Jayden harus menerima takdirnya sebagai seorang bintang, merasa tak memiliki orang yang mencintainya dengan tulus, bahkan Kayla, kekasihnya yang bertahun-tahun dicintainya, hanya memanfaatkannya untuk ketenarannya.
Hingga suatu saat dia bertemu dengan seorang wanita, wanita yang memandangnya dengan cara berbeda, namun bukan hanya itu yang dia temukan, 2 dunia yang berbeda memisahkan mereka bahkan sebelum kuncup cinta bisa mengembang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18 -
Jayden keluar kamarnya dengan keadaan siap, dia segera berjalan mengikuti Joseph yang segera mengantarkannya ke tempat konsernya akan berlangsung besok malam, Jayden sedikit berhenti ketika melihat kerumunan orang yang sudah berada di luar lobby hotelnya, pemandangan yang sangat biasa dia lihat, dia segera menutup wajahnya dengan hoddienya kembali, sedikit melirik ke arah kerumunan yang sangat histeris saat dia berjalan, barisan para penjaganya segera membelah para pengemar Jayden, sorak sorai yang sudah 3 hari ini tidak di dengarnya lagi, ternyata cukup membuat Jayden merasa merindukannya.
Penjaganya segera menghimpit Jayden, dia sesekali membarikan senyuman simpulnya pada para gadis remaja yang bahkan terlihat begitu histeris, tak sedikit di antara mereka malah menangis melihat Jayden tersenyum ke arah mereka, Jayden selalu merasa hal itu sangat lucu.
Jayden akhirnya berhasil masuk ke dalam Vannya, dia segera duduk di salah satu sofa yang ada di sana, menatap ibunya yang ternyata sudah lebih dulu ada di sana, sedang sibuk dengan pekerjaannya, omongan Jayden tadi seperti angin lalu saja baginya.
"Sudahkah kau mempelajari naskah yang ibu berikan?" tanya ibu Jayden tanpa melihat anaknya.
"Ibu berharap apa? aku hanya membawa ponsel dan bajuku yang ku pakai selama hilang, bagaimana aku mempelajarinya," kata Jayden lagi, ibu Jayden melirik sinis ke anaknya, kenapa sekarang Jayden menjadi anak yang selalu membalas pekartaannya, padahal sebelum dia menghilang, Jayden adalah anak yang cukup pendiam, dia akan diam jika ibunya mengatakan apapun.
"Ini susunan acaramu nanti," kata ibu Jayden tak ingin melanjutkan, memberikan sebuah kertas pada Jayden, Jayden segera melihatnya, membacanya perlahan lalu dia segera menemukan sesuatu yang membuatnya segera menekukkan dahinya.
"Kenapa ada Kayla di konser ini?" tanya Jayden, ini memang konser untuk merayakan tahun baru, tapi setahu Jayden Kayla bukanlah artis yang termasuk dalam acara ini, lalu kenapa dia tiba-tiba ada di sini.
"Panitia merasa akan sangat baik untuk acara ini jika kau dan Kayla ada dalam satu panggung," kata Ibu Jayden tanpa melihat Jayden.
"Tak adakah yang mengatakan bahwa aku tidak ingin berada satu panggung dengannya?" tanya Jayden lagi.
"Di dunia seperti ini, semakin penuh kontra dan sensasi itu akan semakin baik, jadi lebih baik kau mengikutinya saja."
"Aku tidak ingin menjadi artis yang penuh sensasi, aku ingin mereka melihatku karena bakatku," kata Jayden membuang kertas itu kembali ke meja di dekat ibunya.
"Bakat? banyak orang di dunia ini bisa bernyanyi dan menari sepertimu, bahkan mungkin lebih baik darimu, dan kau ingin mereka hanya melihatmu berdasarkan bakatmu, Jayden, jika kau tidak melakukan sesuatu seperti ini, sampai kapan kau akan dipuja oleh mereka, ini juga bagus untuk mengundang orang-orang baru yang akan penasaran denganmu, lagi pula, kau harus bisa bersikap profesional walaupun kau akan dipasangkan dengan siapa saja, berhentilah mengeluh, semenjak kau hilang, kau begitu banyak berbicara," kata ibu Jayden menjelaskan pada anaknya, dia segera meninggalkan Jayden yang menurutnya sekarang sangat menganggunya.
Jayden menggertakan giginya, sekali lagi dia tak bisa mengatakan apapun pada ibunya itu, dia merogoh sakunya, melihat kembali ke pesan yang dia kirim, masih belum terkirim, mengapa begitu lama, Jayden sekali lagi mencoba menelepon dan hasilnya ternyata sama saja.
Tak lama mereka akhirnya masuk ke areal konser, di sana sudah berdiri megah panggung yang akan di gunakan oleh Jayden, malam ini adalah malam tahun baru, Jayden harus menghibur mereka malam ini hingga dini hari, menghabiskan pergantian tahunnya dengan membuat semua orang yang melihatnya bahagia, sebuah konser di tengah stadium yang megah sehingga nantinya mereka bisa melepaskan kembang api yang akan membuat konsernya spektakuler, terdengar hebat? sayangnya bagi Jayden itu sudah menjadi caranya merayakan pergantian tahun baru setiap tahunnya, jadi mungkin tak ada yang hebat dari itu baginya.
Jayden langsung keluar dari van-nya, bintang utama acara ini sudah dinanti kedatangannya sejak tadi pagi, para pihak penyelenggara segera menyambutnya, mereka segera melakukan tugasnya, dan Jayden pun tampak profesional mungkin melakukan tugasnya.
Gladiresik dan latihannya berjalan mulus seperti biasanya, dia memang selalu bisa melakukannya dengan sempurna, karena itulah banyak orang yan menyukai Jayden, Jayden duduk di sebuah kursi yang memang disedikan olehnya, tak lama salah satu dari panitia di sana membawakannya air putih, peluh sudah mengalir deras di wajahnya, sambil meminum minumannya dia dengan seksama mendengarkan penjelasan dari panitia penyelenggara acara tersebut, sesekali Jayden mengangguk, tanda dia mengerti.
"Baiklah, semoga sukses nanti malam Jayden," kata panitia itu meninggalkan Jayden, membiarkannya sejenak beristirahat karena mereka tahu Jayden sudah begitu bekerja keras tadi.
"Terima kasih," kata Jayden sembari menggelap tubuhnya menggunakan handuk yang sudah disediakan untuknya, sejenak menarik napasnya lebih dalam sambil melihat ke arah Joseph yang ada tak jauh darinya.
"Boleh aku minta ponselku?" tanya Jayden yang segera dijawab anggukan oleh Joseph, dia segera memberikan ponsel Jayden padanya, bersamaan dengan itu terdengar suara halus yang menyapa Jayden.
"Hai, Jayden," ucap suara wanita itu, Jayden segera mengalihkan pandangannya pada sosok wanita yang berdiri di dekatnya, tubuhnya tinggi dengan senyuman manis yang terlihat munafik bagi Jayden, Kayla tampak sumringah menyapanya.
Jayden hanya menatapnya datar, namun seketika dia ingat mereka masih berada di ruang publik, sekali lagi pekerjaannya menuntutnya agar bisa bersikap dengan profesional, walau tak pernah ingin melakukannya, Jayden tersenyum juga.
"Baik," jawabnya sesaat, Jayden segera mengalihkan pandangannya pada ponselnya, memeriksa bagaimana pesannya, sudahkah terkirim?
Kayla sedikit mengerutkan dahinya melihat sikap dingin yang di tunjukkan oleh Jayden, dia menyimpulkan bahwa Jayden masih marah padanya, hingga bersikap dingin. Asisten Kayla langsung mengambilkan kursi, Kayla langsung duduk di dekat Jayden, tepatnya di depannya.
Jayden mengerutkan dahinya, pesannya masih tetap bercentrang satu, belum terkirim juga rupanya, apa yang salah, padahal Jayden sudah sangat ingin mendengar kabar Launa, mungkinkah dia juga secemas ini mengingat dirinya?
Jayden fokus dengan ponselnya, dia sedikit tersenyum karena baru saja menganti gambar layar ponselnya menjadi foto Launa yang dia ambil tepat sebelum ponselnya kehabisan baterai, di dalam foto itu Launa tampak begitu polos, ah, Jayden benar-benar sudah tidak tahan ingin kembali bertemu dengan wanita ini.
Kayla yang melihat senyum Jayden itu segera mengerutkan dahi, aneh sekali melihat Jayden bisa tersenyum sambil melihat ponselnya, terakhir kali dia melihat pria itu tersenyum begitu manis adalah saat masa pendekatan mereka dulu.
"Bagaimana dengan persiapanmu?" tanya Kayla yang membuat fokus Jayden sedikit buyar, dia tak menyangka wanita itu sekarang ada di depannya.
"Sudah hampir 100 persen," kata Jayden dengan senyum seadanya, menyelipkan ponselnya yang masih menyala ke dalam saku hoodienya, Kayla yang tak sengaja menatap ponsel itu mengerutkan dahinya lebih dalam, walau tak melihatnya dengan jelas, namun dari seluetnya bisa dipastikan itu adalah seorang wanita.
"Eh, siapa dia?" tanya Kayla yang memasang wajah bertanyanya, dia pikir Jayden bersikap dingin begitu karena masalah mereka ini, karena Jayden masih belum bisa menerima hubungan mereka kandas, tapi kenapa baru beberapa hari saja Jayden sudah memasang foto wanita lain di ponselnya.
Jayden melirik ke arah Kayla yang berwajah sedikit terkejut tak percaya, dia berdiri dan sedikit memiringkan kepalanya, menatap dengan sedikit menaikkan sudut bibirnya.
"Nona Kayla, aku rasa itu bukan urusanmu, lagi pula, bukannya sebelumnya kau mengatakan padaku, jika berdekatan denganku akan tidak baik bagi popularitasmu? karena itu aku rasa aku akan membantumu untuk menjaga jaga jarak darimu, sampai jumpa saat nanti kita bekerja," kata Jayden dengan suara yang tampak bersahabat namun cukup membuat Kayla terdiam, Jayden segera meninggalkan Kayla yang hanya memandang punggung pria itu menjauh.
kapan update abang jayden lagi...
udah setahun nungguin nya...