Jika ada perempuan lain yang bisa meluluhkan hati Aksa selain ibu dan adiknya, maka Love lah perempuan tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yoelfu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesedihan Love
Sejak dulu, Aksa memang sudah memiliki rencana yang tertulis dalam angannya untuk hidupnya. Dia sudah merencanakan segala sesuatunya dengan sangat baik, bahkan seandainya rencana pertamanya tak bisa terwujud, dia sudah memiliki rencana kedua dan ketiga untuk cadangan.
Dan Love, apakah termasuk dalam rancangan hidupnya? Jawabannya pernah. Ya, hanya pernah. Karena setelah dia duduk di bangku kuliah dan tak melihat gadis itu lagi, semua angan tentang Love seolah menghilang.
Salah satu rencana yang sudah tertulis jauh-jauh hari adalah melanjutkan belajar ke luar negeri. Bukan tanpa alasan Aksa melakukan itu. Sejak kecil, hidupnya tak pernah mengalami kesulitan yang berarti.
Hidup bersama kedua orang tua yang menyayanginya begitu banyak, mendapatkan keinginannya begitu mudah, ketika sakit ibunya akan menjaganya sampai malam dan memastikan dirinya sudah tertidur dengan pulas. Ada ayahnya yang selalu bisa memberinya arah jika di sana, jalan yang akan di ambil adalah jalan yang terjal, dan lebih baik dia mengambil jalan yang lain. Dan ada adiknya yang selalu bisa menghiburnya.
Dia bahkan merasa tak perlu lagi orang lain yang masuk ke dalam hidupnya. Cukup ayah, ibu, dan adiknya.
Namun takdir berkata lain. Love kembali muncul dan mengacaukan pikirannya. Dan ucapan perpisahan yang dikatakan untuk gadis itu, ternyata dicatat oleh malaikat Tuhan, dan menjadi takdir dikehidupannya sekarang.
Aksa menggenggam kedua tangan Love yang bergetar. Setelah mendengar informasi darinya, tangis gadis itu menjadi-jadi. Isakannya pun keluar berkali-kali.
"Maaf kalau aku buat kamu kecewa." Aksa kembali bersuara ketika Love tak kunjung menghentikan tangisnya.
"Kenapa kamu baru bilang sekarang?" mata Love menatap Aksa masih dengan mengeluarkan air mata. Jika ada yang bilang, secantik-cantiknya seorang gadis, kalau udah nangis ya tetap jelek, maka Love tak peduli.
Baginya, mengeluarkan kesedihannya di depan si pembuat kesedihan itu adalah hal yang tepat.
"Rencana ini aku buat sebelum kita ketemu lagi. Dan aku nggak bisa membatalkannya." Aksa berusaha untuk tetap berbicara dengan Love agar gadis itu mengerti.
"Terus aku gimana?" Love mengeluarkan tissue dari dalam tasnya dan mengeluarkan kotoran dari dalam hidungnya. Ah, semoga saja Aksa tak ilfil dan membawa bule Singapur saat pulang nanti.
"Gimana apanya?"
"Apa aku selama ini pernah meminta lebih dari Prince selama kita pacaran?" Love sepertinya akan mengeluarkan unek-uneknya kali ini.
"Enggak." jawab Aksa.
"Meskipun Prince sibuk dengan banyak hal, akupun tak pernah ngeluh. Karena apa? Karena aku berusaha ingin menjadi pacar yang nggak banyak nuntut. Bisa menjadi pacar yang pengertian dan nggak ngeluh meskipun kita jarang ketemu."
"Itu yang memang harus kamu lakukan Princess."
"Dan sekarang, saat Prince akan lulus kuliah yang aku pikir kita bisa punya banyak waktu bersama malah mau ninggalin aku lagi." tak peduli Aksa bicara, Love tetap meneruskan ocehannya.
"Hanya dua tahun princess. Dua tahun. Kalau memang aku bisa menyelesaikan lebih cepat, aku akan selesaikan lebih cepat." Aksa tidak yakin apakah Love akan diam mendengar ucapannya itu.
"Dan kamu pikir dua tahun itu sebentar?" Love menyeka air matanya yang kembali keluar sebelum melanjutkan. "Lama Prince. Lama." Love melepaskan genggaman tangan Aksa dan berdiri.
Berjalan mondar-mindir untuk meluapkan sesak yang mengganjal di dalam hatinya. Merasa lelah, Love duduk berjongkok dan menelungkupkan wajahnnya di kedua lengannya yang dilipat diatas lutut.
Hatinya terasa sakit sekali mengingat jika dia akan kembali terpisah dengan Aksa.
Aksa medekati Love dan mengelus rambut gadis itu. "Masih lama Princess, jadi kamu jangan pikirkan masalah itu dulu. Kita nikmati dulu kebersamaan kita sekarang. Hemm?"
Isakan Love masih terdengar, karena merasa tak bisa melampiaskan rasa sakitnya, gadis itu memeluk Aksa erat dan disambut dengan baik oleh lelaki itu.
"Dua tahun waktu itu, aku menahan rindu yang bener-bener sakit. Kadang aku nangis sendirian di dalam kamar karena aku pengen banget ketemu kamu." Love kembali berbicara meskipun mereka masih saling memeluk. "Dan dua tahun nanti, gimana lagi kabar hatiku kalau Prince ninggalin aku lagi. Waktu itu yang nggak ada hubungan aja rasanya sakit, apalagi sekarang kita udah pacaran?" Love semakin mengeratkan pelukannya dan meraung melepaskan tangisnya.
Beruntung di sekeliling mereka tak ada orang, jika ada, entah apa yamg akan mereka pikirkan tentang Aksa. Bisa saja dia disangka menghamili gadis itu dan tak mau bertanggung jawab kan.
Tapi masalahnya, Aksa pasti akan mendapatkan masalah jika Marvel melihat mata putrinya bengkak karena menangis.
Dan ternyata benar, ketika Aksa mengantarkan Love pulang, Marvel menatap tajam dirinya dengan wajah yang menyeramkan.
"Kenapa ini?" begitu tanya Marvel saat melihat mata bengkak Love. "Kamu apakan putri saya?" nada bicara Marvel sangat tidak bersahabat.
"Maafkan saya Om." rahang Marvel mengetat mendengar permintaan maaf Aksa.
"Saya bisa jelaskan" katanya lagi.
"Duduk." perintah Marvel kepada Aksa. Sedangkan Love masih terus menggenggam tangan Aksa erat.
Yang ada dalam benak Marvel kali ini adalah semua tentang hal negatif yang berusaha dia lenyapkan. Karena dia tak ingin apa yang tengah dipikirkan adalah sebuah kebenaran.
"Jelaskan!" perintah Marvel lagi. "Love, kamu bisa geser sedikit kan?" melihat Love yang duduk berdempetan dengan Aksa membuat Marvel semakit ngeri dengan pemikirannya sendiri.
Setelah Love menuruti permintaan sang ayah, Aksa mulai menceritakan apa yang terjadi. Entah dari mana, Sha sudah berada di sana dan ikut mendengarkan penjelasan Aksa.
"Saya minta maaf kepada Om dan Tante karena membuat Love menangis. Sungguh, saya nggak bermaksud untuk melakukan itu." rahang Marvel masih mengetat meskipun ketakutannya tadi bukanlah sebuah alasan kenapa putrinya itu mengeluarkan ait mata sampai matanya bengkak.
"Kalau kamu memiliki rencana untuk kuliah ke luar negeri, kenapa kamu memacari putri saya dan membuatnya bersedih?" sinis sekali ayah Love ini sekarang. Entah kemana perginya keramahan yang ditunjukkan pagi tadi ketika Aksa meminta izin mengajak Love pergi.
"Maafkan saya Om. Bertemu Love tidak ada dalam rencana saya. Tapi takdir mempertemukan saya dengannya dan membuat saya jatuh cinta kepadanya." kemudian Aksa menceritakan jika dirinya dan Love dulu juga satu sekolah. Tentu saja menskip tentang Love yang lebih dulu mengejarnya.
"Pulang kamu." katanya sambil masih menatap tajam Aksa. Sha yang sedari tadi melihat adegan itu hanya menutup bibirnya rapat tanpa ikut dalam perbincangan kedua lelaki beda generasi itu.
"Om." Aksa merasa tak bisa mengatakan pembelaan apapun lagi ketika Marvel mengusirnya dari rumah lelaki itu.
"Kalau perlu, putus sekalian dengan Love. Belum apapa kamu udah buat putri saya bersedih."
"Papa!" jeritan itu membuat Marvel menatap putrinya yang langsung mengeluarkan tangisnya dengan keras.
"Om... Saya.." tatapan tajam Marvel mengisyaratkan lelaki itu tak ingin di bantah. Bahkan tangisan Love tak dipedulikannya.
Aksa berdiri dengan tubuh lemas. Tangan lelaki itu di cekal oleh Love dan menggenggamnya. Memohon agar Aksa tak meninggalkan rumahnya.
"Aku pulang dulu ya." pamit Aksa kepada Love sambil tersenyum. Lelaki itu juga menatap Sha yang dibalas senyuman oleh bunda Love itu. "Saya permisi pulang dulu Om, Tante." Sha mengangguk dan masih meyematkan senyum di bibirnya untuk pemuda tersebut.
Love memegangi belakang jaket yang dipakai Aksa dan mengantarkan sampai depan rumahnya. Sungguh, gadis itu rasanya ingin ikut saja kemana kekasihnya pergi.
Motor Aksa melesat pergi meninggalkan rumah Love. Gadis itu langsung masuk ke dalam rumah dan menjerit. "Papa jahat." katanya sambil masih menangis dan terduduk di lantai.
"Iya. Papa kamu emang jahat." Marvel melotot kearah sang istri yang sudah berdiri dan bersedekap.
"Kenapa jadi papa yang salah?" tanya Marvel merasa bingung. Sebagai ayah, dia tak suka jika melihat putrinya dibuat sakit hati oleh orang lain, bagian mana dari sikapnya yang salah. Begitu pikirnya.
Sha berdiri dan siap memberi ceramah kepada suaminya. "Papa tahu kan alasan Aksa pergi ke luar negeri?" tak peduli kepala suaminya mengangguk, Sha meneruskan. "Aksa pergi ke Singapura untuk belajar. Bukan untuk meminang anak gadis orang atau untuk menikahi istri orang. Dia punya rencana dalam hidupnya yang nggak main-main. Bahkan dia nggak mengurungkan niatnya hanya karena masalah cinta. Harusnya Papa dukung dia, bukan malah meminta dia putus denga Love." Love masih semakin tergugu mengingat ucapan sang ayah tadi.
"Papa harusnya seneng, anak kita bisa dicintai Aksa. Lelaki yang nggak mudah goyah dengan rencana yang disusunnya." tatapan Sha mengarah kepada Love. "Dan kamu Love." Love mendongak untuk menatap sang bunda.
"Kamu sebagai pacar seharusnya bisa kasih support dia, bukannya malah nangis begitu. Karena apa? Karena selain keluarganya, kamu adalah perempuan spesial di hati Aksa.
"Hubungan jarak jauh itu memang menyedihkan, menyakitkan, tapi dari sanalah cinta kalian di uji. Sanggup tidaknya kalian dengan ujian tersebut kalian berdualah yang menentukan. Saling percaya dan saling mensupport adalah kuncinya. Sekarang terserah kamu, mau tetap bersama Aksa dan medukungnya, atau bersikap kekanakan dan kamu akan kehilangannya."
Setelah berceramah panjang lebar, Sha masuk ke dalam rumah dan meninggalkan suami dan putrinya. Membiarkan keduanya berpikir dan mengambil keputusan.
•°•