"Aku terjebak dalam draf novel yang bahkan belum aku pikirkan alur ceritanya, dan sialnya, aku adalah karakter utamanya."
Tidak ada sistem yang akan membuatku kaya raya. Tidak ada kekuatan luar biasa yang diberikan untuk melawan para penjahat di dunia ini. Hanya aku, seorang penulis yang terjebak di tubuh seorang budak bernama Julian, ditemani oleh Anima dan Animus yang cerewet, serta Yisla gadis miskin yang menyelamatkanku dari perbudakan bersama kakak laki-lakinya bernama Vito.
Kami harus lari dari kejaran para penguasa, menukar daging beku demi koin perak, dan mencoba bertahan hidup di dunia yang genrenya terus berubah di luar kendali.
Bersama Yisla, gadis yang menjadi satu-satunya saksi perjuanganku, aku sebagai Julian harus melintasi perbatasan Utara yang dingin menuju ke Selatan. Mencoba peruntungan hidup baru demi merubah hidupku dan Yisla.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
...── ⋆⋅𖤓⋅⋆ ──...
Deru napas mereka yang saling memburu dan saling bertukar hangat di atas kasur yang berderit.
Julian masih mematung, mengurung tubuh Yisla. Tatapannya kini terkunci pada rona merah di pipi gadis itu, bibirnya yang sedikit terbuka, dan binar kegugupan di matanya. Semuanya terasa begitu nyata, bukan lagi sekadar deretan kalimat deskriptif yang biasa ia ketik di laptopnya.
Ternyata genre romantis nggak buruk juga, batin Astra mendadak berkhianat dari idealisme lamanya yang pemuja genre action dan trailer penuh baku hantam.
Julian baru saja hendak mengumpulkan sisa kesadarannya untuk bangkit, ketika secara tak terduga, Yisla perlahan mengangkat kedua tangannya. Jemari lentik gadis itu kini melingkar di leher Julian, menariknya pelan semakin mendekat.
Deg!
Jantung Julian serasa mau copot. Jarak wajah mereka semakin terkikis habis hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"J-Julian..." bisik Yisla teramat lirih, matanya tidak beralih sedikit pun dari mata Julian. "Napas kamu... kedengaran kencang banget tahu."
"Yisla, jangan begini. Aku bisa kebablasan," suara Julian memberat, menahan mati-matian sisa imannya yang sudah berada di ujung tanduk.
Yisla justru tersenyum tipis, mempererat kuncian tangannya di tengkuk Julian.
"Kalau kebablasan... emangnya kenapa?"
Atmosfer di dalam kamar itu langsung meledak panas. Sentuhan lembut dari Yisla di lehernya sukses mengunci akal sehat Julian sepenuhnya.
Wush!
Duo Hemisphere bersaudara mendadak muncul kembali akibat lonjakan hormon sang Author yang terlalu brutal.
"Gawat! Narasinya jadi kacau!" seru Animus panik, buru-buru membuka gulungan naskah Kertas Takdir.
"Pondasi fantasi survival murni kita retak! Aku harus mengunci paksa plotnya sekarang sebelum—"
"Sini kertasnya, dasar Animus Kaku!" jerit Anima histeris kegirangan.
Dengan gerakan secepat kilat, Anima merebut paksa Kertas Takdir dari cengkeraman Animus. Tanpa babibu, Anima mencoret tulisan 'Fantasy-Comedy' menggunakan kuku tajamnya, lalu menuliskan satu kata baru dengan pena bulu ayam milik Animus.
Anima menulis genre baru, Adult-Romance.
"Hahaha! Rasakan ini! Rute dewasa resmi dibuka!" tawa Anima membahana penuh kemenangan.
"Bodoh! Kau mengunci genrenya ke Fantasi Dewasa!" bentak Animus frustrasi, mencoba merebutnya kembali namun terlambat. Kertas takdir itu sudah menyala terang dan mengunci takdir baru secara permanen.
Bzzzt!
Di dalam kamar, Julian merasakan sensasi menyengat yang aneh di kepalanya, seolah ada dinding tak kasat mata yang baru saja runtuh dalam sistem narasinya.
Tatapannya pada Yisla mendadak berubah—tidak ada lagi keraguan, tidak ada lagi ketakutan akan sensor batin. Dorongan fiksi dewasa yang dipaksakan oleh Anima langsung membakar habis sisa-sisa kendali dirinya.
Julian menurunkan wajahnya, membiarkan bibir mereka berjarak kurang dari satu milimeter.
"Yisla... kamu yang minta ini, ya."
Yisla tidak menjawab dengan kata-kata, melainkan dengan memejamkan matanya rapat-rapat, menyambut babak baru cerita mereka yang malam itu resmi bergeser jalur menuju ketegangan yang jauh lebih intim.
Bibir mereka akhirnya bertaut di bawah temaram lampu minyak. Sentuhan ragu itu dalam sekejap berubah menjadi sebuah ciuman yang menuntut. Yisla meremas pundak Julian saat dekapan cowok itu berpindah mengunci pipinya.
Julian melepaskan pautan bibir mereka sesaat untuk menarik napas, lalu menurunkan kecupannya ke ceruk leher Yisla. Gadis itu mendongak pasrah, sembari mencengkeram pakaian Julian kuat-kuat. Kasur di bawah mereka berderit mengiringi setiap pergerakan yang kian intens di atas ranjang yang berguncang.
Pakaian rajut Yisla perlahan melonggar, bergeser turun dari bahunya seiring tangan Julian yang menjelajah tanpa keraguan. Kamar itu kini menjadi saksi bisu hasrat mereka yang terbakar habis hingga tuntas.
Di sisi lain, Animus membuang muka dengan ekspresi jijik. "Degradasi moralitas naratif!" kutuknya dingin sebelum akhirnya menghilang.
Sebaliknya, Anima justru masih nangkring di atas lemari dengan mata berbinar liar.
"Kyaaa! Masterpiece!" pekiknya histeris, sebelum akhirnya ikut memudar, membiarkan babak dewasa itu selesai sepenuhnya.
Beberapa saat setelah badai keintiman itu reda, keheningan kamar kembali mencekam. Namun, atmosfernya tidak lagi sepanas tadi, melainkan berubah menjadi kecanggungan yang luar biasa masif.
Otak Astra mendadak kembali ke setelan pabrik. Kesadarannya sebagai seorang author waras mendadak menampar wajahnya dengan begitu keras.
Aku... Aku beneran kebablasan ngelakuin itu sama karakter buatanku sendiri?! batin Astra menjerit histeris, mendadak diserang rasa bersalah dan malu yang melesat ke ubun-ubun.
Julian langsung bangkit dengan kaku dan buru-buru membenarkan pakaian-nya yang berantakan tanpa berani melirik Yisla sedikit pun. Wajahnya merah padam sampai ke leher. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun atau membalas tatapan Yisla, Julian langsung merebahkan diri di sisi paling ujung kasur kiri.
Sret!
Julian menarik selimutnya dengan hentakan kasar, lalu langsung tidur membelakangi Yisla. Ia sengaja memejamkan mata rapat-rapat, mengabaikan kehadiran gadis di sampingnya demi menutupi rasa malu yang teramat sangat.
Yisla yang masih mengatur napasnya di balik selimut sebelah kanan dan tertegun. Ia menatap punggung kaku Julian yang mendadak cuek setengah mati.
"J-Julian...?" panggil Yisla lirih, suaranya terdengar bingung dan agak bersalah.
Tidak ada jawaban. Julian tetap tak bergeming membelakanginya dan berpura-pura sudah tidur, ia meratapi nasib takdir narasinya yang baru saja ia hancurkan sendiri malam ini.
Yisla menggigit bibir bawahnya. Keheningan yang membentang di antara mereka sekarang terasa jauh lebih menyiksa ketimbang badai salju di luar sana.
Tatapannya kini tertuju pada punggung kaku Julian yang tertutup selimut goni, merasa ada dinding kaca tebal yang mendadak muncul memisahkan mereka.
Kenapa dia diam saja? Apa... apa aku melakukan kesalahan? batin Yisla berkecamuk, matanya mulai terasa panas oleh rasa bersalah yang tak beralasan.
Ia perlahan menarik selimutnya hingga sebatas dada, lalu ikut berbalik membelakangi Julian. Air mata yang sedari tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi bantal kain yang dia gunakan. Malam yang harusnya menjadi puncak keintiman itu justru ditutup dengan punggung yang saling menjauh dan kesunyian yang menyakitkan.
Sementara di balik selimutnya, Astra sedang mengalami krisis eksistensial tingkat dewa. Terlihat tangannya mencengkeram seprai kasur erat-erat sampai kuku-kuku jarinya memutih.
Dia ingin sekali berbalik memeluk Yisla, dan meminta maaf. Tapi egonya sebagai seorang author sekaligus rasa malunya sebagai seorang laki-laki benar-benar menahan tubuh Julian untuk bergerak sedikit pun.