"Aku butuh seorang istri. Hanya selama satu tahun."
Nadira Pramesti tak pernah membayangkan akan menerima tawaran seaneh itu. Namun, demi menyelamatkan toko buku peninggalan ayahnya, ia menyetujui pernikahan kontrak dengan Arga Wijaya, pewaris Wijaya Group yang harus menikah untuk memenuhi syarat dalam surat wasiat keluarganya. Mereka sepakat untuk tidak saling mencintai dan berencana berpisah setelah kontrak berakhir.
Ketika sebuah buku catatan peninggalan ayah Nadira justru membuka jalan menuju rahasia lama yang selama dua puluh lima tahun disembunyikan keluarga Wijaya. Di tengah ancaman, kebohongan, dan seseorang yang rela melakukan apa saja demi menutup kebenaran, Arga dan Nadira mulai mempertanyakan satu hal: apakah hati mereka masih sanggup berpegang pada isi kontrak ketika cinta datang lebih dulu?
Karena terkadang, yang paling sulit bukanlah menikah dengan orang asing, melainkan berpisah dengan seseorang yang telah menjadi rumah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosealyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Kecurigaan Pertama
Pembobolan Toko Buku Senja menyisakan terlalu banyak pertanyaan.
Tidak ada uang yang hilang. Tidak ada laptop yang dibawa. Bahkan laci kasir yang berisi hasil penjualan masih utuh. Seolah-olah pelaku memang datang bukan untuk mencuri, melainkan mencari sesuatu yang jauh lebih berharga.
Pikiran itu terus mengganggu Arga sepanjang perjalanan menuju kantor.
Begitu tiba di Wijaya Group, ia tidak langsung menghadiri rapat seperti biasanya. Langkahnya justru berbelok menuju ruang kerja, lalu mengambil ponsel dari saku jasnya.
"Rizky, ke ruangan saya sekarang." Tak sampai lima menit kemudian, pintu diketuk dari luar.
"Masuk."
Rizky melangkah masuk sambil membawa tablet di tangannya. Seperti biasa, pria itu berdiri tegak di depan meja kerja Arga, menunggu instruksi berikutnya.
"Ada yang bisa saya bantu, Pak?"
Arga menggeser beberapa lembar hasil cetakan rekaman dashcam ke hadapan Rizky.
"Aku ingin kamu mengawasi Nadira selama beberapa hari ke depan."
Rizky sempat mengernyit. "Secara terbuka?"
Arga menggeleng pelan. "Jangan sampai dia tahu. Aku tidak ingin membuatnya merasa sedang diawasi."
"Baik, Pak."
"Kalau dia pergi ke toko, pulang, atau ada keperluan lain, pastikan semuanya aman. Tapi lakukan dari jauh."
Rizky mengangguk mantap. "Siap."
Arga kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi. "Selain itu, minta tim keamanan mencari rekaman CCTV di sekitar Toko Buku Senja. Aku ingin tahu siapa saja yang berada di sana sebelum pembobolan terjadi."
"Sudah saya hubungi sejak tadi pagi. Beberapa kamera milik ruko sekitar berhasil kami dapatkan. Sisanya masih menunggu izin pemilik."
"Bagus."
Rizky sempat terdiam sebelum bertanya, "Bapak yakin semua ini ada hubungannya dengan dokumen milik ayah Bu Nadira?"
Arga tidak langsung menjawab. Tatapannya kembali jatuh pada foto sedan hitam yang tercetak buram di atas meja.
"Dulu aku mengira pembobolan itu hanya aksi pencuri yang salah sasaran." Ia menggeleng pelan. "Tapi setelah mendengar cerita Nadira tentang ayahnya... rasanya semuanya mulai saling terhubung."
Rizky ikut melihat foto tersebut. "Sedan yang mengikuti Bapak waktu itu?"
Arga mengangguk. "Mobil ini muncul sebelum pembobolan. Lalu toko dibongkar, tapi tidak ada barang berharga yang hilang." Ia mengembuskan napas panjang. "Kalau memang target mereka uang, seharusnya kasir atau laptop yang dibawa."
"Artinya mereka mencari sesuatu," tebak sang bodyguard.
"Tepat." Arga merapatkan kedua tangannya di atas meja. "Dan satu-satunya benda yang mereka cari kemungkinan besar adalah dokumen peninggalan Hendra Pramesti."
Ruangan mendadak terasa sunyi. Nama itu kini tidak lagi terdengar asing bagi Arga.
Hendra Pramesti.
Auditor yang pernah bekerja di Wijaya Group.
Ayah dari perempuan yang kini menjadi istrinya.
Entah kenapa, semakin banyak fakta yang muncul, semakin besar pula firasat bahwa pernikahan kontrak yang awalnya hanya bertujuan memenuhi syarat warisan telah menyeret mereka ke dalam persoalan yang jauh lebih rumit.
"Ada satu hal lagi, Pak," ujar Rizky memecah keheningan.
"Apa?"
"Kalau memang benar ada orang yang mengincar Bu Nadira karena dokumen itu..." Rizky berhenti sejenak. "...berarti keselamatan beliau juga ikut menjadi taruhannya."
Kalimat itu membuat Arga terdiam. Ia menoleh ke arah jendela ruang kerjanya. Dari lantai paling atas gedung Wijaya Group, jalanan Jakarta tampak begitu sibuk. Mobil-mobil terus berlalu lalang, sementara orang-orang menjalani aktivitas mereka seperti biasa.
Namun bagi Arga, keadaan sudah tidak lagi biasa. Perlahan, tanpa ia sadari, kekhawatirannya terhadap Nadira tumbuh lebih besar dari sekadar rasa tanggung jawab sebagai pasangan dalam sebuah kontrak. Ia hanya belum mau mengakuinya.
"Kalau begitu..." Arga akhirnya bersuara. "Mulai hari ini, jangan biarkan Nadira sendirian terlalu lama."
"Baik, Pak." Rizky mengangguk, lalu keluar dari ruangan untuk menjalankan perintahnya.
Sementara Arga masih duduk memandangi meja kerjanya. Tanpa sadar, jemarinya meraih ponsel dan membuka foto Nadira yang beberapa hari lalu sempat ia ambil diam-diam ketika perempuan itu sedang tertidur di mobil setelah pulang dari toko.
Sudut bibirnya terangkat tipis. Namun senyum itu segera memudar. Kalau semua ini benar berhubungan dengan masa lalu Hendra Pramesti. Maka sejak menerima tawaran menikah dengannya, Nadira mungkin sudah menjadi sasaran seseorang. Dan Arga bertekad tidak akan membiarkan apa pun terjadi pada perempuan itu.
Sementara itu, di Toko Buku Senja, Nadira berusaha menjalani hari seperti biasa. Meski toko sudah kembali rapi setelah semalam dibereskan bersama Maya, bayangan tentang rak-rak yang berantakan masih terus terlintas di pikirannya.
Tangannya sibuk menyusun buku-buku baru di rak depan, tetapi pikirannya sama sekali tidak fokus. Maya yang sejak tadi memperhatikannya akhirnya menghampiri.
"Mbak dari tadi melamun terus."
Nadira tersenyum tipis. "Aku kepikiran semalam."
Maya ikut menyandarkan tubuhnya di rak buku. "Masih takut?"
"Bukan cuma takut." Nadira mengembuskan napas panjang. "Aku malah merasa bersalah."
"Bersalah kenapa?"
Nadira menundukkan kepala beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan, "Kalau bukan karena aku menemukan dokumen itu... mungkin toko ini nggak akan dibobol."
Maya tampak bingung. "Dokumen?"
Nadira sempat ragu. Namun setelah beberapa detik terdiam, ia memutuskan untuk menceritakan semuanya. Ia percaya pada Maya.
Mereka sudah berteman bertahun-tahun. Bahkan setelah ayah Nadira meninggal, Maya adalah orang yang tetap setia membantu menjaga toko buku itu.
"Aku menemukan dokumen lama milik Ayah di gudang. Surat pengangkatan kerja."
"Kerja di mana?"
"Wijaya Group."
Mata Maya langsung membulat. "Hah? Serius?"
Nadira mengangguk pelan. "Aku juga baru tahu. Selama ini Ayah cuma bilang beliau auditor di kantor cabang. Aku nggak pernah tahu kalau perusahaan itu ternyata bagian dari Wijaya Group."
Ia berhenti sejenak, lalu mengeluarkan map tua dari dalam tasnya.
"Yang lebih aneh... ternyata Ayah bukan cuma mengurus audit cabang."
Nadira membuka beberapa lembar catatan yang mulai menguning. "Beliau juga menangani data audit proyek-proyek besar yang dikirim ke kantor pusat."
Maya membaca sekilas beberapa halaman itu. "Banyak angka."
"Iya."
"Lalu kenapa Mbak bilang ini ada hubungannya sama pembobolan?"
Nadira menunjuk satu nama yang berulang kali muncul. "Proyek Aurora."
"Apaan itu?"
"Aku juga nggak tahu." Nadira menggeleng pelan. "Nama proyek itu muncul berkali-kali di catatan Ayah. Bahkan beberapa halaman diberi lingkaran merah." Ia mengusap pelan sampul buku catatan yang mulai kusam.
"Entah kenapa... aku merasa Ayah sengaja menyimpan semua ini."
Maya ikut terdiam. Kalau benar ada seseorang yang sampai nekat membobol toko hanya demi mencari dokumen tua itu, berarti isi catatan Hendra Pramesti jauh lebih penting daripada yang mereka bayangkan.
Menjelang sore, ponsel Arga bergetar. Rizky masuk ke ruang kerjanya membawa sebuah tablet.
"Pak, saya sudah mendapatkan sebagian rekaman CCTV di sekitar toko."
Arga langsung berdiri. "Bagaimana hasilnya?"
Rizky membuka rekaman tersebut. "Ini sekitar tiga puluh menit sebelum pembobolan."
Di layar terlihat sebuah sedan berhenti tidak jauh dari Toko Buku Senja selama beberapa menit sebelum akhirnya pergi.
Sayangnya, posisi kamera terlalu jauh. Plat nomornya tidak terbaca.
"Wajah pengemudinya?"
"Tidak terlihat."
Arga menghela napas pelan. Rizky kemudian menggeser rekaman ke waktu yang berbeda.
"Namun ada satu hal lagi."
Layar memperlihatkan seseorang turun dari sebuah mobil di siang hari. Arga mempersempit matanya. Orang itu sangat dikenalnya. Kevin, sepupunya.
Kevin terlihat berdiri beberapa saat di seberang jalan sebelum akhirnya berjalan ke arah deretan ruko. Rekaman berhenti sampai di sana.
Arga menatap layar tanpa berkedip. "Kenapa Kevin ada di sana?"
Rizky menggeleng. "Saya belum mengetahui alasannya, Pak."
Ruangan itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Arga ingin percaya bahwa itu hanya kebetulan. Sejak beberapa hari terakhir, terlalu banyak kebetulan yang terjadi.
Langit di luar jendela perlahan berubah jingga sebelum akhirnya ditelan gelap. Satu per satu lampu rumah mulai menyala, sementara suara kendaraan di jalan raya semakin berkurang, menyisakan kesunyian yang perlahan memenuhi malam.
Di sebuah rumah yang tampak tenang dari luar, sebuah lampu meja masih menyala di sudut ruangan. Cahayanya yang redup hanya menerangi sebagian meja kerja, membiarkan sudut-sudut ruangan lain tenggelam dalam bayangan.
Kevin duduk sendirian tanpa menyalakan lampu utama.
Tatapannya kosong menembus permukaan meja beberapa saat, seolah sedang menimbang sesuatu yang tak pernah berani ia ucapkan. Setelah mengembuskan napas pelan, ia membuka laci paling bawah.
Sebuah foto lama tergeletak di sana. Warnanya mulai memudar dimakan usia. Beberapa sudutnya bahkan sudah menguning dan sedikit terlipat.
Kevin mengangkat foto itu dengan hati-hati. Empat orang berdiri berdampingan di dalam bingkai yang telah usang.
Hendra Pramesti. Bram Santoso. Mendiang kakek Arga. Dan seorang anak laki-laki kecil yang sebagian wajahnya tertutup bayangan pohon. Sorot mata Kevin berubah sendu.
Jemarinya mengusap perlahan wajah Hendra yang tercetak di foto itu, seolah sedang mengenang sesuatu yang sudah lama berlalu.
"Maaf..." gumamnya hampir tak terdengar.
Beberapa detik kemudian, ia menatap foto itu sekali lagi sebelum berbisik pelan, "Aku harap... aku nggak terlambat." Foto itu kembali ia simpan ke dalam laci.
Bunyi laci yang menutup terdengar pelan, tetapi cukup memecah keheningan ruangan. Kevin menyandarkan tubuhnya ke kursi dan memejamkan mata sesaat.
Jauh di balik ketenangan itu, sebuah rahasia yang terkubur selama puluhan tahun perlahan mulai mencari jalan untuk muncul kembali. Dan tanpa disadari siapa pun, langkah pertama menuju kebenaran telah dimulai.