Perjuangan menggapai sebuah filosofi emosi bernama cinta, untuk hati yang selalu menangisi lingkaran rindu tak berujung di masa kecilnya kepada Ayah Bunda
Sebagaimana puisi yang menyimpan banyak makna dari setiap rangkaian kata
Begitu juga hidup yang menyimpan banyak rahasia dari setiap rangkaian peristiwa
Seorang gadis bernama Lunara yang hidup dengan takdir yang seolah seperti terus mempermainkan hatinya
"Cinta itu anugerah, jika aku tidak bisa mencintaimu sebagai pendamping hidupku, maka aku akan mencintaimu sebagai adikku" - Juan
"Saya bukan pengecut, tapi mencintai dia dalam do'a-do'a saya adalah bukti terbesar cinta saya untuk dia" -Reyhan
"Layaknya puisi... kamu itu ibarat sajak yang membuat kalimat lebih indah, kamu adalah inspirasi yang tidak bisa aku hentikan" -Luna
Ini novel pertamaku
Semoga kalian suka ya 😊
.
.
.
Ig @inrosas_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Apa kamu bersedia saya bantu sekaligus kamu pun bantu saya menepati janji?
.
.
.
Flashback Off
"Ohhh ya Allahh jadi dokter mas yang waktu itu, wahh udah jadi dokter hebat beneran sekarang"
Kata Luna dengan semangat menyadari siapa dokter di depannya ini
"Karena kamu udah ingat dengan saya, sekarang saya kembalikan ini ke kamu"
Ucap Rey seraya menyerahkan sehelai sapu tangan putih dengan aksen sebuah hati merah berinisial L di sisi bawahnya, Luna menerima sapu tangan tersebut dengan tatapan bingung
"Ini sapu tangan saya dulu, kok bisa sama dokter?"
Tanya Luna kemudian setelah mengenal siapa pemilik sapu tangan itu
"Sapu tangan itu kamu lilitkan di pergelangan tangab Ibu saya yang terluka dulu karena tergores batu saat beliau jatuh pingsan pada saat itu"
Barulah Luna mengangguk mengingat kejadian saat pertama kali mereka bertemu
"Saya simpan sapu tangan itu dengan baik selama ini, bisa dibilang itu adalah kenangan yang dipakai Ibu untuk terakhir kali sekaligus barang yang selalu mengingatkan saya dengan jasa kamu dan Om Edi"
Tambah Rey dengan sorot mata sendu mengingat mendiang sang Ibu
"Kalau gitu ini buat dokter aja gapapa kok"
Kata Luna sambil menyerahkan kembali sapu tangannya, Luna tampak mengangguk meyakinkan Rey, Rey pun kemudian mengambil sapu tangan itu kembali dengan tersenyum hangat
"Ada satu lagi sih sebenarnya barang kamu yang saya simpan"
Ucap Rey dengan menatap Luna
"Oh ya? Kok banyak banget sih, apalagi emangnya?"
Bukannya menjawab, Rey malah balik bertanya
"Kamu masih suka nulis?"
Luna menoleh kaget pada Rey
"Darimana dokter tau saya suka nulis?"
Luna pun ikut balik bertanya yang disambut sebuah senyuman dari Rey
"Jawab aja"
"Hmm... Lumayan sih tapi ya sekedar kebutuhan kuliah aja, kalo nulis-nulis kaya dulu udah jarang, nyaris gak pernah kayaknya"
Jawab Luna dengan senyum sendu
"Kuliah jurusan sastra?"
Tanya Rey lagi yang dijawab dengan anggukan dari Luna
"Udah mau lulus dong berarti?"
"InsyaAllah tahun ini"
Rey mengangguk mengerti
"Semoga lancar ya"
"Aamiinn"
Situasi kemudian jadi hening untuk beberapa saat, Luna menjadi sedikit canggung, berbeda dengan Rey yang tampak sedang mencoba mengatakan sesuatu disertai sedikit keraguan di matanya
"Kamu... "
Luna menoleh menunggu kelanjutan ucapan Rey
"Kamu belum mau cerita? Saya bukan ingin ikut campur, tapi saya murni ingin membantu, lagipula itu sudah saya ucapkan sebagai janji"
Ucap Rey serius, Luna tampak gelagapan bingung untuk merespon peryataan Rey
"Apa kamu bersedia saya bantu sekaligus kamu pun bantu saya menepati janji?"
Tanya Rey berusaha meyakinkan Luna
"Saya gak tau apa dengan menceritakan ini adalah sebuah hal yang benar, saya sendiri pun gak tau harus mulai dari mana"
Adzan mulai berkumandang di pengawal malam hari ini
"Kapan pun kamu perlu bantuan, kapan pun kamu ingin cerita, saya akan selalu dengar dan bantu sebisa saya, sekarang kita salat dulu"
Rey berdiri lebih dulu disusul oleh Luna, merasa keseimbangannya hilang Luna hampir terjatuh jika saja Rey tidak dengan sigap menangkap tubub Luna, pandangan mereka sebentar bertemu (pasti langsung ngebayangin kayak di sinetron-sinetron itu kann wkwk)
Ehm
Seseorang berdehem menganggetkan Rey yang seketika melepaskan tangannya dari pinggang Luna dan membuat Luna berakhir duduk terhempas di tanah
Rey gelagapan dan semakin terkejut melihat Luna ke bawah, dia berusaha membantu Luna berdiri kembali seraya memohon maaf, karena sedang salah tingkah membuat mereka kembali kehilangan keseimbangan bersama hingga Luna terjatuh kembali dengan Reyhan di sampingnya
Vani dan Dira yang merupakan penyebab utama dalam kecanggungan yang sekarang menguasai diri Rey dan Luna hanya termangu heran melihat kegaduhan dokter dan sahabat mereka saat ini
"Saya permisi dok"
Kata Luna cepat yang diangguki oleh Rey kemudian berjalan cepat menarik Vani dan Dira kembali ke ruang inapnya
"Loe ngapain tadi sama dokter Rey"
Tanya Dira penasaran begitu sampai di kamar Luna
"Tadi gue sumpek di kamar mulu, jadi ke taman deh, ehh dokter Rey nyusul terus begitu denger adzan, kita mau salat tapi gue malah jatoh dan dia cuma mau nolongin aja, gak usah cemburu ya Van, gue udah punya Juan kok"
Jelas Luna seraya menatap Vani
"Ya enggakla... Lagian kalo gak dapet dokter Rey, cadangan gue masih banyak"
Jawab Vani dengan seringai miring
"Pasti yang loe maksud itu dosen baru tadi kan?"
Vani tampak mengangguk tersenyum malu
"Ada yang baru lagi? Wah gila nih si Vani"
"Bukan gila lagi, buaya betina emang nih orang"
Timpal Dira dengan memandang kesal pada sahabatnya Vani itu
- - -
Pagi ini Luna pulang dari rumah sakit bersama dokter Rey karena kedua sahabatnya hari ini ada ujian, meski keduanya memaksa untuk mengantar Luna dan mengatakan semua bisa mereka atasi namun Luna tetap bersih keras untuk pulang sendiri sampai akhirnya dokter Rey datang menawarkan diri untuk mengantar Luna dan menyelesaikan perdebatan tanpa akhir dari ketiga sahabat itu
Bersamaan datangnya mobil Rey ke halaman rumah Luna, tampak juga Edi baru saja keluar menuju mobilnya, langkah Edi terhenti menatap mobil putih yang ia ketahui milik Rey
"Makasih ya dok udah nganterin sampai sini"
Ucap Luna kemudian keluar dari mobil Rey, tampak Rey ikut keluar menyusul Luna yang terlihat berjalan mendekati Ayahnya dan dengan ragu hendak bersalam mengulurkan tangannya
"Assalamu'alaikum Yah, Luna pul..."
Ucapan Luna terhenti melihat Edi yang dengan cepat menjawab salam dengan dingin dan langsung masuk ke mobilnya
Luna menatap sendu ke arah mobil Edi hingga keluar pagar rumahnya membuat Rey semakin bingung apa yang sudah terjadi dalam hubungan Ayah dan anak yang dulunya saling menyayangi baginya
"Kak Luna!"
Seru seseorang dari dalam rumah yang kini tengah berlari haru memeluk Luna
"Alhamdulillah kak Luna udah pulang, Yana seneng banget"
Ungkap Yana sambil menangis haru, Luna pun membalas pelukan adiknya tak kalah erat
"Oo iya dok, kenalkan ini Yana adik saya"
Kata Luna begitu melepas pelukannya
Yana dan Rey pun saling berjabat tangan memperkenalkan diri mereka masing-masing
"Kalau gitu saya permisi dulu"
Pamit Rey yang di cegah oleh Luna
"Gak mampir dulu aja dok?"
" Lain kali InsyaAllah, saya harus kembali ke rumah sakit, Assalamu'alaikum"
Wa'alaikumsalam...
Kompak Luna dan Yana menjawab, Yana pun kemudian merangkul Luna masuk ke dalam rumah
Sekarang novel ini udah hadir kembali dalam judul yang sama. udah jalan 7 episode lohhh. yukk rameinn
Search Hati Lunara, atau nama pena Mufa Zurea
penulis nya masih sama kok. cuma ubah nama aja hihii
Sekarang ceritanya udah diperbaiki agar lebih menarik dengan nama penampilan berbeda yaitu Mufa Zurea dan tampil dengan judul "Hati"
Bisa di search pake nama pena atau judulnya yaa. Akan up mulai minggu ini
5 rate, like, vote msh menunggu...
SEMANGAT!!