NovelToon NovelToon
Aku Bukan Malaikat

Aku Bukan Malaikat

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Tamat
Popularitas:347.1k
Nilai: 5
Nama Author: Wardah Rose

Ada pepatah terkenal, "Jangan menilai seseorang dari luarnya."

Theodore Arvan Ilyas. Semua wanita akan setuju kalau dia tampan bak jelmaan malaikat. Namun, apakah hatinya juga sebaik malaikat? Sayangnya iya. Itulah yang membuat Farah merasa dirinya tak pantas untuk sekedar berharap Theo melihat ke arahnya.

Karya kedua setelah Hutang Kepada Mr. Devil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wardah Rose, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bercanda?

“Assalamualaikuum,” seru dua orang hampir bersamaan.

“Wa'alaikumussalaam,” jawab Farah dan Fatma. Dari pintu masuklah Gwen bersama dengan suaminya.

Gwen mendekati Fatma lalu mencium pipinya kanan dan kiri, seperti kebiasaan Gwen  lalu ia langsung saja menghampiri Farah dan memeluknya. “Gimana kondisi lo?” tanyanya dalam pelukan Farah.

“Gue baikan.”

“Syukurlah.” Lalu Gwen mengurai pelukan.

“Hai Galen,” sapa Gwen pada anak itu. Ia menelusupkan telunjuknya ke pergelangan tangan mungil Galen. Ia tertawa tanpa suara.

“Bund gak usah repot, kami bentar, kok,” seru Gwen ketika melihat Fatma beranjak ke area dapur. Zach langsung duduk di salah satu single sofa dan membuka ponselnya.

“Kalian gak kerja?” tanya Farah menatap heran sepasang suami-istri itu. Gwen lalu duduk di samping Galen, tempat yang diduduki Fatma tadi.

“Gue gak ada jadwal praktek hari ini, Zach bisa remote kerjaannya dari manapun.”

“Ya ya, kalian gak perlu kerja setiap hari. Gue lupa kalau kalian pemilik perusahaan dan rumah sakit.” Gwen tertawa mendengar nada sarkas dari kalimat Farah.

 

Fatma kembali ke depan membawakan sekotak kue dan beberapa minuman dingin.

“Bunda dibilang jangan repot-repot,” ujar Gwen sambil tersenyum.

“Gak repot ini, instan semua,” jawab Fatma.

Gwen beralih ke Farah. “Oh ya, gue ke sini mau bilang kalau Pak Hardi, pengacara kita sudah mengurus kasus kemarin. Sekarang terserah elo, ingin melanjutkan ke meja hijau atau selesai secara kekeluargaan. Orangtua Ian juga sudah tahu. Apa mereka sudah hubungin elo?”

Farah mengerutkan dahinya. “Kayaknya belum.” Lalu ia menatap wajah ibunya. “Bund?"

Fatma bersitatap dengan Farah beberapa detik kemudian menjawab, “Iya, mereka hubungi bunda, tadi. Tapi seperti yang Gwen bilang, masalah ini adalah hak kamu mau diteruskan atau tidak. Jadi bunda tidak bisa memberikan jawaban apapun pada mereka.”

Farah meremas kedua telapak tangannya. Gwen tak buru-buru menuntut Farah untuk mengambil keputusan. Ia membiarkan Farah berpikir. Gwen bertanya kepada Fatma tentang donat yang ada di atas meja.

“Hmmm, enak Bunda. Lembut,” komentarnya setelah mencicipi segigit donat itu.

Fatma balas tersenyum. “Tambah lagi Gwen, bunda tadi buat agak banyak.”

“Gwen bawa ke sana ya, Bun?” Gwen menunjuk ke arah suaminya.

“Silakan,” jawab Fatma dengan senyum irit.

Gwen lalu membawa piring penuh donat ke suaminya dan menginterupsi pembicaraan Zach yang terlihat serius di telepon. “Hold on,” kata Zach. Lalu ia melebarkan mulutnya sebagai isyarat minta disuapi oleh Gwen. Farah tersenyum melihat kedekatan sepasang kekasih itu.

“Gimana Farah, apa yang kamu putuskan?” tanya Fatma mengalihkan perhatian Farah dari Zach dan Gwen.

Farah mengelus rambut Galen dan mendesah. “Farah gak mau terusin. Farah ingin semua benar-benar selesai dengan Ian. Farah ingin fokus ke hal lain, Bund.” Mendengar keputusan Farah, Fatma merasa lega. Ia sebenarnya masih ingin menjalin hubungan baik dengan orangtua Ian. Mereka sudah berteman lama. Bukan karena tidak peduli dengan kemalangan putrinya, tapi ia ingin meskipun anak mereka tak bersatu lagi Fatma tak mau memutuskan hubungan pertemanan mereka. Kalau sampai ada pengadilan, sepertinya pintu silaturahmi akan tertutup selamanya.

Gwen kembali ke hadapan keduanya dengan senyum lebar. “Zach suka banget, Bund. Dia habis dua.” Dengan pipi yang bersemu ia mengembalikan piring ke meja. Gwen duduk kembali di sofa.

“Lapar, kali? Ini kan mau jam makan siang,” tukas Farah.

“Iya ya,” jawab Gwen sambil tersenyum. Gwen melihat ke arah Fatma. “Kalau gitu kami pamit, ya Bund, Farah.” Ia gantian melihat Farah. “Kalau elo udah putusin, bisa chat gue ....”

“Gue udah putusin,” jawaban Farah yang tiba-tiba membuat Gwen memperhatikan raut wajah Farah. ”Gue gak ingin kasus ini lanjut. Kami pisah baik-baik, gue gak ingin hal ini jadi cerita gelap yang Galen ingat tentang orangtuanya. Dan gue gak ingin terlalu larut dalam masalah ini. Gue udah move on, jadi Ian juga harus move on.”

Gwen mengangguk dan tersenyum. “Oke, gue akan bilang ke Pak Hardi.”

Zach sudah berdiri dari sofa dan bersiap untuk keluar ketika istrinya juga berpamitan. “Mmm Gwen.” Suara Fatma membuat Gwen menghentikan langkahnya.

“Ya, Bund?”

“Apa kamu gak ada pesan apa-apa dari Theo?” tanya Fatma. Nada penasaran yang kentara membuat Gwen berpikir tentang percakapan keluarganya tadi pagi.

“Maaf tidak ada, Bunda.” Mendengar jawaban Gwen Farah memberikan tatapan yang kira-kira berarti, “tuh , kan Bund” kepada Fatma yang terlihat kecewa.

Namun terlihat kilat antusiasme dari netra Fatma ketika Gwen membocorkan rencana Theo. “Theo pulang tadi pagi ke New York. Dia masih banyak kerjaan yang harus selesai secepatnya supaya awal bulan depan ada waktu untuk libur.”

“Oh ya? Dia rencana pulang ke Indonesia?” tanya Fatma. Setengahnya adalah desakan agar Gwen bercerita lebih banyak.

Gwen tahu arah pertanyaan Fatma jadi ia mengangguk. “Iya Bund. Kan memang rencana dia awal bulan depan Tante Diana dan Om Arvan juga ikut ke sini untuk melamar Farah."

Fatma meledak bahagia di dalam hatinya meskipun tak kelihatan karena topeng ekspresi kaku yang permanen miliknya. Sedangkan Farah seperti terkena serangan surprise Ulang Tahun di luar tanggal kelahirannya. Rasa aneh. Ia tak bisa merasakan ledakan bahagia, hanya kebingungan yang luar biasa.

“Kenapa gue?” pertanyaan Farah yang aneh dengan raut wajah yang entah membuat Gwen mengerutkan dahi.

“Kenapa, maksudnya?”

“Gwen, Farah kalian duduk dulu.” Perintah dari Fatma itu membuat keduanya duduk kembali ke sofa.

Gwen tak mengalihkan perhatian dari wajah Farah ketika meminta penjelasan dari pertanyaan Farah tadi. “Kenapa Theo mau melamar gue?”

“Kenapa? Tak boleh? Apa ... apa kamu sudah punya calon lain?” Gwen tak pernah memikirkan tentang Farah yang mempunyai pria lain setelah Ian, tapi siapa tahu? Meskipun mereka bersahabat, Farah agak tertutup dengan masalah pribadi. Atau bisa jadi Fatma juga sudah mempersiapkan calon lain untuk Farah.

“Bukan begitu.” Farah menundukkan pandangannya. “Theo itu habis kejedot atau gimana? Kok gue, sih Gwen?”

Gwen menaikkan alisnya mengerjab bingung. “Gue kan janda ... dan ini terlalu cepat. Rasanya kok kayak Theo cuma bercanda, tapi dia sampai bawa orangtua. Gue bingung, asli.”

Bahkan saking bingungnya, Farah tak tahu harus berekspresi bagaimana. Kalau ia tidak suka, bukannya gampang saja langsung tolak dan suruh Gwen menyampaikan kepada Theo kalau ia tidak mau. “Tapi, eh tapi kok sayang sekali,” rajuk sisi lain dari diri Farah. Mereka sedang bicara tentang Theo. Bujangan tajir melintir yang jadi incaran para wanita di New York. Farah bisa gila kalau berharap orang seperti Theo akan melirik kepadanya. Cinderella janda tak ada di kehidupan nyata. Jadi dengan sisa kewarasannya dia ingin meyakini bahwa Theo sedang bercanda.

“Loh, kan Theo emang serius mau melamar kamu,” kata Gwen, dan Farah masih tetap bingung.

_________________

TBC

 

1
Sunny Kwok
Luar biasa
Ran Aulia
👍😍😍😍😍
yaty
tahniahhhh author 💞💞💞💞💞
besttt
semangat author 💞💞💞💞💞💞💞
Sandisalbiah
jangan² emiliano yg termasuk dlm kartel narkoba itu kan jd dilema buat theo..
Lea Octa
maaf Thor aku memghalu nya ngebayangin Raihaanun bukan Adinia terlalu dewasa dibandingkan dg Gwen nya klo Adinia 🙏
Lea Octa
setelah melihat semua visual...aku jd terbayang Raihaanun kulit nya eksotis Indonesia banget.... soalnya Gwen, Zach dan Theo nya PD masih muda ....klo visual nya Adinia Wirasti ketuaan jdnya dibandingkan mrk semua nya maaf ya Thor 🙏🙏🥰
Lea Octa
Untung Farah punya temen yang bener² mendukung dan memberikan bantuan yg bisa bikin Farah kuat dan sanggup jd singel parent
Lea Octa
iya bener Farah jangan mau bertahan percuma apa lg Ian laki² egois udh tahu salah tp tetep arogan berasa paling bener
Lea Octa
baru baca aja udh kaya begini....kesellll nyebelin banget suaminya...kasian Farah
Pratiwi Lusi Arifin
kangen bang Zach😍😍
Pratiwi Lusi Arifin
bhuahahaha
kebayang g sih wajah Zach yg ituuu truss senyum2 gaje🤣🤣
Pratiwi Lusi Arifin
beh ga sabar euyy Theoo
Pratiwi Lusi Arifin
ngakak aseli
bumi kepada othor
bumi kepada othor
Pratiwi Lusi Arifin
emang sich kalo badan bulet trus yg mo ngelamar se ganteng ituh apa ga mikirnya becanda kalii
Pratiwi Lusi Arifin
suka mba gwen abang Zach
tapii
Theo nya kurang gahar dikit
Pratiwi Lusi Arifin
Theo ichhh
ganteng pinter tapi kok aga be... dlm mslh asmara sich
gemeshh dweh
Pratiwi Lusi Arifin
kalo sayah sih ok ma visuslisasi Farah
Pratiwi Lusi Arifin
komunikasi 2 arah itu penting
thd siapa saja
terutama anak dan pasangan kta
Liesdiana Malindu
jgan2 Theo dalang penjebakan Sandra??
kan cerita ini ada mafia2nya juga.
Hesti Ariani
galen manis banget.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!