Zevanya terpilih menjadi lulusan terbaik di kota ini, masa depan yang cemerlang serta paras cantik membuatnya menjadi wanita yang nyaris sempurna, namun secara mengejutkan ia mengalami kecelakaan fatal yang mengubahnya menjadi seorang wanita buta, hingga harus dikirim keluar negeri untuk menjalani perawatan.
Tapi saat kepulangannya, ia tiba-tiba diculik dan dipaksa menikah dengan Aezar, pria yang sama sekali tidak ia kenal.
Keluarganya telah bangkrut secara tragis, ayahnya dipenjara, dan dikabarkan orang yang menghancurkan keluarganya adalah suaminya sendiri, begitu banyak hal yang terjadi membuatnya bingung.
Siapa sebenarnya pria ini? apa motif sebenarnya menikahi Zevanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mufli cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 18
Tadinya Aezar bermaksud mengajak Zevanya berjalan-jalan di sepanjang sungai tak jauh dari restoran setelah makan, namun dering telfonnya terus-menerus menginterupsi moment mereka.
Jengkel karena diganggu saat kencan, Aezar hanya bisa mendengus saat melihat nama Antoni muncul beberapa kali lagi.
"Hmm" jawaban singkat itu membuat semua orang merinding, dari nadanya sudah bisa diperkirakan bagaimana suasana hati pria itu.
"Bos.. ada sesuatu yang aneh dari penjara" jelas Antoni singkat, ia tahu nyawanya pasti dalam bahaya jika ia melaporkan hal yang tidak penting saat Aezar sedang bersama Nyonya.
Mendengar berita itu alis Aezar berkerut, berfikir sejenak ia kemudian memutuskan untuk menemui mertuanya di penjara, tentu saja tanpa Zevanya.
Setelah makan ia mengantar Zevanya pulang sebelum akhirnya pergi lagi dengan tergesa-gesa. Untung saja suasana hati Zevanya sedang bagus, ia tidak banyak bertanya dan hanya patuh masuk rumah.
Wijaya yang telah di dakwa dengan tuduhan penggelapan dana investor bukanlah rekayasa Aezar, rubah tua yang licik itu memang punya beberapa kejahatan yang tersembunyi. Aezar hanya mencari bukti dan diwaktu yang tepat memaparkannya ke publik.
Didepan putrinya ia adalah Ayah yang baik namun tidak ada yang tahu dosa besar macam apa yang telah dilakukannya dibelakang, jika bukan karena putrinya Aezar pasti sudah mencekiknya sampai mati.
Penjara Wijaya ada di timur kota yang sepi, tidak ada banyak industri yang berkembang disana, suasananya memang terasa pas jika dikatakan kota penjahat. Meski begitu kejahatan Wijaya membuatnya berakhir di penjara yang lebih layak, biasanya diisi oleh pejabat yang korup atau pengusaha yang terkena kasus serupa, itu tidak terlalu buruk dan kumuh.
Aezar melewati serangkaian pos pemeriksaan, Antoni memberitahunya kalau ada seseorang yang mengunjungi lelaki tua ini kemarin, Aezar yakin seratus persen bahwa orang ini mungkin bagian dari orang-orang yang menusuknya di bandara tempo hari.
Sampai di ruang jenguk yang disekat kaca tebal, Aezar duduk dengan berwibawa, seolah kaisar yang sedang melihat tawanannya.
Wijaya keluar dengan dua orang polisi di sampingnya, wajahnya kuyu dan tanpa semangat hidup, melihat itu Aezar tersenyum mengejek.
"Bagaimana kabarmu Ayah mertua" sapanya setelah Wijaya duduk dan dua orang polisi pergi ke sudut ruangan yang agak jauh.
"Bagaimana kabar putriku?" tak menghiraukan ejekan Aezar, Wijaya hanya ingin tahu kabar putrinya sendiri.
"Berhenti menyebutnya putrimu, kau menjualnya ke mafia busuk itu dengan imbalan uang, apakah kau fikir kau masih pantas menjadi Ayahnya" Aezar menatap wajah lelaki tua itu dengan tajam, tidak bisa menahan amarahnya lagi.
"Sudah kubilang kau salah faham, dia temanku. Kita sepakat menjodohkan Zevanya dengan anaknya saat mereka masih kecil."
"Kau berteman dengan pedagang senjata ilegal? wah orang busuk memang pantas mati bersama" Aezar bertepuk tangan pelan, ia mengagumi kecerdikan pria tua didepannya ini.
"Aku mengatakan yang sebenarnya, kami memang teman lama.. aku tidak tahu apa-apa tentang kejahatannya" Wijaya dengan putus asa meyakinkan pria muda didepannya ini.
"Tapi gara-gara perjanjian konyolmu, Zevanya dalam bahaya setiap saat. Jika kau butuh banyak uang kenapa tidak berlari kepadaku? Jika menjual putrimu padaku, aku akan menghargainya setara dengan nyawaku sendiri"
Wijaya menghela nafas panjang, perjanjian perjodohan itu terjadi saat usia Zevanya masih 9 tahun, bagaimana mungkin dia tahu bahwa konglomerat seperti Aezar akan menjadi menantunya dimasa depan.
Penyesalan memang selalu datang belakangan.
"Kau bertemu dengan mereka kemarin kan?" tanya Aezar serius sambil mencondongkan wajahnya lebih dekat.
Meski Aezar masih muda namun aura pria itu tidak diragukan lagi dapat mengintimasi orang yang ia tatap.
"Itu.. Mereka hanya memperingatkanku tentang Zevanya" ucapnya terbata-bata.
"Jangan pernah berfikir untuk menyakiti istriku, aku tidak akan segan meski kau mertuaku sendiri"
Aezar menatap mata tua itu dengan tajam, sudah lama sekali ia memperhatikan gerak-geriknya, dan Aezar yakin ia menyimpam rahasia tersembunyi,
Sayangnya ia hanya bisa menggertak karena bagaimanapun juga dimata Zevanya orang itu adalah sosok ayah yang baik, ia tidak mau gadis itu salah faham dan malah berbalik membencinya.
"Aku benar-benar tidak berbohong, mereka sedang mengintaimu"
Aezar tersenyum tipis berniat untuk pergi, ia sudah menduga lelaki tua ini tidak akan mau bekerja sama, Wijaya hanya akan mengelak dan mencari alibi.
Tak berapa lama kemudian dua polisi yang dari tadi berdiri tegak di sudut ruangan menghampiri Wijaya, menandakan waktu besuk telah berakhir.
"Jangan khawatirkan Zevanya, khawatirkan dirimu sendiri"
Kata terakhir Aezar masih terus terngiang di telinganya, entah mengapa Wijaya ingin tersenyum. Senang atau sedih tidak ada yang tahu bagaimana perasaannya.
Wijaya berjalan kembali menuju sel tahanannya di ujung lorong panjang, sementara Aezar sudah kembali ke dalam mobilnya diparkiran,
Ia memutuskan merokok beberapa batang sebelum pergi meninggalkan tempat itu, ada beberapa mobil dibelakangnya yang menyusul, itu pengawal pribadinya.
Kejadian penusukan di bandara itu membuatnya yakin kalau pihak lain pasti serius ingin membunuhnya, bagaimanapun ia tidak boleh mati.
Ia tidak mau Zevanya menjadi janda cantik, setelah ia mati gadis itu pasti menjadi rebutan pria hidung belang, apalagi terlibat dengan mafia, Zevanya tidak boleh punya kehidupan seperti itu.
Perjalanan pulang itu sunyi, saat melewati tempat kecelakaan Zevanya yang sempat menghebohkan seisi kota, Aezar teringat kejadian beberapa bulan yang lalu, dimalam hari dengan hujan gerimis.
Kejadian yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya,
Malam itu ia sedang ada rapat dengan para pemegang saham dan investor dari luar negeri, ia tidak bisa meninggalkan ruangan sama sekali saat suara ponselnya terus-menerus terdengar.
Aezar akhirnya menyadari bahwa yang menelfon adalah anak buahnya yang ia tugaskan untuk mengawasi Zevanya,
"Bos.. kurasa Wijaya mengatur nona Zevanya untuk bertemu dengan seseorang di sebuah hotel, dia mengatakan itu teman baiknya yang datang dari luar negeri dan memintanya untuk datang menyapa"
Laporan singkat itu membuat kepala Aezar sakit, ia sudah mencurigai ayah Zevanya sejak lama karena berhubungan dengan para pedagang senjata ilegal yang berbahaya.
Melirik ke ruang meeting sekali lagi, ia akhirnya membuat keputusan sulit yang sampai saat ini ia sesali.
"Tahan Zevanya apapun yang terjadi, dia tidak boleh sampai ke hotel"
Perintah singkat itu, tidak ada yang menduga akan menjadi malapetaka besar.
Setelah memberi perintah Aezar kembali ke ruang meeting, mencoba memfokuskan diri pada masalah perusahaan, ia yakin anak buahnya adalah orang yang dapat diandalkan, jika Aezae memberi perintah dia pasti akan melaksanakannya sebaik mungkin.
Siapa yang tahu saat ia keluar dari ruang meeting tiga jam kemudian, Antoni sudah menunggunya didepan pintu dengan wajah pucat dan keringat yang mengalir dari keningnya.
Pria itu menelan ludah sebelum akhirnya memberi laporan pada Aezar,
"Bos ada masalah yang terjadi"
.
.
.
.
Minta vote nya dong.. maaciww