novel modern yang mengangkat legenda ilmu Kanuragan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karnali Beraksi
Beberapa Minggu belajar memegang senjata dan menembak, Karnali sungguh bersemangat. Entah apa yang bos barunya pikirkan, yang pasti Karnali senang dan segera diberi tugas untuk menghabisi Dul Karim.
Pagi masih lah rabun oleh kabut. Karnali dan puluhan anak buah Teo yang lain sudah senam dan olahraga pagi di kaki bukit yang asri dan rimbun. Satu wilayah pribadi di tengah kota Bogor. Teo datang dengan menunggang kuda dan memimpin di depan anak-anak buahnya yang sedang lari pagi. Teo seperti seorang perwira tinggi militer dan anak-anak buahnya seperti prajurit yang berseragam olahraga. Kaus hijau dan celana training hitam salur-salur merah.
Teo kini hanya menjalankan bisnis penyelundupan narkoba dan tidak lagi muncul ke permukaan sebagai bos restoran atau hotel. Kini ia penjahat no. 1 dan paling dicari, penjahat bermulut besar dan berkantung tebal.
***
Dari balik kaca kini Taupan sedang termangu menatap jasad bapaknya. Jasad bapaknya tergeletak di atas meja marmer putih yang besar dan mengkilap.
"Tubuhnya mulai menciut, maaf, demi keperluan penelitian, ada tim dokter yang meneliti dan merawatnya setiap jam," ucap letnan Anwar dari samping Taupan.
Taupan tidak tahu, apakah dia harus bersedih atau bahagia melihat bapaknya terlentang kaku seperti itu. Ia ingat, betapa dulu ia sempat kabur karena tidak tahan dengan perlakuan bapaknya itu. Dulu, dulu sekali, ia di paksa berendam di rawa selama berhari-hari sampai lintah-lintah rawa bosan dengan darahnya, ia juga pernah di gantung terbalik sampai muntah dan isi perutnya habis. Taupan mendengus, seolah menghempaskan dendam yang tidak pantas itu. Sangat tidak pantas, seorang anak menaruh kesal dan dendam pada bapaknya sendiri.
Setelah habis terkuras rasa sesal dan dendam, kini Taupan merasakan matanya merembang tiba-tiba.
Menangis, Taupan lupa, kapan ia terakhir menangis. Saat dipukul ketika dipaksa menghapal mantra, saat demam dan dipaksa menelan jamu yang sangat pahit. Bagaimanapun itu adalah Bapaknya, satu-satunya orang yang telah membesarkannya. Taupan menangis sejadi-jadinya.
Kulit hitam legam dari jasad bapaknya itu tampak makin keriput dan menciut.
"Bapakmu telah memilih takdirnya, sekarang giliran kamu. Kamu berhak memilih jalan hidupmu sendiri. Kami tidak akan memaksa," ucap letnan Anwar pelan. Taupan masih menangis.
"Apa, apa yang harus saya lakukan sekarang?" ucap Taupan di sela Isak tangisnya.
"Kalo dulu kamu menjadi pelanggar hukum. Sekarang kamu jadi penegak hukum. Buatlah almarhum kakek dan bapakmu bangga.
***
Karnali mengenakan topeng dan perlengkapan perang yang sama dengan belasan anak buah Teo yang lain. Mereka mau merampok dan meledakkan gedung tertinggi di ibukota itu yang juga merupakan sebuah bank.
Dua mobil Van warna hitam sudah siap dan segera melaju.
***
Taupan di pertemukan dengan Dul Karim oleh letnan Anwar.
"Dul, ini Taupan. Taupan, ini Dul Karim. Semoga kalian bisa bekerja sama dengan baik." Taupan dan Dul Karim pun bersalaman. Ada tatapan aneh di mata keduanya. Tatapan yang seolah saling menilai. Bahkan Taupan bisa mengukur berat badan Dul Karim hanya dengan berjabat tangan dan Dul Karim bisa merasakan aura tenaga dalam yang di pancarkan tubuh Taupan.
"Brajamusti, aku kira, ilmu itu hanya dongeng belaka," ucap Taupan pelan namun terdengar mendalam.
"Selamat datang, jangan sungkan. Oh iya, boleh kita ngobrol-ngobrol? sambil ngopi mungkin?" ajak Dul Karim ramah.
"Tentu," jawab Taupan.
"Ayo Pak," lanjut Dul Karim ke arah letnan Anwar.
"Ah, iya, ayo ayo."
***
Karnali dan yang lain sudah berhasil menguasai bank sentral dan menguras uang tunai di brankas kecil.
***
Pusat informasi divisi rahasia mendapat laporan dari pusat keamanan kota dan segera meneruskannya ke handphone letnan Anwar.
Handphone letnan Anwar pun berbunyi dan ia segera membukanya. setelah sejenak ia menyapa lantas menyimak, letnan Anwar pun menoleh ke arah Dul Karim dan Taupan.
"Ada tugas buat kalian."
up
up