Dinda Amelia seorang wanita mandiri yang sukses dalam karir nya tapi ia harus rela melepaskan karirnya itu karena harus menuruti perintah suaminya Arya baskara yang baru ia nikahi selama satu tahun atas perjodohan orang tuanya, pada awalnya pernikahan mereka berjalan lancar Dinda merasa bahagia menjadi istri Arya yang sabar dan penyayang, tetapi ternyata semua sikap dan kasih sayang nya hanya sebuah kepalsuan belaka, selama ini Arya telah berbohong karena di belakang Dinda ia telah menyembunyikan wanita lain yang ternyata adalah istri simpanannya, apa sebenarnya motif Arya untuk menikahi Dinda dan bagaimana Dinda melepas kan diri dari jebakan pria pembohongan itu??
simak kisah selengkapnya hanya di noveltoon...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niya_23, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Hessa tampak akrab dengan laki-laki yang berada di samping nya itu dan yang lebih aneh lagi penampilannya sangat berbeda dari biasanya. Kali ini agak sexy dengan mengenakan sleeveless dress hitam selutut.
"Udah gue bayar pulang yuk, " ajak Dinda yang kemudian memasukan kartu debitnya kedalam sling bag yang pakainya.
"Yuk," ucap mereka berdua serentak, kemudian menuju ke parkiran mobil.
"Itu si Hessa tadi sama siapa yah? Jangan-jangan rumor di kantor itu bener dia punya simpanan brondong," tuduh Karin dalam perjalanan menuju parkiran.
"Hus, siapa tau itu adik atau sepupu nya atau mungkin saudaranya kita kan gak tahu jangan suudzon sama orang, " sambung Rani yang selalu berpikir positif.
"Iya Bu ustazah " timpal Karin. "Dinda lo ko diem aja kalo menurut lo gimana kira-kira tadi siapa cowok yang bareng Hessa?"
"Apa nya yang gimana? Udah yah gue udah gak mau tau lagi urusan si Hessa biarin aja dia mau kaya gimana juga gue gak peduli," jelas Dinda yang sudah sampai di dekat mobilnya.
"Eh, ya udah gue pulang dulu yah dadah sampe ketemu di kantor besok," ucap Dinda yang juga langsung pulang menaiki mobilnya.
Di sepanjang perjalanan menuju rumahnya sejujurnya Dinda juga memikirkan kejadian di kafe tadi yang melihat Hessa bersama dengan pria lain terlebih lagi Hessa bercumbu dengan laki-laki itu ada sedikit kecurigaan di benaknya tenang Hessa ditambah lagi rumor yang beredar tentang dirinya membuat Dinda sedikit percaya akan rumor itu.
"Tapi sudahlah walaupun rumor itu benar toh tidak ada untungnya juga bagiku, " gumamnya.
***
"Astaga, sudah jam 7 aku kesiangan aduh gimana nih mandi dulu atau gak usah yah? Mandi dulu deh sebentar abis itu langsung berangkat, " Ia terburu-buru menuruni anak tangga untuk segera bekerja.
"Dinda kamu gak sarapan dulu?" teriak ibunya yang melihat anaknya itu terburu-buru pergi.
"Nggak Mah, nanti di kantor aja udah telat, " sahutnya yang kemudian menaiki ojek online yang sudah di pesannya.
"Mah, Dinda berangkat yah," pamitnya sambil melambaikan tangan.
Setelah sampai di ruangan nya dengan tergesa-gesa ia kemudian langsung duduk ruangannya dan sedikit melirik ke arah ruangan bosnya yang ternyata masih dalam keamanan kosong.
"Alhamdulillah," ucapnya lega setelah mengetahui bosnya belum berada di kantor. kemudian Dinda langsung menyalakan komputer di depannya menyusun Jadwal kerja dan mengarsipkan beberapa dokumen.
"Sudah datang kamu Dinda?" ucap Alvin yang tiba-tiba muncul di depannya dengan membawa segelas kopi hitam di tangannya.
"S-sudah pak," jawab Dinda terbata karena terkejut melihat Alvin yang ternyata sudah datang terlebih dahulu di kantor.
"M-maaf pak saya telat tadi macet," Dinda memberi alasan ia merasa tak enak hati kepada Alvin karena datang terlambat hari ini.
Pria dengan ekspresi datar itu hanya mengangguk lalu pergi menuju ke ruangannya. Tak lama berselang ia kembali ke meja kerja Dinda dan memperhatikan Dinda yang sedang sibuk mengerjakan pekerjaan nya.
"Ada Pak ada yang bisa saya bantu? " Dinda bertanya karena heran kepada Alvin yang hanya terus memperhatikan nya tanpa bicara sepatah katapun
"Begini Dinda,nanti jam makan siang kamu ikut meeting bersama saya dengan klien untuk membicarakan kelanjutan hubungan kerja sama saya dengan dengan PT.Mulya Asri siapkan segala dokumen yang berhubungan dengan perusahaan tersebut karena mungkin saja akan ada beberapa poin yang diubah mengenai kerjasama kita dengan mereka paham! "
"Baik Pak saya paham akan saya siapkan berkasnya sekarang, tapi Pak setelah itu bapak masih ada jadwal jam 2 ini dengan PT Prima Perkasa apakah akan di Reschedule atau di lanjut Pak?"
"Di lanjutkan saja biar sekalian nanti kamu juga ikut temani saya. Tidak apa-apa kan kalau hari ini kamu lembur karena kemungkinan meeting nya sampai malam, "
Baik Pak saya bersedia saya tidak keberatan sama sekali,"jawab Dinda cepat.
"Bagus kalau begitu, tenang saja nanti akan ada uang lembur untukmu, "
"Baik Pak terima kasih, " sahut Dinda kegirangan Ia sudah lama tidak merasakan uang yang dihasilkan dari keringat nya sungguh menyenangkan baginya.
Jam makan siang tiba pak Alvin mengajak Dinda untuk pergi bersamanya menemui klien di sebuah kafe dekat kantor Dinda berjalan mengekor di belakang Alvin yang gagah dengan postur tubuhnya yang tegap bak model.
Mereka memasuki lift yang hampir penuh dengan karyawan yang hendak beristirahat makan siang juga namun tidak ada yang berani menyapa Alvin sang direktur singit itu mereka hanya menunduk ketika bertemu Alvin.
Lift seketika menjadi hening karena kehadiran Alvin tidak ada yang berani bersuara sampai Alvin keluar dari dalam lift itu, sungguh pemandang yang aneh bagi Dinda karena untuk pertama kalinya ia menyaksikan aura Alvin yang dapat mengintimidasi semua orang.
"Patas saja ia dijuluki Bos singit anti sosial," Dinda membatin sambil tersenyum kecil.
"Kenapa kamu senyum-senyum sendir begitu kamu masih waras kan?" ujar Alvin ketus sambil berjalan cepat.
"Maaf Pak saya tadi hanya mengingat kejadian lucu, " jawab Dinda asal.
Memasuki restoran di sana ternyata sudah terdapat beberapa orang yang sudah menunggu Alvin dengan pakaian rapi khas executive muda setelah beramah tamah Alvin memperkenalkan Dinda sebagai sekretarisnya kemudian meeting pun di mulai.
Alvin memang punya aura berwibawa ia dengan percaya diri memimpin rapat dengan klien nya, cara dia presentasi dan membuat penawaran sangat profesional sehingga membuat orang yang melihat nya terkesima termasuk Dinda.
Untung saja ia masih sadar dan bisa mencatat beberapa poin penting dari rapat itu, setelah meeting selesai kegiatan pun dilanjutkan dengan acara makan siang bersama.
Meeting pertama menghabiskan waktu sekitar 90 menit Dinda dan alvin pun melanjutkan meeting ke tempat selanjutnya kali ini meeting dilakukan di tempat yang agak jauh dan memakan waktu sekitar 45 menit, hampir memasuki daerah Bogor, suasana di sekitar ruangan meeting sangat asri dipenuhi pohon dan terdapat sungai kecil di samping ruangan rapat.
Rapat kali ini memakan waktu yang cukup lama hingga tak terasa malam pun telah tiba. Dalam perjalanan pulang ke Jakarta seperti halnya berangkat tadi Dinda dan Alvin pun hanya terdiam membisu dan akhirnya Dinda tertidur di dalam mobil Alvin.
Alvin menatap wajah Dinda yang tengah tertidur di mobilnya wajah Dinda tampak kelelahan pemandangan yang tidak asing bagi Alvin karena ia juga pernah melihat wajah Dinda dengan keadaan seperti ini sebelumnya. Alvin tersenyum kecil mengingat kejadian malam di pantai waktu itu bersama Dinda.
Dinda yang kemudian terbangun dan melihat sekilas wajah Alvin yang tersenyum.
"Bapak menertawakan saya?" tuduh Dinda yang yang baru bangun dari tidurnya.
"Saya tidak menertawakan kamu, kalau kamu masing ngantuk tidur saja lagi nanti kalau sudah dekat saya bangunkan, " ujar Alvin yang malu karena kepergok Dinda tersenyum.
"Baik Pak nanti tolong turunkan saja saya di depan kantor nanti saya pulang sendiri ke rumah, " ujar Dinda
"Ini sudah larut malam biar saya saja yang mengantarkan kamu pulang, " tawar Alvin.
"Tidak usah Pak nanti merepotkan saya pulang sendiri saja" tolak Dinda tegas.
"Baiklah kalau begitu saya tidak akan memaksa, " Ujar Alvin yang sedikit kesal karena Dinda menolak tawarannya.
"Terimakasih pak atas tawaran nya, " Dinda menjawab khidmat.
Jangan lama- lama upnya