NovelToon NovelToon
Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Kabur Ke Gunung Kawi Nyasar Ke Pelaminan Yang Di Dua Kan

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Pernikahan Kilat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Niat Diaz kabur ke Gunung Kawi demi menghindari perjodohan malah berbelok 180 derajat saat ia mampir salat di Masjid Baiturrahman.
Diaz tidak sengaja menabrak Ganda Mahesa.
Anak kiai kaya raya yang sedang panik setengah mati karena calon istrinya tidak datang satu jam sebelum akad.
Demi menjaga harga diri keluarga di hadapan 200 undangan, Ganda nekat menembak Diaz:
"Mbak, mau gak nikah sama saya? Sekarang. Daripada saya dipermalukan satu Kepanjen."
"Oalah mas saya aja kabur dari perjodohan dan mau ke gunung Kawi untuk mencari ketenangan."
"Mbak mau pesugihan? Astaghfirullah mbak iling mbak. Saya kasih semuanya mbak."
"Saya nggak cari pesugihan saya hanya ..."
Hanya dalam 10 menit, akad dadakan itu sah. Suasana sakral pun langsung pecah oleh bisik-bisik julid emak-emak:
"Iku sopo toh seng rabi karo Ganda? Kok koyo ojek online, dipesen langsung dateng!"
Drama sesungguhnya dimulai ketika Laura, sang calon istri asli, tiba-tiba datang terlambat dan meminta ganda untuk menikahinya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Gelapnya malam di sekitar kompleks perumahan baru itu seolah ikut bersekongkol dengan niat jahat yang sejak kemarin tertanam di dada Bramasta.

Pria itu ternyata tidak pernah benar-benar menyerah.

Rasa malu yang luar biasa akibat dihajar oleh Ganda di depan umum justru memicu dendam kesumat yang membakar akal sehatnya.

Tanpa disadari oleh siapa pun, ia telah mengintai dan membuntuti pergerakan mobil SUV hitam milik Ganda sejak mereka meninggalkan Malang Kota.

Kini, dari balik kemudi mobilnya yang terparkir agak jauh di bawah bayangan pohon, Bramasta menyeringai puas.

Sepasang matanya berkilat beringas saat melihat gerbang rumah baru itu terbuka, menampilkan mobil Ganda yang melaju keluar hanya bersama Laura di dalamnya.

"Bagus, pergi yang lama, Ustaz sialan," desis Bramasta dengan tawa sinis yang tertahan.

Ini adalah kesempatan emas yang sudah ia tunggu-tunggu.

Dengan gerakan yang sangat terlatih dan senyap, Bramasta turun dari mobilnya.

Memanfaatkan kondisi sekitar perumahan yang masih sepi dan belum dilengkapi sistem keamanan ketat, ia berhasil menyelinap masuk melalui celah pintu belakang rumah yang belum sempat dikunci rapat oleh Ganda.

Suasana di dalam rumah baru itu sunyi senyap. Langkah kaki Bramasta yang beralaskan sepatu karet nyaris tidak terdengar saat ia menelusuri koridor.

Ia memutar knop pintu kamar utama dengan teramat perlahan agar tidak menimbulkan derit.

Ceklek.

Pintu terbuka sedikit. Melalui celah itu, Bramasta mendapati Diaz sedang tidur terlentang di atas kasur.

Kedua mata wanita itu terpejam rapat dengan napas yang teratur, benar-benar tidak berdaya karena hantaman rasa pusing dan kelelahan yang luar biasa.

Awalnya, rencana Bramasta hanya ingin menculik Diaz untuk membalas dendam pada Ganda dan memaksa keluarga mendiang ayahnya menyerahkan sisa aset.

Namun, begitu kakinya melangkah mendekati ranjang dan menatap wajah pucat Diaz yang terlelap, isi kepala Bramasta mendadak diracuni oleh pikiran kotor yang bangkit seketika.

"Sepertinya kita harus bersenang-senang dulu sebelum aku membawamu pergi jauh dari pria sok suci itu, Diaz..." bisik Bramasta, suara rendahnya terdengar begitu menjijikkan di dalam kamar yang sunyi.

Bramasta merogoh saku jaket tebalnya. Ia mengeluarkan sebuah tabung kecil dan sebuah jarum suntik yang sudah diisi dengan cairan bening—obat perangsang dosis tinggi yang sengaja ia siapkan untuk menundukkan korbannya.

Secara senyap, Bramasta merangkak naik ke atas ranjang.

Diaz yang setengah tersadar karena merasakan ada pergerakan asing di atas kasurnya, perlahan membuka kelopak matanya yang terasa amat berat.

"B-Bramasta...?" gumam Diaz dengan suara serak dan pandangan kabur.

"Hai, Sayang," seringai Bramasta.

Sebelum Diaz sempat berteriak atau mengumpulkan kesadarannya, Bramasta langsung membekap mulut Diaz dengan tangan kirinya yang besar, sementara tangan kanannya dengan beringas menusukkan jarum suntik itu ke lengan Diaz, menekan pistonnya hingga cairan kimia dosis tinggi itu mengalir cepat masuk ke dalam pembuluh darah sang istri pertama.

Diaz membelalak hebat, tubuhnya menegang di bawah kungkungan Bramasta saat rasa panas mendadak menjalar ke seluruh tubuhnya.

Di tengah perjalanan membelah jalanan malam menuju restoran, Ganda mendadak menginjak rem dengan cukup mendadak.

Tatapannya tertuju pada pergelangan tangan kirinya yang kosong.

Ia baru menyadari bahwa jam tangan pemberian almarhum ayahnya—benda berharga yang selalu ia pakai dan diletakkan di atas meja kamar utama—tertinggal akibat terburu-buru tadi.

"Mas Ganda, kenapa berhenti? Restorannya kan masih di depan," keluh Laura manja sambil mengerucutkan bibirnya.

"Jam tangan Mas tertinggal di rumah, Laura. Kita harus kembali," jawab Ganda dengan raut wajah yang mendadak berubah cemas.

Perasaannya tiba-tiba tidak enak. Mengabaikan rentetan keluhan manja Laura yang tidak terima momen berdua mereka tertunda, Ganda langsung memutar balik mobil SUV-nya dan menginjak pedal gas dengan kecepatan tinggi kembali menuju rumah.

Begitu mobil berhenti di halaman, jantung Ganda mencelos seketika.

Melalui sorot lampu mobil, ia melihat pintu depan rumah baru mereka sudah terbuka sedikit. Instingnya berteriak ada bahaya.

Ganda langsung melompat keluar dari mobil dan berlari masuk ke dalam rumah dengan beringas.

Di dalam kamar yang remang-remang, efek obat yang mulai menjalar membuat tubuh Diaz terasa panas dan lemas.

Namun, sisa-sisa keberaniannya menolak untuk menyerah. Diaz berusaha melawan dengan sisa tenaganya, mencakar dan memukul dada Bramasta sebisanya.

"Tolommmppphh!!" jerit Diaz tertahan, suaranya teredam karena mulutnya dibekap teramat rapat oleh telapak tangan Bramasta, sementara rambut bagian belakangnya dijambak kasar hingga kepalanya terdongak kesakitan.

"Diam, jalang! Tidak akan ada yang menolongmu di sini!" bentak Bramasta dengan mata yang menyalang beringas.

"Kurang ajar!!"

Brakk!!

Pintu kamar dihantam hingga terbuka lebar. Ganda menerobos masuk dengan napas memburu dan sepasang mata yang menyala penuh murka luar biasa melihat istrinya sedang dilecehkan.

Tanpa ampun dan tanpa banyak bicara, Ganda merangsek maju bagai singa yang kelaparan. Ia menarik kerah jaket Bramasta, menyentaknya menjauh dari ranjang, lalu melayangkan pukulan bertubi-tubi dengan tangan kanannya yang kokoh.

Bugh!!

Bugh!!

Dua hantaman mentah mendarat telat dan telak di rahang serta hidung Bramasta.

Suara patahan tulang muda terdengar samar mengiringi tubuh Bramasta yang langsung tersungkur ke lantai marmer dengan darah yang mengucur deras.

Ganda tidak memberi celah, ia kembali melayangkan satu tendangan keras ke perut Bramasta hingga pria bajingan itu terbatuk-batuk memuntahkan cairan lambung.

Bramasta yang sudah babak belur mendongak, menatap Ganda dengan rasa ketakutan yang teramat sangat.

Ia menyadari bahwa anak kiai di hadapannya ini terlalu tangguh dan memiliki kemampuan bela diri yang jauh di atasnya.

Menyadari dirinya bisa mati jika terus bertahan, Bramasta dengan sisa-sisa tenaganya langsung bangkit, berbalik, dan melarikan diri keluar dari kamar dengan langkah pincang dan tergesa-gesa.

Sementara itu, di dalam mobil yang terparkir di halaman, Laura yang awalnya merengut bosan mendadak menegakkan tubuhnya.

Dari balik kaca mobil yang gelap, ia sempat melihat sekilas seorang lelaki asing dengan pakaian acak-acakan dan wajah bersimbah darah berlari keluar dari dalam rumah dengan tergesa-gesa, lalu menghilang di kegelapan malam kompleks.

Laura mematung dengan dada berdegup kencang.

"Siapa laki-laki itu? Apa yang terjadi di dalam?" bisiknya

Perlahan membuka pintu mobil untuk mencari tahu apa yang sedang dihadapi oleh suaminya.

Ganda mengabaikan Bramasta yang melarikan diri.

Fokusnya beralih sepenuhnya pada sang istri pertama.

Ia segera menghampiri Diaz yang kini sudah terkulai lemas di atas kasur dengan napas yang tersengal-sengal parah.

Keringat dingin membasahi seluruh pelipis dan leher Diaz, sementara wajahnya tampak memerah tidak wajar.

"P-panas... tubuhku panas sekali, Ganda..." ratih Diaz dengan suara yang terputus-putus.

Kesadarannya mulai mengabur, digantikan oleh gejolak aneh yang menyiksa seluruh tubuhnya.

Ganda yang panik mencoba memeriksa keadaan Diaz, hingga matanya tidak sengaja menangkap sebuah tabung kecil dan alat jarum suntik kosong yang tergeletak di lantai dekat kaki ranjang.

Seketika, kilat pemahaman menyergap otak Ganda. Ia menyadari sepenuhnya bahwa Diaz baru saja dicekoki obat perangsang dosis tinggi oleh Bramasta.

Tanpa membuang waktu sepeser pun, Ganda langsung menyelipkan kedua lengannya di bawah tubuh Diaz, membopong tubuh lemas istri pertamanya itu dengan erat dan bergegas membawanya keluar dari dalam rumah.

Di halaman, Laura baru saja turun dari mobil dengan wajah yang dipenuhi rasa bingung sekaligus jengkel setelah melihat lelaki asing berdarah-darah tadi.

Namun, kekesalannya berubah menjadi syok saat melihat Ganda keluar dengan tergesa-gesa sambil menggendong Diaz di dadanya.

Laura langsung menghadang langkah suaminya dengan raut wajah menuntut.

"Mas, ada apa ini?! Kenapa perempuan ini digendong-gendong begitu? Aku ikut, Mas!" paksanya sambil berusaha meraih lengan jubah Ganda.

"Nanti saja, Laura! Aku harus membawa Diaz ke rumah sakit sekarang juga! Kamu tunggu di rumah, kunci semua pintu!" bentak Ganda dengan nada suara yang meninggi dan penuh kepanikan, sama sekali tidak memberi ruang untuk perdebatan.

Ganda bergegas membuka pintu belakang mobil, merebahkan Diaz yang terus melenguh kesakitan dengan hati-hati, lalu melompat ke kursi kemudi.

Mobil hitam itu langsung melesat beringas membelah malam, meninggalkan kepulan debu di halaman.

Laura yang ditinggalkan sendirian di teras rumah baru yang asing itu kembali menghentakkan kakinya ke tanah dengan sangat keras.

Air mata ego dan harga diri yang terluka mulai menggenang di sudut matanya.

Rencana malam romantisnya hancur total, dan lagi-lagi ia terdepak demi wanita kota itu.

Di bawah kegelapan malam, dendam di dalam dada Laura terhadap Diaz kian membara, bersumpah tidak akan melepaskan wanita itu begitu saja.

1
merry yuliana
hmmmmm jangan bolak balik kak
sri hastuti
akhirnya ketemu, ayo diaz, pelan2 hilangkan trauma mu, ganda mencintaimu sungguh2 itu, ayo bangkit lg diaz, raih kebahagiaanmu kembali, umi yg kyk iblis sdh pergi, dan madumu jg sdh dicerai 🙏
sri hastuti
waduuh diaz, kenapa km buru2 keluar rumah sakit, ayo km hrs kuat hadapu semua, ganda sdh mencintaimu , 😭😭 ayo thor pertemukan kembali dng ganda ,kasihan diaz ,msh trauma dng umi yg kyk iblis kelakuannya 😡😡

😡😡😡😡😡😡😡😡
Elia Rosa
syukurin buat kalian berdua.. ibu mertua Dan menantu durjana🤭
sri hastuti
lanjuuttt thor sdh gak sabar topeng istri pemilik pondok yg spt iblis dibuka dan istri durhaka yg dengki di libas 😡😡😡
Elia Rosa
tambah seru NIH.. di tunggu kelanjutannya Thor 💪👍
sri hastuti
istri pemilik pondok kyk iblis ya, kelakuan nya , hiiihhh ngeri juga ,penuh tipu muslihat dan kejam , 😡😡😡😡
sri hastuti
ayo ganda kmnhrs tegas ,meski itu umi mu yg kelakuannya spt iblis, kyai jg hrs tegakkan keadilan ,meski itu istrimu ,yg sdh kyk iblis
juga laura, wanita kyk pelacur 😡😡😡
sri hastuti
kelakuan umi kok kyk iblis 😡😡😡
Ana Yasrotin
Serius tanya..memang dipondok ada kelakuan se orang yg disebut umi dan dihormati py watak yg tdk manusiawi begitu 🤔
Ana Yasrotin
Terus terang thor dr awal novel saya br koment ini..saya bukan tipe orang yg suka dg novel genre poligami..tp sejauh ini saya ikuti alur cerita krn aktor pria tegas..semoga akhirx Ganda bisa memilih salah satu antara Diaz dan Laura krn mmg si Laura tdk pantas bersanding dg Ganda..mdhn diakhir cerita bs memuaskan pembaca 🙏
sri hastuti
bagus diaz, buka semua kedok kemunafikan mereka, terutama umi yg jd orang tua gak tau diri, cm ego saja yg dibesar besarkan, dan umi yg gak jd contoh baik 👍👍😡😡😡
sri hastuti
ahh lama2 pengen tak huhhh ,umi sm menantu laknat semua , thor , bikin jengkel aja, orang kok gak punya belas kasih, apalagi katanya umi , tp kelakuan e kyk 😡😡😡🤭
merry yuliana
💪💪💪😍👍🙏
Asra
Cerita kamu bagus, Kak. Bintang 5 nih, kayak kurang hhuhu, kamu berhasil bikin orang (terutama aku) bisa mendalami ceritamu, dibikin kesel, dibikin sedih, dan seterusnya^^✨

Ceritanya jadi hidup. Semangat selalu berkarya nya kak!💖🙌
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰🥰
total 1 replies
sri hastuti
thor, aku kok jd jengkel dan mual dng kelakuan umi , gitu kok istri pemilik pondok to ??, trus anak didik e spt apa itu, ???? arogan ,apalagi laura itu. wanita yg bikin jengkel 😡😡😡
sdh biar dilepas kan sm Ganda aja thor, kasihan diaz, biar bebas 🙏🙏
merry yuliana
ganda pdhl peluk obat termanjur buat diaz...ga salah sebuah pelukan utk hati yang patah...semangat crazy upnya kak...please crazy up banyakkan dikit boleh ya😍💪💪💪🙏👍
sri hastuti
bagus Abah,hrs tegas , umi nya juga ternyata spt itu, bikin 😡😡
kasihan diaz,ternyata sebatang kara 🤭
sri hastuti
blm tentu ganda bisa adil dng 2 istri, kasihan biar lepas dari Ganda, kecuali Ganda bisa melindungi dng baik, kl tdk pendreritaannya semakin menjadi nanti 🙏🙏
sri hastuti
kasihan diaz thor, blm nanti menghadapi nyai nya ganda dan laura yg sdh punya rencana jahat, biarkan diaz bahagia thor, 🙏🙏🙏
biarkan pergi jauh dr manusia2 egois 😡😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!