Dikhianati oleh keluarga yang seharusnya menjadi tempat pulang, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah sebagai anak pembawa sial, diusir dari rumah, dan dirampas hak warisnya demi ambisi mereka. Tak ada yang percaya pada tangisnya, bahkan pria yang pernah ia cintai pun memilih berpaling.
Saat hidupnya berada di titik terendah, takdir mempertemukannya dengan Kael Adrian, seorang CEO muda yang dingin, berkuasa, dan ditakuti banyak orang. Di balik sikapnya yang sulit ditebak, Kael justru menjadi satu-satunya orang yang berdiri di sisi Arunika ketika seluruh dunia meninggalkannya.
Namun, cinta mereka tidak datang tanpa harga.
Rahasia besar tentang kelahiran Arunika mulai terungkap. Pengkhianatan keluarganya ternyata hanyalah awal dari konspirasi yang telah disusun selama puluhan tahun. Orang-orang yang dulu membuangnya kini ingin merebutnya kembali, bukan karena penyesalan, melainkan karena sebuah warisan yang mampu mengubah segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Winna Yun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab-5 Pertemuan Pertama
"Tuduhan penggelapan dana terhadap Nona Arunika memiliki banyak kejanggalan."
Adrian membuka map itu, Beberapa dokumen transaksi terlihat tidak sinkron. Tanggal transfer berbeda. Nomor rekening tujuan pun tidak cocok.
"Pemalsuan data..." gumam Adrian.
"Sepertinya begitu."
Adrian menutup map perlahan.
"Kalau mereka berani memalsukan bukti, berarti mereka benar-benar ingin menghancurkan hidupnya."
Sorot matanya berubah semakin dingin.
"Terus kumpulkan bukti."
"Jangan bergerak sebelum semuanya lengkap."
"Baik, Tuan."
Sementara itu, di rumah keluarga Mahardika.
Maya tampak gelisah setelah menerima telepon.
"Apa maksudmu polisi belum menemukannya?"
Suara dari seberang terdengar tenang.
"Yang bersangkutan tidak berada di lokasi saat kami datang."
Maya langsung memutus sambungan telepon, Wajahnya mengeras.
"Dia pasti dibantu seseorang."
Clarissa yang duduk di ruang tamu ikut berdiri.
"Haruskah kita mengirim orang untuk mencarinya mah?"
Maya mengangguk pelan.
"Tapi ingat."
"Jangan membuat keributan."
"Kalau media tahu kita mencarinya secara diam-diam, semua rencana bisa berantakan."
"Aku mengerti."
Sore mulai menjelang ketika Arunika akhirnya kembali ke penginapan melalui gang belakang. Begitu melihatnya, sang nenek langsung menghela napas lega.
"Syukurlah kau sudah kembali."
"Maaf, Nek. Jalannya agak ramai."
"Tidak apa-apa."
Nenek itu tersenyum, lalu mengambil kantong belanja dari tangan Arunika.
"Terima kasih sudah membelikannya."
Arunika mengangguk.
"Tadi... ada polisi datang, ya?"
Nenek itu sedikit terkejut.
"Kau sudah tahu?"
Arunika hanya tersenyum kecil.
"Iya."
Nenek memandangnya beberapa saat.
"Kalau ada masalah, kau boleh cerita."
"Aku memang sudah tua, tapi setidaknya aku masih bisa mendengarkan."
Mata Arunika kembali terasa hangat.
Namun ia hanya menggeleng pelan.
"Nanti... kalau waktunya sudah tepat."
Nenek tidak memaksa.
"Baiklah."
"Lalu sekarang, ayo bantu aku menyiapkan makan malam."
"Baik, Nek."
Malam itu, penginapan kembali dipenuhi tamu. Arunika sibuk mengantar teh, mengganti handuk, dan membantu di dapur.
Meski lelah, ia mulai menikmati rutinitas barunya.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa berguna. Sementara itu, dari seberang jalan, sebuah mobil hitam masih terparkir dalam diam.
Sekretaris Adrian memperhatikan aktivitas di penginapan.
"Tuan, sepertinya dia mulai beradaptasi."
Adrian melihat Arunika yang sedang tersenyum kecil saat berbincang dengan sang nenek.
"Itu bagus."
"Tapi badai yang sebenarnya belum dimulai."
Tatapannya beralih ke layar ponsel yang baru saja menerima sebuah laporan, Seseorang telah mengakses arsip kelahiran yang disegel lebih dari dua puluh tahun lalu.
Adrian membaca nama pada laporan itu, lalu perlahan menyipitkan mata.
"Jadi... mereka juga mulai bergerak."
Babak baru dalam kehidupan Arunika pun perlahan dimulai. Di balik hari-harinya yang sederhana sebagai pegawai penginapan, tanpa ia sadari, rahasia tentang masa lalunya mulai satu per satu terungkap.
Namun untuk saat ini, ia hanya ingin mempertahankan satu hal yang baru saja ia temukan—tempat yang bisa ia sebut sebagai rumah.
Pagi itu, penginapan mulai ramai sejak matahari baru terbit, Arunika sudah sibuk menyapu halaman depan. Rambut panjangnya diikat sederhana, sementara ia mengenakan seragam penginapan berwarna biru muda yang sedikit kebesaran.
Keringat membasahi pelipisnya, tetapi senyum tipis tak pernah lepas dari wajahnya.
"Selamat pagi, Nak."
Seorang pelanggan yang baru keluar dari penginapan menyapanya.
"Selamat pagi, Pak."
Pria itu mengangguk puas melihat halaman yang bersih.
"Penginapan ini semakin nyaman."
Arunika hanya tersenyum malu, Dari seberang jalan, sebuah sedan hitam berhenti perlahan.
Adrian duduk di kursi belakang sambil memperhatikan penginapan itu melalui kaca mobil.
"Tuan, hari ini ada rapat penting pukul sembilan," ujar sekretarisnya.
"Aku tahu."
"Tapi sebelum itu, aku ingin memastikan sesuatu."
Sekretaris tidak bertanya lagi, Beberapa detik kemudian, Adrian membuka pintu mobil dan turun. Penampilannya langsung menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi memancarkan wibawa.
Wajahnya yang dingin membuat orang-orang otomatis memberi jalan, Arunika yang sedang menyiram tanaman mendengar langkah kaki mendekat.
"Selamat datang, Pak. Apa Bapak ingin menginap?"
Ia mengangkat kepala, Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Arunika merasa pernah melihat pria itu, tetapi tidak ingat di mana, Sementara Adrian memperhatikan wajah gadis itu beberapa saat.
Wajahnya memang tampak lelah, tetapi sorot matanya masih setenang yang dilihatnya melalui rekaman kamera beberapa hari terakhir.
"Aku ingin memesan satu kamar," ucap Adrian singkat.
"Baik, silakan ke resepsionis."
Arunika mempersilahkannya masuk, Di meja resepsionis, sang nenek tersenyum ramah.
"Selamat datang. Berapa malam, Nak?"
"Satu malam."
Nenek memberikan formulir.
"Silakan diisi."
Adrian mengambil pena, Saat menulis namanya, tanpa sengaja Arunika melihat identitas itu.
kael Adrian Pradipta.
Nama itu membuatnya sedikit terkejut.
Bukankah itu nama Presiden Direktur Adrian Group yang sering muncul di berita ekonomi?
Mengapa orang seperti itu menginap di penginapan kecil seperti ini?
Namun Arunika memilih tidak bertanya. Baginya, tamu tetaplah tamu. Setelah proses administrasi selesai, ia mengambil kunci kamar.
"Silakan, Pak. Kamar nomor delapan di lantai dua."
"Akan saya antar."
Adrian mengangguk pelan, Mereka berjalan menaiki tangga dalam keheningan. Sesampainya di depan kamar, Arunika membuka pintu.
"Kalau ada yang diperlukan, Bapak bisa menghubungi resepsionis."
Saat hendak pergi, Adrian tiba-tiba bertanya,
"Sudah berapa lama kamu bekerja di sini?"
Arunika berhenti melangkah.
"Belum lama."
"Betah?"
Ia tersenyum tipis.
"Tempat ini sederhana."
"Tapi orang-orangnya baik."
Jawaban itu membuat Adrian mengangguk pelan.
"Itu yang paling penting."
Arunika membalas dengan senyum sopan sebelum menutup pintu kamar, Begitu ia pergi, Adrian berdiri di dekat jendela.
Sekretaris yang masuk beberapa saat kemudian berbisik.
"Tuan, akhirnya Anda bertemu langsung dengannya."
Adrian tetap memandang ke luar.
"Dia lebih kuat daripada yang kulihat di laporan."
"Apakah kita mulai menjelaskan semuanya?"
Adrian menggeleng.
"Belum."
"Dia baru saja menemukan ketenangan."
"Aku tidak akan menghancurkannya dengan membawa terlalu banyak masalah sekaligus."
Sekretaris mengangguk.
"Tapi ada kabar baru."
"Apa?"
"Orang-orang Mahardika mulai menyebarkan foto Arunika ke beberapa perusahaan."
"Tujuannya agar tidak ada yang berani mempekerjakannya."
Rahang Adrian mengeras.
"Mereka benar-benar ingin menutup semua jalan hidupnya."
Ia mengeluarkan ponsel dan memberi satu perintah singkat.
"Batalkan."
"Tuan?"
"Hubungi seluruh perusahaan yang bekerja sama dengan Adrian Group."
"Siapa pun yang mendiskriminasi Arunika tanpa bukti yang sah, putuskan kerja sama."
Sekretaris terdiam sesaat.
"Baik, Tuan."
Di luar kamar, Arunika sama sekali tidak mengetahui percakapan itu. Ia hanya terus bekerja seperti biasa, tidak menyadari bahwa pertemuan singkat hari itu menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Adrian akhirnya melihat sendiri perempuan yang selama ini ia cari—bukan sebagai putri keluarga Mahardika, melainkan sebagai seorang wanita yang tetap memilih bangkit meski kehilangan segalanya.
kurang penekanan emosi yang mendalam
konflik dan kelanjutan bagus tapi kurang di bedakan
ada beberapa kata yang kurang baku
tidak ada poin unik yang langsung menonjol di awal
Dikhianati oleh orang yang seharusnya melindunginya, Arunika kehilangan segalanya dalam satu malam. Difitnah pembawa sial, diusir ke jalanan, dirampas hak warisnya demi ambisi keluarga—bahkan orang yang dicintainya pun berpaling tanpa belas kasih.
Di titik terendah hidupnya, ia bertemu Kael Adrian: CEO muda yang dingin, berkuasa, ditakuti semua orang, namun satu-satunya yang berdiri teguh di sisinya saat dunia meninggalkannya.
Namun cinta mereka tak mudah. Rahasia kelahiran Arunika yang terungkap perlahan membongkar konspirasi puluhan tahun tersembunyi. Orang yang dulu membuangnya kini kembali mengejarnya—bukan karena menyesal, melainkan demi warisan luar biasa yang tersembunyi dalam darahnya.
Akankah ia bangkit dan membalas setiap tetes air mata serta pengkhianatan itu?