menceritakan seorang pemuda bernama Erlang mencari keadilan dan menuntut balas dendam, dan menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23: Percikan Cemburu Pertama.
Langkah kaki Sekar Arum kian lama kian cepat menapak bungkalan pasir pantai yang mulai berganti dengan tanah padat perbatasan desa. Jubahnya berkibar-kibar liar terkena angin pesisir yang kencang, seirama dengan degup dadanya yang mendadak terasa panas tanpa alasan yang jelas. Di belakangnya, Erlang berjalan dengan santai, memikul bambu tuanya yang berderit ritmis dalam setiap ayunan langkah Langkah Bambu Gurun yang telah diperhalus.
"Nimas Sekar! Waduh, tunggu sebentar toh, Nimas!" panggil Erlang agak tersengal, bukan karena lelah fisik, melainkan karena kebingungan melihat tabiat temannya yang mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. "Kenapa jalannya seperti dikejar macan wetan begitu? Ini tanahnya mulai berbatu, nanti selop sutramu bisa robek, lho."
Sekar menghentikan langkahnya secara mendadak tepat di bawah naungan pohon jati pertama yang menandai pintu masuk jalur perbukitan selatan. Ia membalikkan tubuhnya dengan gerakan yang sangat anggun namun sarat akan ketegangan batin, melipat kedua tangannya di depan dada sembari menatap Erlang dengan pandangan mata yang sangat tajam dan menusuk.
"Kau ini beneran bodoh atau memang sengaja memelihara kebodohanmu itu, Erlang?!" semprot Sekar, suaranya ketus dan dingin seperti es di puncak gunung.
Erlang menghentikan langkahnya tepat dua tindak di depan Sekar. Ia menurunkan pikulan bambunya dengan hati-hati ke atas tanah, lalu menggaruk rambut belakangnya dengan wajah tanpa dosa yang sangat polos. "Lho, Gusti... salah saya apa lagi, Nimas? Sejak keluar dari batas rumah Kepala Desa tadi, wajah Nimas Sekar sudah ditekuk mlerat begitu. Apa bumbu pecel yang kemarin masih membuat perut Nimas mules?"
"Mules matamu itu!" ketus Sekar, mendengus keras sembari memalingkan wajah ayunya ke arah laut di kejauhan. "Kau itu tidak punya kepekaan sama sekali ya? Bisa-bisanya kau membiarkan anak nelayan yang dandanannya berantakan dan bau amis gurita itu menempel padamu seperti benalu pohon jati, tadi!"
Erlang mengerjapkan sepasang matanya yang jernih, mencoba mencerna kalimat Sekar dengan pikirannya yang lugu. "Menempel bagaimana toh, Nimas? Nimas Mirah kan cuma berdiri di dekat balai-balai karena lehernya masih agak linu bekas racun gurita batu. Lagipula, dia kan cuma berniat baik mau menawarkan diri jadi penunjuk jalan kita lewat jalur tikus hutan jati barat."
"Penunjuk jalan pantat monyet!" maki Sekar kian sengit, wajah cantiknya merona merah padam, bukan karena malu, melainkan karena ada letupan emosi aneh yang menyentil hatinya, sebuah perasaan asing yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya sebagai anak bangsawan tinggi yang selalu dipuja. "Kau pikir aku tidak lihat bagaimana mata genitnya itu menatap wajahmu saat kau memegangi tangannya? 'Mas Erlang... Mas Erlang... terima kasih sudah menyelamatkan nyawaku...' Hih! Menjijikkan sekali mendengarnya! Dasar perempuan genit tidak tahu tata krama!"
Erlang melangkah satu tindak lebih dekat, memiringkan kepalanya dengan gaya santai khasnya, menatap lekat-lekat ke dalam mata Sekar yang berkilat-kilat jengkel. "Wah... Nimas Sekar ini beneran aneh. Kemarin waktu saya menghajar preman Macan Wetan di Kediri, Nimas bilang saya harus jadi pelindungmu. Sekarang saat saya membantu mengeluarkan racun dari tubuh warga desa yang kesusahan, Nimas malah marah-marah tidak keruan. Apa menolong orang sakit itu melanggar aturan hukum dunia persilatan, Nimas?"
"Bukan masalah menolong orang sakitnya, Erlang!" bentak Sekar frustrasi, tangannya bergerak gemulai namun tegas menghentak ke udara. "Masalahnya adalah caramu yang kelewat polos dan murah senyum itu membuat gadis nelayan itu langsung besar kepala! Lihat dirimu sekarang, bajumu lusuh, rambutmu acak-acakan seperti gembel pasar, tapi senyumanmu itu... senyumanmu itu membuat orang salah paham!"
"Salah paham bagaimana toh?" tanya Erlang kian bingung, menepuk-nepuk pipinya sendiri. "Senyuman saya ini kan murni tanda ramah tamah antarmakhluk Gusti Allah. Paman Suro selalu berpesan, kalau bertemu orang di jalan itu harus murah senyum supaya jalurnya berkah dan banyak yang memberi tumpangan makan gratis."
Sekar memandangi Erlang dengan helaan napas yang sangat panjang, tangannya memegangi pelipisnya yang mendadak terasa berdenyut linu. Kejeniusan Erlang dalam meniru jurus Gada Sagara kemarin malam benar-benar berbanding terbalik dengan kecerdasan hatinya yang setingkat dengan kerbau bajakan sawah. Pemuda ini sama sekali tidak menyadari bahwa kebaikan alaminya yang tulus, dipadukan dengan wajah rupawannya yang bersih, adalah racun pemikat yang sangat mematikan bagi hati perempuan muda seumur Mirah.
"Sudahlah, berbicara denganmu tentang hal begini membuat energi murniku terkuras sia-sia," ujar Sekar ketus, memalingkan tubuhnya kembali menghadap jalur setapak perbukitan jati yang rimbun. "Intinya, selama perjalanan bersamaku ke selatan ini, aku melarangmu berdekatan dengan perempuan lain lebih dari jarak tiga jengkal! Paham?!"
Erlang melongo sejenak, lalu terkekeh renyah sembari mengangkat kembali pikulan bambunya ke atas pundak kanan. "Waduh, syaratnya makin lama makin aneh saja ya, Nimas. Kemarin syaratnya saya harus maju duluan jadi pelindung, sekarang ada aturan jarak jengkal segala. Memangnya kalau saya dekat-dekat dengan orang lain, jubah sutra birumu ini bisa mendadak luntur warnanya?"
"Kau tidak usah banyak protes, Erlang! Cukup lakukan saja apa yang kukatakan kalau kau masih mau aku menemanimu mencari petunjuk keberadaan Mbah Wiro!" ancam Sekar, mempercepat langkah kakinya memasuki keteduhan hutan jati dengan bertingkah sangat anggun namun langkahnya tetap dihentak-hentak kasar ke tanah berbatu.
Erlang berjalan membayangi di samping kiri Sekar dengan langkah kaki Tapak Angin Sepoi yang sangat tak kasatmata, menyelaraskan kecepatan berjalannya dengan gadis itu tanpa kesulitan sedikit pun. Meskipun kepalanya pening memikirkan tabiat Sekar yang penuh teka-teki, ada sesuatu di dalam dadanya yang mendadak terasa hangat dan geli melihat reaksi ketus temannya itu.
"Nimas Sekar," panggil Erlang lembut setelah beberapa saat mereka berjalan dalam keheningan hutan yang sepi.
"Apa?! Mau membahas anak nelayan amis itu lagi?!" sahut Sekar tanpa menoleh, nadanya masih tetap tinggi.
"Bukan, Nimas," kata Erlang sambil melempar pandangan jenaka ke arah pucuk-pucuk pohon jati yang meranggas ditiup angin kemarau. "Saya cuma mau bilang... Nimas Sekar kalau sedang cemberut dan marah-marah ketus seperti ini... ternyata terlihat jauh lebih hidup dan... eh, tetap terlihat ayu seperti putri keraton asli, lho. Tidak kaku seperti waktu pertama kali kita bertemu di kedai Kediri kemarin."
Langkah kaki Sekar Arum mendadak goyah sejenak. Sentilan kalimat polos yang keluar dari mulut Erlang itu meluncur lurus tanpa saringan, menembus pertahanan batinnya yang paling dalam hingga membuat jantungnya berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Semburat merah jambu yang sangat pekat seketika menjalar dari lehernya naik hingga ke ujung kedua daun telinganya.
"K-kau... mulutmu itu beneran lancang ya, Erlang!" gagap Sekar, buru-buru menutupi wajahnya yang merona menggunakan lipatan lengan jubahnya, melangkah kian cepat mendahului Erlang demi menyembunyikan getaran hebat di hatinya. "Awas kau ya! Jangan berani-berani merayu putri bangsawan seperti aku dengan kalimat murahanmu itu!"
"Lho, Gusti... saya beneran tidak merayu, Nimas. Saya kan cuma jujur mengatakan apa yang dilihat oleh mata saya," bela Erlang polos sembari setengah berlari mengejar langkah Sekar yang kian tidak beraturan di depan jalur setapak hutan jati selatan.
Percikan cemburu pertama yang membakar hati Sekar Arum di sepanjang pinggiran Parangtritis itu akhirnya mereda berganti dengan kekakuan baru yang sarat akan rasa hangat yang samar di antara mereka berdua. Tanpa ada kalimat lanjutan yang membongkar rasa terpendam itu, Erlang dan Sekar terus melangkahkan kaki bersama menembus rimbunnya hutan jati, melanjutkan perjalanan panjang mereka mencari keberadaan misteri Mbah Wiro yang kian samar tertutup kabut waktu.
erlang terlalu polos, untung bukan ltipe musang birahi /Facepalm/