NovelToon NovelToon
PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

PERNIKAHAN 2 RAHASIA : Antara Ceo Dan Bos Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mafia / Identitas Tersembunyi
Popularitas:941
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Kinan dan Darwin bertemu pada malam hujan yang penuh bahaya. Untuk menghilang dari masa lalu mereka, keduanya pindah ke sebuah desa dan berpura-pura menjadi suami istri.

Di balik kehidupan sederhana sebagai guru TK dan petugas kebersihan puskesmas, mereka menemukan berbagai kejanggalan yang merugikan warga. Saat berusaha mengungkap kebenaran, perasaan yang awalnya hanya sandiwara mulai berubah menjadi nyata.

Namun tidak ada yang tahu bahwa Kinan adalah bos mafia yang ditakuti, dan Darwin adalah CEO yang sengaja menghilang dari dunia bisnis.

Ketika rahasia mereka terbongkar, mana yang lebih sulit dipertahankan: penyamaran, atau perasaan yang terlanjur tumbuh?

Pernikahan 2 Rahasia: Antara CEO dan Bos Mafia

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pak Surya Disiksa

Dimas membuka pintu besi.

Brak.

Ruangan lembap itu hanya diterangi satu lampu redup. Pak Surya didorong masuk. Tangannya segera diborgol ke kursi besi.

Tak lama kemudian, Andika turun. Ia berdiri di depan pria tua itu. "Pak Surya. Kau sudah puluhan tahun bersama Black Viper."

Pak Surya tidak menjawab.

"Sayang sekali... Loyalitasmu salah tempat."

Andika mengambil tongkat besi dari atas meja.

"Lihat baik-baik. Mulai hari ini...yang melawan bukan lagi dihukum. Melainkan dijadikan pelajaran."

Buk!

Tongkat itu menghantam lantai, hanya beberapa sentimeter dari kaki Pak Surya. Pak Surya tidak bergeming.

Andika tersenyum. "Aku suka orang keras kepala. Tapi aku lebih suka melihat mereka berubah pikiran."

Ia menyerahkan tongkat itu kepada Dimas. "Jangan bunuh. Pastikan besok pagi...dia masih bisa berbicara."

Andika berbalik meninggalkan ruangan. Pintu besi menutup.

Brak!

Langkah Andika menghilang di balik lorong.

Ruangan kembali sunyi.

Dimas memutar tongkat besi di tangannya. "Maaf, Pak Surya. Saya hanya menjalankan perintah."

Pak Surya mengangkat wajah. "Kalau masih ingat siapa yang membesarkanmu...jangan lakukan ini."

Dimas terdiam sesaat. Namun akhirnya ia menghela napas. Tongkat itu terayun.

Buk!

Pak Surya meringis. Napasnya tertahan. Belum sempat rasa sakit mereda...

Buk!

Pukulan kedua menghantam bahunya. Kursi besi bergeser beberapa senti. Keringat mulai membasahi pelipisnya. Darah tipis mengalir dari sudut bibir.

Di sela napas yang mulai memburu, bibirnya bergerak pelan. "...Ketua..." Matanya terpejam sesaat. "Kalau Nona Kinan masih di sini... Black Viper tidak akan seperti ini."

Dimas menghentikan ayunan tongkatnya. Tatapannya goyah sekejap. Namun suara Andika kembali terngiang di kepalanya.

"Yang melawan... dijadikan pelajaran."

Dimas mengepalkan rahang. Tongkat itu kembali terangkat. Lampu redup di ruang bawah tanah bergoyang pelan. Lalu... Suara pukulan kembali memecah keheningan.

Andika melangkah keluar tanpa menoleh sedikit pun. Suara pukulan dari balik ruangan mulai terdengar.

Buk!

Buk!

Langkahnya tidak berhenti. Lorong bawah tanah yang panjang hanya diterangi lampu-lampu kuning redup.

Seorang pria berjas hitam segera menghampiri.

"Tuan."

Andika menghentikan langkah. "Bagaimana perkembangan wilayah barat?"

"Sebagian besar sudah setuju."

"Yang menolak?"

Pria itu menunduk. "Masih ada beberapa pemilik tanah."

Andika mendengus pelan. "Kalau begitu...buat mereka mau."

Pria itu mengangguk. "Termasuk Desa Sonorejo ?"

"Terutama desa itu. Tanah itu harus menjadi milik kita. Apa pun caranya."

Pria itu tampak ragu. "Tapi masih ada beberapa warga yang bertahan."

Andika tersenyum tipis. "Warga tidak pernah menjadi masalah. Selalu ada seseorang yang bisa dibeli." Ia kembali melangkah.

"Tuan."

Andika berhenti.

"Kalau Ketua kembali..."

Andika menatap lurus ke depan. "Dia tidak akan kembali."

Suasana kembali hening. Sesaat kemudian, sudut bibirnya terangkat. "Kalaupun kembali...dia hanya akan melihat Black Viper yang sudah menjadi milikku."

Andika meninggalkan lorong itu.

Sementara dari balik pintu besi... Suara pukulan masih terus terdengar.

Dan di kursi besi itu, Pak Surya hanya mampu memejamkan mata sambil menahan satu harapan.

Semoga Nona Kinan kembali sebelum semuanya terlambat.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan paginya, rumah kecil itu kembali dipenuhi keheningan.

Sasa duduk di lantai ruang tengah. Boneka kainnya dipangku.

Suara pintu depan mendadak terbuka keras.

Brak!

Sasa tersentak.

Pak Roni melangkah masuk tanpa menoleh sedikit pun ke arah putrinya. Langkahnya lurus menuju kamar. Pintu didorong hingga membentur dinding.

Linda yang semula berbaring perlahan bangkit. Wajahnya masih pucat. Bekas lebam di lengan belum benar-benar memudar.

Pak Roni mengambil map cokelat yang semalam ia tinggalkan di atas meja. Ia membukanya.

Lembar sertifikat itu masih sama. Kosong.

Tak ada satu pun tanda tangan. Rahangnya mengeras. "Linda..." suaranya rendah. "Aku sudah lelah menunggu."

Ia mengangkat sertifikat itu tinggi-tinggi. "Aku juga tidak ingin terus bersikap kasar kepadamu."

Tatapannya menusuk. "Tapi apa susahnya? Tinggal tanda tangan."

Linda menghela napas panjang. "Mas Roni..."

Ia menatap sertifikat itu sejenak. "Tanah itu masa depan kita. Kalau dijual, nanti anak kita hidup dari apa?"

Pak Roni tertawa pendek. "Anak kita? Justru aku sedang memikirkan masa depannya. Uang hasil penjualan itu cukup untuk membuka usaha. Cukup untuk hidup lebih baik."

Linda menggeleng pelan. "Kalau memang untuk keluarga...kenapa pembelinya harus terburu-buru?"

Pak Roni terdiam.

Linda melanjutkan dengan suara lirih. "Kenapa mereka terus mendesak? Dan kenapa mereka berani membayar jauh di atas harga pasar?"

Sorot mata Pak Roni berubah. "Aku tidak peduli. Aku hanya peduli uangnya."

Linda memejamkan mata sesaat. "Aku peduli. Itu tanah peninggalan ayahku. Di sana ada sawah yang selama ini menghidupi kita. Kalau sudah dijual...kita tidak akan pernah bisa membelinya kembali."

Pak Roni membanting map ke atas kasur.

Buk!

"Jangan terus membawa-bawa ayahmu! Yang memberimu makan sekarang itu aku!"

Linda menatap suaminya tanpa berkedip. "Benarkah? Sudah berapa bulan Mas Roni tidak membawa uang pulang? Kalau bukan karena hasil sawah...kita bahkan tidak punya beras."

Kalimat itu membuat wajah Pak Roni memerah.

Ia melangkah cepat. Tangannya mencengkeram bahu Linda. "Kau berani melawanku?"

Linda meringis menahan sakit. "Aku hanya mempertahankan hak anak kita."

Di ruang tengah, Sasa memeluk bonekanya semakin erat.

Suara bentakan dari dalam kamar terdengar semakin keras. Cengkeraman Pak Roni semakin kuat.

"Mas... sakit..." Linda berusaha melepaskan tangannya, tetapi tenaganya kalah jauh.

"Tanda tangani!"

"Aku tidak mau."

Pak Roni menghempaskan tubuh Linda kembali ke kasur.

Suara benturan itu membuat tubuh kecil Sasa bergetar. Boneka kain di pelukannya hampir terjatuh. "Ayah..." Suara itu lirih.

Pak Roni menoleh. Tatapannya tajam. "Kau masuk kamar!"

Sasa refleks mundur selangkah. Air matanya mulai menggenang.

"Mas..." Linda memohon. "Jangan bentak anak kita."

"Diam!" Bentakan itu menggema ke seluruh rumah.

Sasa tidak sanggup bertahan. Ia memungut bonekanya, lalu berlari ke arah pintu belakang.

"Ceklek."

Pintu kayu terbuka. "Sasa!" teriak Linda.

Namun anak itu sudah lebih dulu berlari. Kakinya menyusuri jalan setapak di belakang rumah. Rumput yang masih basah oleh embun membasahi ujung celananya.

Ia tidak berhenti. Napasnya mulai tersengal.

Boneka kain itu dipeluk semakin erat.

"Bu Guru..." Air matanya terus mengalir. "Bu Guru..."

Jalan kecil itu membelah kebun hingga menuju pagar belakang taman kanak-kanak. Dari kejauhan terdengar suara anak-anak menyanyikan lagu pagi.

Sasa terus berlari. Sandalnya terlepas sebelah.

Ia tak kembali mengambilnya. Yang ada di kepalanya hanya satu.

Bu Kinan.

Sementara di dalam kelas, Kinan baru saja selesai mengajak anak-anak bertepuk tangan.

"Bagus. Sekarang siapa yang..."

Kalimatnya terhenti. Seorang guru yang sedang berada di dekat jendela tampak terkejut.

"Bu Kinan...Sepertinya Sasa..."

Kinan menoleh.

Di balik pagar belakang sekolah, tubuh kecil Sasa terlihat sempoyongan.

Belum sempat Kinan melangkah keluar...

Bruk!

Sasa jatuh tersungkur di tanah.

1
Kayla Rane
tambah seruuu lihat aksi Kinan. kak indah mau masuk grup author gak. kalau mau chat japri yuk. tukeran no wa
Kayla Rane
lanjutt Thor tmbah seru
Kayla Rane
tuh kan bener. keukehh waeee... 🤨
Kayla Rane
huuuh dsr Roni rese. mau nyulik Sasa, ntar jd jaminan lagi nyuruh Linda kudu nandatangani surat lahan 😤
Kam1la: terimakasih kak...sudah berkomentar 👍👍
total 1 replies
Kayla Rane
Yee Kinan pahlawan wanita. gak nyangka ih Thor Kinan trnyata ahli bela diri /Joyful//Bye-Bye/
Kam1la: kan bos dia...😄
total 1 replies
Kayla Rane
Kinan ayo bantu Sasa! kasian ibunya
Kayla Rane
kesel si Roni, maksa pisan heuuh
Kayla Rane
bagus Linda lawan aja suamimu yg TDK tanggungjawab tapi sok tanggung jawab 😤
Kayla Rane
kasar ih s Roni, GK tau diri ga tau malu🤨
Kayla Rane
🥺 ya kasian linda
Kayla Rane
Andika siapa tiba2 Dateng, jahat apa baik ga ya orangnya /Scream/
Kayla Rane
yee keren banget kinan🤭💪
Kayla Rane
lanjut seru 🤭
Kayla Rane
haha lucuu/Joyful/ darwin
Kayla Rane
keren lanjutkan k😇
Kam1la: siap..
total 1 replies
SANG
Lanjut ya dek💪👍
Kayla Rane
lanjutkan k😍
Kayla Rane
😍🤭 Darwin kapan jatuh cinta sama Kinan nya?
Kayla Rane
yeey udah nikah juga 😍
SANG
Keren 💪👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!