“Aku hanya membutuhkanmu untuk melahirkan pewarisku. Tidak lebih!”
Itulah kata paling menyakitkan yang diucapkan Duke Cassian Clyvedon kepada Elowen Whitmore. .
Semua orang di kerajaan tahu bahwa Duke Clyvedon adalah pria yang ditakuti, dingin, kejam, dan tak pernah mempercayai siapa pun.
Sementara Elowen Whitmore hanyalah putri kedua dari keluarga bangsawan yang hampir bangkrut… seorang gadis yang bahkan tidak bisa berbicara.
Ia tidak seharusnya menjadi pengantin sang duke.
Namun ketika kakaknya melarikan diri dari perjodohan yang telah diatur kerajaan, Elowen dipaksa menggantikan posisi itu demi menyelamatkan kehormatan keluarganya.
Kini ia terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan pria paling menakutkan di kerajaan.
Semua orang yakin pernikahan ini hanya akan berakhir dengan kehancuran.
Tapi tidak seorang pun menyadari satu hal, bahwa sang duchess bisu mungkin adalah satu-satunya orang yang mampu meluluhkan hati sang Duke.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon farchahcha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ketegangan terjadi antara Marquess Lucien dan Putri Lidya. Lucien tidak melepaskan tatapan tajamnya ke arah Lidya yang sudah mulai pucat.
“A-aku tidak mengerti maksudmu, Marquess Lucien. Jadi jangan pernah menuduhku mendorong Duchess ke danau.” Putri Lidya terbata-bata membela diri.
Marquess Lucien menarik sudut bibirnya. “Saya tidak pernah menuduh siapapun mendorong Sang Duchess ke danau. Apa ini sebuah pengakuan yang tidak terencana?”
Putri Lidya sadar melakukan kesalahan.
Nasibnya mulai dipertaruhkan sekarang. Keringat dingin mengucur dari dahinya, tangannya meremas erat di balik riding habit yang masih dipakainya.
“Tidak!” sentak Putri Lidya. Kemudian dia memelankan suaranya agar para pelayan tidak mendengarnya. “Aku tidak pernah melakukan apapun. Kamu tidak punya bukti dan saksi untuk menuduhku, Marquess.”
Sungguh licik.
Itu ungkapan yang pas untuk wanita bangsawan di depannya. Marquess melihat tajam Putri Lidya. “Anda seharusnya malu telah mengatakan hal seperti itu, Putri L-i-d-y-a.”
Rahang Putri Lidya terlihat mengeras, dia menggertakan giginya. Marquess Lucien benar-benar mempermalukannya. Sesuatu yang tidak pernah Lidya dapatkan.
Tapi karena dia tidak bisa mengelak dan sekarang dia sedang jauh dari rumahnya. Putri Lidya akhirnya memutuskan pergi meninggalkan Marquess Lucien tanpa pamit khas sikap sopan santun bangsawan tinggi setara kerajaan.
Di kejauhan, Lady Valerie melihat dan mendengar interaksi antara Marquess Lucien dan Putri Lidya.
“Kurang ajar,” umpatnya. “Kenapa Marquess malah membela Elowen. Mencurigakan.”
Lady Valerie mengerutkan keningnya dalam. Matanya memperhatikan gerak gerik Marquess Lucien di depan kamar.
Wajahnya benar-benar takut dan khawatir. Seolah seseorang yang paling berharga baginya terluka.
“Apa sebenarnya hubungan wanita bisu itu dengan Marquess?” gumam Lady Valerie bertanya-tanya.
Dalam hatinya dia sedang waspada.
Kalau apa yang dilihatnya adalah sesuatu. Itu akan sangat berbahaya bagi Lady Valerie kalau melukai Elowen.
Mendapat pembelaan dari Cassian sudah cukup merepotkan baginya untuk menyingkirkan Elowen dari posisi Duchess. Kalau seorang Marquess ada di pihak Elowen tentu kekuatan wanita itu akan lebih besar.
“Aku harus mengganti rencana.”
Lady Valerie menjauh dari tempatnya.
***
Malam itu mungkin adalah malam terpanjang bagi Cassian.
Seperti yang dikatakan dokter, Elowen mungkin akan terkena demam. Dan benar saja, suhu tubuh wanita itu begitu tinggi sampai membuatnya mengigau dan mengeluarkan keringat dingin.
Elowen mengerang dalam tidurnya.
Cassian menggenggam tangan Elowen sambil menggumam. “Aku di sini, sayang. Aku di sini,” katanya lembut.
Pria itu begitu setia menunggu istrinya sadar. Dia bahkan mengganti kain yang digunakan untuk mengompress kening istrinya sendiri. Padahal beberapa pelayan sudah menawarkan diri untuk membantu.
“Biar aku yang mengurus istriku.”
Begitulah ucap Cassian kepada para pelayan yang diam-diam begitu kagum dengan sikap sang duke yang sangat mencintai istrinya.
Mereka berbisik satu sama lain, menggosip ketika mengganti air baru.
“Tak kusangka Duke Clyvedon sangat romantis dan mencintai istrinya. Mereka pasti menikah karena saling mencintai,” ujar pelayan di rumah Marquess Lucien.
“Aku setuju denganmu. Mana mungkin mereka menikah tanpa saling cinta. Apalagi kudengar Duke sudah menolak banyak wanita bangsawan dan memilih Duchess Elowen yang tidak bisa bicara,” timpal pelayan lain.
Lady Valerie yang mendengar percakapan para pelayan itu tambah geram. Wanita itu mengepal erat tangannya sampai putih. “Jangan-jangan Cassian sudah mulai tertarik dengan wanita bisu itu. Ini tidak boleh dibiarkan!” Lady Valerie mendengus kesal.
Sebuah ingatan muncul ketika Lady Valerie sadar sedang berada di sebuah ruangan milik adik Lucien. Muncul seringai licik di wajah Lady Valerie.
“Aku tahu siapa yang bisa membuat Cassian beralih dari istri bisunya,” gumam Lady Valerie dalam hati.
***
“Sebaiknya anda istirahat,” ujar Marquess Lucien kepada Cassian.
Cassian tidak merespon apapun, sang duke hanya fokus dengan istrinya yang masih belum sadarkan diri. Ini sudah hari kedua dan Elowen belum sadar juga. Padahal demam wanita itu sudah turun.
Marquess Lucien mendekat menyentuh pundak Cassian. “Kau harus istirahat, Cassian.” Katanya lagi, kali ini nada suaranya lebih santai. Dia meninggalkan formalitas antara seorang Marquess dan Duke.
Lucien dan Cassian adalah teman dekat ketika bersekolah di Oxford. Jabatan yang diwariskan pada mereka membuat keduanya harus menjaga sikap satu sama lain.
“Aku tidak mungkin meninggalkannya sendirian,” jawab Cassian datar dan masih menatap Elowen yang memejamkan matanya.
“Semua orang di sini akan menjaganya. Kau sama sekali belum memejamkan mata sejak kemarin. Kau juga harus mengobati lukamu sendiri.”
Lucien melirik ke arah bahu kiri Cassian.
Ada noda darah yang merembes, Cassian terluka ketika menolong Elowen di danau. Bahu kirinya terbentur batu cadas yang tajam membuat luka sobekan muncul di sana.
Dokter Hardin sudah menawarkan untuk membebatnya dengan perban. Tapi Cassian tidak begitu peduli. Dia malah fokus menyuruh dokter menangani Elowen dan mengabaikan dirinya.
“Aku tidak apa-apa, Lucien. Aku harus tetap di sini sampai dia bangun.”
Tidak ada yang bisa mengalahkan keras kepalanya Cassian.
Lucien akhirnya menyerah, dan keluar dari kamar tamu kediamannya. Sekilas dia menoleh ke arah Elowen, tatapannya sendu.
Ada rasa bersalah karena sudah mengundang Cassian dan istrinya berkuda. “Kalau tahu akan seperti ini. Aku tidak akan mengundangmu. Maafkan aku,” batin Lucien.
***
Hari ketiga, dan Elowen belum menunjukkan tanda-tanda dia sadar. Beberapa pelayan sudah meninggalkan ruangan. Tinggal Cassian yang masih setia berada di samping istrinya.
Pria itu tertidur di sisi ranjang, sambil tangannya menggenggam erat tangan Elowen.
Pupil mata Elowen bergerak. Kemudian kelopak matanya mulai membuka perlahan. Matanya langsung disambut oleh cahaya silau dari arah jendela kamar.
Elowen mengerang pelan, mencoba menggerakkan tubuhnya.
Saat itulah dia menangkap sosok pria yang tertunduk di samping ranjang. Tangan besarnya menangkup tangannya.
“Casian?” ujar Elowen dalam hati mengenali siapa pria itu.
Wanita itu mengangkat tangan satunya, menepuk pelan Cassian yang tertidur dengan posisi yang tak nyaman itu. Tidak ada respon, kelelahan membuat Cassian tertidur pulas.
Saat itu Elowen merasa ada sesuatu yang hangat masuk ke dalam dirinya. Ini pertama kalinya Elowen melihat seseorang menunggunya saat sakit.
Bibirnya melengkungkan senyum tipis hampir tak terlihat. Akan tetapi sesaat kemudian matanya menangkap sesuatu yang membuat senyumannya menghilang.
Ada bercak darah di bahu kiri Cassian. Mata Elowen menyipit, memastikan.
“Apa dia terluka karena menolongku?” katanya dalam hati menatap suaminya.
“Dia rela melukai dirinya untuk menyelamatkanku dari air.” Elowen merasa bersalah telah merepotkan Cassian.
Dia menggerakan tubuhnya, dan itu membuat Cassian terbangun dari tidurnya.
Pria itu langsung mengangkat kepalanya dari tepi ranjang. Matanya yang terbuka langsung bertemu dengan manik Elowen.
“Kamu sudah sadar?” ujar Cassian mencondongkan kepalanya dekat Elowen.
Elowen mengulas senyum dan mengangguk.
Cassian menghembuskan napas lega. “Syukurlah, kupikir kamu…” matanya berkaca-kaca. Cassian sangat takut kalau Elowen tidak pernah sadar kembali.
Elowen terdiam, melihat Cassian yang sangat khawatir entah kenapa membuat Elowen bahagia.
Apa seperti ini rasanya memiliki seseorang yang peduli padanya?
Apa seperti ini rasanya memiliki kehidupannya sendiri?
Untuk pertama kalinya, Elowen merasa memiliki sesuatu.
***
you're amazing writer