NovelToon NovelToon
Meraih Bintang

Meraih Bintang

Status: tamat
Genre:Romantis / Fantasi / Balas Dendam / Tamat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Bunga Lestari bukan siapa-siapa.

Yatim piatu dari desa kecil di Jawa Timur, dia datang ke Jakarta dengan satu tujuan: membalas dendam kepada orang yang menghancurkan keluarganya. Tanpa uang, tanpa koneksi, tanpa pendidikan — yang dia punya hanya tinju dan tekad.

Tapi malam itu, di sebuah gala dinner yang dia coba susup, seorang pria asing menabraknya. Dan tiba-tiba, suara pria itu ada di dalam kepalanya.

Rangga Wicaksana — pewaris keluarga konglomerat, jenius hukum, tampan dingin — jiwanya terjebak di tubuh Bunga. Dia bisa merasakan apa yang Bunga rasakan. Mendengar apa yang Bunga pikirkan. Dan yang paling parah: dia tidak bisa keluar.

"Bantu aku menjatuhkan musuhku," kata Rangga.
"Bantu aku naik ke puncak," kata Bunga.

Perjanjian dimulai. Tapi bagaimana caranya menjaga rahasia, ketika dia bisa merasakan detak jantungmu setiap kali kamu berbohong?

🔥 Ikatan jiwa. Dendam. Cinta yang tak seharusnya. Dan satu gadis kampung yang bertekad meraih bintang — dengan caranya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Bab 028

Bukan Cuma Tangga

Dan besok, Bunga harus memakai sepuluh bohong itu seperti gaun pinjaman yang jahitannya mulai tertarik.

Besok itu datang terlalu cepat.

Rumah salah satu tante Ratih tidak sebesar rumah Prawira, tetapi cukup luas untuk membuat suara sendok kecil di cangkir terdengar seperti pengumuman. Sofa-sofa putih, vas bunga segar, kue lapis premium di piring kaca, dan perempuan-perempuan muda dengan senyum yang bisa mengukur harga tas dari jarak tiga meter.

Bunga datang bersama Melati.

Itu saja sudah membuat beberapa wajah berubah. Tidak banyak, hanya alis naik sedikit, tawa berhenti setengah ketukan, mata saling mencari jawaban. Melati Prawira tidak biasanya datang ke acara kecil seperti ini tanpa alasan keluarga. Dan hari itu alasannya berjalan di sampingnya, memakai blouse hijau tua yang sudah disetrika ulang sampai bekas panasnya hampir hilang.

"Ingat," kata Rangga. "Jangan murah hati dengan informasi."

"Aku tahu."

"Dan jangan terlalu lucu."

"Itu permintaan tidak realistis."

Melati menoleh. "Kamu ngomong sendiri lagi?"

Bunga mengedip. "Latihan napas."

"Napasmu pakai komentar?"

"Versi hemat."

Melati tertawa pelan, tetapi tangannya menyentuh siku Bunga sebentar. Isyarat yang sama seperti di rumah Prawira: aku di sini.

Ratih menyambut mereka dengan senyum manis.

"Bunga, kamu datang. Aku senang sekali."

"Saya sudah bilang datang."

"Dan Melati juga. Wah, lengkap."

Melati tersenyum. "Aku juga diundang, kan?"

"Tentu." Ratih menahan jeda kecil. "Acara ini terbuka untuk teman."

Kata teman itu terdengar seperti benda yang sengaja dijatuhkan untuk dilihat pecah atau tidak.

Mereka duduk. Obrolan awal bergerak dari skincare, restoran baru, sampai rencana charity. Bunga menjawab seperlunya, membiarkan Melati mengambil beberapa bagian. Ia tidak menyentuh kue lebih dari satu potong meski matanya sempat berhenti di lapis legit.

"Makan," bisik Melati.

"Kalau aku gugup, gula bisa membuatku bicara terlalu jujur."

"Kalau kamu lapar, kamu lebih galak."

"Itu juga benar."

Rangga berkata, "Fokus."

Ratih akhirnya meletakkan cangkirnya. "Bunga, aku masih penasaran. Kamu pernah bilang keluargamu dari Jawa Tengah, ya?"

Ruangan tidak langsung sunyi. Perempuan-perempuan yang terlatih tidak pernah terlihat menguping. Mereka hanya melambatkan gerakan sendok dan menurunkan volume tawa.

Bunga menaruh piring kecilnya.

"Saya pernah tinggal di beberapa tempat, Ratih. Keluarga saya tidak serapi daftar tamu."

Senyum Ratih tidak berubah. "Tapi ada latar militer?"

"Ada orang-orang tua yang saya hormati, yang pernah dekat dengan lingkungan purnawirawan."

"Oh, jadi bukan keluarga inti?"

Bunga merasakan ujung kalimat itu seperti kuku.

Rangga berkata, "Jangan bertahan terlalu panjang."

"Saya tidak pernah bilang keluarga saya nama besar," jawab Bunga. "Kalau Ratih mencari nama besar, wajar tidak ketemu."

Seorang perempuan di ujung sofa tertawa kecil, mungkin karena kalimat itu terdengar sopan tetapi menampar.

Ratih memiringkan kepala. "Aku cuma ingin memastikan. Di lingkaran kita, asal-usul penting."

Melati meletakkan cangkirnya sedikit lebih keras dari perlu.

"Di lingkaran kita, sopan santun juga penting."

Senyum Ratih akhirnya menegang.

Bunga menoleh pada Melati. Suara Melati tidak keras. Bahkan agak bergetar. Tetapi ia tidak menariknya kembali.

"Aku hanya bertanya," kata Ratih.

"Dan Bunga sudah menjawab," kata Melati. "Kalau dia tidak mau membuka arsip keluarga di depan kue lapis, menurutku itu haknya."

Rangga diam. Untuk sekali ini, ia tidak perlu memberi instruksi.

Ratih tertawa ringan, memilih mundur satu langkah. "Tentu. Maaf kalau terdengar memaksa. Aku memang suka cerita keluarga."

"Keluarga kadang bukan cerita yang enak dibawa ke acara teh," kata Bunga.

Kali ini ia tidak memakai kalimat Rangga. Kalimat itu keluar dari tempat yang lebih dalam.

Ratih menatapnya, mencoba membaca apakah itu pengakuan, jebakan, atau luka sungguhan. Ia tidak mendapat jawaban jelas. Itu membuatnya makin tidak puas.

Acara itu berlangsung satu jam lagi. Tidak ada serangan terbuka. Ratih hanya sesekali melempar pertanyaan kecil, tentang sekolah, tentang kenalan, tentang bagaimana Bunga bisa dekat dengan Melati. Bunga menjawab pendek. Melati beberapa kali memotong dengan topik lain. Di akhir acara, Bunga merasa seperti baru selesai berjalan di atas bambu tipis.

Begitu mereka masuk mobil, Melati melepas napas panjang.

"Aku mau muntah."

Bunga menoleh. "Kamu? Aku yang diinterogasi."

"Aku menahan diri tidak melempar cangkir."

"Cangkirnya mahal. Sayang."

Melati tertawa, tetapi tawanya cepat habis. Sopir belum masuk. Mereka duduk berdua di kursi belakang, pintu tertutup, AC belum menyala. Udara mobil terasa hangat dan jujur.

"Kamu sering menghadapi itu?" tanya Bunga.

"Apa?"

"Orang tanya sambil tersenyum, tapi maksudnya menusuk."

Melati memandang halaman rumah di luar kaca. "Sejak kecil."

Bunga tidak menyela.

"Orang pikir aku enak. Anak Prawira, rumah besar, sekolah bagus, semua rapi." Melati memainkan tali tas di pangkuannya. "Padahal di rumah, semua orang punya fungsi. Baskara pewaris. Aku..."

Ia berhenti.

"Kamu apa?"

Melati tersenyum, tetapi matanya basah. "Aku cuma alat nikah."

Kata itu jatuh lebih berat daripada cangkir mana pun.

Bunga merasakan sesuatu di dadanya bergerak. Selama ini ia melihat Melati sebagai gadis baik dari rumah besar yang memilih tidak kejam. Ia lupa rumah besar juga bisa punya pintu yang dikunci dari luar.

"Mereka sudah pilih orangnya?" tanya Bunga.

"Belum resmi. Tapi pembicaraannya selalu ada. Anak siapa cocok dengan jaringan mana. Keluarga mana sedang butuh hubungan dengan Prawira. Aku duduk di meja, mereka bicara seolah aku kursi kosong."

Bunga menatap plester di tangannya. "Di kosku, kalau orang bicara seolah aku tidak ada, biasanya karena mereka memang tidak peduli. Di rumahmu, mereka bicara begitu padahal kamu di depan mata."

"Mana yang lebih jelek?"

"Dua-duanya jelek. Kita tidak perlu lomba sengsara."

Melati tertawa kecil, lalu mengusap ujung matanya cepat.

"Kamu aneh, tahu?"

"Itu kata yang sering kupakai sebagai identitas."

"Tapi kamu membuat aku merasa tidak bodoh karena marah."

Bunga tidak langsung menjawab. Ia teringat semua hari ketika ia marah sendirian dan orang menyebutnya tidak tahu diri. Terlalu miskin untuk marah, terlalu kecil untuk menuntut, terlalu tidak penting untuk punya luka.

"Marahmu masuk akal," katanya.

Melati menoleh. "Kamu juga."

Dua kata sederhana itu membuat tenggorokan Bunga panas.

Rangga berkata pelan, "Dia teman yang baik."

"Aku tahu," jawab Bunga tanpa suara.

Melati mengangkat alis. "Apa?"

"Aku bilang, kalau suatu hari aku punya cerita yang sulit dipercaya, kamu jangan langsung kabur."

Melati menatapnya lama. Kali ini ia tidak bercanda.

"Aku mungkin panik dulu," katanya. "Tapi aku tidak kabur."

Sopir membuka pintu depan, membuat keduanya otomatis merapikan wajah. Dunia luar masuk lagi bersama suara mesin.

Namun sesuatu sudah berubah.

Bunga datang ke Jakarta mencari tangga. Hari itu, di dalam mobil panas setelah tea gathering yang manis dan beracun, ia menyadari Melati bukan tangga.

Melati adalah tangan yang tetap memegang sikunya saat lantai mulai retak.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!