NovelToon NovelToon
Suamiku, Pelankan Suaramu!

Suamiku, Pelankan Suaramu!

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Cinta setelah menikah / Antagonis
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Indah Pramana

Saat Meilin Tan membuka mata, dia bukan lagi mahasiswi seni dari Surabaya.

Dia adalah tokoh jahat dalam novel "Terjerat Pesona Kota" — wanita yang ditakdirkan menghancurkan hidup Kevin Halim, pewaris konglomerat yang jenius tapi miskin.

Meilin tahu akhir cerita ini: dia akan menjual Kevin, dihukum, dan hidup sengsara. Tapi bagaimana jika dia mengubah segalanya?

Dimulai dari kos-kosan tua di pinggiran Jakarta, Meilin memilih jalan berbeda. Dia melindungi Kevin, mendukungnya, dan tanpa sadar... jatuh cinta padanya.

Tapi takdir tidak mudah diubah. Keluarga konglomerat Halim menginginkan mereka terpisah. Tiga kali mencoba menikah, tiga kali gagal. Dan ketika Meilin terpaksa melarikan diri dengan rahasia di perutnya, dia harus memilih: menyerah pada takdir novel, atau berjuang untuk cinta yang dia ciptakan sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah Pramana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 035: Menteng

Kevin menanyakan hal yang sama tiga kali sebelum mereka berangkat.

"Kamu yakin ikut?"

Pertama kali, Meilin menjawab sambil memasukkan ponsel ke tas. "Iya."

Kedua kali, dia menjawab sambil memeriksa apakah power bank dan obat lambung sudah masuk. "Iya, Ko."

Ketiga kali, Kevin berdiri di depan pintu apartemen, kunci di tangan, wajahnya terlalu tenang.

Meilin berhenti.

Dia tahu pertanyaan itu bukan tentang keberanian Meilin saja. Itu tentang tubuh Kevin yang masih mencari cara agar tidak membawa orang yang dia cintai ke tempat yang pernah membuatnya merasa seperti barang keluarga.

"Aku ikut," kata Meilin lebih pelan. "Tapi kalau di sana kamu merasa aku harus diam untuk aman, bilang dengan matamu. Kalau aku merasa kamu mulai ditarik sendirian, aku akan bicara."

Kevin menatapnya.

"Itu rencana yang buruk."

"Itu rencana yang realistis."

Untuk pertama kalinya hari itu, sudut bibir Kevin bergerak sedikit.

Mereka berangkat dengan mobil yang disewa Hendry, bukan mobil keluarga Halim. Kevin menolak dijemput.

"Kalau mereka ingin bicara, kita datang sebagai diri kita," katanya.

Rumah besar Halim di Menteng berdiri di balik pagar tinggi dan pohon tua yang dipangkas terlalu rapi. Dari luar, bangunannya tidak berteriak mewah. Justru itu yang membuatnya lebih menekan. Pilar putih, lampu taman kuning hangat, jalan masuk batu alam, dan penjaga yang membuka gerbang tanpa bertanya karena jelas sudah menunggu.

Meilin merasa sepatu datarnya menyentuh tanah yang berbeda.

Di Kemang, kartu akses apartemen terasa seperti pintu kedua.

Di sini, setiap pintu terasa seperti sesuatu yang bisa dikunci dari dalam.

Seorang staf rumah menyambut mereka di teras.

"Tuan Muda," katanya pada Kevin, menunduk sedikit.

Tubuh Kevin menegang.

"Kevin," jawabnya dingin.

Staf itu menunduk lebih rendah. "Tuan Besar sudah menunggu."

Meilin menyimpan kata itu di kepala.

Tuan Besar.

Di dunia ini, beberapa orang bahkan tidak perlu disebut nama untuk membuat orang lain menunduk.

Bryan muncul dari sisi koridor sebelum mereka masuk ruang utama. Rambut merah mudanya kali ini diikat pendek ke belakang, jaketnya lebih rapi daripada biasanya, tapi matanya gelisah.

"Ko," katanya cepat. "Ci Meilin."

"Raymond di dalam?" tanya Kevin.

"Iya. Dan beberapa orang lama Opa. Aku tidak bisa usir."

"Aku tidak minta kamu usir."

Bryan menatap Meilin. Wajah bercandanya tidak muncul sama sekali. "Ci, kalau Opa bicara pelan, jangan kira itu berarti aman."

"Aku sudah diberi banyak peringatan tentang suara pelan keluarga ini," jawab Meilin.

Bryan seperti ingin tersenyum, tapi gagal.

Mereka masuk.

Ruang utama rumah itu luas, dingin, dan terlalu teratur. Lantai marmer memantulkan cahaya lampu gantung. Di satu sisi dinding ada foto keluarga lama, orang-orang dengan jas gelap dan gaun formal, semua tersenyum seperti sedang menahan napas. Di sisi lain ada rak kayu besar berisi piagam, miniatur gedung, dan bingkai silsilah keluarga.

Mata Meilin berhenti pada satu bingkai.

Nama-nama laki-laki tersusun rapi.

Halim Chengyu ada di sana.

Kevin melihat arah pandangnya, lalu tangannya bergerak mencari tangan Meilin. Di rumah ini, gerakan kecil itu terasa seperti perlawanan.

Di ujung ruang, seorang lelaki tua duduk di kursi tunggal. Rambutnya putih, wajahnya tipis, matanya tajam tanpa perlu dibesarkan. Dia memakai kemeja gelap dan cincin giok di jari. Tidak ada tongkat. Tidak ada suara keras. Tapi seluruh ruangan seperti disusun menghadap kepadanya.

Halim Weilong.

Opa Halim.

Raymond berdiri di dekat jendela dengan senyum tipis. Dua pria paruh baya duduk di sofa samping, diam seperti saksi yang sengaja dipasang. Bryan tetap berdiri di belakang, tidak terlalu dekat dengan siapa pun.

Opa Halim tidak langsung melihat Meilin.

Dia melihat Kevin.

"Chengyu."

Kevin berdiri tegak. "Opa."

"Kamu akhirnya pulang."

"Saya datang karena Opa meminta Meilin ikut."

Baru saat itu mata Opa bergerak ke Meilin.

Tidak kasar. Tidak penuh amarah. Lebih buruk. Tatapan itu seperti seseorang menilai barang sebelum memutuskan apakah layak masuk daftar.

"Meilin Tan," katanya.

Meilin menunduk sedikit, cukup sopan, tidak terlalu rendah. "Selamat malam, Opa Halim."

Raymond mengangkat alis, seolah geli mendengar keberanian kecil itu.

Opa menunjuk sofa di depannya. "Duduk."

Ada dua tempat yang disiapkan. Satu sofa tunggal dekat Opa, jelas untuk Kevin. Satu kursi lebih jauh, di samping meja kecil, untuk Meilin.

Kevin melihatnya sekali.

Lalu dia menarik kursi Meilin sendiri dan memindahkannya ke samping kursinya.

Suara kaki kursi bergeser di atas marmer terdengar terlalu keras.

Salah satu pria paruh baya menegang. Raymond tersenyum. Bryan menunduk agar ekspresinya tidak terlihat.

Opa Halim tidak berubah wajah.

"Masih suka mengatur posisi sendiri," katanya.

"Saya belajar dari rumah ini," jawab Kevin.

Untuk pertama kalinya, udara benar-benar terasa tajam.

Meilin duduk di samping Kevin. Dia merasakan lututnya dingin, tapi punggungnya tetap lurus.

Opa melihat Kevin, lalu melihat Meilin lagi.

"Aku dengar mainan kecilmu sudah dapat klien."

"YunMei Tech bukan mainan."

"Semua usaha anak muda terdengar besar di tahun pertama." Opa mengambil cangkir teh, tapi tidak meminumnya. "Yang menarik bukan produknya. Yang menarik, kamu memakai nama perempuan itu."

"Saya memakai nama partner saya."

"Partner." Opa mengulang kata itu seolah mencicipi sesuatu yang asing. "Keluarga ini sudah membangun gedung sebelum kalian lahir. Kamu pikir perusahaan kecil dengan satu pilot client sudah cukup untuk menantang nama Halim?"

"Saya tidak menantang nama Halim."

"Tentu kamu menantang. Kamu memakai kemampuanmu di luar keluarga. Kamu memakai darah Halim untuk membangun sesuatu yang tidak bisa keluarga kendalikan."

Meilin akhirnya mengerti mengapa Kevin begitu membenci rumah ini.

Di sini, bahkan otaknya dianggap aset keluarga.

"Kemampuan Kevin milik Kevin," kata Meilin.

Semua mata bergerak ke arahnya.

Raymond tersenyum lebih lebar. Bryan menahan napas. Kevin tidak menoleh, tapi tangannya menyentuh ujung kursinya, dekat sekali dengan tangan Meilin.

Opa Halim menatap Meilin.

"Kamu bicara tanpa diminta."

"Opa meminta saya ikut," jawab Meilin, suaranya tetap sopan. "Saya kira itu berarti saya boleh menjawab ketika saya disebut."

Senyap.

Lalu Opa tertawa kecil.

Tidak hangat.

"Tidak bodoh."

Raymond berkata pelan, "Berani juga."

Opa mengangkat satu jari. Raymond langsung diam.

Gerakan kecil itu membuat Meilin merinding. Raymond yang di parkiran bisa tersenyum seperti penguasa kecil, di ruangan ini berhenti hanya karena satu jari.

"Kamu tahu berapa utang grup ini?" tanya Opa pada Meilin.

Kevin menegang.

Meilin belum menjawab.

Opa menyentuh map tipis di meja. Staf di sampingnya segera mendorong map itu ke depan, seperti sudah tahu kapan harus bergerak.

Di sampulnya, Meilin melihat namanya.

Meilin Tan.

Rapi. Hitam. Tanpa emosi.

"Raymond terlalu senang bermain," kata Opa. "Tapi bukan berarti semua yang dia temukan tidak berguna. Kalau seseorang ingin berdiri di samping cucuku, aku harus tahu dari mana dia datang, siapa orang tuanya, rumah sakit mana yang pernah mencatatnya, dan pintu mana yang biasa dia pakai."

Kevin berdiri setengah inci dari kursinya.

"Opa."

"Duduk."

Satu kata itu tidak keras, tapi seluruh ruangan menahan napas.

"Lima triliun Rupiah," kata Opa. "Kamu tahu berapa banyak musuh yang menunggu keluarga seperti ini jatuh? Berapa banyak orang yang tersenyum di depan lalu menghitung darah di belakang? Kamu pikir cinta dan lukisan cukup untuk berdiri di tengah itu?"

Meilin merasa angka itu menghantam dadanya.

Lima triliun.

Itu bukan angka dalam hidup normal. Itu angka yang dipakai untuk membuat orang kecil merasa bahkan mimpinya tidak layak dihitung.

"Saya tidak berpikir cinta cukup untuk membayar utang," kata Meilin pelan.

Kevin menatapnya sekarang.

Meilin melanjutkan, "Tapi saya juga tidak berpikir utang memberi siapa pun hak untuk memperlakukan orang seperti aset."

Mata Opa menyipit sedikit.

"Kamu tahu apa tentang aset?"

"Belum sebanyak Opa." Meilin menahan napas. "Tapi saya tahu YunMei tidak menjual data kliennya. Saya tahu nama saya di akta bukan umpan. Dan saya tahu Kevin bukan barang yang harus pulang hanya karena keluarga memanggil."

Raymond tertawa satu kali, pendek dan tajam. "Romantis sekali."

Kevin menoleh padanya. "Diam."

Raymond membuka mulut, tapi Opa kembali mengangkat jari.

Diam lagi.

Opa menaruh cangkir teh di meja.

"Chengyu, kamu selalu menyukai orang yang membuatmu merasa perlu melindungi."

Kevin menjawab, "Saya menyukai orang yang tidak memakai saya."

Kalimat itu tidak keras, tapi Meilin melihat sesuatu lewat di mata Opa. Sesuatu yang lebih dingin daripada marah.

"Keluarga ini tidak menolak perempuan karena dia miskin," kata Opa. "Kami menolak orang yang tidak memahami tempatnya."

"Tempat Meilin di samping saya," kata Kevin.

Opa menatap kursi yang dipindahkan Kevin tadi.

"Di sampingmu hari ini. Besok, ketika sistem pemerintah tidak mengenali namamu? Ketika klienmu hilang? Ketika rumah sakit, notaris, galeri, semua pintu kecil yang dia pakai mulai tertutup? Kamu masih akan memindahkan kursi untuknya satu per satu?"

Meilin merasakan ujung jarinya dingin.

Jadi ini bukan hanya ancaman.

Ini pemberitahuan.

Kevin berdiri.

"Kalau Opa menyentuh identitas saya atau hidup Meilin, saya akan menganggap itu perang."

Opa mendongak sedikit. Untuk pertama kalinya, usianya terasa tidak membuatnya lemah. Justru membuat ancamannya seperti sesuatu yang sudah melewati puluhan tahun dan tetap tajam.

"Perang?" ulangnya. "Dengan apa? Perusahaan kecil? Pacar yang kamu jadikan direktur? Anak-anak muda yang baru mendapat uang pertama?"

Meilin juga berdiri.

Bukan karena dia tahu harus berkata apa.

Karena dia tidak mau Kevin berdiri sendirian di rumah ini.

Opa melihat gerakan itu.

Lama.

Lalu dia memandang Kevin, bukan Meilin, seolah keputusan tentang Meilin tetap hanya perlu disampaikan pada cucunya.

Suaranya tenang.

Terlalu tenang.

"Gadis itu tidak cocok untuk keluarga kita."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!