NovelToon NovelToon
Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Rahasia Dibalik Menikahi Musuh Kakakku

Status: tamat
Genre:CEO / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nourayl

"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."

Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.

Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.

Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.

Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...

Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.

Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Di Balik Nama Mahendra

"Tidak semua orang yang tampak kuat benar-benar lahir sebagai pemimpin. Ada yang dipaksa tumbuh karena hidup tidak memberinya pilihan."

Pagi itu, rumah keluarga Mahendra sudah kembali dipenuhi aktivitas.

Jam di ruang makan baru menunjukkan pukul tujuh ketika para pelayan mulai menyiapkan sarapan. Aroma roti panggang yang baru keluar dari oven bercampur dengan wangi kopi hitam yang memenuhi ruangan.

Ayla membantu Bu Rini, juru masak di rumah itu, menata piring di atas meja.

"Nyonya tidak perlu membantu," ucap Bu Rini untuk kesekian kalinya.

Ayla hanya tersenyum.

"Aku belum terbiasa hanya duduk."

Bu Rini terkekeh pelan.

"Kalau Tuan melihat Nyonya di dapur, beliau pasti meminta kami dimarahi."

"Masa, sih?"

"Semenjak bekerja di sini, Tuan selalu bilang satu hal."

"Apa?"

"'Kalau seseorang dibayar untuk mengerjakan tugasnya, jangan biarkan tamu yang bekerja.'"

Ayla menundukkan kepala sambil tersenyum kecil.

"Padahal aku bukan tamu..." batinnya.

Ucapan Arsen malam pertama kembali terngiang.

"Aku tidak menikah untuk menjadikanmu tamu."

Kalimat itu selalu berhasil membuat hatinya menghangat.

Langkah kaki terdengar dari arah tangga.

Arsen turun dengan setelan jas berwarna abu-abu gelap. Dasi hitam terpasang rapi, jam tangan perak melingkar di pergelangan kirinya. Penampilannya begitu sederhana, tetapi tetap memancarkan wibawa yang sulit dijelaskan.

"Selamat pagi."

"Pagi," jawab Ayla.

Arsen duduk di kursinya.

Tatapannya sempat berhenti pada apron yang masih dikenakan Ayla.

"Kau dari dapur?"

"Iya."

"Membantu Bu Rini sedikit."

Arsen menoleh kepada Bu Rini.

"Mulai besok, jangan biarkan Ayla membantu pekerjaan dapur."

Bu Rini langsung mengangguk.

"Baik, Tuan."

Ayla spontan protes.

"Aku hanya membantu."

"Aku tahu."

"Lalu kenapa tidak boleh?"

Arsen meletakkan cangkir kopinya.

"Bukan karena aku melarang."

"Lalu?"

"Karena kau tidak punya kewajiban melakukan pekerjaan mereka."

Nada suaranya tenang.

Tidak terdengar seperti perintah.

Lebih seperti seseorang yang sedang menjaga batas agar orang lain tidak merasa terbebani.

Ayla terdiam.

Ia mulai memahami satu hal.

Arsen memang sulit mengungkapkan perhatian.

Namun hampir semua keputusannya lahir dari keinginan melindungi orang lain.

__________________________________________

Selesai sarapan, Arsen berdiri sambil merapikan jasnya.

"Aku berangkat."

Pak Bima segera menyerahkan tas kerja.

"Tuan."

Arsen mengangguk kecil.

Saat hendak melangkah menuju pintu, Nyonya Siska memanggil dari ruang keluarga.

"Arsen."

Pria itu langsung menghampiri ibunya.

"Ibu jangan banyak berjalan."

"Ibu sudah jauh lebih baik."

Nyonya Siska tersenyum, lalu melirik Ayla yang berdiri tak jauh dari sana.

"Hari ini ajak Ayla ke kantor."

Arsen tampak sedikit terkejut.

"Ibu..."

"Kasihan dia sendirian di rumah."

"Aku tidak apa-apa, Bu," sela Ayla cepat.

Namun Nyonya Siska menggeleng.

"Sesekali lihat dunia suamimu."

"Supaya kamu tahu kenapa anak itu pulang selalu kelelahan."

Ruangan mendadak hening.

Arsen menatap ibunya beberapa saat sebelum akhirnya menghela napas pelan.

"Kalau kau mau ikut..."

Ia menoleh kepada Ayla.

"...bersiaplah. Kita berangkat lima belas menit lagi."

Mata Ayla membulat.

"Benarkah?"

"Hm."

Jawaban singkat itu sudah cukup membuat Ayla tersenyum lebar.

___________________________________________

Perjalanan menuju kantor berlangsung hampir empat puluh menit.

Di dalam mobil, Arsen lebih banyak membaca dokumen di tablet, sementara Ayla menikmati pemandangan kota yang mulai ramai.

Sesekali ia melirik ke arah Arsen.

Pria itu benar-benar fokus.

Alisnya sesekali berkerut ketika membaca laporan.

Ponselnya tak berhenti berdering.

Satu panggilan selesai, panggilan lain menyusul.

Ayla baru menyadari...

Menjadi seorang CEO ternyata tidak semudah yang ia bayangkan.

Bukan hanya soal duduk di ruang kerja mewah.

Tetapi tentang mengambil keputusan yang memengaruhi begitu banyak orang.

Mobil akhirnya memasuki halaman sebuah gedung pencakar langit dengan logo besar bertuliskan:

MAHENDRA GROUP

"Selamat pagi, Tuan Arsen."

Petugas keamanan membungkukkan badan.

Begitu Arsen turun dari mobil, beberapa karyawan yang sedang berjalan langsung berhenti.

Mereka memberi salam dengan penuh hormat.

"Selamat pagi, Pak."

"Pagi, Pak."

Tak seorang pun berani berbicara lebih dari yang diperlukan.

Suasana berubah begitu disiplin hanya karena kehadiran satu orang.

Ayla berjalan di samping Arsen.

Ia bisa merasakan puluhan pasang mata diam-diam memperhatikannya.

"Itu istrinya Pak Arsen?"

"Baru pertama kali datang, ya?"

"Cantik sekali."

Bisikan-bisikan kecil terdengar dari berbagai sudut lobi

Ayla menundukkan kepala, merasa sedikit canggung.

Tanpa berkata apa-apa, Arsen memperlambat langkahnya hingga sejajar dengan Ayla.

"Jangan dipedulikan."

Suara itu pelan.

Hanya cukup untuk didengar Ayla.

Ia mengangguk kecil.

Anehnya, rasa gugupnya perlahan menghilang.

Begitu pintu lift terbuka, seorang wanita muda berlari kecil menghampiri mereka.

"Maaf, Pak Arsen!"

Wanita itu terlihat panik sambil membawa beberapa map.

"Direktur dari Garuda Energi sudah menunggu di ruang rapat. Mereka bilang ada perubahan mendadak dalam kontrak."

"Aku ke sana sekarang."

Arsen menerima map itu.

Sebelum melangkah pergi, ia menoleh kepada Ayla.

"Tunggu aku di ruang kerja."

"Aku akan meminta Raka menemanimu."

Belum sempat Ayla menjawab, Arsen sudah berjalan cepat menuju ruang rapat.

Tatapan seluruh karyawan mengikuti langkahnya.

Dan untuk pertama kalinya...

Ayla melihat sisi Arsen yang sama sekali berbeda.

Di rumah, ia adalah pria pendiam yang berbicara seperlunya.

Namun di tempat ini...

Ia adalah pemimpin yang menjadi sandaran begitu banyak orang.

Ayla tersenyum tipis.

Lalu berbisik pelan pada dirinya sendiri,

"Ternyata... beban yang kau bawa jauh lebih besar daripada yang bisa kulihat."

Di saat yang sama...

Di lantai paling atas gedung Mahendra Group, seseorang berdiri di balik kaca ruangannya sambil memperhatikan Arsen yang memasuki ruang rapat.

Pria itu tersenyum tipis.

"Lima tahun kau berhasil menyembunyikannya, Arsen..."

Ia menatap sebuah map tua yang berada di atas mejanya.

"...tapi tidak untuk selamanya."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!