Terlukanya hati Istri dan Anak saat Ayahnya memilh lebih memperhatikan kebahagian saudara dan keponakannya, dan mengabaikan tanggung jawabnya kepada istri dan anak anaknya.
"Sedikit sedikit uang sedikit sedikit yang kalian minta, kalian pikir saya ini mesin pencetak uang." Bentak pak Galih kepada anak sulungnya yang minta uang bayar SPP.
"Ini lagi mama kalian nggak becus jadi ibu, taunya cuma nadang doang, nggak bisa usaha cari uang, bisanya cuma mengemis sama suami." hina pak Galih kepada sang istri.
Ingin tau kelanjutannya, ikuti terus cerita mamak ya..... 😘😘😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon devi oktavia_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab Sepuluh
"Kita mau kemana ma? " tanya Ares heran, karena di jemput oleh sang mama dan adik adiknya, bukan hanya itu, mereka datang tidak bertiga saja, tapi bersama bu Rini menggunakan mobil pribadinya.
Bu Soraya tersenyum hangat mendengar pertanyaan anaknya itu. "Mama ingin mengajak kalian ke pasar malam." ucap bu Soraya.
Ares mengangguk tanda mengerti, "Tapi kenapa pakai mobil tante Rini segala, Ayu dan Ganen mana, kok nggak di ajak? " tanya Ares yang ingat anak anak bu Rini.
"Ayu sama Ganen di ajak papanya jalan jalan." jawab bu Rini.
"Owhhh.... " Angguk Area yang tidak bertanya lagi.
"Tante... Itu pasar malamnya kelewat! " pekik Gibran menunjuk arah luar jendela.
Bu Rini tersenyum dan menoleh se kilas ke arah Gibran. "Kita nggak jadi ke pasar malam, tante mau ajak kalian ke mall, kita main di Timezone, Ayu dan Ganen sudah menunggu di sana." tutur bu Rini, tentu saja membuat ibu dan anak itu terlonjak kaget.
"Tante nggak usah, kita main di pasar malam aja." tolak Laras dan di angguki oleh Gibran.
"Kenapa? " heran bu Rini.
"Nggak apa apa tante, kita ke pasar malam aja." ucapnya lagi.
"Apa Kalian nggak mau ke Timezone, di sana mainannya banyak loh, lebih lengkap dan modern." ujar bu Rini.
"Mau, tapi nanti nanti saja, di sana pasti mahal, kasihan mama, nanti modal usaha mama habis untuk bermain, dan mama nggak bisa jualan lagi, kami susah lagi, kami nggak mau." ucap Laras trauma dengan bayang bayang penderitaan yang pernah di rasakan oleh anak itu.
Sungguh hati bu Rini dan bu Soraya menclos mendengar keluhan Laras tersebut, begitu besar trauma di hidupnya, Ares memalingkan wajahnya ke arah jendela, hatinya sakit mendengar ucap sang adik, tangannya mengepal kuat.
"Kalian tenang saja, om Riki sudah membeli tiket timezone, jadi nggak perlu kwatir soal uang hmmm... Kata om Riki tadi, sebagai hadiah untuk kalian yang sudah rajin membantu mama di warung." ujar bu Rini tersenyum manis.
"Wahhh.... Ini mallnya kak, bagus sekali ya kak, biasanya kita cuma lihat dari luar, ternyata di dalamnya bagus sekali, dan juga dingin." polos Gibran dengan mata berbinar indah melihat lihat ke sekeliling.
"Wahhh.... Tangganya bisa berjalan ya kak, kaya yang ada di TV." kagum Gibran.
"Hati hati, nanti kamu terjatuh." tegur Ares melihat sang adik terburu buru ingin naik eskalator.
"Hehehe... Maaf abang." cengir Gibran.
Bu Soraya berkaca kaca melihat wajah bahagia anak anaknya, dia berjanji dalam hati, akan berusaha lebih kuat lagi, agar bisa mengumpulkan uang dan membahagiakan anak anaknya.
"Laras, Gibran, sini!! " teriak seseorang memanggil nama Laras dan Gibran.
"Ayu, Ganen! " panggil Laras dan Gibran berlari menghampiri ke dua anak anak bu Rini.
"Kenapa lama sekali? " keluh Ganen yang sudah tidak sabar untuk bermain di timezone.
"Tadi kita mampir dulu jemput bang Ares." ucap Laras.
"Oohhhh.... Ya udah, kita lansung main aja yukkk... Takut nanti keburu malam." ajak Ganen menarik tangan Gibran menuju arena permainan.
Begitu pun dengan Ayu menarik tangan Laras mencari permainan untuk mereka, sepertinya anak anak bu Rini sudah terbiasa untuk bermain di sana.
Pak Riki menepuk baju Ares, ayo kamu main basket sama om." ajak pak Riki merangkul pundak Ares.
"Pa, kami mau lihat lihat di sana ya." ucap bu Rini menghentikan langkah bu Pak Riki.
"Pergilah, ajak sahabatmu itu belanja, atau ke salon, sesekali menyenangkan diri." ucap pak Riki tersenyum ke arah sang istri.
"Siap bos." kekeh bu Rini.
"Ayo Ya, kita lihat lihat kosmetik." ajak bu Rini merangkul tangan sahabatnya itu.
Bu Soraya hanya menurut saja, melihat lihat saja apa salahnya, sesekali memanjakan matanya, selama ini dia lupa untuk membahagiakan dirinya, mungkin hari ini dia hanya bisa lihat lihat, siapa tau suatu hari nanti bisa membeli yang dia inginkan.
"Ya, kamu coba deh pakai skin care ini deh." ucap bu Rini mengambil skin care yang banyak orang pakai namun harganya masih ramah di kantong.
"Nggak usah lah Rin, nanti nanti saja." tolak bu Soraya yang belum ada keinginan untuk memakai skin care.
"Haiii.... Nyonya, mulai sekarang, rawat lah dirimu, jangan hanya sibuk memikirkan keluarga saja, dan mengabaikan diri sendiri, tubuh mu juga patut di manja, bukan di ajak kerja keras terus." omel bu Rini, tangannya tetap mengambil skin care itu dia paket, satu untuknya dan satu untuk bu Soraya.
"Sekarang kita ke salon, nggak usah banyak protes." ucap bu Rini yang tidak memberi kesempatan untuk bu Soraya membantah keinginan nya.
Sementara di tempat yang berbeda di area permaian, tampak anak anak itu sangat menikmati setiap permaian wajah wajah sedih tadi siang berganti dengan wajah bahagia.
Ares menatap satu persatu wajah bahagia adik adiknya, dia berjanji dalam hati, akan membahagiakan adik adiknya dan juga akan membalas budi kepada keluarga bu Rini, karena selama ini keluarga bu Rini lah yang selalu ada untuk mereka.
"Res, om dengan kamu mau ikut lomba Matematika dari sekolah ya? " tanya pak Riki.
"Iya om, kemaren lolos tingkat kabupaten, bukan depan lanjut ke tingkat provinsi, om." ucap Ares malu malu.
"Kamu hebat, om bangga sama kamu, om yakin, suatu hari nanti kamu pasti jadi orang yang sukses." ucap pak Riki menepuk bahu pemuda tampan itu dengan lembut.
"Aamiin.... Semua tidak lepas dari kebaikan om, om yang sering mengajarkan Ares dan om juga yang suka membelikan Ares buku buku pelajaran." ucap Ares tersenyum penuh haru, ayah nya mana pernah mengerti akan dirinya dan adik adiknya, bahkan Ares mendapatkan peran seorang ayah dari Riki.
"Kamu ini bisa aja memuji om, bikin om ingin terbang aja." canda pak Riki.
Ares ikut tertawa lepas mendengar candaan dari pak Riki.
"Haaa.... Capek... Tapi seru." keluh Ayu menghampiri sang ayah dengan wajah lelah namun terlihat senang, bukan hanya Ayu, tapi senyum bahagia itu juga menular kepada Laras, Gibran dan Ganen.
"Minum lah, kalian pasti haus, papa sudah beli minum untuk kalian." ucap Pak Riki membagikan minuman ke arah tiga anak anak itu.
"Makasih om." ucap Laras dan Gibran dengan sopan.
Pak Riki mengangguk dan mengacak rambut Gibran dengan gemes.
"Pa, habis ini kita makan ya." pinta Ganen.
"Adek sudah lapar." kekeh pak Riki.
"Mmm..." angguk Ganen.
"Mau makan dimana? " tanya pak Riki.
"Mau makan di MCd aja pa, mau makan ayam, burger dan mau ea krimnya." pinta Ganen berbinar.
"Dasar gembul." cibir Ayu meledek sang adik.
"Biarin." cibir Ganen memajukan bibirnya.
"Ayo Gibran, kita makan." ajak Ganen menarik tangan Gibran meninggalkan wahana permainan itu.
Bersambung....
yg bnyyyykkkk doooongggg
hal yang dah gak pernah terjadi sekarang di rasakan lagi. tapi apa semua akan kembali kesemula atau dah terlambat??
gimana galih, anak yang masih kecil aja paham duwit yang kamu kasih tak seberapa, tapi sakit ya luar biasa karena uang itu
kaka mu tak berani nanya, tapi kamy luar biasa berani😘
pucat pasi atau serangan jantung🤭
jangan sampai nyesel nanti