Menjalin kasih selama 2 tahun lamanya, bahkan sudah tinggal satu atap dengan segala tujuan cerita dan mimpi di masa depan. Semuanya sudah di rancang sejak awal.
Namun apa jadinya ketika salah satu dari mereka malah jatuh cinta pada orang lain dan memilih untuk berkhianat?
Semua mimpi dan cerita yang sudah di rangkai kini harus hancur seketika dan tidak bisa di perjuangkan lagi. Mungkin satu hal yang membuat Fadil rela menghancurkan hubungan yang sudah terjalin lama ini, hanya karena Yara yang memiliki tubuh berisi dan jauh dari kata cantik dan ideal. Seperti wanita di luaran sana.
Lalu, apa Yara akan mampu memeprtahankan hubungan ini di saat sudah ada wanita lain yang hadir di kehidupan Fadil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nita.P, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Apa Dengan Yara?!
Yara yang tidak pernah jatuh cinta sebelumnya, telah menjadikan Fadil sebagai cinta pertama dan terakhirnya. Namun ternyata semuanya tidak seindah dalam bayangan Yara. Karena Fadil tidak bisa menjaga kesetiaannya pada Yara. Fadil yang tetap merasa bosan dengan Yara yang bertubuh gendut ini. Meski sekarang Yara telah berubah menjadi sosok gadis dengan tubuhnya yang hampir ideal.
Dan semalam Yara tidak bisa tidur dengan tenang. Karena dia yang masih mencoba untuk menyesuaikan dengan tempat baru ini. Pagi ini Yara sudah bersiap untuk pergi ke tempat kerjanya yang baru. Mungkin saat ini dia harus mencoba menyesuaikan kembali dirinya dengan orang-orang baru di tempat tinggalnya yang baru juga.
Saat Yara hampir sampai di pintu keluar rumah ini, tapi tiba-tiba kepalanya kembali pusing dan bagian perutnya yang kembali terasa sakit. Yara berpegangan pada sandaran sofa untuk menahan tubuhnya agar tidak limbung dan jatuh ke atas lantai.
"Kenapa aku sering sekali pusing dan perutku sakit sekali. Apa mungkin karena aku belum sarapan ya"
Yara melangkah perlahan ke arah dapur dan mengambil selembar roti tawar untuk di makannya. Dia harus fit untuk hari pertama bekerja dan mungkin karena dia yang masih proses diet dan mengurangi porsi makanya, dan sekarang membuat perutnya sering sakit dan kepalanya yang juga pusing.
Yara meminum segelas air putih untuk lebih menguatkan tubuhnya yang sepertinya sedang kelelahan dengan semua yang di hadapi Yara saat ini.
"Ayo Yara, kamu pasti bisa melewati semua ini"
Yara pergi ke tempat kerjanya dengan helaan nafas panjang. Berharap hari ini akan terlewati dengan baik olehnya.
Semangat Yara..
Hari pertama bekerja, Yara bisa menyesuaikan. Dia bisa berinteraksi dengan beberapa teman kerjanya yang memang benar-benar wellcome padanya. Yara masuk ke dalam rumah dengan tubuh yang sedikit lesu. Entah kenapa dirinya merasa mudah sekali lelah akhir-akhir ini. Menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dengan helaan nafas panjang.
Sejenak Yara hanya terdiam sambil memejamkan matanya untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kacau sejak dia pindah ke tempat ini. Mau bagaimana pun Yara pergi sejauh mungkin, tetap saja jika dirinya tidak pernah bisa pergi dari bayang-bayang masa lalunya dan Fadil. Bayangan Fadil tetap ada sampai saat ini, termasuk dengan perasaannya yang belum benar-benar hilang.
"Sampai kapan aku akan seperti ini? Terjebak dengan perasaan cinta yang tidak mungkin lagi bisa bersatu"
Cairan merah kental kembali mengalir dari dalam hidungnya. Membuat Yara langsung mengusapnya dengan tangan, saat tahu jika dia kembali mimisan Yara langsung mengambil tisu di atas meja dan menahan darah yang keluar dari hidungnya dengan tisu. Tatapan Yara mulai kabur hingga dia merasa kepalanya sangat pusing sekali.
Sebenarnya ada apa denganku?
Yara memejamkan matanya seiring dengan tubuhnya yang limbung di atas sofa. Yara tidak sadarkan diri.
Di tempat dan Kota yang berbeda, Fadil lebih banyak diam. Bahkan dia tidak bisa fokus dengan pekerjaannya dan lingkungan sekitar. Yang saat ini dia pikirkan hanya tentang Yara. Gadis itu yang pergi dan menghilang begitu saja dari kehidupan Fadil.
"Honey, kamu mau makan dulu atau mandi dulu?"
Bahkan pertanyaan dari istrinya saja tidak dia hiraukan sama sekali. Fadil benar-benar seperti orang yang kehilangan separuh nyawanya, hingga dia tidak lai peduli dengan dunia sekitar.
Putri Ajeng mulai kesal dan kehilangan kesabarannya ketika dia melihat suaminya yang bahkan tidak memperdulikan keberadaannya lagi. Dia memegang lengan Fadil dan sedikit mengguncang tubuh Fadil yang sedang duduk di atas sofa itu.
"Fadil, kamu ini kenapa si? Sampai tidak memperdulikan aku sebagai istrimu. Apa kamu sedang memikirkan mantan pacarmu yang gendut itu? Iya Hah?!"
Tatapan mata Fadil berubah sangat dingin dan tajam. Dia berdiri dan menatap Ajeng dengan begitu tajam, membuat istrinya itu perlahan mundur karena dia merasa takut dengan suaminya ini. Tidak biasanya Fadil menatapnya seperti itu.
"Jangan pernah sekalipun kau menghina Yara! Faham!"
Ajeng hanya mengangguk, dan Fadil segera berbalik dan pergi ke kamar mandi. Dia harus menenangkan fikirannya yang sedang kacau saat ini. Yara yang pergi dengan membawa setiap luka yang Fadil berikan padanya. Membuat Fadil menyesal dengan apa yang dia lakukan pada Yara.
#######
Entah pukul berapa sekarang, tapi di luar sudah sangat gelap. Menandakan jika hari memang sudah malam. Yara baru terbangun dengan kepalanya yang semakin terasa pusing. Ditambah lagi dengan perutnya yang kembali terasa sakit.
Yara bangun terduduk di atas sofa, dia memegang kepalanya yang sangat pusing. Bekas darah di dekat hidungnya sudah mengering, membuat penampilan Yara saat ini begitu memprihatinkan.
"Sepertinya memang ada yang tidak beres dengan tubuhku, apa aku harus periksakan ke Dokter ya"
Yara merasa keadaan tubuhnya yang tidak lagi seperti dulu. Seolah tubuhnya yang sekarang sangat lemah. Membuat Yara berpikir jika dirinya memang harus memeriksakan tubuhnya ke Dokter.
Yara berjalan gontai ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Selesai mandi, dia langsung tidur dan tidak mempunyai lagi tenaga bahkan hanya untuk makan malam. Membiarkan perutnya kosong semalaman.
Dan pagi ini Yara sudah bersiap untuk pergi bekerja. Keadaan tubuhnya yang entah kenapa semakin lemah dan wajahnya yang juga terlihat pucat pagi ini, meski dia sudah merias diri sebisa mungkin.
"Yara kamu kenapa? Wajah kamu pucet gitu loh"
Banyak teman kerjanya yang menanyakan keadaan Yara. Mungkin mereka jelas melihat bagaimana Yara yang terlihat lemah sekali hari ini.
"Tidak papa, aku hanya sedikit tidak enak badan saja Kak"
"Sebaiknya kamu istirahat saja kalau memang sedang sakit"
Yara tersenyum sambil menggeleng pelan. "Tidak papa Kak, lagian aku juga baru satu hari masuk kerja. Masa sudah berhenti lagi"
"Ya gak papa kalau memang kamu sakit"
"Tidak papa Kak, aku baik-baik saja kok"
Yara cukup bersyukur karena masih ada orang-orang yang peduli dengannya di tempat yang baru ini. Dia yang masih merasa asing dengan tempat tinggal baru ini.
"Emm. Kak apa Kakak tahu rumah sakit di daerah sini? Aku ingin periksa saja, biar bisa sembuh"
"Emm ada di dekat sini juga, apa mau aku antar?"
Yara sedikit berpikir sejenak, sebenarnya dia juga tidak mau melakukan pemeriksaan seorang diri. Karena Yara takut jika hasilnya tidak seperti apa yang di harapkan.
"Boleh Kak, Sore ini saja bagaimana?"
"Oke, aku akan mengantar kamu kalau begitu"
Yara cukup lega karena ada orang baik yang baru saja dia kenal dan mau membantu Yara saat ini. Meski sebenarnya dia cukup takut untuk melakukan pemeriksaan karena takut jika hasilnya akan membuat dia sedih. Namun, Yara tetap harus melakukannya agar dia tahu penyakit apa yang sedang di deritanya saat ini. Ketika tubuhnya yang mulai terasa sangat lemah.
Bersambung