Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 25
Bab 25: Watini Keguguran
Bu Yati tidak menjawab pertanyaan Guntur malam itu.
Ia hanya menepuk punggung anak bungsunya pelan, lalu menyuruhnya menyalakan motor lagi. Ada beberapa rahasia yang kalau dibuka terlalu cepat, bukan membuat orang mengerti, melainkan membuat mereka takut. Guntur diam sepanjang jalan pulang. Sejak malam Bunga ditemukan, anak itu tidak lagi banyak membantah. Ia tetap bermulut tajam, tetapi matanya mulai sering memperhatikan hal-hal kecil yang dulu ia abaikan.
Seminggu kemudian, ketika luka di pelipis Bunga mulai mengering dan Joko masih bolak-balik mengurus pemeriksaan, rumah Keluarga Prawiro meledak dengan cara yang lain.
Anto sedang mencuci motor milik Pak Wiro di halaman belakang ketika Sumiyem berdiri di ambang pintu dapur sambil memegang buku catatan belanja.
"Mas Anto, gajimu bulan ini sudah masuk, kan?"
Air sabun menetes dari jari Anto. Ia menoleh pelan. Sejak pindah ke rumah mertuanya, ia jarang dipanggil "Mas" dengan nada hormat. Di rumah ini, panggilan itu lebih sering terdengar seperti orang memanggil tukang.
"Sudah, Bu."
"Transfer semua ke rekeningku. Kebutuhan rumah banyak. Kamu tinggal di sini, makan di sini, anakmu kami bantu urus. Jangan cuma numpang badan."
Anto menelan ludah. "Semua, Bu? Saya perlu pegang sedikit buat ongkos."
Sumiyem mendengus. "Ongkos apa? Kerja dijemput teman, pulang naik motor rumah. Rokok juga masih minta sama Pak'e. Laki-laki kalau tinggal di rumah mertua itu harus tahu diri."
Kalimat itu menampar lebih keras daripada air sabun yang masuk ke mata.
Dulu, ketika masih tinggal di rumah Pak Tono, Anto pernah mendengar Watini berkata hampir sama kepada Bu Yati. Ibu harus tahu diri, ikut anak jangan banyak mau. Ibu tinggal di rumah anak, makan dari uang anak. Saat itu Anto diam saja, bahkan merasa istrinya benar. Sekarang ucapan itu berputar, mencari pemilik baru, lalu menempel di dahinya.
Di dapur, Watini mendengar semuanya.
Perutnya yang mulai terlihat kecil itu terasa mengeras. Ia sedang memotong tempe, tetapi pisau di tangannya berhenti di udara. Ibunya memakai nada yang dulu diajarkan kepadanya. Nada untuk membuat orang tua merasa bersalah. Nada untuk membuat orang yang butuh tempat tinggal menunduk.
"Mak," Watini berkata dari dapur, suaranya tipis tetapi tajam. "Gaji Mas Anto tidak bisa semua Mak ambil."
Sumiyem menoleh cepat. "Lho, kamu sekarang membela suami?"
"Aku bukan membela. Aku cuma bilang, kami juga perlu uang. Jar butuh susu. Aku kontrol kandungan. Masa semuanya Mak pegang?"
"Susu Jar, kontrolmu, makanmu, listrikmu, siapa yang bayar? Rumah ini rumah bapakmu. Kamu pikir tinggal di sini gratis?"
Watini tertawa pendek. Tawa itu kering, tanpa senang. "Dulu Mak yang ngajari aku bilang begitu ke Bu Yati."
Wajah Sumiyem berubah. "Jaga mulutmu."
"Sekarang Mak pakai ke aku?"
Di sudut ruang tengah, Fajar sedang menyusun mobil-mobilan plastik. Anak empat tahun itu menoleh, tetapi belum paham mengapa suara orang dewasa tiba-tiba berubah kasar.
Pak Wiro duduk di kursi bambu dengan koran terlipat di tangan. Ia tidak langsung bicara. Matanya hanya bergerak dari istri ke anak perempuan, menghitung mana yang lebih merugikan kalau dibiarkan.
Watini meletakkan pisau. "Mak bilang dulu, kalau mertua lemah, tekan saja. Kalau suami bingung, suruh pilih istri. Kalau ada uang, ambil dulu sebelum orang lain ambil. Sekarang aku pulang ke rumah sendiri, malah Mak memperlakukan aku seperti pembantu."
"Rumah sendiri?" Sumiyem tertawa tinggi. "Sejak kapan kamu punya rumah ini? Kamu sudah menikah, Tin. Rumahmu ya ikut suami. Tapi suamimu tidak punya rumah, tidak punya tabungan, bisanya numpang ke sini. Kalau tidak mau diatur, keluar."
Anto mematikan keran. "Bu, jangan begitu. Tin sedang hamil."
"Kamu diam!" bentak Sumiyem. "Semua ini karena kamu tidak becus jadi laki-laki."
Anto langsung terdiam. Wajahnya merah, tetapi kebiasaannya menelan malu lebih kuat dari keberaniannya.
Watini menatap suaminya. Dalam tatapan itu ada marah, kecewa, juga ketakutan. Dulu ia menyukai Anto karena mudah diarahkan. Laki-laki seperti itu nyaman untuk istri yang ingin menang. Sekarang, laki-laki yang sama berdiri basah di halaman, tidak bisa melindungi uang gajinya sendiri, tidak bisa membela istrinya di depan ibu mertua.
"Mak mau semua uang?" Watini mengambil napas. "Silakan. Tapi jangan harap Tanto bisa nikah tenang."
Nama itu membuat suasana berhenti.
Dari kamar depan, Tanto muncul dengan kaus tanpa lengan dan rambut berantakan. Ia baru bangun siang, padahal matahari sudah tinggi. "Kenapa bawa-bawa aku?"
Watini berbalik. "Karena Mak ngatur hidupku, aku juga bisa ngatur hidupmu. Setiap kali kamu bawa calon istri ke rumah, aku akan ceritakan semuanya. Kamu malas kerja, suka pinjam uang, suka main tangan. Aku akan bilang ke mereka, jangan mau masuk keluarga ini."
Tanto melangkah maju. "Mbak, jangan ngawur."
"Takut?" Watini menunjuk wajahnya. "Waktu Bu Yati datang dulu, calonmu kabur karena tahu kelakuanmu. Kalau perlu, aku ulangi lagi. Satu per satu."
Sumiyem memukul meja. "Tin!"
"Apa? Aku anak perempuan, jadi boleh diperas? Tanto anak laki-laki, jadi semua ditutup-tutupi?" Watini meraba perutnya sendiri. "Kalau anak di perutku perempuan, nanti Mak buang juga?"
Mata Tanto gelap. "Mbak kebanyakan omong."
Anto maju setengah langkah. "To, sudah."
Tetapi suara Anto tidak punya gigi.
Tanto mendorong kakaknya.
Dorongan itu tidak terlihat kuat pada awalnya. Hanya satu hentakan bahu. Namun Watini sedang berdiri di dekat meja makan. Tumitnya tersangkut kaki kursi, tubuhnya oleng, lalu pinggangnya membentur sudut meja dengan bunyi tumpul.
"Aduh!"
Fajar langsung menangis. "Mak!"
Watini jatuh terduduk. Wajahnya pucat seketika. Satu tangan memegang perut, tangan lain mencari pegangan di lantai.
"To!" teriak Pak Wiro akhirnya.
Tanto sudah terlanjur merah mata. "Dia yang cari gara-gara!"
Ia menunduk seperti hendak menarik Watini berdiri, tetapi gerakannya kasar. Watini menepis. "Jangan pegang aku!"
Tamparan Tanto mendarat di pipi kakaknya.
Anto berlari dari halaman. "Tanto!"
Tanto mendorong Anto juga. Laki-laki itu terpeleset sabun di lantai dekat pintu dan jatuh menabrak ember. Air kotor tumpah ke ubin.
Watini mencoba merangkak menjauh. Tanto menahannya dengan lutut dan tangan, menekan tubuhnya ke lantai sambil memukul bahunya. Gerakannya kacau, penuh amarah bodoh, tetapi cukup untuk membuat semua orang di ruangan itu membeku.
"Jangan ancam aku lagi!" teriak Tanto.
Watini menjerit. Jeritannya berbeda dari jeritan saat bertengkar. Ini suara orang yang takut pada tubuhnya sendiri.
"Perutku... Mak, perutku sakit!"
Sumiyem yang tadi galak mendadak pucat. Ia melihat kain Watini mulai basah di bagian bawah. Tangannya gemetar, buku catatan belanja jatuh ke lantai.
"Ya Allah, Tin..."
Pak Wiro menarik Tanto dengan kasar. "Bodoh! Lepas!"
Anto bangkit tertatih. Begitu melihat wajah Watini, semua kemarahannya hilang diganti panik. "Mbak? Tin? Tin, lihat aku!"
Watini menggenggam lengannya. Kukunya menancap. "Mas... sakit..."
Fajar menangis keras di pojok, memeluk mobil plastik merahnya. "Mak jatuh... Om Tanto jahat..."
"Diam, Jar!" bentak Sumiyem, lalu segera menyesal karena anak itu makin meraung.
Pak Wiro bergerak paling cepat. Bukan karena hatinya paling lembut, melainkan karena ia tahu bencana ini bisa menghancurkan nama keluarga. Ia menyambar kunci motor dan berteriak kepada Anto, "Angkat dia. Bawa ke rumah sakit. Sekarang."
Tanto berdiri kaku, napasnya tersengal. "Pak, aku nggak sengaja."
Pak Wiro menampar belakang kepalanya. "Mulutmu tutup."
Di jalan menuju rumah sakit, Watini setengah sadar di pangkuan Anto di jok belakang becak motor sewaan. Sumiyem duduk di samping pengemudi, mulutnya komat-kamit membaca doa, tetapi matanya terus melirik kain yang menutupi lutut Watini. Pak Wiro menyusul dengan motor, membawa Fajar yang masih menangis dan memanggil ibunya.
Anto memegang bahu Watini dengan kedua tangan. Tubuh istrinya terasa terlalu ringan, terlalu lemas. Ia ingin berkata semuanya akan baik-baik saja, tetapi kalimat itu tersangkut. Ia tahu tidak semua hal bisa baik-baik saja hanya karena laki-laki berkata demikian.
Di IGD, perawat langsung membawa Watini masuk. Anto hendak ikut, tetapi ditahan di luar.
"Suami tunggu di sini. Kami periksa dulu."
Pintu tertutup.
Lorong rumah sakit siang itu berbau antiseptik dan nasi bungkus dari kantin. Suara roda brankar melintas sekali-sekali. Anto duduk di kursi plastik, baju bagian depannya basah oleh air sabun dan keringat. Di telapak tangannya masih ada bekas kuku Watini.
Sumiyem duduk jauh darinya. Untuk pertama kali sejak Anto tinggal di rumah itu, perempuan itu tidak berani memerintah.
Pak Wiro datang setelah memarkir motor. Ia menurunkan Fajar ke kursi, lalu menatap Tanto yang berdiri di dekat dinding. Tanto ikut datang dengan wajah pucat, tetapi masih menyimpan sisa keras kepala.
"Dengar semua," kata Pak Wiro pelan.
Anto mengangkat kepala.
"Kalau dokter tanya, Tin jatuh sendiri. Lantai licin. Dia terpeleset dekat meja."
Anto seperti tidak mendengar. "Apa?"
Pak Wiro menatapnya tajam. "Kamu mau adik iparmu masuk penjara? Mau semua orang tahu rumah kita ribut sampai anak dalam kandungan hilang?"
"Tapi dia yang dorong."
"Tidak ada yang lihat jelas."
Fajar yang sedari tadi sesenggukan tiba-tiba berkata, "Jar lihat."
Semua orang menoleh.
Anak kecil itu mengusap hidung dengan punggung tangan. Matanya merah. "Mama ditendang Om Tanto."
Wajah Tanto langsung berubah. "Aku tidak menendang!"
"Om Tanto dorong Mama. Terus naik. Mama nangis." Fajar memeluk mobil plastiknya makin erat. "Jar takut."
Sumiyem cepat-cepat meraih tangan cucunya. "Jar, jangan ngomong sembarangan. Mama jatuh, Nak. Lantai licin."
Fajar menarik tangannya. "Nggak. Om Tanto jahat."
Anto menatap anaknya. Sesuatu di dadanya yang selama ini lembek mendadak terasa ditusuk. Anak empat tahun itu berani mengatakan apa yang dilihatnya, sementara ia, orang dewasa dan suami Watini, sudah mulai diajari untuk menelan.
Pintu ruang pemeriksaan terbuka hampir satu jam kemudian. Dokter keluar dengan wajah serius. Ia bertanya, "Suami pasien?"
Anto berdiri terlalu cepat sampai kursinya bergeser.
"Saya, Dok."
Dokter menarik napas. "Perdarahan sudah kami tangani. Kondisi istri Bapak masih lemah dan perlu dirawat. Tapi kandungannya tidak bisa dipertahankan."
Kata-kata itu tidak langsung masuk ke kepala Anto. Ia hanya melihat bibir dokter bergerak, melihat Sumiyem menutup mulut, melihat Pak Wiro memejamkan mata, melihat Tanto mundur satu langkah.
"Maksudnya..." suara Anto pecah. "Anak saya?"
"Kami turut prihatin. Janin sudah tidak ada."
Lorong itu seperti kehilangan suara.
Anto duduk kembali tanpa sadar. Tangannya jatuh di lutut. Ia pernah marah kepada ibunya karena uang, pernah merasa Bu Yati terlalu keras, pernah mengira hidup di rumah mertua akan lebih nyaman karena Watini selalu punya suara besar di sana. Sekarang anaknya hilang di rumah yang katanya melindungi istrinya.
Dan orang-orang yang menyebabkan itu sedang sibuk menyusun cerita palsu.
Ketika akhirnya ia boleh masuk sebentar, Watini terbaring di ranjang dengan bibir pucat. Selang infus menempel di punggung tangannya. Mata yang dulu selalu tajam itu basah, tetapi tidak lagi menyala. Ia seperti seseorang yang baru melihat tembok rumah sendiri runtuh menimpanya.
"Mas," bisiknya.
Anto mendekat. "Aku di sini."
"Anakku..."
Anto menggenggam tangannya. "Maaf."
Watini menggeleng lemah. Air mata mengalir dari sudut matanya ke bantal. "To yang dorong. Mak lihat. Bapak lihat. Jangan biarkan mereka bilang aku jatuh sendiri."
Anto diam.
Diam itu lebih menyakitkan daripada jawaban kasar.
Watini menatapnya, lalu memahami sesuatu. "Kamu takut?"
"Tin, kalau kita lapor, aku... aku tidak tahu nanti kita tinggal di mana. Mereka bisa usir kita. Kerjaku juga..."
"Anakku mati, Mas."
Kalimat itu pelan, tetapi membuat Anto menunduk seperti dipukul.
Di luar ruangan, suara Pak Wiro terdengar rendah berbicara dengan seseorang. Mungkin mengurus administrasi. Mungkin mengatur cerita. Sumiyem sesekali menangis, tetapi tangisnya terdengar lebih takut daripada berduka.
Watini menarik tangan Anto dengan sisa tenaga. Jemarinya dingin.
"Pergi cari ibumu," katanya.
Anto mengangkat wajah.
Watini menahan sakit, tetapi matanya mulai menyala lagi, sedikit, seperti bara di bawah abu. "Cuma dia yang bisa bantu kita."