Arjuna. Dia menikahi seseorang lalu mengabaikannya, tanpa peduli dengan perasaan wanita itu karena hatinya masih tertinggal pada masa lalunya.
_____
“Kenapa, kenapa lama sekali aku menunggu kamu untuk melihat ke arahku, Mas?”
Arjuna seakan tertampar mendengar ucapan Danita.
_____________
Cover by Pinterest
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NIZAP02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDT 18
...***...
Danita mengerjapkan matanya ketika mendengar suara alarm dari ponselnya. Jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, hampir saja dia kesiangan.
Saat bangun kepalanya sedikit pusing, tenggorokannya terasa kering, tubuhnya juga tidak begitu nyaman. Kedua kakinya pegal. Mungkin efek kehujanan tadi malam dan juga jalan kaki. Dilihatnya sisi tempat tidur kosong, tidak ada keberadaan Arjuna di sana. Mungkin suaminya tidur di ruang kerjanya lagi.
Danita melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Dia hanya mencuci muka dan menyikat gigi, jika mandi pasti memakan waktu lebih lama. Saat dia melihat kaca wastafel, matanya terlihat sembab karena menangis semalaman. Wajahnya juga terlihat kuyu.
Hatchih!
Sepertinya aku terkena flu.
Setelah selesai dia turun ke bawah dan menyiapkan sarapan pagi untuk Arjuna. Setelah sarapan sudah siap, dia kembali ke kamar mempersiapkan pakaian untuk Arjuna.
Sambil menunggu Arjuna selesai mandi, Danita membuka room chat bersama rekan-rekannya. Hari ini kebetulan teman-temannya mengajaknya bertemu, makan bersama sebagai tanda perpisahan sebelum Danita berhenti dari pekerjaannya. Ya, Danita memutuskan untuk berhenti bekerja.
Begitu melihat Arjuna turun, Danita dengan sigap mengambil piring dan menyiapkan makanan untuk Arjuna.
“M-mas, nanti aku mau izin ketemu sama teman-temanku ya. Kebetulan mereka ngajakin makan bareng,” ujar Danita ragu.
“Terserah, saya enggak peduli.” Jawab Arjuna dingin.
Keduanya kembali makan.
“Mas, aku memutuskan untuk resign dari tempat kerjaku.”
Arjuna meletakkan sendok yang dipegangnya dengan sedikit kasar, lalu menatap Danita dengan tatapan dingin.
“Kamu mau apapun terserah, saya enggak peduli. Jadi berhenti untuk kasih tahu apapun yang kamu lakukan kepada saya,” Arjuna bangkit dari tempat duduknya meninggalkan Danita seorang diri.
Danita mengehala napasnya melihat kepergian sang suami.
...***...
“Mbak, pasti bakalan seru lagi kalau enggak ada Mbak Nita.”
“Halahh, bilang aja enggak ada yang mau dengerin curhatan tentang gebetan Lo kan,”
“Berisik Lo, upil kering!”
“Sialan! Ganteng-ganteng gini dibilang upil.”
Inel pura-pura ingin muntah mendengar kenarsisan Dimas.
“Dasar nenek grandong.”
Inel dan Dimas berdebat saling melontarkan kata-kata ejekan.
“Aku bakalan pusing sama mereka kalau enggak ada kamu, Nit.” Ujar Tami geleng-geleng kepala.
Danita tergelak, “tapi aku pasti bakalan kangen banget sama suana ini.”
“Kamu kenapa berhenti sih, Nit? Enggak boleh kerja ya sama suami kamu, karena dia yang punya perusahaan gede.”
Danita menggelengkan kepalanya.
“Enggak kok Mbak Tam, aku memang mau berhenti aja.”
“Oh, aku tahu. Mbak Nita mau program baby ya?” ujar Inel dengan cengiran lebarnya menggoda Danita.
Meskipun agak terkejut dengan perkataan Inel, tapi dia segera memperbaiki raut wajahnya.
“Ish, enggak. Mbak memang mau berhenti aja, pengen full di rumah. Jadi ibu rumah tangga.”
“Mbak Nita mau berhenti mahh, enggak masalah. Suaminya tebel dompetnya, bos lagi. Kalau gue yang berhenti, auto makin kismin.”
“Iya, udah kismin, jomlo, hidup lagi.”
“Wah, dasar. Mirror please, tuh ... Gede.” Dimas menunjuk kaca restoran.
Tami dan Danita tergelak mendengar keduanya kembali berdebat.
Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang. Dan keempatnya tenggelam dalam obrolan-obrolan konyol.
““Nit, kamu beneran enggak apa-apa. Muka kamu pucet banget loh, ini. Mau dianterin aja enggak?” ujar Tami dengan raut wajah khawatir.
“Aku enggak apa-apa kok, Mbak. Nanti aku mampir di Apotek buat beli obat pusing, mungkin karena kehujanan tadi malam badanku jadi meriang gini. Aku kebetulan naik taksi, jadi enggak perlu khawatir.”
Sebenarnya dari tadi kepalanya semakin pusing, hanya saja dia tidak mau merepotkan teman-temannya.
“Ya udah, aku pulang dulu ya. Sudah sore, anak-anak pasti rewel.”
“Iya, Mbak Tam. Hati-hati ya,”
Tami berpamitan, melangkah kakinya pergi keluar restoran. Menyusul Inel dan Dimas yang sudah pergi lebih dulu.
Danita mengehala napasnya anak. Dia juga ingin memilikinya, tapi mengingat sikap suaminya yang masih dingin terhadapnya. Pikirannya kembali melayang pada pertemuan kemarin di rumah mertuanya. Merek juga sama ingin kehadiran seorang cucu.
Lagi-lagi Danita mengehala napasnya. ponselnya bergetar karena pesan masuk dari sang ibu yang menanyakan kabarnya.
Setelah Danita membalas pesan ibunya, dia memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas. Kemudian berjalan keluar dari restoran untuk menyetop taksi, kepalanya semakin pusing dan berputar putar. Perlahan pandangan matanya semakin buram hingga tiba tiba terjatuh tidak sadarkan diri, beruntung seseorang menangkap tubuhnya sebelum tersungkur di depan restoran.
...***...
Arjuna tengah disibukkan dengan kertas kertas laporan di atas mejanya, tapi pikirannya justru sedang memikirkan tentang pernikahannya dengan Danita.
“Lo mau sampai kapan, terus terusan nyakitin perasaan istri lo, Jun?” ujar Aldo yang sudah duduk di sofa di ruangan Arjuna.
“Maksud lo apa?”
“CK, pake pura-pura enggak ngerti. Lo itu udah nyakitin perasaan Danita, istri yang sampai sekarang bertahan meskipun enggak Lo anggap dan selalu lo abaikan. Udah lah, Jun. Lupain Reni, dia toh, udah bahagia sama suaminya. Lo juga seharusnya begitu,"
Aldo bukannya tidak tahu tentang rumah tangga temannya itu. Awalnya dia pikir Arjuna akan berubah perlahan dan mencintai istrinya, tapi hampir satu tahun pernikahan mereka. Arjuna masih saja berkubang dengan masa lalunya, menyianyiakan seorang wanita yang mencintainya.
“Gue udah bahagia,” jawab Arjuna tanpa mengalihkan matanya dari tumpukan kertas di tangannya.
“Dengan cara nyakitin perasaan Danita? Gue tahu Lo, masih cinta sama Reni. Tapi tolong jangan libatkan orang lain, apalagi sampai nyakitin perasaan Danita. Kalau memang Lo enggak cinta sama dia, lebih baik lepasin dia dan biarkan dia bahagia.”
Arjuna terdiam.
“Masih banyak laki laki yang mau sama dia, termasuk gue. Gue sanggup kok, buat Danita bahagia. Dari pada Lo, suaminya yang bikin dia nangis terus.”
Aldo belum segila itu, dia hanya ingin tahu apakah sahabatnya ini memang tidak memiliki perasaan sama sekali terhadap istrinya.
Rahang Arjuna mengetat mendengar ucapan Aldo.
“Brengsek! Maksud lo apa?” Arjuna menatap tajam ke arah Aldo.
“Loh, bener kan, kata gue. Daripada lo nyianyiain wanita sebaik dia, lebih baik buat gue aja. Lebih brengsek mana coba? Gue atau lo, laki laki yang hampir setahun nikah tapi selalu bikin istrinya sengsara karena enggak bisa move on dari mantan pacar.
Lo masih sibuk sama masa lalu, sampai sampai lo buat Danita enggak bahagia dengan pernikahan kalian. Hargai selagi dia masih ada Jun, manusia itu ada batas sabarnya. Giliran dia sudah enggak ada lagi di sisi lo, baru deh nyesel. Penyesalan itu selalu datangnya belakangan,” setelah mengatakan hal itu, Aldo keluar dari ruangan Arjuna.
Ucapan Aldo menohok Arjuna. Arjuna mengacak-acak rambutnya. Rahangnya mengeras mengingat semuanya perkataan sahabatnya.
Ponselnya bergetar karena ada panggilan masuk.
Danita.
Tumben sekali menelpon di jam segini. Bukankah hari ini dia sedang pergi ke luar.
“Ada ap_”
“Apa benar ini dengan suaminya?”
Suara seorang pria.
“Benar, anda siapa? Kenapa ponsel istri saya ada pada anda.”
“Begini, istri anda saat ini sedang berada di rumah sakit karena di rawat. Tadi dia sempat tidak sadarkan diri.”
Tubuh Arjuna kaku.
“Halo, halo Tuan?”
“Y-ya, di rumah sakit mana?”
“Siloam.”
“Baik, saya akan segera ke sana.”
Setelah mematikan teleponnya, Arjuna keluar dari ruangan dengan tergesa-gesa. Mengendari mobilnya menuju rumah sakit tempat Danita berada.
...****...