memecah keheningan malam yang basah.
Karena terkejut mendengar suara itu, satu dari dua pengawal itu lengah sejenak. Peluang kecil itu cukup bagi Kania, ia mengerahkan sisa tenaga terakhirnya, memutar badannya dengan kuat, lalu mendorong bahu pengawal di sebelah kanannya hingga terhuyung mundur. Dalam sekejap, ia terlepas dari cengkeraman mereka.
Tanpa berpikir dua kali, Kania berlari dan langsung memeluk erat tubuh Bu Laras yang baru saja tiba. Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya yang basah oleh air hujan dan air mata menempel di bahu wanita yang selama ini mengasuhnya seperti anak sendiri.
"Ibu… Ibu… jangan biarkan mereka membawaku pergi…" isak Kania terputus-putus, tangannya mencengkeram kuat punggung Bu Laras. "Aku takut sekali, Ibu… aku tidak bersalah, kenapa semua ini terjadi padaku?"
Bu Laras membalas pelukan itu, membelai kepala Kania dengan tangan gemetar, suaranya tercekik oleh tangis. "Ibu tahu, Nak… Ibu tahu kamu tidak bersalah. Ibu percaya padamu… Maafkan Ibu yang tak bisa berbuat apa-apa untuk melindungimu…"
Namun momen kehangatan itu hanya berlangsung sesingkat kilatan petir. Kedua pengawal itu kembali melangkah mendekat dengan langkah cepat. Satu tangan kasar menarik bahu Kania, tangan lainnya mendorong Bu Laras hingga wanita tua itu terjatuh berlutut kembali di atas lantai yang basah.
"Lepaskan dia! Jangan sentuh Bu Laras!" teriak Kania, meronta sekuat tenaga, tangannya berusaha meraih kembali jari-jari Bu Laras yang terulur ke arahnya.
"Cukup! Jangan buang waktu!" bentak Nyonya Melani dari ambang pintu, suaranya dingin dan penuh perintah.
Tangan-tangan besi itu kembali mengangkat tubuh Kania yang terus berteriak dan menangis memanggil nama Bu Laras. Namun suara itu perlahan memudar saat ia dibawa masuk paksa ke dalam mobil dan pintunya ditutup dengan keras.
Mobil itu melaju kencang menerobos guyuran hujan, meninggalkan Bu Laras yang tergeletak di lantai teras, menangis tersedu-sedu menatap lampu belakang kendaraan yang makin menjauh hingga lenyap ditelan kegelapan malam.
-
-
-
Bersambung...
mungkin sakit hati karna bapak Haris masih cinta sama mama Kania yg kandung😏
sabar ya pemirsa, bentar lagi malam pesta dimulai😁
lanjut dong thor🤭🤭