"Kalau bukan karena Ayah, aku tidak akan pernah menikah dengan pria sepertimu."
Ayla Pradana terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan perusahaan keluarganya yang hampir bangkrut. Masalahnya, pria yang harus ia nikahi adalah Arsen Wijaya—musuh bebuyutan kakaknya, Gavin.
Selama bertahun-tahun, Gavin selalu mengatakan bahwa Arsen adalah pria licik yang menghancurkan hidupnya. Ayla pun membencinya tanpa pernah mengenalnya lebih dalam.
Namun, setelah menikah, Ayla justru menemukan sisi Arsen yang sama sekali berbeda. Di balik sikap dingin dan tatapannya yang tajam, ada rahasia besar yang sengaja disembunyikan dari keluarganya.
Semakin dekat dengannya, semakin Ayla sadar...
Mungkin selama ini orang yang ia percaya bukanlah pihak yang benar.
Dan ketika kebenaran terungkap, ia harus memilih:
keluarganya... atau pria yang kini menjadi suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nourayl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Orang Yang Paling Berharga
Ayla masih berdiri di depan pintu utama.
Tatapannya mengikuti langkah Arsen yang menghilang dengan tergesa ke dalam rumah.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Belum sempat ia mengenal rumah barunya, suasana sudah berubah menjadi tegang.
"Nyonya..."
Suara Pak Bima membuyarkan lamunannya.
"Mari masuk."
Ayla mengangguk pelan, lalu melangkah memasuki rumah megah itu.
Interiornya didominasi warna putih gading dan cokelat tua. Ruangan luas dengan langit-langit tinggi membuat rumah itu terasa megah, tetapi entah mengapa... juga terasa sepi.
Tak ada suara televisi.
Tak ada tawa penghuni rumah.
Yang terdengar hanya langkah kaki para pelayan yang berjalan tergesa menuju lantai dua.
Ayla ikut mempercepat langkah.
"Pak Bima... sebenarnya apa yang terjadi?"
Pak Bima menghela napas pelan.
"Nyonya Siska memang sudah beberapa kali jatuh pingsan beberapa bulan terakhir."
Ayla menoleh.
"Beliau sakit?"
"Jantungnya tidak terlalu kuat. Dokter juga meminta beliau mengurangi pikiran."
Jawaban itu membuat Ayla sedikit lega.
Setidaknya, wanita itu bukan sosok yang sempat memenuhi pikirannya sejak tadi.
Mereka tiba di depan sebuah kamar.
Pintunya terbuka.
Dari luar, Ayla dapat melihat Arsen sedang duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan seorang wanita paruh baya.
Wajah wanita itu tampak pucat.
Selang infus terpasang di tangannya.
Namun yang paling membuat Ayla terdiam adalah ekspresi Arsen.
Pria yang sejak pertama kali ia temui selalu tampak tenang dan sulit ditebak...
Kini justru memperlihatkan kekhawatiran yang begitu jelas.
"Ibu..."
Suara Arsen terdengar lirih.
"Ibu dengar Arsen, kan?"
Perlahan, kelopak mata wanita itu bergerak.
Ia membuka mata sedikit demi sedikit.
"Ar... Arsen..."
"Aku di sini."
Wanita itu tersenyum lemah.
"Maaf... Ibu membuatmu khawatir lagi."
Arsen menggeleng pelan.
"Jangan bicara dulu."
Nada bicaranya tetap tenang.
Namun Ayla bisa melihat jemari Arsen menggenggam tangan ibunya sedikit lebih erat.
Seolah takut kehilangan.
Tanpa sadar, sudut bibir Ayla tersenyum tipis.
Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi Arsen yang tidak pernah diperlihatkan kepada siapa pun.
Pria itu ternyata sangat menyayangi ibunya.
___________________________________________
Beberapa menit kemudian, dokter keluarga keluar dari kamar.
"Kondisinya sudah stabil."
Semua orang mengembuskan napas lega.
"Beliau hanya terlalu lelah. Tolong pastikan tidak banyak memikirkan hal-hal yang berat."
"Terima kasih, Dok."
Arsen mengantar dokter hingga ke depan kamar.
Saat kembali, pandangannya bertemu dengan Ayla yang sejak tadi berdiri canggung.
Baru kali itu Arsen seolah mengingat sesuatu.
"Ibu belum bertemu denganmu."
Ayla sedikit gugup.
"Apa... boleh aku masuk?"
Arsen mengangguk.
"Tentu."
Mereka memasuki kamar bersama.
Nyonya Siska yang kini sudah lebih sadar langsung menoleh.
Tatapannya berhenti pada Ayla.
Beberapa detik, wanita itu hanya menatap tanpa berkata apa-apa.
Membuat Ayla semakin gugup.
Namun tiba-tiba...
Senyum hangat menghiasi wajah Nyonya Siska.
"Jadi... kamu Ayla."
Ayla mengangguk sopan.
"Iya, Bu."
"Maaf."
Ayla sedikit bingung.
"Maaf karena hari pertama kamu menjadi bagian keluarga ini justru harus melihat keadaan seperti ini."
Ayla buru-buru menggeleng.
"Tidak apa-apa, Bu."
Nyonya Siska mengulurkan tangannya.
"Ayo, mendekat."
Ayla menghampiri ranjang.
Wanita itu menggenggam kedua tangan Ayla dengan hangat.
"Tolong jaga Arsen."
Kalimat itu membuat Ayla dan Arsen sama-sama terdiam.
"Ibu..."
Arsen mencoba menyela.
Namun Nyonya Siska menggeleng pelan.
"Sejak ayahnya meninggal, Arsen selalu memikul semuanya sendiri."
"Mengurus perusahaan."
"Mengurus rumah."
"Bahkan mengurus Ibu."
"Dia selalu terlihat kuat... sampai orang-orang lupa kalau dia juga manusia."
Ayla perlahan menoleh ke arah Arsen.
Pria itu berdiri membelakangi jendela.
Tatapannya menunduk.
Seolah setiap kata ibunya adalah kenyataan yang tak bisa ia bantah.
Nyonya Siska tersenyum kecil.
"Mulai sekarang... ada kamu di sampingnya."
Ruangan mendadak sunyi.
Untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu terjadi...
Ayla benar-benar merasa dirinya dibutuhkan.
Bukan sebagai pelengkap.
Bukan karena sebuah perjodohan.
Tetapi sebagai seseorang yang diharapkan mampu menemani Arsen melewati semua beban hidupnya.
___________________________________________
Malam mulai turun.
Setelah memastikan kondisi ibunya membaik, Arsen mengantar Ayla menuju lantai tiga.
Mereka berhenti di depan sebuah pintu berwarna cokelat gelap.
"Inilah kamar kita."
Entah mengapa, jantung Ayla kembali berdegup kencang.
Arsen membuka pintu.
Entah mengapa, jantung Ayla kembali berdegup kencang.
Arsen membuka pintu.
Ruangan itu luas, dengan balkon yang menghadap taman belakang.
Namun perhatian Ayla langsung tertuju pada satu hal.
Di dalam kamar...
Hanya ada satu tempat tidur berukuran king size.
Ayla spontan menelan ludah.
Sementara Arsen menatap tempat tidur itu beberapa detik.
Lalu, tanpa berkata apa pun, ia berjalan menuju sofa panjang di dekat jendela.
Ia mengambil satu bantal dan selimut dari lemari.
"Kamu tidur di tempat tidur."
"Lalu... kamu?"
"Aku di sini."
Ayla mengernyit.
"Sofanya sempit."
"Tidak masalah."
"Tapi—"
"Ayla."
Untuk pertama kalinya, Arsen menatapnya dengan lembut.
"Kamu tidak perlu merasa terbebani."
"Aku tidak akan memaksamu menjadi istriku... sebelum kamu benar-benar siap."
Ucapan itu membuat Ayla membeku.
Di balik sikap dinginnya...
Arsen ternyata menyimpan penghormatan yang begitu besar terhadap perempuan yang baru beberapa jam resmi menjadi istrinya.
Dan tanpa Ayla sadari...
Malam pertama mereka justru menjadi awal tumbuhnya rasa nyaman yang perlahan akan berubah menjadi sesuatu yang lebih dalam.
Bersambung...