Kau adalah milikku. Jika aku tidak mendapatkannya, maka tidak siapa pun!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BumbleBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Bar
“Bersulang!”
Pax mengangkat tinggi gelas kristalnya. Denting kaca mewah itu langsung tenggelam dalam dentum subwoofer musik elektronik yang menggetarkan dinding ruang VIP. Di bawah lampu neon yang menari liar, aroma alkohol berkelas, parfum desainer, dan atmosfer penuh dosa berbaur menjadi satu—menciptakan candu yang akrab bagi Pax dan lingkaran pergaulannya.
Bagi mereka, wanita cantik dan malam yang liar adalah elemen hidup yang mutlak.
“Malam masih sangat muda, Gentlemen!” seru salah satu temannya, disambut sorak provokatif yang riuh.
“Permisi.” Seorang pelayan wanita memecah kerumunan kecil itu. Ia meletakkan dua mangkuk camilan ringan dan beberapa botol minuman impor baru di atas meja dengan gerakan yang cekatan, tenang, dan profesional.
Saat wanita itu sedikit membungkuk untuk merapikan gelas, sudut bibir Pax otomatis terangkat. Seringai nakal andalannya muncul.
Dengan gestur santai yang terlampau percaya diri, Pax menarik beberapa lembar uang kertas bernilai tinggi, lalu menyelipkannya langsung ke belahan dada sang pelayan tanpa ragu sedikit pun.
Sentuhan lancang itu membuat wanita itu tersentak dan langsung menegakkan tubuh. Tatapan mereka berbenturan di udara.
Pax mendadak terkunci. Wanita di hadapannya bukan perempuan lokal. Parasnya eksotis dengan kulit sawo matang yang hangat memikat, dibingkai rambut hitam legam bergelombang yang jatuh di bahu. Namun, yang paling menawan adalah sepasang mata bulat tajamnya—tegas, dingin, dan sangat berbahaya.
Pax bersiul rendah. “Wow…” gumamnya, jujur terpesona. “Matamu indah sekali, Nona.”
Byur!
Cairan alkohol dingin langsung menghantam wajah tampan Pax telak.
Itu jelas di luar skenario. Di dalam kepala Pax yang dipenuhi ego, ia membayangkan reaksi yang jauh lebih bersahabat—kedipan mata genit, atau mungkin sebuah kecupan tipis di pipi jika wanita itu cukup berani. Bukan siraman air es yang merusak tatanan rambutnya.
Suasana meja VIP itu langsung meledak ricuh.
“Astaga!”
“HAHAHA! Pax Willson disiram!”
“Tutup pintunya, ini momen langka!”
Pax memejamkan mata sejenak, lalu menyeka wajahnya perlahan menggunakan sapu tangan sutra. Alih-alih murka, ketertarikannya justru melonjak drastis saat mendapati wanita itu sedang menatapnya dengan kilat amarah yang menyala-nyala.
“Thanks—bukankah seharusnya kata itu yang keluar dari bibirmu, Nona?”
“Bajingan tak tahu sopan santun!” umpat wanita itu tajam, tanpa ada ketakutan sedikit pun.
Pax menaikkan sebelah alisnya, terkekeh pelan. “Ada apa denganmu, Sayang?” Ia memperbaiki posisi duduknya, memasang senyum maut yang biasanya sanggup membuat wanita mana pun menyerahkan diri tanpa syarat. “Aku hanya memberimu tip. Beginikah caramu memperlakukan pelanggan dermawan?”
Wanita itu bergeming. Wajahnya sedingin es, kebal terhadap pesona Pax.
“Harusnya aku yang bertanya padamu,” sahut wanita itu datar, jemarinya menunjuk ke arah dadanya sendiri tempat uang itu tadi diselipkan. “Apa yang sedang kau lakukan, Tuan?”
“Memberi tip,” jawab Pax santai sembari bersandar ke sofa. “Sangat jelas, bukan?”
“Kau melecehkanku.”
Seketika, tawa teman-teman Pax pecah kembali, kali ini lebih keras hingga menarik perhatian meja sebelah.
“Melecehkan, katanya!”
“Sejarah baru telah tercipta!”
“Pax dituduh melakukan pelecehan! Cepat rekam!”
Bahkan salah satu temannya dengan dramatis menangkupkan kedua tangan di depan dada. “Nona, tolong beri aku tanda tanganmu. Kau adalah pahlawan baru kami.”
Ketegasan di wajah wanita itu tidak surut barang seinci pun. Tatapan matanya yang menusuk perlahan-lahan justru membungkam tawa riuh di meja tersebut.
Pax terus mengamatinya, membiarkan rasa penasarannya tumbuh liar. Kulit eksotisnya yang kontras dengan pencahayaan klub, intonasi bicaranya yang lugas, dan keberanian yang tidak biasa ini... sangat menantang.
“Kau benar-benar menganggap tindakanku sebagai pelecehan?” tanya Pax, memindai tubuh wanita itu dari ujung kepala hingga kaki dengan tatapan menilai.
“Apa bahasaku terlalu sulit dipahami?” balas wanita itu dingin. Ia memperagakan kembali gerakan menyelinapkan uang dengan gestur menyindir. “Tanganmu masuk ke wilayah ini.”
Pax hampir kelepasan tertawa melihat kepolosannya yang berani. “Kau pelayan baru, ya? Selama ini, tidak ada satu pun yang protes. Mereka justru sangat senang menerima tip dariku.” Ia menyeringai tengil. “Bahkan, kadang aku mendapat bonus ciuman.”
Belum sempat kalimat Pax selesai, sebuah gerakan kilat membelah udara.
Buk!
Pax memekik tertahan. Rasa ngilu yang luar biasa menjalar instan dari pangkal pahanya. Tendangan wanita itu mendarat tepat di titik vitalnya.
“SHIT!” Pax langsung membungkuk dalam-dalam, mendekap area selangkangannya dengan wajah memerah menahan sakit. “WANITA GILA!” umpatnya dengan suara parau.
Sementara itu, teman-temannya sudah tidak bisa menahan diri lagi. Mereka tertawa terpingkal-pingkal hingga memegangi perut.
“Astaga, legenda kita runtuh malam ini!”
“Abadikan wajahnya! Ini aset berharga!”
Wanita itu mendengus jijik. “Aku tidak butuh uang harammu, pria brengsek.” Ia merenggut kasar lembaran uang yang masih terselip di dadanya, lalu melemparkannya tepat ke wajah
Pax yang masih meringis.
Tak cukup sampai di situ, wanita itu merogoh dompetnya sendiri, mengeluarkan beberapa lembar uang, lalu menyentak kerah kemeja Pax hingga pria itu terpaksa menegakkan tubuhnya yang masih lemas.
Dengan gerakan cepat yang sangat merendahkan, wanita itu menyelipkan uang tersebut langsung ke dalam celana Pax.
“Luar biasa!” Teman-teman Pax bersorak liar.
“Periksakan dirimu ke dokter,” bisik wanita itu, tajam dan dingin tepat di depan wajah Pax. “Itu pun kalau kau masih ingin aset berhargamu berfungsi sebagaimana mestinya.”
Pax hanya bisa melongo, menatap kepergian wanita itu dengan campur aduk antara murka, malu, dan keterpukauan yang tak bisa ia jelaskan. Untuk pertama kali dalam hidupnya, seorang wanita berhasil menelanjangi harga dirinya di depan umum.
Dan sialnya, ia tidak bisa mengalihkan pandangan dari punggung wanita itu.
“Dasar Buaya Bangke,” gerutu wanita itu dalam bahasa asing yang seksi sebelum akhirnya hilang di balik kepulan asap dan kerumunan lantai dansa. Kibasan rambutnya sempat menyapu wajah Pax, meninggalkan jejak aroma sensual yang secara refleks dihirup oleh pria itu.
“Ugh!” Pax menghempaskan tubuhnya ke sofa dengan frustrasi. “Aku bersumpah akan membuat wanita sombong itu bertekuk lutut di hadapanku.”
“Kelihatannya tidak akan semudah itu, Dude,” seloroh temannya.
“Dia pikir dia siapa?!” geram Pax, rahangnya mengeras. “Aku hanya memberinya tip!”
“Kau menyelipkan uang itu langsung ke belahan dadanya,” timpal temannya yang lain, sengaja mengingatkan.
“Harusnya dia tersanjung! Ribuan wanita di luar sana mengemis untuk posisi itu!”
“Sayangnya, dia bukan salah satu dari mereka, Pax.”
Pax menjentikkan jarinya dengan senyum arogan yang kembali terukir di bibirnya. “Aku akan mendapatkannya. Pasti.” Tak ada kamus penolakan dalam hidup Pax. Selama ini, dialah yang selalu kewalahan menyortir wanita yang mengantre di ranjangnya.
Suasana hati Pax berubah masam dalam sekejap saat matanya menangkap siluet yang sangat ia kenali di sudut klub yang remang.
Kevin. Rival abadinya di panggung modeling. Pria itu sedang duduk santai dengan seringai jemawa, sementara tangannya meremas kasar bokong pelayan bar—wanita angkuh yang baru saja mempermalukan Pax.
Pax menyipitkan mata, membaca situasi dengan lebih saksama. Wanita itu tidak nyaman. Tubuhnya menegang kaku, dan meskipun ia tetap bergeming, tatapannya menyiratkan gelombang ketakutan yang coba disembunyikan.
“Oh, jadi dia serendah itu sampai berselera pada Kevin?” gumam Pax sinis, meski ada rasa panas yang mendadak membakar dadanya melihat sentuhan Kevin yang semakin berani.
“Abaikan saja,” tebak salah satu temannya cepat, menyadari perubahan aura Pax.
“Jangan cari keributan dengan Kevin malam ini.”
Pax mengumpat pelan di dalam hati. Di tengah kilatan lampu strobo, bayangan wajah Paula, adik perempuannya, tiba-tiba melintas di kepalanya. Bagaimana jika Paula yang berada di posisi pelayan bar itu?
Sang ayah selalu menanamkan satu prinsip absolut yang dipegang teguh oleh Pax: Jangan pernah memaksa wanita yang sudah berkata tidak.
Dan gestur tubuh pelayan itu jelas-jelas meneriakkan penolakan. Pax meneguk habis sisa minumannya dalam sekali tenggak, lalu bangkit berdiri.
“Pax, jangan konyol,” tahan temannya.
Pax menyeringai tipis, hawa dingin menguar dari tubuhnya. “Terkadang, seorang pria harus melakukan hal yang paling ia benci.” Ia melangkah tegap membelah kerumunan menuju meja Kevin. “Menyelamatkan wanita galak adalah salah satunya.”
Pax berdiri tepat di hadapan mereka.
“Willson?!” Kevin mendongak, seringainya melebar protektif sementara tangan liarnya kini mendarat di paha si pelayan bar.
Pax melirik pergerakan tangan itu dengan tatapan membunuh. “Dia tidak nyaman.”
Mendengar ucapan Pax, si pelayan bar tersentak, menatapnya dengan pandangan yang sulit diartikan.
“Kurasa ini bukan urusanmu, Willson.”
“Menjadi urusanku jika ini melibatkan wanita cantik yang merepotkan.” Tanpa peringatan, Pax menyambar pergelangan tangan Kevin dan memelintirnya ke belakang dengan satu gerakan brutal.
Detik berikutnya, kekacauan pecah. Klub malam yang semula elegan berubah menjadi arena gladiator yang riuh. Teriakan histeris menggema, kursi-kursi bertumbangan, dan botol-botol alkohol mahal hancur berkeping-keping di lantai.
Beberapa menit setelah baku hantam yang sengit, Pax berakhir diseret oleh tim keamanan klub menuju ruang investigasi. Tubuhnya lebam, namun yang paling membuatnya murka adalah fakta bahwa wanita itu sama sekali tidak berterima kasih.
Sebaliknya, wanita itu justru tampak pasang badan membela Kevin saat keributan terjadi agar Kevin tidak terluka lebih parah.
Pax mendengus kasar di sepanjang koridor menuju ruang keamanan, menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
“Sialan,” gerutunya sinis. “Aku babak belur, ditendang, dan ditangkap demi menyelamatkan wanita yang bahkan tidak tahu cara berterima kasih.”
Teman-temannya yang mengekor di belakang justru tertawa lepas tanpa beban. “Mungkin dia memang lebih suka tipe pria brengsek seperti Kevin.”
Pax mengacak rambutnya dengan frustrasi yang memuncak.
“Shit.”
“Double shit.”