tepat di depan sebuah pusat perbelanjaan besar, berdiri seorang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun.
Tubuhnya ramping, kulitnya agak gelap karena sering terpapar sinar matahari, namun sorot matanya memancarkan keteguhan yang jarang dimiliki anak-anak muda seusianya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Wahyuni92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18:Catak Biru Rahasia dan Kejutan
Suara gesekan batu semakin keras dan mengerikan. Getaran menjadi semakin hebat, debu dan batu kecil mulai jatuh dari langit-langit. Rian dengan cepat membuka denah besar yang ia bawa, membandingkan ukiran di kertas dengan ukiran asli di dinding ruangan itu. Wajahnya berubah pucat namun tangannya tidak gemetar. Dia sudah terbiasa memikul beban berat sendirian.
"Dia membuka jalur pembuangan tekanan yang salah!" seru Rian cepat menjelaskan pada kami. "Kalau terus begini, tekanan gas dan energi di dalam tanah akan naik drastis. Tanah akan amblas ke bawah, dan lokasi ini tidak bisa dibangun apa-apa selamanya! Semua kerja kerasku, semua warisan Ayah, semua arti nama PT Raka Karya Utama akan sia-sia!"
"Kita harus bagaimana?" tanya arka bingung. Aku sadar posisiku di sini: aku keturunan keluarga yang darahnya terhubung dengan keseimbangan tanah ini, aku bisa merasakan kapan tekanan itu naik atau turun.
"Arka, aku butuh kau!" seru Rian dengan mata yang berkilat mencari solusi. "Kau bisa rasakan aliran energinya, kan? Beritahu aku arah mana yang tekanannya paling tinggi! Rina, bantu aku hitung sudut kemiringan penyangga ini dari ukiran di dinding! Aku harus hitung ulang keseimbangannya sekarang juga!"
Di tengah kekacauan itu, saat Rian sibuk mengatur strategi teknis untuk menahan kerusakan, sebuah bagian dinding besar di belakang ruang inti itu tiba-tiba bergeser sendiri. Bukan dipaksa, tapi bergeser mengikuti mekanisme kuno yang baru aktif karena perubahan aliran energi yang kami atur.
Dari balik dinding itu, keluarlah sosok tua yang rambutnya memutih, berjalan tertatih namun tegap dan berwibawa. Wajahnya Kakekku!
"Kakek?!" teriak arka kaget luar biasa. Semua orang diam seketika, bahkan Paman Dika membeku di tempat. Semua orang mengira beliau sudah meninggal sepuluh tahun lalu.
Kakek tersenyum tenang, lalu menatap Rian yang sedang memegang denah itu dengan keringat dingin di dahinya namun tetap tegas.
"Bagus sekali... kau sudah memahami intinya, cucu Raka. Kau sudah mewarisi semangat ayahmu sepenuhnya. Kau sudah menyiapkan rencana pembangunan yang benar. Kau paham bahwa memimpin PT Raka Karya Utama bukan soal kekuasaan atau uang, tapi soal menjaga keseimbangan alam dan manusia. Ayahmu pasti bangga melihatmu hari ini."
Dia lalu menatap tajam ke arah Dika yang sudah pucat pasi melihat kakaknya yang dianggap sudah mati itu muncul.
"Kau salah langkah, Dika. Kau mau mengubah fungsi bangunan ini, padahal fungsi utamanya sudah tertulis jelas di cetak biru pertama. Tempat ini dibuat untuk dikunci, bukan dikuasai. Kau gagal dulu, dan kau akan gagal lagi sekarang."
Kakek lalu menyerahkan selembar kertas tua yang kusam namun terawat rapi kepada Rian. Di atasnya ada gambar-gambar teknis yang sangat rinci, lengkap dengan stempel resmi perusahaan tua.
"Ini dia cetak biru lengkap yang hilang dari arsip perusahaan. Dulu ayahmu menyembunyikannya agar tidak kau salahgunakan. Sekarang aku serahkan padamu, Rian, sebagai pemilik sah dan pewaris tunggal PT Raka Karya Utama. Rencana pembangunan utuh dari awal sampai akhir. Apa yang mau kau bangun, Proyek Pengamanan Sumber... itu persis tahap terakhir dari rencana leluhur kita. Kau adalah pemimpin yang ditunggu-tunggu untuk menyelesaikannya."
Rian menerima kertas itu dengan tangan gemetar, matanya berkaca-kaca namun sorot matanya makin tajam dan tegas. Semua keraguan yang dia punya tentang kemampuannya memimpin perusahaan lenyap seketika. Rencana dia membangun di sini bukan cuma ide iseng, tapi tugas sah yang jatuh ke tangannya.
"Paman Dika merusak penyangga utama, Kek," kata Rian cepat sambil melihat kondisi di sekeliling. "Kalau tidak diperbaiki sekarang, tanah akan runtuh. Aku harus selamatkan aset dan wilayah kerja perusahaanku."
"Aku akan menahan keruntuhan dari sini dengan mengunci aliran energi dari dalam," kata Kakek tegas. "Tapi kau bertiga harus keluar sekarang. Bawa cetak biru ini. Keluar, kembali ke kantor pusat PT Raka Karya Utama, dan persiapkan segalanya. Karena segera, tempat ini harus segera dibangun sesuai rencana asli, sebelum Dika kembali dengan cara lain yang lebih kejam. Kau pemimpinnya sekarang, Rian. Ambil keputusanmu."
Gemuruh semakin keras. Dinding mulai retak besar dan debu berjatuhan makin banyak.
"Pergi lewat lorong servis di sebelah kanan! Itu jalur khusus pekerja yang ada di denahmu, Rian! Kau tahu jalurnya!"
Rian mengangguk mantap, dia sudah hafal denah itu luar dalam sekarang. Dia menarik kami berdua berlari menuju lorong yang ditunjuk, sementara di belakang kami, suara pertarungan dan bunyi batu yang saling beradu bergema, diikuti suara seruan marah Dika karena rencananya gagal di tengah jalan.