Perjuangan cinta yang juga harus membutuhkan restu.
"kamu itu terlahir dalam adat apa? sadar gak sih kamu????"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pasaribu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ke Gereja Berbeda
Tok... Tok.... Tok
"Sya...... udah siap belum?"
"Iya..... sebentar." teriak Elisya dari dalam kamarnya.
"Oh, ya... tas ku belum, lagi....." ucap Elora sendiri.
Pagi itu ia terlihat sangat buru-buru. Tidak seperti hari Minggu biasanya, selalu yang paling santai.
Elisya keluar dan melihat Elora sangat sibuk di depan cermin ruang tamu mereka.
"Ihh..... Ini rambutnya bagusan dikuncir apa gimana sih?" gerutunya sendiri.
Elisya mendekat sangat heran. "Kau aman?"
"Eh... Sya, ini rambutku bagusan diapain ya?"
Elisya mendadak mengernyit heran. Ia menoleh ke arah Elora yang kini sibuk memainkan ujung rambutnya sendiri di cermin.
"Hah?"
"Serius. Jawab dulu."
Elisya menatapnya beberapa detik lalu menyipitkan mata curiga.
"Tumben kau nanya begitu."
Elora berdeham kecil dan pura-pura fokus mengamati pantulan dirinya.
"Biar aku tau, yang lebih rapi itu gimana...."
Elisya menarik Elora. Ia memperhatikan rambut Elora dari depan, lalu dari samping.
"Menurutku gini udah bagus."
"Serius kan?" tanya Elora dengan senyum lebar.
Elisya mengangguk pelan.
"Ya sudah..... kita sekarang berangkat ya?" ucap Elora sambil memakai heels nya.
Elisya spontan melihat jam dinding di depannya.
"Masih terlalu cepat, Elora. Gerejanya juga engga jauh kan?"
"Kamu udah siap kan?" tanya Elora memastikan.
" Sudah...... Tapi...."
"Ayok aja.....sekarang......" Elora menarik tangan Elisya.
Elisya pasrah mengikuti keinginan temannya itu. Kalau tidak, bisa saja penyakit anehnya kambuh.
Grab yang sudah dipesan Elora telah menunggu di depan kontrakan mereka. Mereka berdua langsung masuk.
"Sesuai di aplikasi kan, Kak?" tanya drivernya.
"Iya, Pak. Betul." jawab Elora.
Mobil itu langsung melaju dengan kecepatan stabil. Mobil itu keluar dari lorong kos mereka, menuju ke jalan raya yang akan jauh lebih ramai.
"Ehh!!" seru Elisya saat mobil itu membelok ke arah kiri.
"Pak? Bukannya ke kanan ya?" lanjut tanya Elisya bingung. Biasanya setiap hari Minggu mereka menuju arah kanan.
"Sya, kita gereja jangan di tempat biasa dulu ya." balas Elora.
"Hah? Maksudnya gimana?"
Mobil itu terus melaju ke arah yang belum pernah Elisya lewati. Hingga mobil itu melambat saat berbelok masuk ke sebuah gerbang besar yang menjulang di hadapan mereka.
Elisya tanpa sadar meluruskan duduknya.
"Gereja?"
Mobil itu terus bergerak menyusuri parkir yang luas sebelum akhirnya berhenti.
"Sudah sampai sesuai titik, Ka." ucap supir itu.
"Kenapa kita ke sini?"
Elisya menatap sekelilingnya, menunggu jawaban. Sementara rasa penasaran di dalam dirinya semakin besar.
"El..... Elora?" panggil Elisya.
Tapi ternyata Elora sudah lebih dulu berjalan mendekati ruang gereja itu.
"Astaga...... Elora?" gumam Elisya kesal.
Elisya mempercepat langkahnya mengejar Elora yang mulai berjalan menjauh.
"Elora!"
Mendengar namanya dipanggil, Elora justru menoleh sambil tersenyum lebar.
"Elora, aku serius ini......"
Bruk!
Elisya tak sengaja menabrak seseorang yang berjalan dari arah berlawanan.
"Ah!"
Elisya refleks mundur selangkah. Tas yang disandangnya terjatuh.
"Maaf! Maaf....." ucapnya cepat.
Laki-laki yang ditabraknya itu juga berhenti.
"I-iya...... Nggak apa-apa." jawabnya dengan tenang.
Elisya segera menunduk untuk mengambil tasnya yang terjatuh. Saat yang sama, laki-laki di hadapannya juga ikut membungkuk.
Tangan mereka hampir bersentuhan saat meraih tali tas itu. Keduanya sama-sama terdiam sesaat.
"Oh, maaf....." ucap Elisya refleks sambil menarik tangannya lebih dulu.
Laki-laki itu tersenyum tipis lalu mengangkat tas itu dan menyerahkannya kepadanya.
"Ini......"
"Terimakasih" ucap Elisya menerima tasnya.
Sementara itu, Elora sama sekali tidak memperhatikan kejadian itu. Matanya sibuk menatap layar ponsel. Sesekali ia mengangkat kepala, melihat ke sekeliling halaman gereja, lalu kembali mengetik sesuatu.
"Mana sih?" gumamnya.
Dari ekpresinya, ia tampak seperti mencari seseorang.
Tanpa sadar, karna terlalu fokus pada kesibukannya itu, Elora tidak melihat bahwa Elisya masih berdiri diam seperti tertahan beberapa saat di belakang setelah menabrak laki- laki itu.
Sebelum Elisya melangkah pergi, ia sempat menoleh sekali lagi pada laki- laki itu.
"Se..... Sekali lagi, maaf ya."
Laki- laki itu mengangguk kecil sambil tersenyum.
Elisya membalas dengan senyum singkat sebelum akhirnya mempercepat langkah untuk menyusul Elora yang masih sibuk entah mencari siapa.
"Elora....."
Elisya akhirnya berhasil menyusul sahabatnya. Napasnya sedikit terengah setelah berjalan cepat.
"Kau ya, ninggalin aku gitu aja." ucapnya kesal.
Namun Elora bahkan tidak langsung menoleh. Matanya masih terpaku pada layar hpnya. Sesekali masih tetap melihat ke arah sekitar gereja seolah sedang memastikan sesuatu.
"Iya,Iya....." jawabnya asal.
Elisya melongo tidak percaya.
"Apa sih?"
Elora masih sibuk mengetik.
"Kau tau gak? Tadi aku nabrak orang, tau.... "
"Hm,"
Elisya menatap sahabatnya dengan ekpresi kesal bercampur heran.
"Kau dengar aku nggak sih?"
Kali ini Elora akhirnya menoleh sekilas.
"Dengar."
"Dengar apa?" tanya Elisya memastikan.
"Apa tadi? Lupa tiba-tiba....." ucap Elora sedikit tersenyum.
"Apa sih? Kau kenapa?"
"Sebentar ya... Aku lagi sibuk."
Jawaban itu membuat Elisya semakin bingung. Ia mengikuti arah pandangan Elora yang terus menyapu kerumunan orang di halaman gereja yang hendak masuk.
"Memangnya kau cari siapa?"
"Hah....? Itu......." jawab Elora tak jelas.
Ting!
Suara notifikasi dari hp Elora. Elora langsung menunduk melihatnya. Dan seketika, ekpresinya berubah.
"Oh....."
"Oh apaan?" tanya Elisya.
Elora buru-buru memasukkan hpnya ke dalam tasnya.
"Tunggu sebentar, ya."
"Hah?"
"Sebentar aja."
"Hei.... Kau mau...."
Pertanyaan Elisya belum selesai, Elora sudah berbalik dan berjalan cepat menjauh.
Elisya melangkah hendak mengejarnya.
"Elora?!"
"Sebentar!" sahut Elora tanpa menoleh.
Langkahnya malah semakin cepat menembus kerumunan orang.
"Ini orang kenapa sih....." ucap Elisya menatap sahabatnya yang semakin jauh.
"Dimana sih orangnya?"
Elora berhenti di sisi halaman gereja, mencari seseorang di antara orang yang lalu lalang. Sesekali ia berjinjit, menoleh ke kanan dan ke kiri.
"Aku tunggu di sini aja......" Elisya menuju kursi yang ada di teras gereja itu. Beberapa orang sudah ada yang duduk di sana, sepertinya juga sedang menunggu.
Beberapa orang yang duduk tadi sudah semakin berkurang, masuk ke dalam gereja.
"Ka, duluan ya....." ucap seseorang pada Elisya saat orang yang ia tunggu sudah datang. Dia adalah orang terakhir yang duduk di kursi itu bersama Elisya.
"Iya, ka....." jawab Elisya tersenyum sopan.
Halaman gereja juga semakin sepi. Jemaat sudah masuk ke dalam. Elisya berdiri dan menatap ke depan, mencari Elora. Tapi temannya itu pun sudah tak terlihat lagi.
"Mana sih??" ucap Elisya. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Elora. Tapi tak ada jawaban.
"Astaga......" seru Elisya benar-benar kesal.
Ia melihat jam di hpnya. Jam menunjukkan kurang lima menit lagi untuk ibadah gereja pagi itu akan dimulai.
"Akh......!! Elora!!" ucap Elisya sambil berjalan beberapa langkah ke depannya mencari Elora.