NovelToon NovelToon
Cinta Pertama

Cinta Pertama

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintapertama / Ketos / Tamat
Popularitas:71.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rhirie Fitrii

"Andai semua seindah saat pertama kali kita jatuh
cinta..."

Molly dan Getta adalah teman sekelas yang baru ngerasain cinta pertama mereka di penghujung SMP. Tapi, Chika, sahabat Molly satu-satunya, bikin perasaan mereka nggak pernah terungkapkan sampai hari kelulusan. Walaupun ketemu lagi di tahun kedua di SMA saat Getta memutuskan pindah ke sekolahnya Molly, mereka tetap aja belum bisa jadian. Molly yang baru sadar kalau ia mengidap disleksia makin jadi penyendiri dan sering dibully sama yang lain, sedangkan Getta udah semakin dekat sama Chika.

Episode kedua cinta pertama Molly dilanjutkan dengan hadirnya teman-teman bermasalah - Lara, the most hated person yang pacaran diam-diam sama Pak Heru, guru terkeren di sekolah, Jonas yang ngejar-ngejar Lara setengah mati dan punya andil dalam usaha Chika memisahkan Molly dan Getta, serta Yuna, maniak K-Pop yang naksir Getta, plus sang Kakak kelas keren, Richard, yang kayaknya suka sama Molly. Nggak lengkap rasanya dengan perjuangan Chika yang berusaha agar Getta benar-benar menjadi miliknya.

Mereka meramaikan hari-hari Molly yang alot untuk dapat menyatakan cinta pada Getta dan memenangkan hatinya dari Chika sebelum kesempatan keduanya kandas....

(Karya ini hanyalah fiktif belaka jika ada kesamaan nama tokoh dan tempat saya mohon maaf)

ooOoo

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhirie Fitrii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 17

...Plastic Girls...

Kosong!

Ruang keseniannya kosong.

Richard bilang dia selalu ke sini kalau istirahat siang. Tapi, seperti biasanya, ruangan ini kosong. Molly yang tadinya semangat mau bilang terima kasih -secara nggak langsung bikin Mama-nya nggak menyerah akan dirinya, sekarang jadi lemas.

Mau cari Richard ke mana? Molly sama sekali nggak tahu Richard di kelas mana. Lagian kalau masuk ke areanya anak kelas tiga pasti bakal di-bully sama anak-anak jahil yang sok senior. Soalnya kejadian itu sering terjadi sama anak-anak yunior.

Tapi, nggak nyangka juga, Molly menemukan beberapa di antaranya di ruang kesenian. Mereka baru aja masuk. Memandangi keempatnya, Molly merasa nggak mengenal satupun di antara mereka. Terkejut, Molly mencium kemarahan pada cewek-cewek itu. Nggak tahu kenapa, Molly merinding begitu salah seorang dari mereka menghampiri -seorang cewek, rambutnya panjang banget dan lebih tinggi dari Molly. Cantik sih, tapi karena marah jadi kelihatan nyeremin.

"Nyari Richard ya?" tanya dia, bertolak pinggang -ala cewek-cewek nyebelin yang biasa kita lihat jadi pengganggu di film-film.

Molly mundur beberapa langkah tapi tiba-tiba diseret.

"Sini lo!" cewek itu menyeretnya, mendorongnya ke arah teman- temannya dan mereka menyambut tubuh Molly yang lemah dengan seringai menakutkan.

Mulut Molly dibekap pake tangan, kedua tangannya di tekuk di belakang. Ia dipaksa berjalan di depan, sementara cewek jahat yang memegangi tangannya berteriak padanya supaya nggak melawan. Dua di antara celingak-celinguk di sepanjang lorong, memastikan nggak ada orang yang bakal melihat kelakuan mereka.

Molly terus-terusan menjerit minta tolong, tapi suaranya tertahan. Ia ketakutan. Apa sih salahnya? Apa sih yang dia lakukan sampai cewek- cewek ini menjahatinya? Molly cuma nggak tahu mereka adalah Karina, Jessica, Adel dan Vina -geng cewek penindas cewek-cewek.

****

"Gue nggak percaya cewek begok kayak lo, berani deketin cowok gue!" cerca si rambut panjang, setelah Molly di lempar ke dinding toilet. Ia tampak nggak puas meski melihat Molly ketakutan setengah mati. Ia menarik lengan Molly lagi, mendorongnya ke kaca. "Lo ngaca nggak sih?!"

Kedua temannya tengah berjaga-jaga di depan pintu memastikan nggak ada yang bakal masuk ke toilet cewek -dimana Molly bakal disiksa atas kesalahan yang nggak dia sadari.

Molly hanya meringis kesakitan -tubuhnya dibanting sana-sini. Tapi, ia tetap nggak mengerti kenapa mereka segitu marahnya. Molly nggak merasa mendekati cowok mana pun.

"Cewek jelek kayak lo bener-bener bikin gue jengkel!" teriaknya lagi di telinga Molly. "Pede banget lo godain Richard kayak dia bakal mau sama lo!"

Molly menggeleng-geleng -berharap cewek ini mengerti kalau kemarin Richard cuma mengantar pulang dan nggak ada yang lebih dari itu. Lagian mereka baru tiga kali ketemu. Kenapa Molly dipaksa terima kalau dia itu mengganggu?

"Lihat nggak sih kayak gimana tampang lo? Lo tuh cupu banget!" teriaknya lagi dan salah seorang temannya memegang selang air.

****

"Eit!" seorang cewek terlihat menghalangi jalan, bersama seorang temannya yang berdiri di depan pintu -membuat pertahanan ala anak kelas tiga yang sok berkuasa. "Lo nggak boleh masuk"

"Minggir!" Lara bertolak pinggang di depan keduanya dengan berani.

"Emang lo berdua tukang jaga toilet apa?"

"Lo dilarang masuk, denger nggak sih?!" seorang lagi menantang Lara dengan maju selangkah.

"Lo berdua emang bego ya? Mau aja ngekorin Karina kemana-mana kayak pembokat," celetuk Lara sinis.

"Diem lo! Udah tinggal kelas masih aja belagu!" cetus salah satunya mendorong Lara menjauh.

Lara mundur beberapa langkah sebelum dia bergerak secepat yang dia bisa, menembus dua cewek itu, melewatinya dengan balas mendorong mereka lebih kuat.

Meskipun agak melelahkan, tapi ia berhasil masuk dan terkejut melihat Karina -mantan teman sekelasnya dulu tengah mem-bully seseorang.

"Lara!" jerit Adel menyeruak ke dalam dengan kesal, ingin kembali menyeret Lara keluar.

Lara terlanjur menemukan Molly baru saja disemprot air sama Karina. Dia basah dan menangis, meringkuk di sudut toilet. Bikin Lara jadi gusar. Begitu Adel mendekat ingin menariknya keluar, ia mendorongnya lebih dulu, mengenai Vina. Mereka jatuh, menghempas pintu yang nggak tertutup. Berakhir memalukan di lantai dengan teriakan sakit.

"Lihat siapa yang datang. . .," Karina menyeringai, lepas dari rasa terkejutnya sendiri, ia kelihatan nggak takut sama amarahnya Lara. "Lara Sophia, si cantik yang nakal. . ."

"Makasih," ucap Lara sinis. "Tapi, lo bisa lepasin dia nggak?"

"Oh?" Karina bertolak pinggang. "Apa urusannya sama lo?"

"Gue bilang lepasin," kata Lara dengan suara tenang, tapi tatapan matanya menyampaikan ancaman yang sungguh-sungguh. Mendekat selangkah, Karina mundur, merasakan hawa yang mengerikan Lara yang sudah dia kenal sebagai cewek brutal -bahkan lebih brutal darinya.

Gimana pun Lara pernah hampir dikeluarkan dari sekolah karena berantem. Dia selamat karena mendapatkan pembelaan dari Pak Heru. Dan itu pun masih gara-gara orang yang sama -Karina yang dikenal sebagai cewek sombong.

"Enggak!" teriak Karina menantangnya. "Kalau gue nggak mau lepasin, lo mau apa?"

Lara benar-benar nggak bisa menahan amarahnya lagi. Dia merampas selang air dari tangan Jessica dalam hitungan detik dengan memukul mundur cewek itu sampai ia menghempas wastafel dan jatuh kesakitan di lantai. kedua temannya yang lain -Adel dan Vina, berlari ke arahnya karena mendengarnya menjerit. Mereka menyaksikan sendiri bagaimana Lara menyemprot Karina tanpa ampun.

Mereka boleh menguasai seisi sekolah dengan menindas cewek-cewek lemah -termasuk Molly. Tapi, sampai sekarang nggak satupun yang bisa mengalahkan Lara.

****

"Apa salahnya lo teriak sama mereka kalau lo nggak suka?!" Lara masih marah. Berjalan terburu-buru di depan ia kelihatan belum bisa meredakan amarahnya sejak mereka meninggalkan toilet begitu Karina dan teman- temannya ngabur. "Gue nggak ngerti kenapa lo biarin orang-orang itu semena-mena sama lo!"

Molly cuma meringis, melangkah terseok mengikuti Lara kembali ke kelas. Dengan seragam yang basah sekali, ia dipelototin sepanjang lorong sama anak-anak lain. Gimana jadinya kalau ia masuk kelas dengan keadaan begini? Pelajaran sebentar lagi juga mulai. Molly sangat ketakutan dan bingung. Sementara Lara nggak bisa berhenti memaki- maki saking kesalnya melihat Molly yang pasrah diperlakukan nggak adil.

Jaman sekarang masih ada ya orang sebegok ini?, Lara masih mendecak kesal saat ia tiba di kelas.

Semua orang memandangi ekspresinya yang kesal itu. Lalu mereka kaget begitu Molly masuk.

Cewek itu terdiam di depan pintu dan menggigil kedinginan.

Hampir semua siswa udah duduk di kursi masing-masing dan melihat ke arahnya.

"Molly?!" Getta berdiri dari kursinya tiba-tiba, diikuti Jonas yang nggak kalah syok.

Molly masih terdiam, menangis. Nggak bisa berhenti meneteskan air matanya.

"Dia dikerjain sama anak kelas tiga di toilet," kata Lara merengut sambil menghela nafas.

Yuna menghampiri. "Lo nggak apa-apa?" tanya dia memandangi Molly kasihan.

"Nggak apa-apa gimana?" cetus Lara. "Lo lihat nggak sih dia nyaris mati berdiri!"

Yuna mengernyit, cewek ini luar biasa garang!

"Ini nggak bisa dibiarin, kita harus lapor guru," kata Getta pada yang lain. Mereka keluar dari kelas bersama, membawa Molly serta.

****

Richard masuk, dia tampak merasa bersalah juga bingung. Kenapa masalahnya bisa jadi begini? Di ruangan guru ia melihat ke empat cewek yang biasa mengganggunya -Karina, Jessica, Adel dan Vina. Mereka semua terlihat berantakan. Ditambah Molly yang juga acak-acakan dan Lara yang tampak menahan amarah. Mereka sedang berhadapan sama Pak Heru, Bu Yanti-guru konseling dan Bu Sandra -wali kelas Karina cs.

"Richard, apa kamu tahu apa yang terjadi saat istirahat siang?" tanya Bu Riana, di balik kaca mata besarnya, tatapannya terlihat jengkel. Entah ke berapa kalinya ia harus menangani masalah yang selalu berhubungan sama Karina dan Richard.

"Saya sama sekali nggak tahu, Bu," jawab Richard. "Saya juga kaget kenapa bisa jadi begini"

"Karina!" panggil Bu Yanti, menatap cewek itu lekat-lekat hingga merinding. Di sekolah yang isinya anak-anak bandel semua harus ada guru yang menakutkan supaya mereka nggak berbuat nakal -apalagi mem-bully teman sendiri. "Kali ini, kamu mau bilang apa untuk membela diri?"

Karina tertunduk, terbayang sudah setelah ini orang tuanya bakal dipanggil, dimarahi dan dihukum. Semua gara-gara cewek dungu itu!, katanya dengki sambil melirik ke arah Molly yang masih memeluk dirinya yang kedinginan. "Sa. . .saya. . .dipukul Lara, sakit banget. . .," katanya.

"Kalau kamu tahu sakitnya dipukul kenapa kamu menyeret Molly ke toilet?" balas Bu Yanti.

"Tapi, saya nggak mukul dia, Bu. . .," ringisnya, tampak amat kesakitan.

"Iya, kita nggak mukul dia!" seru Adel dan Vina. "Kami juga dipukulin Lara!"

"Diam!" hardik Bu Yanti, sambil memukul meja. "Kalian pikir itu bisa menyelamatkan kalian dari hukuman?!"

Semua terdiam. Nggak ada yang berani menatap Bu Riana langsung ke matanya.

***

1
Ummu Sakha Khalifatul Ulum
Lanjut
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow, fav, & vote sebanyak-banyaknya
total 1 replies
🐤
terima kasih ceritanya kaka author
disini dapat banyak pelajaran hidup jg
kita bisa lebih bersabar dlm menghadapi cobaan hidup karna nantinya buah dari kesabaran itu sendiri yg akan membuat kita bahagia
walaupun memiliki kekurangan tp kita tdk boleh berkecil hati harus tetap bangkit untuk org org di sekitar yg menyayangi kita
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow & favorit ya!!!
total 1 replies
Khanza Orioncraft
terimakasih ka utk karya yg luar biasa ini,selain nostalgia masa sekolah.jg ilmu parenting jg utk sya yg saat ini SDH jd orangtua...Krn mental health itu penting bgt.di masa sekolah ank zaman skrg
🅸🅶@racyun.ciwi: makasih kak, sudah mau mampir jgn lupa follow, vote & favorit ya!!!
total 1 replies
Melanie Kusbandini
aku mampir
🅸🅶@racyun.ciwi: sipoke
total 3 replies
Pia Momo
bagus banget ceritanya kak.. semoga makin banyak yg baca ya,
🅸🅶@racyun.ciwi: Terimakasih kak atas partisipasinya, jgn lupa follow & vote ya!!!
total 1 replies
🅸🅶@racyun.ciwi
Alhamdulillah, terimakasih para pembaca setia. Jgn lupa follow, vote & komen !!! Miss you !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!