Di Desa Windu Sari yang tenang, hiduplah Bobon, bocah polos yang selalu lapar dan membantu Nenek Mira menjual tahu. Tanpa sadar, ia memiliki kekuatan aneh yang kadang muncul tiba-tiba.
Nenek Mira menyimpan rahasia besar tentang asal-usulnya. Ketika peristiwa tak terduga terjadi, sosok asing mulai mengintai desa. Siapa sebenarnya Bobon, dan apa yang tersembunyi dalam dirinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GEELANG, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 - Kedatangan Pengemis Aneh
Bobon tidak tahu berapa lama dia menangis. Yang dia ingat, pelukan wanita berselendang biru itu terasa hangat dan aman. Seperti pelukan ibunya, meskipun dia tidak pernah mengenal ibunya.
Wanita itu membawanya ke sebuah pondok kecil di kaki Gunung Berbunga. Pondok itu sederhana, dengan dinding bambu dan atap jerami. Di dalamnya ada tempat tidur dan meja kayu.
"Kau harus istirahat," kata wanita itu. "Namaku Rara. Aku murid Sekte Selendang Biru. Aku diutus untuk menjagamu."
Bobon duduk di tepi tempat tidur. Matanya masih sembab karena menangis. "Nenek Mira... dia benar-benar pergi?"
Rara mengangguk dengan sedih. "Dia melawan mereka agar kau bisa lolos. Dia adalah wanita yang kuat dan berani."
"Aku harus kembali. Aku harus menolongnya."
"Tidak, Bobon. Nenek Mira ingin kau pergi ke Kerajaan Kencana. Itu adalah permintaan terakhirnya. Kau harus menghormatinya."
Bobon menunduk. Air mata kembali menetes. Tapi dia tidak menangis keras. Dia hanya diam, dengan bahu bergetar pelan.
Rara duduk di sampingnya. "Kau tahu, Nenek Mira bukanlah orang biasa. Dia adalah mantan murid Sekte Gunung Suci. Dia telah melindungimu selama sepuluh tahun. Dia tahu resikonya, tapi dia tetap melakukannya."
"Kenapa?"
"Karena dia mencintaimu, Bobon. Kau adalah cucunya, apapun yang terjadi."
Bobon mengangkat kepalanya. Ada tekad di matanya. "Aku akan pergi ke Kerajaan Kencana. Aku akan melakukan apa yang Nenek Mira inginkan. Tapi setelah itu, aku akan mencari tahu siapa yang membunuhnya. Dan aku akan membalasnya."
Rara tersenyum tipis. "Itu semangat yang baik. Tapi ingat, balas dendam bukanlah jalan yang terbaik. Nenek Mira pasti ingin kau hidup bahagia, bukan terbebani amarah."
Bobon diam. Dia tidak mengerti sepenuhnya, tapi dia tahu Rara benar.
Mereka beristirahat di pondok itu selama satu malam. Keesokan paginya, Rara menyiapkan makanan sederhana untuk Bobon. Nasi, sayur, dan sepotong ikan asin. Bobon makan dengan lahap seperti biasa, tapi ada kesedihan di matanya.
"Kau harus melanjutkan perjalanan," kata Rara. "Aku akan mengantarmu ke pintu gerbang Sekte Gunung Berbunga. Dari sana, kau bisa bertemu dengan tetua mereka. Mereka akan membantumu mencapai Kerajaan Kencana."
"Kenapa tidak langsung ke Kerajaan Kencana?"
"Jalannya panjang dan berbahaya. Sekte Gunung Berbunga memiliki hubungan baik dengan kerajaan. Mereka akan memberimu pengawalan."
Bobon mengangguk. Dia bangkit dan bersiap pergi. Rara memberinya bungkusan berisi bekal dan sehelai kain biru tambahan.
"Ini untukmu. Jika kau dalam bahaya, kibarkan kain ini. Murid-murid Selendang Biru akan datang membantumu."
"Terima kasih, Kak Rara."
Rara tersenyum. "Panggil aku Rara saja. Aku tidak jauh lebih tua darimu, setidaknya secara fisik."
Bobon bingung, tapi tidak bertanya.
Mereka berjalan melewati hutan bambu yang rimbun menuju Sekte Gunung Berbunga. Sepanjang jalan, Rara menjelaskan tentang dunia persilatan. Tentang 10 Sekte Besar, tentang Kerajaan Kencana, tentang Klan-klan bangsawan.
"Kau harus tahu, Bobon, dunia ini tidak hitam dan putih. Ada banyak warna di antaranya. Ada yang baik tapi tampak jahat. Ada yang jahat tapi tampak baik. Kau harus belajar membacanya."
"Bagaimana caranya?"
"Dengan hati, bukan mata. Hati tidak pernah berbohong."
Bobon merenungkan kata-kata itu. Dia tidak mengerti sepenuhnya, tapi dia menyimpannya di dalam hati.
Setelah berjalan dua jam, mereka tiba di gerbang Sekte Gunung Berbunga. Gerbang itu terbuat dari batu putih yang dihiasi ukiran bunga-bunga. Di atasnya tertulis kalimat dalam aksara kuno.
"Ini adalah gerbang menuju keindahan dan kematian," kata Rara. "Setiap orang yang masuk harus siap menghadapi keduanya."
Dua murid berseragam putih berdiri di gerbang. Mereka menyambut Rara dengan hormat.
"Kak Rara, ada tamu?"
"Ini Bobon. Dia harus bertemu dengan Tetua Utama. Ada pesan penting."
Murid-murid itu mengangguk dan membukakan gerbang. Bobon masuk dengan langkah hati-hati. Di dalamnya, dia melihat pemandangan yang luar biasa. Pegunungan yang tertutup bunga-bunga bermekaran. Udara harum dan sejuk. Burung-burung berwarna-warni terbang di antara pepohonan.
"Ini indah sekali," gumam Bobon.
"Inilah keindahan Sekte Gunung Berbunga. Tapi ingat, dibalik keindahan ini, ada pedang yang siap menebas."
Mereka berjalan melewati lorong-lorong berbatu yang dipenuhi bunga. Murid-murid sekte berlatih di halaman-halaman terbuka. Ada yang berlatih pedang, ada yang bermeditasi, ada yang hanya duduk menikmati bunga.
Bobon memperhatikan semua itu dengan takjub. Gerakan-gerakan mereka indah, seperti tarian. Tapi dia bisa merasakan kekuatan di balik gerakan itu.
Mereka tiba di sebuah aula utama. Di dalamnya, seorang wanita tua duduk di kursi tinggi. Rambutnya putih dan matanya tajam. Di tangannya, ada sekuntum bunga merah.
"Ini Tetua Utama Sekte Gunung Berbunga, Nyi Roro," kata Rara sambil membungkuk.
Bobon membungkuk juga, meskipun tidak tahu caranya yang benar.
Nyi Roro menatap Bobon dengan mata teliti. "Jadi kau Bobon. Aku sudah mendengar tentangmu. Nenek Mira mengirim pesan sebelum dia pergi."
"Kakek... Nenek Mira sudah..."
"Aku tahu. Maafkan aku atas kehilanganmu."
Bobon menunduk. Nyi Roro turun dari kursinya dan mendekati Bobon. Dia mengangkat dagu Bobon dengan jarinya.
"Kau memiliki aura yang kuat, Nak. Tapi masih tersegel. Aku bisa melihat tujuh segel di tubuhmu. Dua di antaranya sudah retak total. Tiga mulai retak."
"Apa maksudnya?"
"Berarti kekuatanmu mulai bangkit. Dan ketika semua segel terbuka, kau akan menjadi seperti dulu lagi. Pendekar Dewata yang ditakuti dan dihormati."
"Aku tidak mau menjadi seperti dulu. Aku hanya ingin menjadi Bobon."
Nyi Roro tersenyum. "Kau akan tetap Bobon. Tapi dengan ingatan dan kekuatanmu yang utuh. Kau tidak akan kehilangan dirimu."
Bobon diam. Dia tidak yakin. Tapi dia tidak punya pilihan.
Nyi Roro memanggil beberapa murid untuk menyiapkan perjalanan Bobon ke Kerajaan Kencana. Mereka akan memberinya pengawalan dan bekal.
"Kau akan berangkat besok pagi," kata Nyi Roro. "Untuk sekarang, istirahatlah dan makanlah yang banyak. Aku dengar kau suka makan."
Bobon tersenyum tipis. "Aku lapar."
Nyi Roro tertawa. "Aku tahu. Aku sudah menyiapkan makanan untukmu."
Malam harinya, Bobon duduk sendirian di taman bunga. Bulan bersinar terang di atas gunung. Bunga-bunga bermekaran di bawah sinar bulan, menciptakan pemandangan yang magis.
Dia memegang kain biru di tangannya dan mengusapnya pelan. Pikirannya melayang ke Nenek Mira. Ke Tono. Ke desanya yang hancur. Air mata mengalir pelan.
"Kau sedih," kata suara dari belakangnya.
Bobon menoleh. Seorang pengemis tua berdiri di sana. Pakaiannya lusuh, rambutnya putih, dan matanya tajam. Bobon tidak takut. Ada sesuatu yang familiar tentang pengemis itu.
"Kau yang meninggalkan gulungan kertas di depan rumahku?"
Pengemis itu tersenyum. "Kau ingat. Bagus. Ingatanmu mulai pulih."
"Siapa kau?"
"Aku hanya pengemis. Tapi kau bisa memanggilku Kak Tua."
Bobon mengerutkan kening. "Kak Tua?"
"Aku tua, tapi jiwaku masih muda. Atau setidaknya itulah yang aku katakan pada diriku sendiri."
Pengemis itu duduk di samping Bobon. Dia mengeluarkan sebotol kecil berisi cairan bening dan menyesapnya.
"Kau mau?" tawarnya.
"Apa itu?"
"Anggur. Tapi kau masih kecil, jadi tidak usah."
Bobon menggeleng. "Aku tidak suka minuman aneh. Aku suka makan."
Pengemis itu tertawa. "Kau memang Bobon. Tidak berubah. Dulu kau juga suka makan."
"Dulu? Kau mengenalku?"
"Sudah lama. Sangat lama. Aku adalah salah satu dari sedikit orang yang mengingatmu sebelum kau menjadi bocah."
Bobon menatap pengemis itu dengan mata penuh pertanyaan. "Ceritakan padaku. Siapa aku dulu?"
Pengemis itu memandang bulan. "Kau adalah pendekar terhebat yang pernah hidup. Tidak ada yang bisa menandingimu. Tapi kau juga adalah pendekar paling kesepian. Semua orang yang kau cintai mati. Satu per satu. Dan kau terus hidup."
Bobon merasakan dadanya sesak. "Kenapa mereka mati?"
"Karena kau. Bukan karena kau jahat. Tapi karena takdirmu terlalu berat. Mereka yang mencintaimu selalu berakhir dengan kematian."
"Jadi... aku membawa sial?"
Pengemis itu menatap Bobon dengan mata tajam. "Tidak. Kau membawa harapan. Tapi harapan selalu membutuhkan pengorbanan. Nenek Mira tahu itu. Dia rela mengorbankan dirinya untukmu."
Bobon menunduk. Air mata menetes lagi.
"Jangan menangis, Bobon," kata pengemis itu. "Nenek Mira tidak ingin kau menangis. Dia ingin kau kuat. Dia ingin kau melanjutkan perjalananmu."
"Apa yang harus aku lakukan?"
"Pergi ke Kerajaan Kencana. Temui raja. Buka segel-segelmu satu per satu. Dan ketika kau sudah kuat, kau akan tahu apa yang harus dilakukan."
Pengemis itu bangkit. "Aku harus pergi. Ada urusan lain yang menungguku. Tapi ingat, Bobon, jika kau butuh bantuan, kibarkan kain biru itu. Aku akan datang."
"Kau juga bagian dari Sekte Selendang Biru?"
Pengemis itu tersenyum misterius. "Aku bagian dari banyak hal. Tapi yang pasti, aku adalah temanmu."
Pengemis itu menghilang dalam bayangan. Bobon duduk sendirian, merenungkan semua yang terjadi.
Dia memegang kain biru itu erat. Ada sesuatu di hatinya yang berubah. Bukan hanya kesedihan, tapi juga tekad. Tekad untuk menjadi kuat. Tekad untuk melindungi orang-orang yang dicintainya. Tekad untuk mengingat siapa dirinya.
Di atas gunung, bintang-bintang berkelap-kelip. Bobon menatapnya dengan mata penuh harap.
"Besok adalah hari baru," gumamnya. "Aku akan pergi ke Kerajaan Kencana. Dan aku akan menemukan jawabannya."
Dia tertidur di taman bunga, dengan kain biru di tangannya dan senyuman kecil di bibirnya.
Esok harinya, perjalanan menuju takdir akan dimulai.