NovelToon NovelToon
Survival Kiamat: Ibu Peternak Dan Gudang Tanpa Batas

Survival Kiamat: Ibu Peternak Dan Gudang Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Zombie / Sistem
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: miichi

Dunia berubah dalam semalam. Langit di atas tanah perbatasan Amerika berubah warna, bumi terbelah, dan makhluk-makhluk yang dulunya manusia atau ternak kini bangkit sebagai monster haus darah. Di tengah kekacauan itu, Elena Cross — janda pemilik Rocking Spur Ranch yang tengah hamil delapan bulan — berjuang sendirian mempertahankan tanahnya dari serangan pertama gerombolan ternak yang bermutasi.

Di saat paling genting, sebuah kekuatan misterius bangkit dalam dirinya: **Gudang Tanpa Batas**, sebuah sistem ajaib yang bisa memunculkan senjata, makanan, obat-obatan, dan perbekalan apa pun dari udara kosong — aktif hanya karena satu syarat: melindungi kehidupan baru di tengah kehancuran dunia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miichi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Gema di Gurun Es

Kesadaran Elena tidak bergerak melalui ruang seperti tubuh fisik. Ia melompat.

Satu detik ia berada di dalam kehangatan fasilitas Prometheus Prime, dikelilingi oleh suara napas Grace dan dengungan mesin pendingin. Detik berikutnya, ia merasakan hantaman dingin yang begitu ekstrem hingga seolah-olah jiwanya sendiri membeku.

Ia membuka "mata" batinnya di tengah badai salju yang mengamuk.

Di sini, di Sektor Utara, langit berwarna abu-abu besi, tertutup awan tebal yang berputar lambat. Angin menderu dengan kekuatan yang bisa merobek baja, membawa serpihan es setajam pisau. Namun, di tengah kekacauan alam itu, ada sebuah titik tenang. Sebuah lingkaran半径 lima meter di mana salju tidak jatuh, dan angin berhenti berhembus.

Di pusat lingkaran itu berdiri Grimes.

Pria itu terlihat berbeda dari terakhir kali Elena melihatnya. Tubuhnya yang dulu kurus dan gelisah kini tampak tegap, hampir raksasa. Mantel bulu beruang kutub yang dikenakannya tebal dan kasar, namun yang paling mencolok adalah tongkat di tangannya. Tongkat kayu tua itu telah disisipi fragmen kristal ungu sebesar kepalan tangan manusia dewasa. Kristal itu berdenyut dengan cahaya gelap, berlawanan dengan cahaya lembut yang memancar dari diri Elena.

Grimes tidak menoleh saat Elena materialisasi di hadapannya dalam bentuk proyeksi astral—sosok semi-transparan yang bersinar dengan aura biru-emas.

"Aku tahu kau akan datang," kata Grimes. Suaranya berat, bergema di antara hembusan angin, meski bibirnya hampir tidak bergerak. "Kau selalu datang untuk 'menyelamatkan' orang lain, Elena. Bahkan ketika mereka tidak minta diselamatkan."

Elena melayang beberapa kaki di atas tanah es, menjaga jarak aman. Energinya menciptakan perisai halus yang menahan dingin mematikan di sekitarnya.

"Aku tidak datang untuk menyelamatkanmu, Grimes," jawab Elena, suaranya tenang namun tegas, menembus deru angin. "Aku datang karena energimu tidak stabil. Kau memaksa fragmen itu tunduk padamu dengan kekerasan. Itu seperti mencoba membendung sungai dengan tangan telanjang. Pada akhirnya, sungai itu akan menghancurkanmu."

Grimes tertawa, suara yang kering dan pahit. Ia memutar tongkatnya, dan tanah di bawah kakinya retak, es hitam menjalar keluar seperti akar pohon yang busuk.

"Kau bicara tentang keseimbangan," ejek Grimes. "Tapi lihatlah dunia ini, Elena. Dunia ini tidak seimbang. Dunia ini brutal. Yang lemah dimakan yang kuat. Aku hanya mengadopsi aturan baru itu. Fragmen ini... ia menghormati kekuatan. Ia memberiku apa yang tidak pernah diberikan oleh masyarakat lama: rasa hormat. Rasa takut."

Ia menatap Elena, matanya yang bersinar ungu menyala dengan intensitas menakutkan.

"Dan kau? Kau memilih menjadi pelayan. Menjadi baterai hidup untuk mesin raksasa itu. Kau mengorbankan kebebasanmu, kemanusiaanmu, demi apa? Agar orang-orang yang bahkan tidak mengenal namamu bisa minum air bersih? Mereka akan lupa padamu, Elena. Dalam sepuluh tahun, mereka akan menganggap kehadiranmu sebagai hal yang wajar. Dan kau akan sendirian, selamanya."

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada angin dingin. Karena sebagian dari Elena tahu Grimes benar. Kesepian adalah harga yang ia bayar setiap detik. Tapi ia juga tahu kebenaran yang lebih besar.

"Bukan tentang pengakuan," kata Elena lembut. "Ini tentang pilihan. Aku memilih cinta di atas ketakutan. Dan pilihanku membuat dunia ini layak dihuni oleh putriku. Apa yang kau pilih, Grimes? Apakah kau ingin dunia ini menjadi cerminan dari hatimu yang penuh dendam?"

Wajah Grimes mengeras. Dendam. Ya, itu bahan bakar utamanya. Dendam pada sistem yang mengabaikannya, pada ilmuwan yang menggunakannya sebagai kelinci percobaan, pada dunia yang membiarkannya menderita.

"Cukup basa-basi," geram Grimes. Ia mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Kristal di ujungnya berkedip liar, melepaskan gelombang kejut energi ungu yang menghantam perisai Elena.

BOOM!

Proyeksi astral Elena bergoyang. Rasanya seperti pukulan fisik di dada. Ia terdorong mundur beberapa meter, kakinya (atau bayangan kakinya) menyentuh tanah es.

"Jika kau ingin membuktikan bahwa caramu lebih baik," teriak Grimes, suaranya menggema seperti guntur, "maka kalahkan aku! Tunjukkan padaku bahwa 'cinta' bisa menghentikan badai ini!"

Ia menghentakkan tongkatnya ke tanah. Seketika, pilar-pilar es raksasa muncul dari bumi, menusuk ke arah Elena seperti tombak-tombak transparan.

Elena tidak panik. Ia menarik napas dalam-dalam, menghubungkan kesadarannya dengan jaringan energi global. Ia tidak melawan es dengan es. Ia melawan kekacauan dengan keteraturan.

Ia mengangkat kedua tangannya. Cahaya emas meledak dari telapak tangannya, membentuk jaring cahaya halus yang menangkap pilar-pilar es tersebut. Alih-alih menghancurkannya, jaring itu menyerap energi kinetik mereka, mengubahnya menjadi panas lembut yang mencairkan es menjadi uap air yang harmless.

"Kekerasan hanya melahirkan kekerasan, Grimes," kata Elena, suaranya kini bergema dengan kekuatan yang lebih besar. "Lihatlah dirimu. Kau terjebak dalam siklus kemarahanmu sendiri. Fragmen itu tidak memberimu kekuatan. Ia memakan kemarahanmu."

Grimes meraung frustrasi. Ia melepaskan serangan bertubi-tubi: angin puyuh es, retakan tanah, dan proyektil energi gelap. Setiap serangan ditangkis atau dinetralkan oleh Elena dengan anggun, tanpa serangan balik yang merusak. Elena tidak menyerang Grimes secara langsung; ia menyerang sumber ketidakstabilannya.

Melalui koneksi telepatik yang dipaksakan oleh bentrokan energi mereka, Elena menyelam ke dalam pikiran Grimes.

Di sana, ia menemukan lautan kegelapan. Tapi di dasar lautan itu, ada seorang anak laki-laki kecil yang menangis, sendirian, kedinginan, dan merasa tidak berharga. Anak itu adalah Grimes sebelum dunia hancur. Sebelum eksperimen. Sebelum rasa sakit.

Elena mengirimkan satu gelombang emosi murni ke dalam pikiran itu: Penerimaan.

Bukan penghakiman. Bukan penolakan. Tapi penerimaan bahwa ia telah menderita, dan bahwa penderitaan itu tidak mendefinisikan nilainya sebagai manusia.

Grimes terhenti. Serangan esnya berhenti di udara, lalu runtuh menjadi butiran salju biasa.

Dia terengah-engah, lututnya gemetar. Tongkat di tangannya bergetar hebat, kristalnya berkedip tidak stabil antara ungu gelap dan merah darah.

"Apa... apa yang kau lakukan?" desisnya, suaranya pecah.

"Aku menunjukkan padamu jalan keluar," jawab Elena, melayang mendekat, meski tetap waspada. "Kau tidak harus menjadi monster untuk bertahan hidup, Grimes. Kau bisa menjadi pelindung. Seperti aku. Seperti Whitlock. Seperti siapa pun yang memilih untuk melindungi daripada menghancurkan."

Grimes menatap tongkatnya, lalu menatap Elena. Matanya yang bersinar ungu mulai meredup, menampilkan kembali warna cokelat manusiawi yang lelah dan sedih.

"Aku... aku tidak tahu bagaimana caranya berhenti," akunya pelan, suaranya hampir hilang ditelan angin. "Kemarahannya... adiktif. Memberi rasa kuasa."

"Maka belajarlah untuk melepaskannya," kata Elena. "Perlahan-lahan. Aku bisa membantumu menstabilkan fragmen itu. Bukan dengan mengikatnya, tapi dengan menyelaraskannya. Seperti dua nada dalam akord musik."

Grimes diam lama. Badai di sekeliling mereka mulai reda, digantikan oleh hening yang canggung namun penuh harapan.

Akhirnya, dia menurunkan tongkatnya.

"Jika aku setuju," katanya, suaranya serak, "apakah kau akan membiarkanku pergi? Atau kau akan memenjarakanku di fasilitas itu bersamamu?"

Elena menggeleng. "Kebebasan adalah bagian dari penyembuhan. Tapi kau tidak bisa sendirian. Kau butuh pengawasan. Dan kau butuh tujuan."

Ia tersenyum tipis. "Ada sektor lain di timur yang masih kacau. Hutan-hutan yang terbakar oleh fragmen api liar. Butuh seseorang yang kuat untuk menenangkannya. Seseorang yang memahami rasa sakit api karena pernah terbakar olehnya."

Grimes menatap Elena, mencari kebohongan. Tapi ia hanya menemukan ketulusan.

"Timur," gumamnya. "Api."

Ia menghela napas panjang, uap putih keluar dari mulutnya. "Baiklah, Elena. Aku akan mencoba. Tapi jika aku gagal... jika aku kehilangan kendali lagi..."

"Maka aku akan datang," janji Elena. "Dan kali ini, aku tidak akan sekadar berbicara."

Grimes mengangguk kaku. Ia membalikkan badan, mulai berjalan menjauh ke dalam kabut salju, langkahnya berat namun pasti.

Elena menontonnya pergi sampai sosoknya menghilang. Proyeksi astralnya mulai memudar, menarik kembali kesadarannya ke fasilitas utama.

Saat ia "kembali" ke tubuhnya fisik di platform kristal, ia membuka mata. Napasnya tersengal-sengal, keringat dingin membasahi dahinya. Proses itu melelahkan, jauh lebih melelahkan daripada pertempuran fisik.

"Elena?" suara Grace terdengar khawatir.

Elena tersenyum lemah pada putrinya. "Semua baik-baik saja, sayang. Grimes... dia mulai mengerti."

Dr. Voss memeriksa monitor. "Tingkat stres Anda naik 15%, tapi stabilisasi global tetap terjaga. Dan... deteksi energi di Sektor Utara telah berubah pola. Dari agresif menjadi pasif. Kau berhasil, Elena."

Whitlock menghela napas lega, menyandarkan senapannya di dinding. "Satu musuh berkurang. Tapi jangan terlalu santai. Dunia ini luas, dan masih banyak orang seperti Grimes di luar sana."

Elena mengangguk. Ia tahu Whitlock benar. Konfrontasi dengan Grimes hanyalah permulaan. Masih ada faksi-faksi manusia yang menolak otoritas Prometheus, masih ada fragmen liar yang belum ditemukan, dan masih ada misteri tentang siapa sebenarnya yang menciptakan Proyek ini di awal mula.

Tapi untuk hari ini, kemenangan kecil telah diraih.

Dan di suatu tempat di gurun es, seorang pria yang dulunya hancur mulai berjalan menuju matahari terbit, membawa tongkat yang kini bersinar dengan cahaya yang sedikit lebih lembut.

1
Dorinaanakjunny Dorinaanakjunny
bodoh buat apa bilang ada kekuatan
ajaib kenapa tidak rahsia kan saja
gila !!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!