NovelToon NovelToon
Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Putri Asli Yang Tak Pernah Dipilih

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Putri asli/palsu / Keluarga & Kasih Sayang
Popularitas:10.3k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

"Saat ayahku memilih menyelamatkan putri kesayangannya, dia mengorbankanku tanpa ragu."

Savira Dharma menghabiskan seluruh hidupnya mengejar sesuatu yang tidak pernah ia miliki: pengakuan dari ayahnya.

Sebagai putri kandung keluarga Dharma, ia belajar lebih keras, bekerja lebih lama, dan mengorbankan masa mudanya demi membuktikan bahwa dirinya layak dicintai. Namun ketika skandal penggelapan dana mengguncang Dharma Group, Savira dijadikan kambing hitam untuk melindungi keluarga yang selama ini ia bela.

Ditinggalkan sendirian di tengah hujan fitnah, ayahnya memilih diam.

Malam itu, Savira melompat dari puncak gedung perusahaan yang telah merenggut seluruh hidupnya.

Namun kematian bukanlah akhir.

Saat membuka mata, ia kembali menjadi gadis tujuh belas tahun—tujuh tahun sebelum semua pengkhianatan itu terjadi.

Kali ini, Savira tidak akan mengemis cinta.

Ia tidak akan mengorbankan dirinya demi keluarga yang tak pernah memilihnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12. Terlalu Identik

"Wijaya Dharma tidak menggunakan peluru tajam atau pisau pembunuh bayaran malam itu." Aaron melanjutkan kalimatnya perlahan. Suaranya mengalun sangat berat. "Dia menggunakan tinta murahan di atas kertas penjaminan aset."

Savira menahan aliran oksigen di kerongkongannya. Ia sangat hafal pola mematikan ini. Ayahnya adalah sosiopat pencitraan. Wijaya selalu membunuh targetnya tanpa pernah membiarkan setetes darah pun mengotori kemeja putihnya.

"Ayahku adalah pria kuno yang terlalu lurus untuk bertahan di medan perang ibukota. Dia percaya pada ikatan persahabatan bisnis." Aaron mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat di sisi tubuh. Urat-urat di punggung tangannya menonjol kasar. Buku jarinya memutih pasi. "Sosiopat itu memanipulasi celah hukum internasional. Wijaya menjebak ayahku ke dalam lingkaran utang fiktif luar negeri yang meledak total dalam satu malam."

Jantung Savira berdetak menyakitkan. Pola eksekusi ini terlalu rapi dan terlalu identik.

Di kehidupan sebelumnya, Wijaya juga merancang skandal korupsi fiktif yang menimpa dirinya. Ayahnya membiarkan Savira dikejar oleh anjing-anjing media, dijebloskan ke dalam keputusasaan absolut, sementara pria itu tersenyum hangat merayakan pesta ulang tahun Nadia.

"Ayahku kehilangan segalanya malam itu. Kehormatannya runtuh. Perusahaannya disita. Kewarasannya hancur berkeping-keping." Aaron menatap lurus menembus mata Savira. "Dia menelan sebotol penuh pil penenang dosis tinggi di ruang kerjanya. Wijaya hadir di pemakamannya keesokan paginya, memakai setelan duka yang rapi, dan tersenyum hangat memeluk bahuku."

Rasa mual yang amat sangat hebat langsung meninju dasar lambung Savira. Keringat dingin merembes cepat dari tengkuknya, membasahi kerah gaun hitamnya. Bau melati dari kulitnya menguar tipis ke udara, bercampur pekat dengan feromon stres dan amarah yang mendidih.

Sensasi pahit dan anyir seketika menggantikan sisa rasa permen stroberi di mulutnya.

Rentetan gambar memori kehidupan pertamanya berputar liar di kepala Savira bagai kaset rusak. Ia kembali merasakan embusan angin malam yang menusuk tulang di pinggir atap gedung pencakar langit. Ia mendengar raungan sirene polisi di bawah sana. Ia melihat wajah tersenyum Wijaya di layar televisi, tepat sebelum ia menjatuhkan tubuhnya ke aspal yang keras.

Luka yang sama. Neraka psikologis yang persis sama.

Wijaya Dharma menghancurkan jiwa mereka hingga tidak tersisa harga diri secuil pun. Monster itu memaksa para korbannya untuk menekan tombol eksekusi mati dengan tangan mereka sendiri.

"Monster itu memakan jiwa kita perlahan-lahan," bisik Savira. Suaranya nyaris tanpa wujud. Matanya yang biasa setenang lautan es kini menyala buas oleh api kebencian murni.

Aaron mengangkat wajahnya. Pria itu menangkap perubahan ekstrem pada raut wajah Savira. Ia melihat kemarahan yang bergetar hebat di balik postur kaku gadis di depannya. Emosi Savira beresonansi kuat dengan duka yang menyiksa dada Aaron selama ini.

"Karena itu aku bersumpah darah di depan peti matinya." Aaron memangkas jarak mereka berdua. Aroma tajam pinus dan kopi hitam kembali menekan suplai udara di ruang sempit tersebut. "Aku membangun ulang Jayanegara dari sisa abu. Aku mengasah insting membunuhku murni untuk mengoyak urat nadi kerajaan Dharma Group."

"Tapi Anda gagal menembus ring pertahanan utamanya," potong Savira tajam. Logika murninya mengambil alih emosi dengan sangat cepat, menekan trauma masa lalunya ke sudut otak terdalam.

Aaron terdiam kaku sesaat, lalu mengangguk pelan. "Wijaya terlalu rapi. Dia memiliki ribuan lapisan pelindung hukum yang kuat dan puluhan tameng manusia yang rela mati untuknya. Termasuk Nadia Dharma."

Nama gadis itu memicu denyut nyeri di pelipis Savira. Ayahnya selalu menggunakan Nadia sebagai wajah polos tanpa dosa di depan sorotan kamera media.

"Nadia adalah ilusi kesempurnaannya," desis Savira dingin. "Wijaya membangun citra malaikat dan ayah teladan melalui gadis manja itu. Menghancurkan pilar ilusi Nadia berarti meruntuhkan seluruh fondasi reputasi publiknya."

"Dan kau tahu persis cara meruntuhkannya." Aaron memicingkan matanya tajam. Insting predatornya mencium aroma darah segar dari kejeniusan mutlak gadis ini.

"Saya hafal setiap inci anatomi kerajaan busuk itu." Savira menegakkan postur tubuhnya, menghapus sisa kerapuhan di matanya. Gaun hitamnya membalut lekuk tubuh rampingnya bagai zirah perang tak kasatmata. "Saya tahu celah hukum mana yang sengaja ia manipulasi. Saya tahu persis lumbung aset ilegal yang ia sembunyikan di luar negeri."

"Kalau begitu, kita berdiri di atas medan perang yang sama persis."

"Bagi saya ini hanya pembalasan dendam murni," balas Savira cepat tanpa keraguan sedikit pun. "Pria itu terus menyingkirkan saya ke dalam kegelapan. Saya akan memastikan dia mati membusuk di sana sendirian tanpa siapa pun."

Aaron tertawa pelan. Tawa serak dan maskulin yang bergetar penuh kepuasan mematikan.

"Dan aku memiliki pasukan tempur finansial yang tidak terbatas jumlahnya untuk mewujudkan itu." Aaron menawarkan proposal berdarahnya.

"Benar, tapi itu tidak akan membua saya tunduk pada perintah Anda," peringat Savira tajam. Matanya menyipit penuh kewaspadaan. Ia tidak akan keluar dari satu kandang monster hanya untuk masuk ke kandang monster lainnya. "Saya bukan aset bawahan Jayanegara."

"Kalau begitu, mulai kini kau adalah mitra setaraku." Aaron mengangkat tangan kanannya dengan gerakan sangat perlahan, menahan insting buasnya sendiri.

Jari telunjuk pria yang kasar itu mengusap lembut rahang bawah Savira. Sentuhan hangat itu tidak menuntut kepatuhan buta. "Aku hanya akan melindungi keselamatan fisikmu dari anjing-anjing bayaran Wijaya. Sisanya, kau yang akan memimpin perang taktis ini sepenuhnya."

Napas Savira tertahan sejenak di kerongkongan. Sentuhan di rahangnya terasa sangat panas, menyengat lapisan es yang membeku lama di rongga dadanya. Pria posesif dan arogan ini benar-benar memberikan ruang kendali taktis secara penuh kepadanya. Aaron menghargai batasan independensinya secara mutlak.

Savira menepis tangan Aaron secara pelan namun tegas. Ia tidak membenci sentuhan perlindungan itu, ia murni hanya membutuhkan ruang kosong untuk bernapas secara normal.

"Ruang kerja Anda aman dari penyadapan siber?" Savira memutar topik pembicaraan dengan nada otoriter.

"Itu adalah ruang isolasi paling kedap di seluruh gedung ini." Aaron menyeringai tipis melihat perubahan sikap Savira yang sangat cepat.

"Bawa saya ke sana sekarang juga." Savira menuntut tanpa basa-basi. Ia benci penundaan. Otaknya sudah gatal ingin membedah setiap organ vital Dharma Group.

Aaron mengangguk patuh. Ada binar antisipasi yang menyala buas di mata kelamnya. Pria itu berbalik arah, memimpin jalan menyusuri lorong marmer yang dingin menjauh dari aula pesta yang bising.

Savira melangkah sejajar di sampingnya. Bahu mereka berdua sesekali bersinggungan sangat tipis saat memutar di persimpangan lorong. Setiap sentuhan tidak sengaja itu memantik letupan listrik statis yang menaikkan suhu tubuh Savira.

Mereka tiba di depan pintu kayu jati ganda berukuran raksasa. Aaron menempelkan ibu jarinya pada panel keamanan biometrik di sisi dinding. Pintu itu bergeser terbuka tanpa suara mekanis sedikit pun.

Ruang kerja Aaron sangat luas dan didominasi warna gelap. Sebuah meja kaca tebal berukuran masif menduduki bagian paling tengah ruangan. Tidak ada tumpukan kertas fisik. Hanya ada proyektor holografik canggih yang tertidur mati di bawah kaca meja tersebut.

"Keluarkan seluruh data intelijen Jayanegara tentang struktur anak perusahaan Dharma," perintah Savira tajam. Ia mengambil alih ruang kendali itu dengan aura kepemimpinan alami.

Aaron tersenyum miring mendengarnya. Pria itu berjalan mendekati panel logam di sudut meja kerjanya. Ketukan jarinya menghidupkan sistem pusat secara instan.

Cahaya kebiruan seketika berpendar memecah kegelapan ruangan. Ratusan grafik holografik rumit bermunculan, mengambang diam di atas permukaan meja kaca. Puluhan nama perusahaan cangkang, alur dana gelap, dan foto para eksekutif Dharma Group membentuk jaring laba-laba visual yang memusingkan mata biasa.

"Ini semua data mentah yang berhasil dikumpulkan oleh anjing pelacakku selama lima tahun terakhir," lapor Aaron. Ia berdiri kokoh di seberang meja, menatap lurus pada wajah pucat Savira yang kini disinari cahaya pendar biru.

Savira mencondongkan tubuhnya ke depan meja kaca. Sepasang mata esnya memindai ribuan data acak itu dalam hitungan detik. Kejeniusan taktisnya bekerja melampaui batas kewajaran, merangkai benang merah yang sengaja dikaburkan oleh ayahnya sejak bertahun-tahun lalu.

"Dua puluh persen data intelijen ini murni manipulasi pengecoh." Savira mendecih sinis, mengusap layar hologram itu untuk menggeser grafik palsu ke sudut meja. "Sosiopat itu memanipulasi analis Anda dengan trik dasar yang sangat murah."

"Lalu tunjukkan bagian mana yang harus aku hancurkan lebih dulu." Aaron menyandarkan kedua telapak tangannya di tepi meja kaca, bersiap menerima instruksi penyerangan.

"Anda harus bersabar, Tuan Aaron. Monster ini memiliki banyak nyawa bayangan." Savira mengangkat wajahnya dari meja hologram. Ia membalas tatapan intens Aaron lekat-lekat.

Ia melihat pantulan luka pengabaian dan api dendam membara yang sama persis di kedalaman manik kelam pria itu. Mereka berdua adalah monster berbahaya yang lahir dari rahim luka ciptaan sosiopat yang sama.

Savira menatap mata Aaron yang kelam, lalu mengulurkan tangannya, "Mari kita hancurkan Wijaya bersama."

1
sukensri hardiati
itu kalau permen strawberry terus dikonsumsi....mk begitu wijaya tumbang...maka kamu juga bisa tumbang kena diabet
Sulati Cus
adu kekuatan sm bokap yg kental kelicikan ternyata g ada seujung kuku nya, terlalu dini pgn balas dendam mlh hancur sendiri
gina altira
makin rumit pertarungannya
tutiana
luar biasa
gina altira
Sosiopat itu sangat mengerikan
sukensri hardiati
hadeeeh savira....ganti permen straberimu dengan camilan sehat....otak geniusmu jadi lengket nanti...
gina altira
jgn" Savira yg akan jadi tumbal
gina altira
kuat Savira,, jgn menyerah
nur
ngeselin bpkmu vir
Pawon Ana
terus terang sampai sini perkembangan karakter Savira agak lambat, yng aku pahami Savira ini masih terbelenggu dengan trauma dimasa kehidupan sebelumnya, dia belum bisa benar2 lepas, egonya yang merasa mampu sendiri masih tinggi...🤦
Pawon Ana
ih itu otak Savira kok tidak ngebul ya....aktif terus tidak berhenti...🤦
Wega Luna
sebenarnya ceritanya bagus entah kenapa musuh lebih kuat dari para MC,panik panik panik sedang musuh hanya dengan diam tapi bisa melihat segala nya, ,dan sekarang Savira ditanya siapa pelakunya, Savira hanya menambah luka, jika tidak dicintai buat hatimu menjadi tembok besar, jangan sampai menambah luka, dengar berita ini langsung sakit hati,aku dulu juga gitu dengan orang tua ku,aku memilih cuek dan tidak memasukkan ke hati,, sampai bab ini aku belum bisa bangga dengan savira
Pawon Ana
berhadapan dengan sumber trauma terkadang memang menguras kewarasan mental 💪✌️
Cty Badria
ya hancurkan
Pawon Ana
ayo aku menunggu aksi duo genius selanjutnya 💪
kymlove...
mari🫡
watno antonio
lanjut thor
sukensri hardiati
tolong masukkan cerita ini ke perpus on going dong....biar gampang nyarinya ...
sukensri hardiati
aduuuhh...klo boleh menyayangkan awal yg tragis...bunuh diri...nggak cocok untuk gadis kuat yg merupakan tokoh utama cerita...
nur
msok cpet banget ketahuan km vir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!