NovelToon NovelToon
Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Suami Salah Tuduh: Fitnah Berujung Pernikahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir
Popularitas:641
Nilai: 5
Nama Author: Oceanluv_

Zakia tak pernah membayangkan hidupnya bisa berubah total karena fitnah yang ia dapatkan. Di usia yang masih muda yakni 22 tahun, Zakia terpaksa melewati jalan hidupnya dengan cara bekerja tanpa kenal lelah, semua itu ia lakukan demi membantu keluarganya. Bahkan, keinginannya untuk melanjutkan kuliah terpaksa ia urungkan demi membantu keluarga untuk mencicil motor.

Zakia selalu menatap langit dan berharap bisa mendapatkan setitik kebahagiaan di sela-sela kesengsaraan yang ia Terima. Namun siapa sangka, harapan kecil itu terpaksa runtuh dalam satu hari. Sebuah fitnah yang tidak pernah ia bayangkan menghancurkan nama baiknya, mulut manusia lebih cepat menyebarkan fitnah dari pada fakta, hal itu membuat hidup penuh dengan penenakan.

Akhirnya, demi menyelamatkan kehormatan kedua mempelai keluarga, Zakia dan pria itu terpaksa menjalan pernikahan. Akankah mereka akan menjadi pasangan yang penuh cinta? Atau hanya menjadi pasangan suami istri di atas kertas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Oceanluv_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

"Bang, Kakak gue gimana?"

"Ren, adik ipar gue gapapa?"

"Nak, anak mama udah siuman?"

"Daren, menantu bunda gimana Nak?"

Daren baru mengabari kondisi sang istri, selang satu jam kemudian mereka sudah tiba di Rumah Sakit dengan raut wajah masing-masing khawatir. Sama dengan Daren, bahkan untuk tersenyum pun dia bingung bagaimana caranya.

Bahkan semua pertanyaan yang dilontarkan oleh sang keluarga tak bisa Daren jawab, semuanya terlalu tiba-tiba dan pertanyaan mereka semua masuk ke dalam kepalanya secara bertubi-tubi.

"Bang jawab bang!" desak Rega. Ia menggoyangkan bahu Daren pelan, helaan nafas keras terdengar dari tubuh anak itu, rasa takutnya begitu penuh akan keadaan sang kakak.

"Daren, cerita pelan-pelan aja," ujar Jamrud. Jamrud tau apa yang dirasakan Daren saat ini, makanya sedari tadi dia diam, diam-diam memperhatikan sang anak yang dihujani banyak pertanyaan.

"Cedera di kaki Zakia makin parah dan kepalanya terkena geger otak ringan," jelas Daren. Sinta membuang muka sedangkan Daren menunduk sembari mengepalkan tangan sekuat mungkin, begitu juga dengan Lili yang mengulum bibirnya dan Hana yang mengusap wajahnya kasar.

Tapi Daren? Jangan tanya lagi, ingatannya kembali berputar tentang penjelasan dokter tadi, ternyata ada beberapa fakta yang tidak diketahui oleh Daren selama ini.

"Anda suaminya?"

Daren menunggu di luar ruangan dengan rayt wajah cemas, begitu Dokter ke luar Daren langsung bangkit dan menghadap dokter tersebut.

"Iya Dok," jawabnya cepat.

"Mari ikut saya, banyak yang saya harus jelaskan tentang kondisi pasien," ajaknya. Daren meneguk ludahnya kasar, mudah-mudahan cedera yang dialami sang istri tidak separah itu.

"Silahkan duduk pak," titah dokter tersebut.

"Jadi begini Pak, benturan kepala yang dialami pasien menyebabkan pasien terkena geger otak ringan, akibatnya pasien agak susah mengingat dan gampang sakit kepala, kita akan memberikan obat untuk pasien dan kalau pasien mengalami mual, pusing yang hebat atau rasa tidak enak, harap bawa kembali ke sini supaya diperiksa lebih lanjut," jelas sang dokter.

Rintisan ngilu ke luar dari bibir Daren, tak terbayangkan sessakit apa yang dialami sang istri sehingga menyebabkan geger otak ringan.

"Tapi, ada satu bagian yang rusak sudah lama dan tidak diobati, karena kejadian ini cedera tersebut semakin parah," lanjutnya.

Daren terkejut, cedera parah? Bagian mana? Apa selama ini Daren kurang memperhatikan Zakia, tunggu, jangan bilang itu adalah kaki yang menyebabkan masalah ini terjadi!

"Kaki pasien mengalamai robekan ligamen di pergelangan kaki, akibatnya kaki pasien melemah, sering ngilu tiba-tiba dan kurangnya keseimbangan, sepertinya cedera ini tidak pernah diobati, alhasil ketika kaki tadi terasa ngilu dan mulai melemah secara tiba-tiba, pasien pun terjatuh dan cedera itu semakin parah," jelas dokter.

Daren membeku, Zakia memang selalu meringis, tapi tak pernah bercerita, Daren selalu memperhatikan tapi mungkin kurang teliti tentang hal itu.

"Sebelumnya, apa pasien pernah terjatuh atau terpukul benda keras sebelumnya?"

Daren mencoba mengingat, tragedi itu, tragedi di mana kaki Zakia dipukul hebat oleh pria yang ingin memperkosanya, wanita itu bahkan sampai tidak bisa menopang badannya sendiri dan berakhir pingsan.

"P-pernah," jawab Daren gugup.

Sang dokter mengangguk, "berarti karena kejadian itu dan tidak pernah diobati apalagi ditambah terjatuh sepeti ini, kondisi kaki pasien semakin memburuk, akibatnya selama satu sampai dua minggu pasien harus menggunakan kursi roda."

"Setelah itu baru pelan-pelan berjalan menggunakan tongkat dan belajar berjalan seperti biasa, hanya saja kemungkinan kondisi tubuh pasien tidak sekokoh dulu karena cederanya lumayan parah, bisa jadi pasien gampang lelah dan tidak kuat untuk menopang dirinya seperti biasa," lanjut sang dokter.

Daren membuang nafas kasar, bagaimana dirinya bisa tidak tahu akan hal ini dan kenapa Zakia selama ini tidak pernah berobat? Bukankah selama ini ia berjalan menggunakan kaki itu, berarti selam ini Zakia menahankan sakit?

"Nanti saya akan berikan obat untuk pasien tolong ditebus di Apotek Rumah Sakit dan tolong tentang kaki pasien harus dilaksanakan untuk kesembuhannya."

"Baik Dok, terima kasih," ujar Daren. Ia bangkit dari kursi tersebut, tersenyum kepada dokter dan ke luar menuju ruangan sang istri.

Daren berdiri lemah di depan ruangan Zakia, di balik pintu ia menatap Zakia yang terbaring lemah dengan selang oksigen di mulutnya, perlahan-lahan Daren membuka pintu tersebut, ia masuk dan berjalan gontai ke arah sang istri.

"Sebanyak apa luka yang lo pendam Zakia sampai kaki cedera parah gitu lo ga ada cerita sama gue," gumam Daren. Tangannya menyentuh pergelangan kaki istrinya dan mengusapnya pelan, beberapa hari ini wanita itu terlalu memaksakan diri, tanpa tahu bahwa kakinya ga sekuat itu untuk menopang tubuh kecilnya.

"Maaf karena selama ini gue ga terlalu sadar sama cedera kaki lo," gumamnya pelan. Netra Daren menatap wajah Zakia yang tertidur, Daren ragu tapi tangannya seolah menarik dirinya untuk mengusap pucuk kepala sang istri, akhirnya dengan penuh kegugupan Daren berhasil mengusap kepala Zakia, ia menghela nafas dan pergi menjauh ke luar ruangan.

*****

Duduk di kursi taman sendirian bukanlah hal yang buruk untuk menenangkan pikiran, setelah berlama-lama berlarut dengan masalah membuat Daren memilih untuk mengasingkan diri sementara waktu.

Tentang Zakia, ada keluarga mereka yang menjaganya, Daren didesak oleh sang ibu dan ibu mertua untuk ke luar sebentar agar bisa menyuap nasi, karena memang sedari tadi Daren belum ada makan sedikitpun.

Tapi alih-alih mengisi lambung dengan makanan pokok, Daren memilih mengisi lambung kosong itu dengan segelas kopi yang ia beli di super market depan Rumah sakit.

Bibirnya meminum kopi, tenggorokannya merasakan sensasi hangat minuman tersebut, tapi siapa sangka kepalanya dipenuhi dengan pernyataan masalah kaki Zakia.

"Dicariin ke mana-mana, di sini rupanya!"

Daren menoleh, itu adalah suara sang adik ipar dengan susu kotak di tangannya, Daren tersenyum melihat itu.

"Jangan senyum-senyum lo! Gue tau lo pasti ngetawain gue karena minum susu kotak kan!" kata Rega sewot.

"Yeu! Susu kotak mah untuk semua umur bisa!" lanjutnya lagi. Daren menggeleng samb tertawa, ternyata kehadiran Rega bisa melonggarkan isi kepalanya yang terasa berat

"Gue sumpek juga bang di dalam, makanya milih ke luar, niatnya mau cari angin malah ketemu elo di sini," ungkap Rega.

"Kakak lo udah siuman?"

Rega mengangguk, "udah, dia nyariin elo tadi," jelasnya. Daren tersedak bahkan sampai terbatuk, sedangkan Rega ia melemparkan tatapan kepada sang abang ipar, apa salahnya kalau istrinya mencari sang suami saat pertama kali sadar?

"Ngapain dia nyariin gue?"

Rega menaikkan bahu, "ya mana gue tau, karena elo suami kali," kata. Rega. Daren tersenyum kecil, benar juga, karena dirinya ada suami Zakia, wajar jika anak itu mencari dirinya di saat seperti ini.

"Napa? Mulai demen ya lo sama kakak gue?" tuding Rega. Daren menelan ludah, gelagapan dan mengalihkan menatap lurus ke depan.

"Ya napa emang? Kan dia istri gue, serumah sama gue ya kali gue ga cinta sama dia, aneh bener lo jadi manusia!"

Rega mencibir, syukur saja Daren ini berstatus abang ipar, jika. tidak, mungkin sudah terjadi keributan di taman ini.

"Udha Terima fakta kalau gue abang ipar lo dan ga salah kalau gue cinta sama kakak lo, daripada sama cewek lain gimana coba?"

"Gue bunuh beneran lo!" ancam Rega menarik kerah baju Daren. Daren menatap tajam mata Rega, ia tersenyum miring, pria ini terlihat benar-benar mencintai dan menyayangi istrinya.

"Udah lepasin kerah baju gue, gue mau tanya-tanya sama lo."

Cengkraman di kerah baju Daren melonggar, bersamaan dengan Rega yang merubah raut wajah tegangnya.

"Banyak tanya lo! Kayak reporter!" seru Rega. Ia mengambil kopi Daren dan meminumnya santai.

"Terserah, tapi gue mau tau, kenapa Zakia selama ini ga berobat sampai sakitnya bisa separah itu pasca kejadian kemaren?" tanya Daren dengan penuh rasa ingin tahu dan tak lupa dengan tekanan di setiap kata yang ia keluarkan.

Rega tak langsung menjawab, aura wajahnya seketika menggelap, namun Daren bisa melihat ada sedikit rasa sedih di wajah marah itu. Rega menghela nafas berat lalu menatap Daren.

"Karena ucapan orang di luar sana lebih sakit dibanding sakit yang dirasain kak Zakia waktu itu."

Kalian sadar ga sih, Daren kalau ngomong Rega itu beda dan kalau sama Zakia itu beda juga wkwkwk, lembutny itu lembut banget.

1
Oceanluv_
Hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!