Anna hanya seorang gadis biasa, ceria dan baik hati. Berubah menjadi gadis yang liar setelah seorang pria merenggut kesuciannya, peristiwa naas dari serangkaian peristiwa lainnya yang ia alami. Hingga suatu peristiwa membawanya ke dalam jerat cinta dua pria psikopat yang menginginkannya.
"Sesaknya beban hidup yang kujalani menghimpit jalan takdirku, membuatku harus berjuang keras tanpa hasil maksimal. Hanya karena aku kalah dalam segala hal."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta yang sama.
Sesampainya di rumah sakit, Alan dan Elama terkejut dengan kedatangan Genzo ke rumah sakit. Alan tidak menyangka jika Genzo dengan mudah memberikan dana untuk membiayai operasi Tasya, dan semua itu berkat Anna. Anak yang sama sekali pria itu benci tanpa dasar alasan yang kuat. Hanya karena wajah Anna berbeda dengan mereka apalagi tidak ada miripnya dengan Tasya meski mereka saudara. Anna terlihat kurus dan wajahnya tidak terlalu cantik. Entah mengapa biarpun Anna memiliki ketidak sempurnaan fisik, Genzo dan Rangga tertarik pada Anna.
"Terima kasih telah membantu kami." Alan membungkukkan badan sesaat.
"Berterima kasihlah pada putrimu," balas Genzo menatap Anna yang menundukkan kepala.
Alan melirik ke arah Anna, sebenarnya ia malas meskipun sekedar basa basi. Namun ia tidak enak hati dengan Genzo. Dengan terpaksa ia melakukannya. "Anna, terima kasih Nak."
Anna tengadahkan wajahnya menatap Alan. "Tidak apa apa."
"Kalau begitu, aku permisi." Genzo menatap Anna sesaat lalu ia melangkah pergi meninggalkan mereka.
Anna berharap suatu hari nanti, kedua orang tuanya bisa menerimanya sama seperti saat Rahma menyayanginya meskipun bukan anak kandung.
"Anna, sebaiknya kau pulang. Biar kami disini." Elama berjalan membuka pintu ruangan tempat Tasya di rawat setelah bicara dengan Anna. Kemudian Alan mengikuti langkah Elama masuk ke dalam ruangan.
Anna menarik napas panjang, berdiri terpaku di depan pintu kamar. Sama sekali sikap mereka masih sama seperti hari sebelumnya. Anna melangkahkan kakinya meninggalkan rumah sakit.
"Apa yang harus aku lakukan? hutangku semakin banyak pada Genzo." Anna menarik napas dalam dalam, menatap sekitar jalan raya yang terlihat macet apabila di jam jam kantor selesai.
Anna kembali berjalan menyusuri tepi jalan raya dengan kedua tangan ia masukkan ke dalam saku jaketnya. Malam ini terasa dingin tidak seperti malam sebelumnya. Anna menghentikan langkahnya di tepi taman, lalu memilih bangku duduk di atasnya. Beberapa pasangan duduk di tepi taman menikmati suasana malam kota Jakarta.
"Seorang gadis tidak baik duduk sendirian malam malam."
Anna terkejut, menoleh ke belakang. Genzo berdiri lalu menghampirinya duduk di sebelah Anna. "Kau sendiri? aku pikir kau sudah pulang."
Genzo menggese duduknya dengan tatapan lurus ke seberang jalan raya. "Belum, aku menunggumu."
"Menungguku? memangnya ada apa?" Anna menatap wajah Genzo mirip artis korea. Kulitnya putih bersih berbeda dengan adiknya Sano. Alis yang tertata rapi hidungnya yang mancung. Anna memperkirakan usia Genzo sekitar 30-an, padahal usia Genzo mendekati 40-an.
Genzo melirik Anna saat dirinya merasa di perhatikan. "Kenapa kau menatapku seperti itu?"
"Ah tidak," Anna menunduk sesaat.
Awal pertama kali Anna bertemu Genzo, nampak pria itu angkuh dan dingin. Tapi pandangan Anna terhadap Genzo berubah, setelah beberapa hari mengenalnya.
"Ternyata kau baik juga."
Genzo menautkan kedua alisnya menatap Anna lalu tersenyum lebar. "Sama."
"Maksudmu?" tanya Anna tidak mengerti.
Genzo bukan pria yang mudah jatuh cinta atau dekat dengan wanita, setelah berkali kali ia di khianati kekasihnya dan mendekatinya hanya karena harta semata. Hatinya menjadi dingin terhadap wanita, dan tidak ingin menjalin hubungan lagi dengan wanita manapun. Namun setelah melihat kegigihan Anna, dan menolak perjodohan itu. Genzo mulai menaruh simpati. Meskipun Anna tidak cantik seperti wanita lain.
"Kau menyayangi orang tuamu?" Genzo mengalihkan pembicaraan.
Anna tertawa kecil, "pertanyaan konyol, tentu saja aku sayangi mereka. Meskipun..." Anna tidak melanjutkan ucapannya.
"Mereka tidak perduli?" timpal Genzo.
Anna menghela napas dalam, apa yang di katakan Genzo benar. Tapi ia tidak boleh berhenti berharap. "Suatu hari nanti," Anna mengangkat kedua bahunya. "Mungkin, mereka akan menerimaku."
Genzo terdiam mendengar pernyataan Anna. Sedari kecil ia bergelimpangan harta. Tidak sedikitpun pria itu kekurangan apapun termasuk cinta dari Ibunya. Namun Genzo selalu merasakan sepi di hatinya. Melihat Anna dan permasalahan yang tengah ia hadapi, membuka pikiran Genzo. Harta memang di butuhkan, tapi cinta mampu mengalahkan segalanya. Gadis di hadapannya tengah berjuang untuk mendapatkan cinta kedua orangtuanya. Tapi benarkah itu yang di cari Anna?
"Hei, kok malah bengong! seru Anna menepuk lengan Genzo.
"Anna, sejauh mana hubunganmu dengan Rangga?"
Pertanyaan Genzo membuat Anna terbatuk kecil lalu ia tersenyum lebar. "Kami hanya berteman, tidak lebih."
"Benarkah?" mata Genzo berbinar menatap Anna.
Anna menganggukkan kepalanya. "Kenapa memangnya? kau mau daftar jadi kekasihku?" Anna tertawa terbahak bahak.
"Kenapa kau tertawa? kau menolakku? apa karena aku sudah tua?"
Anna kembali tertawa, ia menganggap ucapan Genzo hanyalah candaannya saja. "Iya, kau sudah tua Tuan Genzo."
"Serius Anna?" Mata Genzo melebar menatap wajah Anna.
Anna menepuk lengan Genzo lagi, "tidak, aku hanya bercanda. Kau masih terlihat muda, wajahmu juga lumayan tampan. Wanita mana yang tidak mau sama kamu."
"Apa termasuk kau, Anna?"
Anna menautkan kedua alisnya menatap Genzo. "Aku?" Anna menunjuk dadanya sendiri.
Genzo menganggukkan kepalanya. "Iya."
"Tidak termasuk aku, mana mungkin kau suka padaku." Anna berdiri, hendak melangkahkan kakinya. Namun Genzo menahan tangan Anna.
"Anna, aku serius."
Anna menatap tangan Genzo sesaat, lalu beralih menatap wajahnya. "Maksudmu?"
Genzo menepuk keningnya sendiri. Gadis ini terlalu polos atau memang bodoh. Masa dia tidak peka dengan ucapannya.
"Maksudku Anna.." Genzo tidak melanjutkan ucapannya, tiba tiba Anna menarik tangan Genzo dan menariknya paksa menjauh dari taman. "Ada apa?" Genzo menoleh ke belakang memperhatikan sekitar. Namun ia tidak melihat apa apa selain orang yang lalu lalang.
"Tidak apa apa, aku bisan saja duduk di taman." Anna tersenyum, tidak memperdulikan Genzo yang sempat terkejut dengan sikap Anna.
Genzo berdecak kesal, lalu tangannya mencubit gemas hidung Anna. Anna pun tertawa berhasil membuat Genzo terkejut. Pria itu menggelengkan kepala memperhatikan Anna yang terus tertawa. Malam yang indah untuk pertama kalinya Genzo merasakan suasana yang berbeda. Melebihi saat ia berada di restoran mewah bersama kekasihnya dulu.
***
Dua hari setelah Tasya melakukan serangkaian pemeriksaan. Hari ketiga, operasi cangkok hati di lakukan. Alan dan Elama tidak pernah meninggalkan Tasya sedetikpun. Sementara Anna mencari pekerjaan lain untuk menyicil hutangnya pada Genzo.
Setelah berjam jam mereka menunggu, akhirnya operasi pencangkokkan hati berhasil. Dan itu semua berkat Anna yang mengupayakan biaya operasi. Meskipun Anna sudah menunjukkan rasa sayang dan kepeduliannya terhadap keluarga. Namun masih belum mampu melunakkan hati Alan ataupun Elama.
Satu minggu berlalu pasca operasi, kondisi Tasya semakin membaik meski ia masih terbaring lemas di ranjang rumah sakit. Setiap hari Tasya merengek pada Ibunya untuk mendatangkan Rangga supaya menjenguknya.
Dengan sangat terpaksa, Rangga pun mengikuti permintaan Elama, supaya dia bisa bertemu dengan Anna. Sudah satu minggu lebih, Rangga tidak pernah bertemu dengan Anna. Gadis itu seolah olah menghindar dari Rangga.
Anna sendiri, tengah sibuk bekerja di sebuah club malam di kota Jakarta, jika pagi hari Anna bekerja di tempat lain tanpa sepengetahuan Rangga, ataupun Genzo. Ia saat ini hanya ingin fokus bekerja untuk membayar cicilan hutangnya sebagai tanggunjawab dia.
Hari ke lima belas, Dokter mengizinkan Tasya pulang kerumah, dan bisa melakukan pengecekan rutin nantinya. Alan dan Elama sangat bahagia melihat putri kesayangannya bisa sembuh total. Tanpa mengingat sedikitpun hasil kerja keras Anna.
Sesampainya di rumah, Rangga memutuskan untuk pulang. Namun Tasya mencegahnya, akhirnya Rangga kembali harus mengalah.
Saat mereka tengah berbincang, mereka di kejutkan dengan kedatangan Genzo yang ingin bertemu dengan Anna. Tentu saja membuat Rangga cemburu dan merasa ada saingan.
"Sudah lebih dari lima belas hari, Anna tidak di rumah." Elama menjelaskan pada Genzo.
"Nyonya Elama, kemana dia perginya?" tanya Genzo.
"Saya kurang tahu dia kemana," Elama termenung sesaat. "Rangga, apa kau tahu Anna kemana?"
"Tidak Tante, Anna sulit di hubungi. No ponselnya sudah tidak aktif." Rangga berdiri. "Bagaimana kalau aku cari Anna, Tante?"
Namun Tasya kembali menarim tangan Rangga supaya kembali duduk menemaninya. "Sudahlah, kak Anna sudah besar. Nanti dia pulang kok."
"Biar aku saja yang mencari Anna." Genzo berdiri, lalu ia berpamitan pada keluarga itu untuk mencari Anna.
Rangga tidak mau kalah, ia langsung berdiri dan berpamitan pada kedua orangtua Tasya, meski gadis itu melarangnya. Rangga mengabaikannya dan keluar rumah menyusul Genzo yang baru saja membuka pintu mobil.
"Kenapa kau perduli terhadap Anna?"
Genzo menoleh ke belakang, lalu tersenyum sinis. "Ada masalah?"
"Jelas bermasalah, Aku mencintai Anna," ungkap Rangga.
"Berarti kita sama."
"Apa?" Rangga tertawa kecil menatap Genzo. "Apa aku tidak salah dengar?"
"Tidak, jadi kau jangan melarangku untuk tidak mencintai Anna. Karena akupun tidak melarang kau, untuk tidak mencintai Anna." Genzo tersenyum tipis. "Selamat siang, Rangga."
Rangga tertegun, menatap Genzo masuk ke dalam mobil tanpa memberikannya kesempatan lagi untuk bicara. Pria itu mendengus kesal menatap mobil Genzo melaju meninggalkan halaman rumah. Rangga tidak mau kalah, ia langsung masuk ke dalam mobil. Mengikuti mobil Genzo dari belajar.
Hingga larut malam Genzo mencoba menghubunginya tapi tetap sama ponsel Anna tidak aktif. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk mencari Anna di lain waktu. Ia masih percaya jika Anna tidak akan lari dari tanggungjawabnya.
Istilahnya pagar makan tanaman nih
penasaran
siapa yg akan dijodohkan dengan Anna
lanjutkan
Salam kenal kak💐💐