"Bujur buset!"
Bukan sulap, bukan sihir. Dinda yang seharusnya sudah 'metong' dihantam mobil tronton, nyatanya masih bernapas. Alih-alih terbangun di rumah sakit dengan tubuh hancur, ia justru mendapati dirinya terduduk di tengah rimbunnya hutan belantara.
Ia masih mengenakan setelan santai jalan-jalannya lengkap dengan sling bag yang masih tersampir di bahu. Isinya pun masih lengkap: ponsel, uang tunai, set peralatan make-up, hingga parfum sweet vanilla kesukaannya.
"Gila, gue di mana? Masa iya ketabrak mobil, terus kelemparnya sejauh ini?" gumamnya panik.
Dinda merogoh ponselnya dengan tangan gemetar, berharap bisa menghubungi seseorang. Namun, saat layar menyala, ia justru mematung. Ponselnya terasa asing—seolah baru keluar dari kotak—kosong, bersih tanpa jejak data, tanpa sinyal, tanpa sisa.
Tiba-tiba, suara dedaunan kering yang terinjak dari balik semak membuatnya tersentak. Dinda menoleh cepat ke belakang.
Di sana, ia terpaku. Seorang pria berbadan tegap berdiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Dinda dan Nilam melangkah beriringan membelah pelataran, berjalan mantap mendekati area tempat Wira berada.
Sementara itu, Wira yang sedari tadi tengah sibuk mengikat erat sambungan batangan bambu mendadak merasakan ada sesuatu yang aneh. Dahi tegapnya mengernyit dalam. Pria itu merasa heran karena suara riuh rendah dari warga desa yang semula memenuhi halaman rumah Ketua Kampung tiba-tiba berangsur senyap dan hening seketika.
Dengan menaikkan sebelah alisnya, Wira menoleh ke samping. Ia mendapati Parman berdiri kaku dengan mulut sedikit terbuka, tampak terbengong-bengong menatap lurus ke arah belakang tubuh Wira seolah baru saja melihat bidadari jatuh dari langit.
Digerakkan oleh rasa penasaran yang besar, Wira akhirnya memutar tubuhnya ikut menoleh ke belakang.
Deg!
Jantung sang pemburu berdesir hebat. Sepasang mata elangnya sedikit melebar, terkejut mendapati sosok Dinda yang tengah berjalan anggun mendampingi Nilam. Namun, di dalam jangkauan penglihatan Wira saat ini, eksistensi Nilam seolah mengabur; dunianya mendadak hanya menyisakan wajah cantik Dinda seorang.
Gadis itu melemparkan seulas senyuman manis ke arahnya sembari terus melangkah mendekat. Wira sempat terpaku selama beberapa detik, terpesona oleh kecantikan wanitanya yang kian memancar di bawah pendar mentari. Namun, buru-buru ia menguasai diri dan mengubah raut wajahnya kembali sedatar papan kayu.
Sesaat kemudian, sorot mata Wira mendadak kembali menajam. Rahangnya mengetat kuat saat menyadari rambut Dinda yang diikat tinggi memperlihatkan ceruk leher mulusnya yang putih bersih tanpa penghalang. Kulit seputih pualam itu—ditambah guratan samar sisa kemesraan mereka tadi siang—praktis membuat mata para pria di pelataran itu melekat erat dan enggan berpaling.
Rasa jengkel yang teramat sangat seketika membakar dada Wirandu. Sifat posesifnya bangkit. Dengan langkah lebar dan tegas, Wira langsung menghampiri Dinda sebelum gadis itu melangkah lebih jauh ke tengah kerumunan.
Tanpa sepatah kata pun, tangan kanan Wira yang besar terulur ke belakang kepala Dinda. Dengan gerakan yang teramat pelan dan hati-hati, jemarinya menarik lepas ikat rambut perak yang dikenakan gadis itu, membuat helaian rambut hitam panjang milik Dinda seketika terurai indah menjuntai ke bawah, menutupi seluruh permukaan leher sensitifnya.
"Loh, Wira? Kenapa malah dilepas?" tanya Dinda bingung, refleks memegangi rambutnya yang kini tergerai bebas.
Wira tidak langsung menjawab. Ia merundukkan kepalanya tipis, menatap dalam-dalam ke manik mata cokelat Dinda dengan tatapan yang begitu pekat dan menuntut. "Apa kau sudah lupa bagaimana seharusnya kau memanggilku, hm?" tanyanya dengan suara berat yang rendah.
Dinda tersentak kecil, memori kesepakatan mereka di rumah pohon langsung berputar di kepalanya. Wajahnya seketika merona merah. "O-oh... maaf. Kanda," ucap Dinda gugup setengah berbisik, tidak enak hati karena situasi di sekitar mereka sedang ramai.
Mendengar sapaan manis itu patuh meluncur dari bibir Dinda, Wira mengangguk puas. Ketegangan di wajahnya sedikit mencair. "Kenapa kamu malah menyusul ke sini?" tanya Wira lagi dengan nada suara yang melunak pelan.
Dinda mendongakkan kepalanya, menatap wajah tampan nan tegas di depannya dengan binar mata memelas yang dibuat-buat. "Habisnya... aku bosan di rumah terus," jawabnya jujur dengan nada sedikit manja.
Sudut bibir Wira berkedut, menahan senyuman tipis yang hampir terbit. Ia kemudian mengalihkan pandangannya pada Nilam yang sedari tadi hanya berdiri menunduk kaku di sebelah Dinda, tidak berani mencampuri urusan sang pemburu.
"Nilam, masuklah ke dalam rumah terlebih dahulu. Beritahu Si Mbok di dapur kalau Dinda ada di sini. lalu nanti kamu kembalilah ke mari," perintah Wira datar dengan wibawa yang tidak bisa dibantah.
Nilam mengangguk cepat. "Baik, Kang," sahutnya patuh, lalu segera berjalan cepat meninggalkan Dinda untuk masuk ke area dapur rumah Ketua Kampung.
Dinda memandangi kepergian temannya itu sembari melemparkan senyum simpul.
"Kemarilah," ucap Wira rendah.
Tangan kekarnya bergerak meraih jemari lentik Dinda, menggenggamnya dengan erat namun lembut, lalu menuntun langkah gadis itu untuk duduk di dekat area tempatnya tengah merakit tenda bambu.
"Duduklah di sini saja. Jangan ke mana-mana," kata Wira protektif.
Dinda menurut tanpa protes. Ia mendudukkan tubuhnya perlahan di atas sebuah kursi anyaman rotan yang diletakkan di bawah keteduhan pohon.
Setelah memastikan Dinda aman di tempatnya, Wira kembali berdiri tegak. Sebelum melanjutkan pekerjaannya mengikat bambu, ia sengaja memutar tubuhnya, mengedarkan pandangan tajam ke segala arah pelataran. Benar saja dugaannya, beberapa pemuda desa ternyata masih setia mencuri-curi pandang, menatap lapar ke arah wanitanya yang sedang duduk manis.
Wira menyipitkan matanya. Ia melemparkan tatapan mata elang yang luar biasa dingin, tajam, dan sarat akan ancaman maut kepada para pria itu satu-per-satu—seolah sedang memperingatkan mereka bahwa mencari masalah dengannya sama saja dengan mengantar nyawa.
Menerima intimidasi sekeras itu dari sang pemburu nomor satu, para pria di pelataran itu seketika bergidik ngeri. Tubuh mereka gemetar ketakutan, dan dalam sekejap mereka langsung membuang muka, pura-pura sibuk memotong bambu atau mengupas kelapa demi keselamatan diri masing-masing.
semangat ya up trus 😍😍😍
awal yg bagus cerita nya.. apalagi s MC cewek berpikir idola Korea dan cina😄😄😄 suka aku...
semangat up sampai tamat ya thor😍😍😍😍