Dia kembali bukan untuk melindungi, tapi untuk mengeksekusi.
Lima belas tahun di medan perang mengubah Nathan Wiratama menjadi Raja Perang yang ditakuti dunia. Kini, ia pulang demi satu misi: memburu dalang pembantaian keluarganya.
Demi melacak sang iblis, Nathan menyamar menjadi pengawal pribadi Elena, janda konglomerat yang memiliki banyak musuh. Di sana, ia juga harus menghadapi Clara, putri majikannya yang perlahan jatuh cinta pada pesona dinginnya.
Satu per satu bukti terkuak, membawa Nathan pada kenyataan paling brutal: Iblis yang ia cari selama ini adalah Elena—wanita yang kini ia lindungi dengan taruhan nyawa.
Saat topeng hancur, akankah Nathan tetap mencabut nyawa Elena, meski harus menghancurkan hati Clara?
"Tidak ada yang bisa melindungi Anda dari saya, Nona."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jantung Istana Marmer
Sore berikutnya, langit Megapura masih diselimuti selimut kelabu tebal, menumpahkan gerimis tipis yang dingin di atas aspal basah Kawasan Singasana. Iring-iringan tiga SUV hitam lapis baja milik keluarga Wijaya perlahan memasuki gerbang besi hitam Jalan Widya Mulia, meluncur tenang di bawah barisan pohon mahoni yang basah sebelum akhirnya berhenti di bawah kanopi lobi utama.
Elena Wijaya melangkah turun dari kursi tengah SUV utama. Meskipun ia baru saja menempuh perjalanan darat selama 5 jam dari Bandar Samudra, penampilannya tetap anggun tanpa setitik pun kelelahan yang tampak. Mantel wol wol biru dongker yang dikenakannya tampak sangat kontras dengan wajahnya yang kaku dan dingin.
Di belakangnya, Hendra melangkah dengan kepala tertunduk. Mantan Kepala Keamanan itu tampak kehilangan sebagian besar wibawanya, berjalan dengan langkah lambat seolah-olah membawa beban tak terlihat yang sangat berat di pundaknya.
Nathan berdiri tegak di samping pilar marmer lobi, mengambil posisi hormat yang sangat presisi dengan sudut kemiringan 15 derajat yang biasa ia tunjukkan.
"Selamat sore, Nyonya Elena. Selamat datang kembali," ucap Nathan dengan suara beratnya yang stabil.
Elena menghentikan langkahnya tepat di depan Nathan. Ia menurunkan sedikit kacamata hitamnya, menatap Nathan dari ujung sepatu hingga ujung rambut dengan tatapan menilai yang sangat tajam. Namun, kali ini ada binar kepuasan yang tidak bisa disembunyikannya.
"Kamu melakukan tugasmu dengan sangat luar biasa, Nathan," ucap Elena, suaranya terdengar lembut namun membawa getaran otoritas yang menuntut kepatuhan. "Rendra telah melaporkan setiap detail pengamanan Clara selama badai semalam. Di saat seluruh sistem internal kita lumpuh karena pengkhianatan Suryadi, kamu adalah satu-satunya orang yang berdiri kokoh menjaga putriku."
"Menjamin keselamatan Nona Clara adalah tugas utama saya, Nyonya," jawab Nathan datar, tanpa ada nada sombong sedikit pun.
Elena menoleh perlahan ke arah Hendra yang berdiri diam di belakangnya. "Hendra."
"Y-Ya, Nyonya Besar," jawab Hendra dengan suara yang sedikit bergetar.
"Proses audit internal terhadap seluruh sistem keamanan Megantara selama sepuluh tahun terakhir akan dimulai besok pagi," ucap Elena dingin, kata-katanya terdengar seperti vonis hukuman mati bagi karier militer Hendra. "Selama proses audit berlangsung, seluruh wewenang dan akses keamanan fisikmu di kediaman ini maupun di Menara Adiwangsa ditangguhkan. Serahkan kartu akses utama dan kode dekripsi sistem kepada Nathan sekarang juga."
Wajah Hendra yang paruh baya berubah pucat pasi. Ia menatap Nathan dengan kilatan kemarahan dan kebencian yang mendalam, namun ia tahu tidak ada gunanya melawan keputusan Elena. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Hendra merogoh saku jas safarinya, mengeluarkan sebuah kartu akses titanium hitam berlogo Megantara emas, dan menyerahkannya kepada Nathan.
Klik.
Bunyi gesekan logam tipis saat Nathan menerima kartu tersebut terasa sangat sunyi namun sarat akan makna taktis yang besar. Kartu titanium ini adalah kunci akses utama level 5 tingkat tertinggi yang memegang kendali penuh atas seluruh gerbang elektronik, sistem kamera pengawas, sensor gerak, hingga ruang bawah tanah kediaman Wijaya.
"Nathan," panggil Elena kembali. "Mulai detik ini, kamu resmi menjabat sebagai Kepala Keamanan Inti Kediaman Wijaya. Aku ingin seluruh pos penjagaan luar diganti dengan personel baru pilihanmu dari agensi PT Bravo Satria dalam waktu 24 jam."
"Dimengerti, Nyonya. Saya akan segera melakukan koordinasi logistik," jawab Nathan tegas.
"Bagus. Temui aku di ruang kerja setelah kamu memastikan Clara kembali ke kamarnya dengan aman," ucap Elena sebelum berjalan masuk ke dalam rumah utama, disusul oleh para pelayan yang membawakan koper-kopernya.
Hendra berdiri diam selama beberapa detik di depan Nathan. Matanya menatap tajam kartu akses titanium yang kini berada di tangan Nathan.
"Kamu berpikir kamu telah memenangkan permainan ini, anak muda?" desis Hendra sangat lirih, suaranya dipenuhi racun kecurigaan. "Aku telah menjaga Elena selama 10 tahun. Aku tahu persis ada sesuatu yang salah dengan latar belakangmu yang terlalu bersih. Aku akan terus mengawasimu, Nathan. Satu kesalahan kecil saja... dan aku sendiri yang akan menyeretmu ke bawah."
Nathan tidak membalas ancaman itu dengan kata-kata kasar. Ia hanya menatap Hendra dengan sepasang mata gelapnya yang kosong, sebuah tatapan sedingin es di dasar samudra terdalam yang membuat Hendra secara refleks melangkah mundur satu langkah karena merasa tertekan oleh aura membunuh yang sangat tipis namun pekat.
Hendra berbalik dan berjalan pergi meninggalkan lobi dengan langkah tergesa-gesa.
Nathan memasukkan kartu akses titanium tersebut ke dalam saku jas abu-abu gelapnya. Di dalam batinnya, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat mengerikan. Bidak catur pertama telah tersingkir. Jalan menuju jantung istana ini kini telah terbuka sepenuhnya.
Setengah jam kemudian, sebuah SUV hitam yang dikemudikan oleh salah satu pengawal Bravo Satria tiba di depan lobi, membawa Clara kembali dari Apartemen Graha Kencana.
Begitu pintu mobil dibuka, Clara melangkah keluar dengan mendekap erat buku sketsanya. Wajahnya yang semula tampak cemas langsung berubah menjadi binar kelegaan yang murni saat melihat sosok tegap Nathan yang berdiri menunggunya di depan pintu masuk.
"Nathan!" panggil Clara lembut, melangkah cepat mendekatinya. "Ibu sudah kembali?"
"Sudah, Nona Clara. Nyonya Elena saat ini sedang berada di ruang kerjanya," jawab Nathan sopan seraya membungkuk hormat. "Bagaimana perjalanan Anda?"
"Sangat tenang... tapi aku terus berpikir tentang rumah ini," aku Clara jujur, matanya menatap ke arah aula utama yang tampak sepi dan remang-remang di bawah pencahayaan sore. "Rasanya aneh sekali mengetahui bahwa ada orang-orang yang mencoba masuk ke sini semalam."
"Seluruh ancaman fisik telah dinetralisir sepenuhnya, Nona. Mulai sore ini, saya telah mengambil alih kendali penuh atas sistem keamanan kediaman ini. Tidak akan ada satu pun penyusup yang bisa mendekati Anda kembali," Nathan memberikan jaminan taktis dengan suara beratnya yang menenangkan.
Clara menatap mata Nathan, mencari setitik kehangatan yang sempat ia rasakan di Apartemen Graha Kencana fajar tadi. Meskipun Nathan kini kembali mengenakan topeng pengawal resminya yang kaku, Clara tahu bahwa di balik dinding es itu, ada kepedulian yang nyata.
"Terima kasih karena selalu menepati janjimu, Nathan," bisik Clara tulus, memberikan senyuman hangat yang sempat membuat batin Nathan bergetar halus selama sepersekian detik sebelum ia berhasil meredamnya kembali dengan fokus dinginnya.
"Menjaga keselamatan Anda adalah tugas utama saya, Nona. Silakan masuk ke dalam untuk beristirahat. Saya akan memastikan makan malam Anda diantarkan ke kamar," ucap Nathan seraya membimbing Clara masuk melewati lobi utama.
Setelah memastikan Clara berada di kamarnya dengan aman, Nathan berjalan menyusuri koridor koridor beton luar menuju ruang kerja pribadi Elena di lantai dua.
Pertemuan dengan Elena di ruang kerjanya berlangsung singkat namun krusial. Elena memberikan instruksi operasional mengenai pembersihan sisa-sisa loyalis Suryadi di dewan direksi Megantara, serta menugaskan Nathan untuk merancang ulang seluruh protokol perjalanan fisiknya untuk pekan depan.
"Aku akan sangat sibuk dengan urusan hukum Suryadi di Menara Adiwangsa dalam beberapa hari ke depan, Nathan," ucap Elena seraya menandatangani beberapa dokumen keuangan di mejanya. "Seluruh pengawasan fisik kediaman ini berada di bawah kendali mutlakmu. Aku tidak ingin mendengar ada masalah sekecil apa pun."
"Dimengerti, Nyonya Besar. Keamanan Anda adalah prioritas saya," jawab Nathan sebelum membungkuk hormat dan melangkah keluar dari ruangan yang dingin itu.
Malam pun jatuh menyelimuti perumahan elit Kawasan Singasana. Jam taktis di pergelangan tangan Nathan menunjukkan pukul 23.30 malam. Keheningan di dalam rumah utama terasa begitu mutlak, hanya diinterupsi oleh detak jam dinding kuno di lobi tengah dan rintik gerimis yang sesekali mengetuk jendela kaca besar.
Nathan berdiri di ruang kontrol keamanan utama yang berada di lantai dasar samping. Dua orang pengawal baru dari Bravo Satria yang ia tempatkan di sana sedang mengawasi puluhan layar monitor pengawas dengan sangat fokus.
"Bos," salah satu pengawal berdiri tegak memberikan penghormatan militer yang sunyi.
"Bagaimana status perimeter luar?" tanya Nathan dingin.
"Semua bersih, Bos. Patroli luar di pos gerbang depan berjalan setiap 15 menit sekali secara acak. Sensor gerak halaman samping dan kolam renang aktif tanpa ada interferensi."
"Bagus. Aku akan melakukan patroli perimeter dalam secara mandiri selama 30 menit ke depan. Jangan alihkan kamera pengawas di koridor barat lantai bawah sebelum aku memberikan instruksi," perintah Nathan taktis.
"Dimengerti, Bos."
Nathan melangkah keluar dari ruang kontrol, menutup pintu baja kedap suara di belakangnya. Ia berjalan menyusuri lorong beton yang dingin menuju koridor barat lantai bawah, wilayah privat yang hanya boleh dimasuki oleh keluarga inti dan Kepala Keamanan.
Nathan mengeluarkan kartu akses titanium hitam milik Hendra dari saku jasnya. Di bawah remang cahaya lampu lorong yang redup, kartu itu memancarkan kilatan keemasan yang dingin.
Ia berjalan menuju sebuah pintu kayu jati besar di ujung koridor barat yang tampaknya hanya berfungsi sebagai ruang penyimpanan dokumen arsip tua. Namun di balik pintu kayu tersebut, terdapat sebuah tangga beton sempit yang mengarah langsung ke ruang bawah tanah kediaman Wijaya, tempat di mana Elena menyembunyikan brankas taktisnya.
Nathan menggeser panel kayu kecil di samping kusen pintu, memperlihatkan sebuah pemindai elektronik berkode enkripsi tingkat tinggi.
Ia menempelkan kartu titanium hitam tersebut ke atas permukaan pemindai.
BEEP.
Lampu indikator pemindai yang semula berwarna merah menyala langsung berubah menjadi hijau terang, diikuti oleh bunyi klik mekanis yang sangat halus saat kunci pintu elektronik itu terlepas.
Nathan mendorong pintu itu terbuka perlahan, melangkah masuk ke dalam kegelapan tangga beton yang dingin di bawah sana. Bau debu semen dan udara lembap langsung menyergap indra penciumannya, sebuah atmosfer yang sangat familier bagi seorang prajurit yang terbiasa menyusup ke dalam bunker militer musuh.
Ia menutup kembali pintu di belakangnya, menguncinya secara elektronik dari dalam agar tidak ada pelayan atau penjaga yang curiga jika melihat pintu terbuka.
Nathan merogoh saku mantelnya, mengeluarkan sebuah kacamata taktis malam mikro buatan Rendra, memasangkannya ke matanya, dan mengaktifkan dayanya. Seketika, kegelapan tangga beton di depannya berubah menjadi hamparan visual hijau terang yang sangat detail.
Ia menuruni anak tangga beton tersebut dengan kehalusan gerakan yang luar biasa, langkah kakinya yang teratur hampir tidak menimbulkan suara gesekan sedikit pun di atas semen dingin.
Di ujung tangga lantai bawah tanah, sekitar 10 meter secara vertikal di bawah struktur utama rumah, Nathan berhenti di depan sebuah dinding beton tebal yang dilengkapi dengan pintu baja antipeluru tingkat tinggi. Di tengah pintu baja tersebut, terdapat sebuah pemindai sidik jari mekanis berlapis enkripsi tiga tingkat.
Ini adalah pintu masuk menuju brankas bawah tanah kediaman Wijaya, tempat di mana Elena menyembunyikan seluruh dokumen taktis mengenai proyek ekspansi pelabuhan utara yang selama ini ia gunakan untuk menimbun kekayaan haramnya di atas penderitaan jutaan orang.
Nathan melangkah mendekat, matanya yang tajam mengamati struktur pemindai sidik jari tersebut di balik visual hijau kacamata malamnya.
"Rencana balas dendam ini... baru saja akan memasuki fase yang sesungguhnya, Elena," bisik Nathan sangat lirih, suaranya sedingin es yang membelah keheningan bawah tanah yang pekat.
Ia merogoh saku jasnya, mengeluarkan sebuah alat perekam data optik nirkabel yang telah dipersiapkan Rendra, lalu menempelkannya ke panel elektronik pemindai sidik jari tersebut untuk mulai melakukan peretasan data awal. Detak jam taktis di tangannya terus berdetak, mengiringi langkah dingin sang Raja Perang yang kini sedang bersiap meruntuhkan dinasti Megantara dari fondasi terdalamnya.
- Assalamualaikum semuanya\, jangan lupa juga membaca karya Thea "Benci di Tepian Hari\, Lindung di Balik Bayang" sebuah kisah 2 anak manusia yang saling melindungi dalam bayangan. kisah yang akan menguras emosi kalian selama mengikuti perjalanan kisah mereka\, - Terima kasih semuanya