KARYA SEDANG DI REVISI. HARAP MAKLUM JIKA MENJUMPAI KESALAHAN KATA ATAU ALUR YANG AMBURADUL!
WARNING
BAB YANG BERTANDA (~) TANDANYA TELAH REVISI. HARAP DI WAJARKAN JIKA TERDAPAT BANYAK PERUBAHAN ATAU SEMACAM KESALAHAN DALAM PENYEBUTAN NAMA, TEMPAT DAN LAIN-LAIN.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ifdetul Faihak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sebuah kebetulan yang di rencanakan [Telah Revisi]
Kala istirahat tiba, tempat sepi seperti kota mati di singgahi, tempat yang terdapat bagian tidak terawat di pijak oleh 4 orang siswa. Tempat itu tak lain adalah belakang sekolah yang terkenal sepi dan pas menjadi tongkrongan anak-anak ketika ingin jauh dari keramaian.
"Di buku misterius ini memang menceritakan tentang tragedi kematian Jia yang menggegerkan, tapi pembunuhnya tidak di jelaskan." Angkasa menunjukkan kembali buku di pegang erat. Desas-desus kematian Jia belum juga padam, malah semakin panas di sela kekosongan KBM.
"Terus apa yang lo dapatin dari buku itu, kalau cuman masalah peristiwa kematian Jia aja gak guna, kita udah tau, semua orang juga udah pada tau." Ujar Rev.
"Yang kita butuhkan itu saat ini cuman dalangnya, lain dari itu, gak penting." Timpal Steven menatap penuh harap pada pemegang buku misterius.
"Gue emang gak tau siapa yang udah tega bunuh Jia. Tapi gue curiga pada salah satu halaman paling belakang yang banyak banget nama-nama orang tercantum rapih. Di otak gue cuma ada 2 kecurigaan." Apa yang Angkasa sampaikan ini mengundang rasa penasaran menjadi-jadi. 3 anak itu antusias menunggu kata-kata selanjutnya di utarakan.
"Apa kecurigaan lo?" Penasaran Clara.
"Yang pertama, gue curiga kalau nama-nama orang yang terdapat di dalam buku ini adalah orang-orang yang terlibat di dalamnya. 2 nama-nama mereka yang tertulis rapih di dalam buku ini adalah target selanjutnya, tapi gue kesulitan karena gue gak mengenali mereka. Apa kalian tau mereka semua?" Angkasa beberkan halaman terakhir yang memperlihatkan berbagai macam nama tertulis indah.
Mata 3 orang itu menatap tak berkedip, saat membaca secara cepat ke tiap nama, entah mengapa batin ikut mencelos ngeri.
Melihat mereka terkejut tapi diam, Angkasa kemudian mengeluarkan pertanyaan."Gimana? Apa kalian kenal sama salah satu di antara mereka?"
"Bukan kenal lagi tapi kenal banget, semua orang yang di tulis di dalam buku ini kami kenali, mereka semua teman sekelas kita." Rev sungguh terkejut saat mendapati teman satu kelas namanya tertera di dalam buku misterius.
"Kok bisa nama-nama mereka semua ada di sini." Steven keheranan, agak bingung dengan fenomena alam menakutkan yang belum dapat di tebak oleh logika manusia.
"Apa jangan-jangan yang nulis semua nama-nama mereka adalah pelakunya, seakan-akan dia sudah merencanakan semuanya." Pandangan semua insan terpusat pada Clara.
"Gak mungkin lah, dia mau apa dengan menulis nama mereka. Kalau di pikir-pikir itu sama aja kayak dia menggali lubang untuk dia huni sendiri." Tak masuk akal bagi Rev pertanyaan yang menegaskan jikalau peristiwa sadis di bukukan oleh tersangka utama.
"Kalau bukan dalangnya siapa lagi Rev, di sini yang tau hanya pelakunya seorang. Gue yakin buku ini sudah di tulis jauh-jauh hari sebelum Jia tewas. Sa, lo nemuin buku ini di mana?" Memastikan Steven.
"Di perpustakaan. Gue ngambil buku ini di sana, itupun di hari pertama gue sekolah di sini. Awalnya gue cuman penasaran dengan buku tanpa judul ini, pas gue baca isinya tentang pembunuhan. Awal-awal gue nganggep cerita di buku ini cuman fiksi semata, tapi lama-lama gue menyadari bahwa cerita yang di tulis dengan rapih di sini adalah kisah akhir hidup Jia." Persamaan tokoh, tempat kejadian dan akhir yang sama merupakan hal paling mengejutkan yang pernah Angkasa temui. Alangkah terkejutnya ia kala tau jika kisah tragis itu benar-benar ada di dekatnya.
"Tuh lo denger kan, itu pasti pelakunya yang sudah nulis itu semua." Tutur Clara berhasil membungkam mulut Rev. Kata ingin tidak percaya di patahkan dengan realita yang benar-benar ada, saat semuanya terjadi tanpa bisa di prediksi, hadir rasa janggal yang membuat mata terus terbuka karena terkejut.
"Tapi masalahnya mengapa dalangnya narok buku itu di perpustakaan? Apa dia gak mikir bakal ada orang yang baca dan bikin dia dalam masalah besar?" Rev cukup tercengang dengan jalan pikiran penjahat misterius yang menurutnya sangat tidak kompeten yang membuat tingkat percayanya terhadap kematian di rencanakan agak lemah.
"Gue rasa dia ingin kita menyelidiki kasus ini."
Sontak saja kepala 4 orang tertoleh menatap satu orang baru datang di lengkapi raut wajah serius. Panik mendera 4 anak melihat kehadiran orang lain di tengah-tengah mereka secara dadakan. Sepenuhnya pandangan mereka jatuh pada dia, pemuda yang paling mudah di kenali, sang pemilik mata biru mempesona yang hanya ada 1 di sepanjang sekolah SMA Gloriacastra. Pemuda bermata biru terkenal dengan lawakan yang membuat perut cekikikan.
"ALDO!" Shock mereka saat pemuda itu datang tanpa aba-aba. Suasana berubah sedikit menegang, detak jantung berdebar-debar menyebabkan ketakutan datang. Meski dari awal mereka membuat perjanjian akan menyelidiki kasus ini dalam dingin, tetap saja rasa takut ketahuan masih berdiam manis di kepala.
"Iya, ini gue, kalian jangan kaget gitu dong, gue bukan hantu loh." Kini giliran Aldo menatap bergantian wajah-wajah yang di serang rasa panik.
"Enggak, gue tadi ngira lo siapa gitu, mangkanya gue kaget." Terang Clara hampir serangan jantung akibat ulah dadakan Aldo.
Aldo tersenyum miring, terbesit remeh di balik bibir tersungging tersebut."Hmm, belum mulai aja udah shock berat. Gimana kalau permainan sudah berada di tengah-tengah, aman gak tuh jantung?"
"Wajar apabila ketakutan itu ada, karena di sini musuh yang patut kita waspadai bukan sang pembunuh itu, tapi juga orang-orang di sekitar terlebih pihak sekolah. Karena yang bisa menghancurkan kita hanyalah mereka." Monolog Rev.
Aldo tersenyum penuh ejekan, telah berkumpul 5 orang papi, putra putri SMA Gloriacastra di belakang sekolah untuk berdiri tegak menjunjung keadilan.
"Kita harus hati-hati, jangan sampai mereka tau pergerakan kita. Karena itu akan berbahaya." Imbau Steven, perjalanan perang dalam dingin tidak akan berakhir memuaskan jika ada pihak lain yang mengetahui misi 5 anak SMA Gloriacastra.
"Mumpung lo di sini, sekarang lo kerjain tugas sesuai dengan kemampuan lo. Gue undang lo masuk ke gank ini bukan tanpa alasan. Lo tau kan apa yang harus lo lakuin?" Rev mengingatkan kembali, memandang penuh arti pada pemilik netra biru mempesona yang diam mengamati gerak-gerik teman-teman belum juga terbiasa dengan suasana terjadi semenjak tewasnya siswi di SMA Gloriacastra.
"Gue gak akan ngelupain itu." Tangkas Aldo.