NovelToon NovelToon
Misi Rahasia Si Kembar

Misi Rahasia Si Kembar

Status: tamat
Genre:Komedi / Action / Petualangan / Misteri / Keluarga & Kasih Sayang / Anak Kembar / Tamat
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Ria Diana Santi

Sebuah misi yang di emban oleh dua saudara kembar tak identik. Namun, mereka memegang misi yang berbeda-beda. Bahkan, mereka pun terpisah oleh sebuah tragedi yang menimpa mereka semasa kecil.

Lalu, akankah mereka kembali di pertemukan oleh takdir yang saling berkaitan?

Apa jadinya bila seorang kakak kandung mencintai kembarannya sendiri?

Semua itu akan tersaji dalam sebuah kisah 'Misi Rahasia Si Kembar'.

Selamat membaca!
Terima kasih atas idenya pembaca setiaku!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Serasa Tak Asing

Kabut rindu menyelimuti relung kalbu. Suasana haru antara anak dan ibu. Saling memeluk serta berucap rindu dengan nada sendu.

Pauline teramat sangat merindu, hingga ia lupa akan kondisi sang putra. Habib hampir saja jatuh terkulai, karena kondisi tubuh yang memang juga lemah.

“Auhhh ....” Habib mengeluh karena pusing yang melanda secara tiba-tiba. Kepalanya terasa berat sekali, walau hanya sekedar duduk saja.

“Habib, kamu kenapa, Nak?” Pauline mulai cemas.

“Hanya sedikit pusing, Ma. Aku tidak apa-apa. Aku hanya butuh istirahat sebentar saja,” tuturnya dengan wajah yang tenang.

“Apa kamu yakin, Nak? Begini saja, sebaiknya kita ke dokter saja, ya? Bagaimana, kamu mau, 'kan?” saran Pauline dengan menaruh harap agar sang putra mau menerima sarannya.

“Tidak perlu, Ma. Aku akan pulih setelah beristirahat.” tolaknya dengan sopan.

“Ya, sudah kalau begitu kamu istirahat di kamar saja, ya?”

“Iya, Ma. Pa, Habib ke kamar dulu, ya?”

“Iya, istirahatlah, Bib.”

“Oh, ya. Ma, kenalkan dia Mi Kyong teman kuliah ku,” ucap Habib memperkenalkan Mi Kyong pada orang tuanya.

“Oh, jadi namanya Mi Kyong?”

“Halo, Aunty! Halo, Uncle! Nice to meet you, Aunty, Uncle!”

{Halo, Tante! Halo, Om! Senang bertemu denganmu, Tante, Om!}

“Nice to meet you too, Mi Kyong.” balas Pauline.

{Senang bertemu denganmu juga, Mi Kyong.}

“Sorry in advance, Auntie. Actually, I intend to make porridge for Habib. But, ...--”

{Maaf sebelumnya, Tante. Sebenarnya, saya berniat ingin membuatkan bubur untuk Habib. Tapi, ...--}

“But, why, Mi Kyong?”

{Tapi, kenapa, Mi Kyong?}

“Looks like it's no longer needed. Because Auntie is already here. So, I should just go home Aunt.”

{Sepertinya hal itu sudah tidak di butuhkan lagi. Karena Tante sudah ada di sini. Jadi, saya sebaiknya pulang saja Tante.}

“Ehhh ... stay here, okay? If you want to make porridge for Habib. We can make it together. Isn't that better?”

{Ehhh ... tetaplah di sini, ya? Kalau kamu ingin membuat bubur untuk Habib. Kita bisa membuatnya bersama-sama. Bukankah, itu lebih baik?}

“Alright, if Auntie doesn't mind I'll gladly accept it.”

{Baiklah, jika Tante tidak keberatan aku dengan senang hati menerimanya.}

“Come on, let's just start cooking! What did you buy?”

{Ayo, kita mulai saja memasaknya! Kamu beli apa saja tadi?}

Mi Kyong pun menunjukkan semua belanjaan yang ia beli tadi pada Pauline. Sementara itu, Halim sesekali mengecek kamar Habib. Ia memastikan bahwa Habib baik-baik saja di kamarnya.

...----------------...

Lee Joon Woo mulai curiga akan sikap putrinya yang akhir-akhir ini banyak berubah. Mulai dari kebiasaan buruk yang semakin menghilang setiap harinya. Lalu, kegiatan yang tak pernah ia lakukan mulai ia kerjakan. Contohnya seperti memasak dan mencuci piring. Dua hal itu biasanya tak pernah putrinya itu kerjakan sama sekali.

Tak ingin berasumsi yang bukan-bukan, Joon Woo menanyakan hal ini pada Do Hyun. Karena Do Hyun di tugaskan untuk selalu menjaga Mi Kyong. Pastinya lelaki itu tau lebih banyak tentang Mi Kyong di banding dirinya.

“Alasseo. Deo isang chucheughago sipji anhseubnida. Ileohge gung-geumhae haji malgo Dohyeon-ihante mul-eobwa?” gumam yang baru saja selesai meminum tehnya.

{Baiklah. Aku tidak ingin menerka-nerka lagi. Langsung tanya saja pada Do Hyun daripada aku terus menerus penasaran seperti ini, 'kan?}

Do Hyun yang baru saja tepat melintas di depannya, sontak Joon Woo langsung memanggilnya.

“Do Hyun!”

“Algessseubnida.”

{Ya, Pak.}

“Yeogiwa! Dangsingwa iyagihago sip-eun geos-i issseubnida.”

{Kemarilah! Ada yang ingin saya bicarakan denganmu.}

“Algessseubnida.”

{Baik, Pak.}

Do Hyun pun duduk sesuai perintah Joon Woo. Sesi pertanyaan pun di mulai. Lee Joon Woo mencecar Do Hyun dengan berbagai macam pertanyaan. Hal itu cukup membuat Do Hyun kewalahan.

“Dohyeon-a, choegeun migyeong-i wae isanghan jis-eul haessneunji al-a? Geuligo geuneun ttohan ijeonboda hwolssin deo bujileonhabnida. Geuga wae geuleohge doeeossneunji seolmyeonghae jusigessseubnikka?”

{Do Hyun, apakah kamu tahu kenapa akhir-akhir ini Mi Kyong bersikap aneh seperti itu? Dan dia juga sekarang jadi lebih rajin dari sebelumnya. Bisakah kamu jelaskan padaku kenapa dia bisa berubah seperti itu?}

“Geugeos-e daehae, joesonghabnida seonsaengnim! Jeodo jal moleugessseubnida. Hajiman daedanhaji anhseubnikka, seonsaengnim?”

{Tentang hal itu, maaf Pak! Saya juga tidak tahu pasti. Tapi, bukankah itu bagus, Pak?}

“Ne, majseubnida. Geuleonde, cham isanghaji anhseubnikka?”

{Iya, benar. Tapi, bukankah itu cukup aneh?}

“Ye, kkwae isanghabnida. Gung-geumhasimyeon geunyang yeoju-ingong-ege mul-eoboneunge eottaeyo?”

{Ya, memang cukup aneh. Jika, Bapak penasaran kenapa tidak langsung tanyakan saja pada Nona, Pak?}

“Alasseo. Najung-e mul-eobolge. Geuleohdamyeon geuneun jigeum eodie issseubnikka?”

{Baiklah. Saya akan langsung tanyakan padanya saja nanti. Lalu, di mana dia sekarang?}

“Geuneun chinguui jib-e gassda. Geuneun naega geuleul ttaleuneun geos-eul wonhaji anhneundago malhaessda. Geuneun il-i kkeutnamyeon jib-e ogessdago yagsoghaessseubnida.”

{Dia pergi ke rumah temannya. Katanya dia tidak mau saya ikuti. Dia berjanji akan segera pulang setelah urusannya selesai, Pak.}

“Alasseo geuleom ganda.”

{Oke kalau begitu kamu pergilah.}

“Algessseubnida. Sillyehabnida!”

{Ya, Pak. Permisi, Pak!}

...----------------...

“The food is ready. Come on, let's eat together!” seru Pauline pada Mi Kyong.

{Makanannya sudah siap. Ayo, kita makan bersama!}

“No, thank you, Auntie. Because, I have to go home now, Auntie.”

{Tidak, terima kasih, Tante. Karena, saya harus pulang sekarang, Tante.}

“Aunt doesn't let you go home before you eat. Understand?!”

{Tante tidak izinkan kamu pulang sebelum makan. Mengerti?!}

“But, Auntie. I--” Mi Kyong belum selesai dengan ucapannya, Pauline sudah pergi meninggalkannya.

{Tapi, Tante. Saya--}

...----------------...

Semua hidangan telah tersaji di atas meja makan. Semua orang juga sudah berkumpul di sana. Tanpa berlama-lama lagi, Pauline mengambil bubur untuk Habib dan memberikannya pada Habib.

“Makan yang banyak ya, Sayang!” pinta Pauline dengan lemah lembut.

Kemudian, dia juga mengambil nasi berserta lauk-pauknya untuk sang suami. Lalu ia juga mengambilkan untuk Mi Kyong setelahnya.

“Eat a lot, Mi Kyong!”

{Makan yang banyak, Mi Kyong!}

“Thank you Auntie.” Pauline hanya membalasnya dengan senyuman.

{Terima kasih, Tante.}

Pauline pun duduk dan bersiap untuk menyantap makanannya. Entah mengapa ketika netranya memandangi wajah Mi Kyong, ia kembali teringat akan anak gadisnya.

Sejenak Pauline membayangkan tentang putrinya yang telah lama hilang. Bahkan, ia sempat berpikir jika Habibah masih di sisinya, pasti putrinya itu telah tumbuh dewasa seperti Mi Kyong saat ini.

Ada perasaan aneh di dalam hatinya, kala ia terus menerus menatap wajah Mi Kyong. Perasaan yang begitu indah dan tak dapat ia jelaskan seperti apa gambarannya.

Satu hal yang pasti baginya saat ini. Yaitu, dia teramat sangat bahagia hari ini. Berharap, esok juga masih tetap akan sama seperti hari ini. Bahkan mungkin, bisa jauh lebih baik lagi dari hari ini. Itulah harapan Pauline dari lubuk hatinya yang terdalam.

...----------------...

1
Roro
jangan terlalu cuek hib, nanti kamu suka
Roro
langsung ku subscribe ini bagus soalnya
Roro
Habibah kah
Leli Noer Octavia
Terima kasih buat cerita APIK ini kakak author 😍👍🏻.Aku sungguh terkesan dengan tulisan yang kakak tulis.Aku harap kakak dapat membuat karya yang jauh lebih baru dan tambah apik 😉.Dan nasihat yang di tulis tadi,berusaha belajar 😁.

yang terakhir adalah Aku Mencintaimu dan Menyukai Semua Bab Awal-Akhir 😍😘😘👌🏻
Leli Noer Octavia: sama-sama kakak author 😍👍🏻
total 2 replies
Leli Noer Octavia
beneran langsung cepat-tanggap,tapi dengan izin terlebih dahulu.terima kasih mama pauline 👍🏻
Leli Noer Octavia
ya ampun aku ketawa bagaimana mungkin,habib yang notabene memiliki latar belakang yang tak perlu lagi diragukan.terutama terhadap pria dan wanita,apa ini yang dinamakan rezeki tidak boleh di tolak.maksudku ini perasaan tentang seorang kakak dan adik 😲
anan
aku hadir k👋
Bayangan Ilusi
Udah ditinggal kabur ku tuuh😂
Bayangan Ilusi
Hahaha.. untung paman supirnya baik ya, Bib.. 😆
Bayangan Ilusi
hihi.. belum bisa berbahasa Korea ya habib?
sama donk kitaa😅
Bayangan Ilusi
hahah... masih gatot lagi, sabar ya Mikyoung🤭
Bayangan Ilusi
biasa kalo cewe mah gitu, orangnya udah gak ada juga msih ngedumel😂
Nindira
Mereka adalah keluarga kamu Mi kyong, ini adalah flash back kamu saat kamu masih kecil
Nindira
Mereka adalah keluarga kamu Mi kyong, ini adalah flash back kamu saat kamu masih kecil
Nindira
Do Hyun cepat sembuh ya Joon woo sangat mengkhawatirkanmu, dia bahkan menyayangimu seperti anak kandungmu sendiri
Nindira
Pak ae ri kaya anak kecil jingkrak2kan gitu
Elisabeth Ratna Susanti
taburan like 👍
Elisabeth Ratna Susanti
taburan like 👍👍
Noviyanti
wah mi kyong dah tamat... terharu mereka akhirnya bisa di pertemukan.
Noviyanti
apakah hasil Dna nya.. sudah pasti mi kyong anak pauline
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!