NovelToon NovelToon
Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Cepot Dawala:Memburu Dukun Hitam

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Fantasi
Popularitas:216
Nilai: 5
Nama Author: Nur Hali

Di malam berkabut tebal di lereng Leuweung Larangan, Dawala dan Si Cepot berjalan pulang menuju Kampung Pasir Batang. Suasana terasa mencekam: kampung tampak sunyi gelap tanpa tanda kehidupan. Saat melewati pohon beringin kembar di gerbang, mereka dikejutkan oleh penampakan mengerikan—sesosok kepala wanita tanpa tubuh, penganut ilmu Teluh yang sedang mencari tumbal—disertai tawa melengking dan bau busuk. Ketakutan melanda keduanya, memaksa mereka lari sekuat tenaga dan menggedor pintu bambu rumah terdekat demi keselamatan, sementara makhluk itu terus mendekat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur Hali, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18: Dukun Sesat dan Persekutuan dengan Siluman

Setelah berbulan-bulan melintasi hutan dan lembah, Cepot dan Dawala tiba di sebuah wilayah yang udaranya terasa berbeda. Tidak lagi segar dan menyejukkan, melainkan terasa pengap, kering, dan sedikit menyesakkan dada. Pepohonan di sepanjang jalan tampak layu, daunnya berwarna pucat, dan tanah di bawah kaki terasa gersang seolah sudah lama tidak terkena air hujan.

“Kang, lihat sekelilingnya. Tempat ini terasa seperti tidak bernyawa. Padahal di sekelilingnya masih ada pegunungan yang seharusnya menjadi sumber air,” kata Dawala sambil mengusap dahinya yang berkeringat karena hawa panas yang tidak wajar.

Cepot menghentikan langkahnya, lalu menatap ke arah lembah yang terbentang di depan mereka. Dari kejauhan terlihat sebuah desa kecil yang dikelilingi pagar bambu tinggi, namun suasana di sana terasa sunyi dan suram. Tidak terlihat orang yang sedang bekerja di ladang, tidak ada suara anak-anak bermain, hanya keheningan yang terasa mencekam.

“Ada yang tidak beres di sini,” jawab Cepot sambil memegang gagang Golek Pancasona di pinggangnya. “Ini bukan kekeringan biasa seperti yang kita temui di Negeri Sebrang. Rasanya ada pengaruh kekuatan yang sengaja ditanamkan untuk menguras energi alam.”

Mereka pun melanjutkan perjalanan menuju desa itu. Begitu sampai di gerbang, dua orang penjaga dengan wajah lelah dan mata sayu menyambut mereka dengan sikap curiga.

“Siapa kalian? Tidak ada orang luar yang diizinkan masuk ke desa ini tanpa izin dari Sang Penjaga,” tegur salah satu penjaga dengan suara datar.

“Kami hanya musafir yang kehabisan bekal dan air minum,” jawab Cepot dengan nada ramah dan tenang. “Kami tidak bermaksud mengganggu, hanya ingin beristirahat sebentar sebelum melanjutkan perjalanan.”

Setelah diperiksa dan diyakinkan bahwa mereka tidak membawa niat buruk, kedua bersaudara itu diizinkan masuk. Saat berjalan di tengah desa, mereka melihat warga yang berjalan dengan langkah gontai, wajah pucat, dan tatapan mata yang kosong seolah tidak memiliki semangat hidup. Semua orang berjalan tergesa-gesa menuju rumah masing-masing dan menutup pintu rapat-rapat seolah takut melihat sesuatu.

Mereka mendekati seorang lelaki tua yang sedang duduk termenung di bawah pohon rindang yang sudah mulai kering. Cepot menyapa dengan sopan, “Pak, bolehkah kami bertanya? Mengapa suasana di desa ini terasa begitu sepi dan sedih? Mengapa tanah dan pepohonan di sini menjadi gersang seperti ini?”

Lelaki tua itu menoleh perlahan, matanya terlihat waspada sebelum akhirnya berbicara dengan suara pelan dan berbisik, “Jangan bicara keras-keras, Nak. Kalau didengar, kita bisa celaka. Semua ini terjadi sejak setahun yang lalu, datanglah seorang lelaki yang mengaku sebagai dukun sakti bernama Ki Jaka. Ia berkata bisa melindungi desa ini dari bencana dan makhluk jahat, dengan syarat kami harus memberinya persembahan setiap bulan.”

Ia menarik napas panjang, lalu melanjutkan dengan nada sedih, “Awalnya semuanya terasa baik, desa terasa aman. Tapi lama-kelamaan, persembahannya semakin banyak dan berat. Ia juga melarang kami mendekati sungai di hulu dan membuang air ke tempat tertentu. Sejak itu, hujan tidak turun lagi, tanah menjadi kering, dan kami semua terasa lemas seolah tenaga kami disedot sedikit demi sedikit.”

“Apakah tidak ada yang berani menentangnya?” tanya Dawala dengan nada penasaran.

“Siapa yang berani?” jawab lelaki tua itu sambil menggeleng takut. “Ia memiliki kekuatan aneh, dan konon bersekutu dengan makhluk halus yang kuat. Siapa pun yang menentangnya akan jatuh sakit mendadak atau menghilang secara misterius. Hingga sekarang, kami hanya bisa menurut dan berharap keadaan akan membaik.”

Mendengar penjelasan itu, Cepot dan Dawala saling berpandangan. Kini mereka mengerti sumber masalahnya: bukan bencana alam, melainkan ulah manusia yang memanfaatkan kekuatan gaib untuk keuntungan diri sendiri, bahkan bersekutu dengan makhluk halus untuk menakuti dan menindas sesama.

“Terima kasih atas keterangannya, Pak,” kata Cepot. “Tenang saja, kami akan mencoba mencari jalan keluarnya. Tapi tolong jangan katakan kepada siapa pun bahwa kami menanyakan hal ini, demi keselamatan Bapak sendiri.”

Malam itu, saat seluruh desa sudah terlelap, Cepot dan Dawala diam-diam berjalan menuju tempat kediaman Ki Jaka yang terletak di atas bukit kecil di pinggir desa. Tempat itu dikelilingi pohon-pohon berduri yang tumbuh melilit rapat, dan dari balik dindingnya terlihat cahaya api berwarna hijau pucat yang berkelap-kelip, disertai bau kemenyan yang menyengat dan sedikit beracun.

“Dari sini saja sudah terasa hawa yang tidak baik,” bisik Dawala sambil menutup hidungnya sedikit. “Benar kata warga, ada kekuatan asing yang terikat kuat di tempat ini.”

Mereka bersembunyi di balik semak-semak lebat, lalu mengintip melalui celah dinding bambu. Di dalam halaman yang terbuka, terlihat Ki Jaka—seorang lelaki bertubuh tinggi kurus, bermata tajam dan berkilat, mengenakan jubah hitam yang panjang. Di depannya terhampar berbagai sesajen dan benda-benda aneh, serta sebuah lingkaran yang digambar dengan arang dan darah hewan.

Dari tengah lingkaran itu, perlahan muncul kabut hitam yang berputar, lalu membentuk sosok siluman ular raksasa yang kepalanya menjulang tinggi, matanya menyala merah menyala. Suara mendesis yang berat dan bergema memenuhi udara.

“Sudah cukup lama kau mengambil tenaga dari manusia dan alam ini, Ki Jaka,” suara siluman itu terdengar di telinga mereka. “Segera kumpulkan lebih banyak lagi, agar kekuatanku pulih sepenuhnya dan aku bisa memberimu kekuatan yang kau impikan.”

Ki Jaka membungkuk hormat dengan senyum yang penuh keserakahan. “Tenang saja, Tuanku. Warga desa ini sudah lemah dan takut. Mereka akan terus memberi apa saja yang aku minta. Sebentar lagi energi di tempat ini akan habis, lalu kita pindah ke tempat lain yang lebih besar dan kaya.”

Melihat pemandangan itu, Dawala merasa geram dan ingin segera melangkah masuk, namun tangannya ditahan oleh Cepot.

“Tunggu dulu, jangan terburu-buru,” bisik Cepot. “Kalau kita menyerang secara sembarangan, mereka bisa melukai warga desa sebagai umpan. Kita harus memutuskan ikatan persekutuan mereka terlebih dahulu, baru mengusir kekuatan jahat itu.”

Ia perlahan mengeluarkan Golek Pancasona, namun tidak mengangkatnya tinggi-tinggi. Cahayanya yang putih keemasan memancar samar, cukup untuk menetralkan hawa berbahaya di sekitar mereka tanpa menarik perhatian terlebih dahulu.

Saat Ki Jaka hendak melanjutkan percakapannya, tiba-tiba udara di sekitar lingkaran itu terasa bergetar. Cahaya putih samar mulai menyusup masuk melalui celah-celah, membuat kabut hitam itu berputar kacau dan terasa panas.

“Apa ini?! Ada kekuatan yang mengganggu!” seru Ki Jaka dengan wajah panik.

Siluman ular itu mendesis marah, matanya melotot mencari sumber gangguan. “Keluar! Siapa yang berani mencampuri urusan kami?!”

Maka, Cepot dan Dawala melangkah keluar dari tempat persembunyian dengan sikap tenang namun tegas. Cepot berdiri di depan sambil memegang pusakanya, sedangkan Dawala bersiap di samping dengan galah bambunya.

“Kami datang untuk menghentikan semua ini,” kata Cepot dengan suara lantang dan jelas. “Kau, Ki Jaka, telah menyalahgunakan ilmu dan kepercayaan orang lain demi keserakahan sendiri. Dan kau, makhluk halus, telah menghisap energi alam dan kehidupan manusia secara tidak adil. Persekutuan yang dibangun di atas penderitaan orang lain tidak akan pernah bertahan lama.”

Ki Jaka tertawa mengejek, meski terlihat ketakutan di balik tawanya. “Siapa kalian berdua yang berani berbicara seperti itu? Apakah kalian tidak tahu siapa yang berdiri di hadapanmu? Aku memiliki kekuatan yang bisa menghancurkan desa ini dalam sekejap!”

Ia lalu mengangkat tangannya, mengucapkan mantra-mantra aneh, dan mengarahkan asap hitam ke arah mereka. Namun, begitu asap itu mendekat, cahaya dari Golek Pancasona memancar lebih terang dan membakarnya hingga lenyap menjadi uap yang tidak berbahaya.

Siluman ular itu melompat maju dengan mulut terbuka lebar, hendak melahap mereka. Namun Cepot segera mengayunkan ujung pusakanya, memancarkan gelombang cahaya yang mengenai tubuh siluman itu. Ia menjerit kesakitan, terasa terbakar oleh sinar yang suci itu.

“Tidak mungkin! Benda apa ini?!” jeritnya sambil mundur tergesa-gesa.

“Ini adalah cahaya kebenaran dan keseimbangan,” jawab Cepot. “Ia tidak menyakiti makhluk yang hidup sesuai aturan alam, tapi ia akan membakar habis kekuatan yang merusak dan menghisap kehidupan orang lain.”

Melihat kekuatan sekutunya mulai melemah, Ki Jaka menjadi panik dan mencoba melarikan diri, namun kakinya terasa berat seolah terikat oleh tanah sendiri. Ia jatuh berlutut, menyadari bahwa kekuatan yang ia banggakan itu hanyalah pinjaman yang rapuh, dan kini hilang begitu saja saat menghadapi kebenaran.

“Maafkan aku… aku hanya ingin kaya dan dihormati…” rintihnya dengan suara yang berubah menjadi lemah.

“Kekayaan dan kehormatan tidak boleh didapatkan dengan menyakiti orang lain,” kata Cepot tegas namun tidak kejam. “Kembalikanlah apa yang telah kau ambil, tinggalkanlah jalan sesat ini, dan mohon ampun kepada alam serta warga desa. Jika kau berjanji untuk berubah, kami tidak akan melenyapkanmu, tapi hanya memutuskan ikatan jahat yang mengikatmu.”

Dengan bantuan cahaya Golek Pancasona, ikatan gaib antara Ki Jaka dan siluman ular itu terputus sepenuhnya. Siluman itu menjerit terakhir kali sebelum berubah menjadi asap tipis dan terhempas ke tempat asalnya, tidak lagi memiliki kekuatan untuk mengganggu makhluk hidup. Semua benda dan lingkaran sesat itu pun berubah menjadi debu dan hancur.

Begitu ikatan itu terputus, hawa di sekitar desa segera berubah. Udara yang tadinya panas dan kering menjadi sejuk kembali, dan dari kejauhan mulai terdengar suara gemuruh awan yang membawa hujan. Dalam waktu singkat, rintik hujan turun membasahi tanah yang gersang, menyegarkan pepohonan dan mengembalikan kehidupan ke tempat itu.

Keesokan harinya, warga desa terbangun dengan perasaan segar dan bertenaga kembali. Mereka melihat hujan turun dan tanah mulai menghijau lagi, serta mendengar pengakuan dari Ki Jaka yang telah sadar dan memohon maaf atas perbuatannya. Meskipun sempat marah, mereka akhirnya memaafkannya dengan syarat ia tidak lagi mengulangi perbuatannya.

Saat berpamitan untuk melanjutkan perjalanan, warga desa mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya.

“Terima kasih, anak muda. Kalian telah membebaskan kami dari belenggu ketakutan dan kesengsaraan,” kata kepala desa dengan mata berkaca-kaca.

“Kami hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan,” jawab Cepot sambil tersenyum. “Ingatlah selalu: kekuatan yang sejati tidak ditunjukkan dengan menakuti orang lain, melainkan dengan melindungi dan membantu sesama. Jangan mudah tergoda oleh janji-janji manis yang menyembunyikan penderitaan di baliknya.”

Maka, Cepot dan Dawala pun melangkah pergi meninggalkan desa itu, membawa kembali kedamaian dan kepercayaan pada jalan yang benar.

1
Kardi Kardi
BISMILLAHHH. MELU WACA WAAAA
Kardi Kardi: BISMILLAHHHH
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!