NovelToon NovelToon
RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

RESEP RAHASIA MANTAN ISTRI

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Single Mom / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

"Hana mengorbankan kariernya sebagai otak di balik kesuksesan 3 cabang Rumah Makan demi menjadi ibu rumah tangga seutuhnya. Namun, pengorbanannya dibalas dengan siksaan mental dari mertua cerewet dan perubahan sikap Adrian, suaminya yang perlahan kembali ke tabiat aslinya sebagai playboy.

​Semuanya menjadi makin runyam saat mereka membawa pulang seorang baby sitter muda nan cantik dari kampung halaman. Di depan Hana dia adalah pengasuh yang lugu, namun di depan Adrian, dia adalah penggoda yang siap merebut semua yang telah Hana bangun dengan tetesan keringat. Saat Hana sadar dia dikhianati di rumahnya sendiri, haruskah dia tetap bertahan, atau mengambil kembali 3 rumah makan yang merupakan haknya dan meninggalkan mereka dalam kemiskinan?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12: Detak Pertama Bom Waktu Restoran

Bab 12: Detak Pertama Bom Waktu Restoran

​Suasana di area dapur utama Rumah Makan "Rasa Hana" Cabang Dua sore itu terasa jauh lebih gerah dari biasanya. Asap panggangan membubung tinggi, membawa aroma kecap dan rempah bakar yang pekat ke udara. Di sudut ruangan, dekat meja racik, Pak Joko berdiri dengan dahi berkerut dalam. Di tangannya, selembar kertas nota pesanan dari kasir tampak bergetar lembut akibat remasan jemarinya yang tegang.

​"Pak Joko... ini meja nomor empat komplain lagi," bisik seorang pramusaji muda dengan wajah pucat ketakutan. "Katanya ayam bakarnya terlalu manis sampai bikin enek, terus sambal bajaknya asin sekali, tidak ada rasa segar dari jeruk limau seperti biasanya. Tamunya minta ganti menu atau tidak mau bayar."

​Pak Joko menghela napas panjang, tatapannya beralih pada kuali besar berisi bumbu inti yang diracik persis mengikuti gramasi buku resep palsu pemberian Hana. Sejak tiga hari lalu, formula baru ini resmi diaplikasikan di seluruh cabang. Secara visual, bumbunya sangat menawan—merah merona dan mengilap saat dioleskan ke atas daging ayam yang membara. Namun, lidah Pak Joko yang sudah puluhan tahun bergelut di dunia kuliner tidak bisa dibohongi. Karamelisasi gula yang berlebih berpadu dengan pemangkasan komponen pengasam alami telah menciptakan sensasi rasa yang 'menjebak'. Gurih di awal, namun meninggalkan rasa getir yang mengikat di pangkal lidah setelah beberapa suapan.

​"Ikuti saja maunya tamu, ganti dengan menu sup. Tapi ingat, jangan diubah takaran bumbunya," perintah Pak Joko dengan suara rendah, mengingat instruksi rahasia dari Hana untuk membiarkan skenario ini berjalan apa adanya.

​Di lantai dua, di dalam ruang administrasi yang sejuk, Adrian duduk di balik meja kerjanya dengan laptop yang terbuka. Jarinya bergerak gelisah, menggulir halaman ulasan digital di aplikasi ojek daring. Guratan stres tercetak jelas di pelipisnya.

​“Rasanya berubah total. Ayam bakarnya manis hambar seperti saus instan murahan. Sangat mengecewakan untuk harga sekelas Rasa Hana.”

“Sambalnya asin sekali, bikin tenggorokan kering. Kapok beli di sini lagi.”

“Bintang satu dulu sampai rasanya kembali seperti dulu saat Owner-nya masih sering turun ke dapur.”

​Adrian menutup laptopnya dengan sentakan kasar. Kepalanya berdenyut nyeri. Penurunan omzet memang belum terlihat drastis karena tertutup oleh ramainya pelanggan baru yang datang akibat promosi besar-besaran di media sosial, namun riak-riak komplain dari pelanggan setia ini mulai terasa seperti teror yang merayap. Adrian tahu ada yang salah, namun egonya menolak untuk mengakui bahwa ia telah salah langkah dengan menyingkirkan Hana dari dapur.

​Sementara itu, di rumah mewah kota, atmosfer penindasan psikologis harian terus berjalan dengan lambat namun mencekam. Hana masih menghabiskan sebagian besar waktunya di dalam kamar atas yang terkunci. Tanpa adanya ponsel, dunianya kini menyusut menjadi sebatas empat dinding kamar dan pemandangan taman samping dari balik jendela kaca.

​Pukul empat sore, pintu kamar Hana kembali berbunyi.

​Klek.

​Santi melangkah masuk membawa keranjang anyaman berisi pakaian bersih yang baru selesai disetrika. Siang ini, dengan absennya Ibu Broto yang sedang pergi keluar rumah untuk urusan perbankan, Santi sengaja melonggarkan sedikit pertahanannya. Ia berjalan mendekati lemari pakaian Hana dengan langkah yang sengaja dibuat berisik, memancarkan aura keangkuhan seorang pelayan yang merasa posisinya sudah setara dengan sang nyonya.

​"Ini baju-bajunya sudah saya setrika, Mbak Hana," ucap Santi dengan nada suara yang datar, tanpa ada sisa-sisa ketakutan atau rasa hormat yang ia tunjukkan saat Adrian berada di rumah.

​Hana yang sedang duduk membaca sebuah buku tua di sofa dekat jendela hanya melirik sekilas tanpa berniat membalas perkataan Santi. Ketenangan Hana yang bagai telaga mati itu entah mengapa membuat Santi merasa jengkel. Santi ingin melihat Hana menangis, memohon, atau setidaknya marah-marah seperti wanita yang dikhianati pada umumnya.

​Santi meletakkan pakaian itu ke dalam lemari, lalu berbalik menatap Hana dengan senyuman miring yang penuh provokasi. "Mbak Hana betah ya diam di kamar terus? Di bawah sepi loh, Mbak... Mas Adrian belakangan ini kalau pulang kerja seringnya duduk di ruang tengah, cerita-cerita sama Santi soal urusan restoran yang bikin dia pusing. Mas Adrian bilang... dia senang karena Santi selalu ada buat dengerin keluh kesahnya."

​Hana membalik halaman bukunya dengan sangat perlahan, gerakannya begitu anggun seolah kata-kata Santi hanyalah hembusan angin kosong yang lewat. "Santi," suara Hana akhirnya keluar, terdengar begitu jernih dan berwibawa di dalam kamar yang sunyi. "Pekerjaanmu di rumah ini adalah mengurus cucian dan membantu Ibu di dapur. Sejak kapan tugas seorang pelayan bertambah menjadi pendengar keluh kesah pemilik rumah?"

​Wajah Santi seketika memerah menahan dongkol karena disebut pelayan secara gamblang. Ia maju satu langkah, matanya menatap tajam ke arah perut Hana. "Mbak Hana boleh saja sombong sekarang karena sedang hamil anak Mas Adrian. Tapi Mbak harus ingat, laki-laki itu kalau sudah bosan dan pusing di luar, dia pasti akan mencari tempat yang bisa bikin dia nyaman. Dan tempat aman itu... sepertinya bukan lagi di kamar ini."

​Hana menutup bukunya dengan dentuman pelan, lalu mendongak menatap lurus ke dalam manik mata Santi. Sorot mata Hana begitu tajam, memancarkan aura intimidasi yang pekat dari seorang wanita kelas atas yang tidak bisa diguncang oleh gertakan murahan. "Kamu tahu apa perbedaan antara berlian dan kerikil di pinggir jalan, Santi? Berlian, meskipun disimpan di dalam kotak yang gelap dan terkunci, nilainya akan tetap tinggi. Sementara kerikil... meskipun diletakkan di atas meja kaca yang mewah, orang-orang akan tetap menginjaknya dan membuangnya saat kaki mereka merasa kotor."

​Hana tersenyum tipis, sebuah senyuman yang teramat dingin dan sarat akan makna mendalam. "Silakan berdiri di atas meja kaca itu selama kamu bisa, Santi. Kita lihat seberapa lama kamu bisa bertahan sebelum tangannya sendiri yang akan melemparmu kembali ke tanah."

​Santi meremas jemarinya kuat-kuat, napasnya memburu akibat harga dirinya yang diinjak-injak oleh ketenangan Hana. Sebelum ia sempat membalas makian itu, suara raungan mesin mobil Adrian terdengar memasuki halaman depan rumah. Mendengar suara itu, kepanikan instan langsung melanda wajah Santi. Ia dengan cepat mengubah ekspresi wajahnya kembali menjadi tampak lesu dan penurut, lalu bergegas keluar dari kamar Hana tanpa mengucapkan sepatah kata pun, menutup pintu dengan tergesa-gesa.

​Malam harinya, jam makan malam berlangsung dalam keheningan yang menyesakkan. Pintu kamar Hana sengaja dibuka oleh Ibu Broto agar Hana bisa turun untuk makan, sebuah taktik pencitraan karena Adrian berada di rumah.

​Hana duduk di ujung meja makan, perlahan menyuap nasi dengan porsi kecil ke dalam mulutnya. Di sisi lain meja, Adrian duduk dengan wajah yang sangat kusut, matanya menatap kosong ke arah piringnya sendiri tanpa ada nafsu makan sedikit pun. Pikirannya masih dipenuhi oleh laporan keuangan harian dan tumpukan komplain dari para pelanggan setia yang terus berdatangan ke ponsel kerjanya.

​Ibu Broto yang menyadari kegelisahan anaknya mencoba mengambil sepotong ayam goreng yang disiapkan oleh Santi dan meletakkannya di piring Adrian. "Adrian, Le... dimakan ayamnya. Kamu dari pagi belum makan nasi yang benar, nanti lambungmu kambuh lagi. Ini Santi sengaja masak menu kesukaanmu."

​Adrian menatap potongan ayam goreng itu, lalu beralih melirik ke arah Santi yang berdiri di dekat dispenser air dengan pandangan mata yang penuh perhatian palsu. Adrian mengambil garpu, memotong sedikit daging ayam itu lalu mengunyahnya. Namun baru dua kali kunyahan, dahi Adrian kembali berkerut dalam. Rasa manis yang pekat langsung memenuhi rongga mulutnya, meninggalkan sensasi getir di pangkal tenggorokan yang membuatnya merasa enek seketika.

​Prang!

​Adrian meletakkan garpunya dengan kasar di atas piring marmer hingga menimbulkan dentingan yang memekakkan telinga. "Ini kenapa rasa makanannya jadi manis dan getir begini sih?!" bentak Adrian dengan suara baritonnya yang meninggi, meluapkan seluruh stres dan frustrasinya yang menumpuk sejak di restoran tadi siang.

​Santi yang berdiri di dekat dispenser langsung tersentak kaget, tubuhnya gemetar lembut mendengar bentakan dari pria yang sore kemarin baru saja menciumnya dengan penuh gairah. "M-maaf, Mas Adrian... Santi masaknya sudah mengikuti arahan dari Ibu... takaran bumbunya sama seperti kemarin," cicit Santi dengan nada suara yang hampir menangis.

​Ibu Broto pun ikut panik melihat kemarahan anaknya yang tidak biasa. "Adrian, kamu ini kenapa kok malah membentak Santi? Masakan Santi enak kok, rasanya pas. Kamu saja yang mungkin sedang terlalu lelah jadi lidahmu terasa pahit."

​Hana yang duduk di ujung meja tetap melanjutkan makannya dengan sangat tenang. Ia mengunyah makanannya perlahan, menikmati setiap detik dari pertunjukan runtuhnya kestabilan emosi Adrian. Detak pertama dari bom waktunya di restoran kini telah mulai merambat masuk ke dalam rumah tangganya, memicu retakan-retakan kecil pada aliansi yang dibangun oleh suami, mertua, dan selingkuhannya sendiri.

​"Sudahlah! Adrian tidak nafsu makan!" ketus Adrian. Ia berdiri dari kursi makan dengan sentakan kasar, meninggalkan meja makan begitu saja dan melangkah lebar menuju ruang kerjanya di lantai bawah, membanting pintu dengan keras.

​Ibu Broto menghela napas panjang sembari menatap kepergian anaknya dengan raut wajah cemas, lalu beralih menatap Santi yang kini sudah mulai sesenggukan kecil di sudut ruangan. Sementara Hana, setelah menghabiskan suapan terakhirnya, meletakkan sendok dengan rapi. Ia berdiri, menatap sekilas ke arah Santi dan Ibu Broto dengan pandangan mata yang dingin, lalu berjalan kembali menuju lantai atas dengan langkah kaki yang tenang dan penuh kemenangan yang sunyi. Skenario perlambatan konflik ini sedang bekerja di bawah permukaan, dan Hana tahu, tidak lama lagi, fondasi kesabaran Adrian akan benar-benar runtuh total.

1
THE GIRL COOL😑
good jop 👍👍👍👍 lanjut kan😍😍😍
gendiz: terimakasih 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!