NovelToon NovelToon
I Love You, Kak

I Love You, Kak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Basket / Cintamanis / Teen
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Anggun Kartika Mundikasih

Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TERLALU SERING UNTUK DISEBUT KEBETULAN (1)

Perpustakaan SMA Perguruan TA adalah salah satu fasilitas yang menjadi alasan Naya untuk masuk ke sekolahnya itu karena selain berenang ia juga memiliki hobi membaca buku alias kutu buku namun memiliki kepribadian Ambivert yang dapat menyeimbangkan sisi Ekstrovert dan Introvert di dalamnya.

Selain banyak jenis buku penuh keberagaman di dalamnya yang dapat ia baca, perpustakaan ini memiliki gedung sendiri dan juga memiliki jam operasional yang membuat hatinya semakin senang dan betah di dalamnya yaitu dari Senin s.d. Jumat pukul 08.00 WIB s.d. 17.00 WIB, menyamakan waktu dengan rata-rata jam kegiatan ekstrakuler disana.

Dengan segala fasilitas di dalamnya yang begitu memanjakan para pecinta buku seperti dirinya, perpustakaan adalah tempat paling aman dan nyaman di sekolah jika tidak ada jadwal klub renang sambil menunggu jemputan. Di sana, tidak ada suara sepatu berdecit di lantai lapangan, tidak ada teriakan para pendukung dari tribun, dan yang paling penting tidak ada kerumunan siswi yang sibuk membicarakan seorang pemain basket terkenal sekaligus Kakak seniornya bernama Nara.

Bagi sebagian besar murid di SMA Perguruan TA, Nara adalah sosok yang nyaris sempurna. Ia tinggi, berwajah menarik, memiliki senyum yang mudah membuat orang salah tingkah, dan menjadi pemain utama serta otak strategis dalam tim basket sekolah. Namanya sering disebut saat upacara karena berbagai kemenangan yang diraih timnya. Foto dirinya beberapa kali dipajang di mading olahraga, bahkan akun media sosial sekolah lebih sering menampilkan wajah Nara dibandingkan wajah kepala sekolah dan yang paling menyebalkan adalah bahkan untuk urusan akademis pun tak kalah tersohornya karena beberapa kali memenangi olimpiade bidang akademis yang semakin mengharumkan tidak hanya sekolahnya namun juga dirinya. Bayangkan sebesar apa kepala seniornya itu. Rasanya tidak adil dan membuat banyak orang iri sekaligus kagum jika ada orang yang memiliki keduanya sekaligus.

Namun, bagi Naya, semua itu tidak terlalu mengesankan. Mungkin dahulu ia juga pernah mengagumi sosok Nara. Bukan seperti para siswi yang rela menunggu di depan ruang ganti hanya untuk memberikan minuman atau mencari celah untuk mengobrol dengan Nara dengan sengaja. Tetapi setidaknya Naya pernah menganggap kakak kelasnya itu sebagai sosok yang pantas dihormati. Nara pernah terlihat ramah, rendah hati, dan memiliki jiwa penolong orang yang tak dikenalnya seperti dirinya.

Sayangnya, semakin dirinya tahu tentang Nara dari Kimi yang memutuskan menjadi anggota basket putri di sekolah mereka, semakin berubah pula sikap dan respeknya kepada Nara.

“Pokoknya, setiap kali Tim Putra dan Tim Putri ada latihan klub pasti selalu berisik oleh fans-nya Kak Nara. Aku saja pusing setiap kali mendengarnya.” Gerutu Kimi suatu ketika setelah pulang latihan dari klub basket dan berjanji pulang bersama Naya yang saat itu menunggu di perpustakaan karena tidak ada jadwal renang di klubnya. “Padahal yang hebat dan keren kan nggak cuma Kak Nara lho. Ada Kak Ekky, Kak Gilang, Raka, dan lain sebagainya. Yah meskipun kuakui kharisma Kak Nara memang tidak tertandingi jika sudah masuk mode bertanding, beuh, Langsung hilang sikap sok populernya.”

“Terus pelatihmu nggak ada gitu bersikap supaya tidak mengganggu latihan kalian?” Tanya Naya menanggapi sambil menahan tawa mendengar cerita dari Kimi. “Di klub renangku pengamanannya cukup ketat, kecuali ada orang yang kenal dengan senior di klubku sehingga diizinkan masuk, itupun hanya sebatas sampai di tribun dan dilarang berisik.”

Naya mengingat kembali kejadian dimana Nara dan Ekky berhasil masuk ke dalam gedung kolam renang indoor klub renang.

“Sudah pastilah,” Respon Kimi sambil mengunyak snack bar yang dibawa Naya dan disodorkan kepada dirinya. “Pak Pelatih dan Bu Pelatih akhirnya sepakat untuk menjadikan klub basket menjadi restricted area selama pelatihan berlangsung!”

“Kupikir ya Nay, dengan standar sekolah seperti tempat kita ini yang sangat luar biasa tinggi, kita tidak akan menemukan para fans seperti itu. Ternyata aku salah. Kemampuan akademis dan non akademis para talent disini memang kuakui jempol tapi kalau sudah berurusan dengan karakter orangnya aku angkat tangan.” Keluh Kimi tak berkesudahan kepada Naya.

Nara memang terbiasa dikelilingi para penggemar. Ia menanggapi pujian seolah-olah semua itu memang haknya. Ketika seseorang memintanya berfoto, Nara akan membenarkan rambut lebih dahulu dan bertanya apakah sudut kameranya sudah bagus. Ketika siswi-siswi kelas sepuluh memberikan hadiah, ia sering menerima dengan senyum menawan, tetapi kemudian meninggalkan hadiah tersebut di meja kelas atau memberikannya kepada temannya.

Yang paling membuat Naya semakin kehilangan respek adalah cara Nara berbicara mengenai para penggemarnya bersama para anggota klub basket lainnya.

“Kadang capek juga jadi terkenal,” katanya suatu kali di kantin. “Mereka selalu mengikuti ke mana-mana. Tapi mau bagaimana lagi? Mungkin wajahku memang terlalu sulit dilupakan.”

“Jangan kumat deh.” Protes Ekky yang memang ditugaskan untuk mengerem Nara kalau sudah mulai berlebihan. “Mereka itu mengagumi bakatmu, harusnya kamu lebih bijak memberikan batasan supaya nggak dianggap PHP-in anak orang.”

“Bukan salahku lho, mereka sendiri yang melakukannya.”

“Ish, dilarang jumawa, kusumpahi susah dapatin cewek yang benar-benar kamu sukai baru tahu rasa!” Ekky menoyor kepala Nara untuk mengingatkan.

“Aduh sakit Ekky! Kalau aku jadi bodoh bagaimana? Kamu mau tanggung jawab ke orangtuaku?”

“Mereka pasti malah bersyukur kalau anaknya tersadarkan dengan toyoranku tadi.”

Teman-temannya hanya tertawa melihat perdebatan dua sohib kental yang sejak SD hingga SMA saat ini bersekolah di Yayasan Perguruan TA.

Naya yang duduk beberapa meja dari sana bersama Kimi hanya memutar mata malas. Sejak hari itu, ia memutuskan bahwa lebih baik tidak berurusan dengan Nara. Menurutnya, menghormati senior bukan berarti harus menoleransi sikap narsis yang berlebihan.

Keputusan itu sebenarnya mudah dilakukan. Naya bukan anggota klub basket. Kelasnya juga berada di lantai berbeda. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama klub renang sekolah dan perpustakaan. Bahkan sesekali membantu Pustakawan menyusun buku seolah tanpa sadar ia telah menjadi penghuni tetap karena paling lama berada di perpustakaan menunggu jemputan. Terima kasih kepada orang tuanya yang disela kesibukannya sampai hingga saat ini tetap berkomitmen mengantar jemput dirinya.

Masalahnya, terkadang Semesta itu suka bercanda. Sehingga membuat baper manusia. Terutama  manusia yang sibuk dengan menggenggam kendali hidupnya tapi lupa siapa sebenarnya yang Berkuasa atas segalanya. Seolah tidak menyetujui rencananya itu, sehingga membuat pertemuan antara Naya dan Nara kembali terjadi pada Senin setelah jam sekolah berakhir.

Perpustakaan hampir kosong. Hujan turun deras, membuat banyak murid memilih langsung pulang setelah jam pelajaran selesai. Naya yang sedang menunggu jemputan duduk di pojok dekat jendela sambil mengerjakan tugas Biologi yang harus dikumpulkan besok. Di hadapannya terbuka tiga buku tebal dan sebuah buku catatan penuh stabilo warna-warni.

Naya yang sejak tadi berkonsentrasi menyalin jawaban dari salah satu pertanyaan dalam tugasnya merasa terganggu dengan bunyi suara sebuah kursi yang sejak dari dirinya masuk ke perpustakaan kosong di seberangnya ditarik. Ia pun spontan mengangkat wajah dan langsung mengerutkan kening.

Nara duduk di sana. Kakak kelasnya itu masih mengenakan jaket tim basket. Rambutnya sedikit basah oleh hujan. Ia membawa sebuah buku tentang astronomi, tetapi dari cara memegangnya, Naya curiga Nara bahkan tidak tahu judul buku tersebut.

“Tempat lain kosong,” kata Naya datar.

Nara melihat ke kanan dan kiri. Setidaknya ada dua belas meja lain yang benar-benar kosong. “Tempat ini bebas untuk diisi siapapun dan aku suka tempat ini.”

“Kenapa?”

“Pemandangannya bagus.”

Naya menoleh keluar jendela. Yang terlihat hanyalah jalanan berlumpur, taman yang basah dan air hujan yang mengaburkan kaca.

“Perasaan pemandangannya tidak terlihat sama sekali. Kalau matanya minus lebih baik pake kacamata Kak.”

“Bukan yang di luar jendela.”

Naya menatap Nara tanpa ekspresi dan memilih untuk melanjutkan menulis jawaban soal di bukunya. “Kalimat seperti itu mungkin berhasil kepada para penggemarmu.”

Nara terdiam selama beberapa detik, lalu tertawa pelan dan menopangkan wajahnya dengan tangan kirinya menatap lekat Naya yang tidak memperdulikannya.

“Jadi kamu bukan penggemarku?”

“Bukan.”

“Sedikit pun?”

“Tidak.”

“Menarik.”

“Tidak ada yang menarik.”

Naya berharap Nara segera bosan dan pergi, tetapi selama hampir empat puluh menit, kakak kelasnya itu tetap duduk di sana. Aneh sekali, Nara benar-benar membaca buku yang dibawanya. Ia bahkan tidak mengganggu lagi. Hingga bunyi pesan masuk dari Mamanya di ponsel miliknya yang memberitahu bahwa beliau sudah sampai di parkiran mobil jemputan membuatnya segera merapikan buku-buku miliknya dan memasukkan semuanya ke dalam tasnya untuk pulang. Nara yang melihatnya berdiri dan menutup bukunya.

“Besok kamu di sini lagi kan?”

Naya tidak menjawab dan memilih pergi meninggalkan Nara sendirian.

Keesokan harinya, Nara kembali datang. Kali ini ia membawa dua buku, sebungkus roti isi cokelat keju, dan sekotak susu putih. Ia duduk di tempat yang sama tanpa meminta izin. Naya berusaha mengabaikannya, tetapi aroma roti cokelat keju yang masih hangat membuat konsentrasinya terganggu.

Nara mendorong satu bungkus roti ke arahnya.

“Aku tidak minta,” kata Naya.

“Aku juga tidak bilang itu untukmu.”

“Lalu kenapa diletakkan di depanku?”

“Mejanya sempit.”

Naya memandang meja panjang yang cukup digunakan oleh enam orang.

“Kak Nara,” katanya dengan penuh penekanan, “Jangan ganggu aku belajar. Otakku tidak secemerlang Kak Nara atau Kakakku yang begitu santai namun dengan segudang prestasinya. Orang tuaku saja dulu sangat khawatir aku tidak lolos masuk sekolah ini sehingga untuk membuktikan kesungguhanku masuk sekolah ini aku berusaha lebih keras belajar dibandingkan teman-temanku lainnya.”

Nara bersandar di kursinya. “Kamu selalu seformal itu kepada kakak kelas?”

“Hanya kepada kakak kelas tertentu yang tidak berhubungan denganku.”

“Yang terkenal?”

“Yang menyebalkan.”

Alih-alih tersinggung, Nara justru tersenyum. “Kamu benar-benar tidak takut kepadaku.”

“Memangnya kenapa harus takut?”

“Biasanya orang-orang berusaha membuatku senang.”

“Itu masalah mereka bukan masalahku.”

“Kalau kamu?”

“Aku berusaha membuat tugasku lekas selesai tanpa beban tambahan sebelum melanjutkan ke latihan renang atau ketika kembali ke rumah.”

Pertemuan hari itu seharusnya menjadi yang terakhir. Akan tetapi, pada Rabu, Kamis, dan Jumat, Nara muncul lagi di perpustakaan.

Ia selalu datang pada waktu yang hampir sama. Kadang mengenakan seragam lengkap, kadang masih memakai pakaian latihan. Ia mulai benar-benar membaca, mencatat, bahkan sesekali bertanya kepada Naya mengenai tugasnya terkait sastra, satu-satunya kelemahan yang dimilikinya. Pada minggu berikutnya, frekuensi pertemuan mereka semakin sering.

Terlalu sering untuk disebut kebetulan.

Jika Naya datang pada jam istirahat pertama, Nara akan muncul beberapa menit kemudian dengan alasan mengembalikan buku. Jika Naya datang sepulang sekolah, Nara sudah duduk di meja dekat jendela. Bahkan ketika Naya sengaja berpindah ke bagian rak ensiklopedia, ia tetap menemukan Nara berdiri di ujung lorong buku.

“Kak Nara mengikutiku ya?” tanya Naya pada suatu sore karena sudah tidak tahan dan tidak nyaman dengan Nara yang selalu ditemuinya di perpustakaan sekolah karena sudah cukup mengganggu kehidupannya.

“Tentu tidak.”

“Buku yang Kakak pegang terbalik.”

Nara melihat bukunya, lalu membaliknya dengan santai. “Aku sedang mencoba cara membaca baru.”

Naya mendengus dan hendak pergi, tetapi Nara menahan ujung rak dengan tangannya menghalangi Naya pergi.

“Kenapa kamu selalu menghindariku?”

“Aku tidak menghindar.”

“Kalau begitu, duduklah bersamaku.”

“Aku mau latihan renang.”

“Latihannya masih satu jam lagi.”

Naya menatapnya curiga. “Kenapa Kakak tahu jadwal latihanku?”

Untuk pertama kalinya, Nara terlihat kehilangan jawaban.

Naya menyilangkan tangan di depan dada. “Jadi, Kakak memang mengikutiku?”

“Bukan mengikuti. Hanya memperhatikan.”

“Itu terdengar lebih buruk seperti Stalker, sungguh tidak normal!”

Nara tertawa, tetapi Naya tidak, ia semakin kesal dengan respon Nara yang begitu santai karena berhasil membuatnya emosi.

Ia tidak ingin hubungan mereka menjadi terlalu dekat. Bagaimanapun, Nara tetaplah senior yang telah kehilangan sebagian besar rasa hormatnya. Pertemuan-pertemuan di perpustakaan tidak serta-merta menghapus semua sikap buruk yang pernah Naya lihat karena ingatan Naya tentang pertemuan terakhir mereka sebelum kebiasaan di perpustakaan itu dimulai masih begitu membekas.

***

1
Wawan
Salam kenal untuk Naya 💪✍️
Ayunda Permata
Sukses Selalu Thor 🤗
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!