NovelToon NovelToon
Cuma Seorang Pelayan

Cuma Seorang Pelayan

Status: tamat
Genre:Romantis / Poligami / Tamat
Popularitas:374.1k
Nilai: 4.6
Nama Author: R.Yani

Orang biasa memanggilku dengan nama Nurul. Entahlah siapa nama asliku. Aku tidak tahu... aku tidak ingat. Yang aku tahu, nama Nurul lah yang sudah diberikan orang padaku sejak beberapa bulan lalu.

Aku hanya gadis biasa yang melakukan pekerjaan sehari-hari sebagai seorang PRT. Istilah sekarang sih asisten rumah tangga, tapi kerjaan nya sih enggak ada bedanya dengan istilah lama "PEMBOKAT"

Aku tidak pernah berharap lebih dari kehidupan yang sudah aku terima sekarang, sampai tugas baru membebani ku. Tugas merawat seorang pria dewasa yang sakit.

Aku tidak sanggup melakukan tugasku dengan statusku sekarang... Bukan... aku sama sekali tidak mengharap status... Aku hanya menginginkan legalitas atas apa yang harus aku lakukan...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.Yani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ini serius?

Beberapa saat aku larut dalam dekapan tuan. Melepaskan tangis yang entah kenapa tiba-tiba saja muncul.

Bagaikan bendungan yang sudah tidak mampu bertahan. Air mata begitu saja mengalir membasahi wajahku serta dada tuan. Sebelum dipeluk tuan tadi, aku cuma merasa sedih, lalu terisak. Tapi masih sadar. Eh, setelah dipeluk, aku langsung lost control. Tau-tau aku sudah menangis. Pelukan tuan benar-benar mampu melepaskan emosi yang sudah sekian lama tertahan di hati. Aku benar-benar merasa nyaman dalam rengkuhannya.

"Sudah lega?" Tanya tuan setelah beberapa lama aku menangis. Walaupun masih tersisa isak, tapi otakku sudah mulai bisa bekerja lagi. Aku baru sadar kalau air mataku sudah membasahi baju yang dipakai tuan. Malu-malu aku mulai bergerak sedikit melepaskan diri dari pelukan tuan. Tuan mengikuti gerakan ku dan melepas pelukannya.

" Maaf.... " Ujarku dengan suara sengau, karena hidungku rasanya tiba-tiba mampet. Aku menghapus sisa-sisa air mata dan ingus di hidungku dengan lengan bajuku. Aku tertunduk. Malu, benar-benar malu rasanya. Bagaimana bisa aku lepas kendali dan menangis begitu rupa di depan tuan?

"Jangan minta maaf... kalau ada apa-apa, bicaralah padaku, jangan kamu simpan sendiri..." Ujar tuan sambil mengelus kepalaku. Aku mengangguk.

"Terima kasih tuan... "

"Hem... " Gumam tuan. "Ayo nasinya dihabisin..." Perintah tuan saat melihat makananku belum habis karena keburu nangis tadi. Aku melihat piring punya tuan sudah bersih tandas.

"Tuan enggak nambah lagi...?" Tanyaku sambil menyendok nasi dan mulai makan.

"Enggak, sudah kenyang.." Katanya. Mendengar jawaban tuan, aku pun mempercepat makanku. Aku enggak mau tuan terlalu lama menunggu.

"Jangan buru-buru..." Kata tuan mengingatkan.

Aku mengangguk, tidak berani bicara karena mulutku penuh makanan.

"Alhamdulillah...." Ucapku kemudian saat isi piringku sudah habis, sambil menutup mulut, meredam bunyi sendawa yang keluar karena perutku sekarang sudah kenyang.

"Alhamdulillah... " Sahut tuan. "Ayo sekarang kita kembali ke kamar... " Lanjut tuan sambil menggerakkan kursi rodanya mundur, bersiap untuk meninggalkan ruang makan.

"Tapi tuan... saya belum membereskan meja..." Ucapku spontan saat melihat meja makan belum dirapikan kembali, dan piring kotor bekas kami makan pun belum disingkirkan.

"Sudah, biar nanti mak Surip yang membereskan...." Ujar tuan tidak menghiraukan ucapanku.

Walaupun merasa kurang enak karena sudah meninggalkan pekerjaan untuk orang, aku enggak berani membantah, aku ikut tuan kembali ke kamar.

"Mak... terima kasih makan malamnya..." Ucapku pada mak Surip, ketika tanpa sengaja kami berpapasan saat menuju lift untuk ke lantai atas.

"Iya, sama-sama neng Nurul... " Sahut mak Surip. Beliau melirik tuan yang menungguku di lift. Aku mengikuti arah lirikannya. Entah apa yang beliau pikirkan tentang aku sekarang.

"Maaf, saya belum membereskan meja makannya..." Ucapku merasa tidak enak. Ah, ternyata jiwa pelayan ini sudah merasuk ke dalam jiwa rupanya. Tidak membereskan meja makan saja sudah membuatku merasa bersalah begini...

"Ehem... " Terdengar suara tuan memberi isyarat agar aku segera masuk ke lift.

"Eh, iya... enggak apa-apa neng... itu sudah menjadi pekerjaan mak Surip... " Ucap mak Surip buru-buru, dan memberi isyarat agar aku segera menyusul tuan. Aku mengangguk pamitan sebelum setengah berlari masuk ke lift.

"Maaf, telah membuat tuan menunggu..." Ucapku sambil mengambil posisi sedikit dibelakang kursi roda tuan.

"Hem... " Jawaban andalan tuan terdengar. Selanjutnya kami terdiam hingga kami keluar lift dan masuk ke kamar.

Tuan langsung mendekat ke arah pembaringan. Berpindah ke kasur dan langsung berbaring.

"Tuan lelah... sudah mau tidur...?" Tanyaku basa-basi. Sebenarnya aku sedang bingung ini... Tuan Bagas ngantuk tinggal tidur semaunya, ini rumah dia... lah aku? Aku ini musti tidur di mana? Rumah ini baru untukku. Aku enggak tahu kamar mana yang bisa aku pakai... mau tidur di kamar inipun enggak bisa tidur begitu saja, kalau yang punya kamar belum tidur...

"Ya, aku lelah, tapi belum mau tidur... ada beberapa hal yang harus kita bicarakan..." Ucap tuan membuat hatiku mencelos. Padahal aku berharap tuan segera tidur supaya aku juga bisa menyusul tidur.

"Ya tuan... " Sahutku. Ucapanku terhenti saat terdengar suara ponsel tuan berbunyi. Aku celingukan mencari letak benda itu.

"Itu... " Ucap tuan sekaligus menyuruhku untuk mengambilnya. Aku melihat arah telunjuk tuan. Rupanya ponsel tuan ada di meja rias tadi. Aku segera beranjak untuk mengambilnya.

Ponsel itu sedang dalam posisi ter telungkup, jadi aku enggak bisa membaca nama penelpon nya. Sebenarnya aku ingin mengintip siapa yang menelpon tuan, tapi aku tahu, tuan sedang menatapku dan menunggu ponselnya, karena itu aku enggak berani walaupun hanya untuk membalikkan posisi ponsel, untuk sekedar mengintip nama yang tertera di layar ponsel itu.

"Ini tuan... " Ucapku dengan sikap hormat dan seolah tidak perduli siapa si penelpon, padahal ada juga rasa kepo itu... 😂

Tuan membaca nama si penelpon sebentar sebelum menggeser icon hijau itu.

"Hallo, assalamu'alaikum ... " Salam tuan.

📱"... "

Sambil mendengarkan ucapan si penelpon, tiba-tiba tuan menoleh kearahku. Aku yang tanpa sadar sejak tadi memperhatikan tuan seketika menunduk. Memperhatikan sprei kasur, berpura-pura seakan motif sprei kasur tuan lebih menarik dari yang punya... 🤪

"Ya.... "

📱".... "

"Ya, iya... besok agak sore aku ke sana... "

📱".... "

"Ya.... Waalaikum salam... "

Tuan langsung memutuskan pembicaraan telpon itu kemudian menoleh ke arahku. Aku tahu, karena selain 'SIBUK' memperhatikan sprei, setelah mendengar tuan menyampaikan salam penutup, aku mencuri pandang ke arah tuan.

"Kamu mau berdiri terus di situ... ?" Tanya tuan tiba-tiba mengejutkan ku.

"Hagh?" Aku spontan mengangkat wajah dan menatap tuan.

Kulihat tuan menepuk-nepuk kasur disebelahnya. Sesaat aku ragu... tuan minta aku duduk disampingnya?

"Sini... " Perintah tuan menegaskan. Perlahan aku mendekat dan duduk di kasur yang empuk itu dengan canggung.

"Aku tahu, pernikahan kita ini sangat mendadak dan kamu pasti merasa kaget dan canggung dengan hal itu. Jangan kamu kira, kamu sendiri yang merasakan hal itu... Aku juga perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ini..." Ucap tuan. Aku hanya bisa diam mendengarkan tanpa berani menyela ucapannya.

"Sebelum aku bicara lebih jauh... aku tanya sekali lagi, apakah kamu menyesal telah menikah denganku?" Tanya tuan lagi.

Sejenak aku terdiam menanyakan hal yang sama pada diri sendiri.

"Saya... saya tidak menyesal tuan... saya hanya merasa tidak pantas... " Jawabku akhirnya.

"Baguslah kalau begitu... jadi usaha kita sekarang adalah membuatmu agar pantas menjadi istriku... " Sahut tuan membuatku sedikit berpikir...

"Maksud tuan...?"

"Besok, kita diminta datang ke rumah utama... ibu bilang, mereka akan menyelenggarakan syukuran untuk pernikahan kita. Tidak secara besar-besaran, karena aku belum siap untuk menerima banyak tamu... "

Mendengar uraian itu tanpa sadar aku menatap tuan. Syukuran pernikahan...? Jadi ini serius nikah ya? Bukan cuma sekedar melegalkan pekerjaanku melayani tuan Bagas?

"Ini serius, tuan?" Tanya ku spontan.

"Apanya...?" Tuan balik bertanya.

"Tuan benar-benar serius mengambil saya jadi istri tuan?"

"Lah... kamu pikir aku tadi bersumpah di depan siapa mau main-main soal pernikahan?" Tuan balik bertanya lagi dengan nada seperti tersinggung. Reflex aku membungkuk, meraih tangan tuan dan menciumnya

"Maaf... sungguh saya mohon maaf tuan... saya tidak pernah berpikir seperti itu... saya hanya...." Aku tak tahu apa yang harus aku katakan.

"Maaf... " Ulang ku takut-takut sambil menatap tuan penuh permohonan.

.... ...

...👉bersambung👈...

.... ...

1
Evy
Karena sudah jadi Nyonya seharusnya tidak bekerja terlalu keras.boleh pembantu pelayan tapi sekedarnya saja..
Evy
panggilan kepada suami tu...ya rubah..kok masih panggil Tuan..
p
Luar biasa
p
Buruk
Rosdiana
Kecewa
R. Yani aja: ya gpp kalau enggak suka boleh di skip kok.
total 1 replies
Mmh Astri
semoga,👍👍👍👍💪💪💪💪👍🥰
Mmh Astri
semoga Husnul khotimah,Aamiin,.
Irra Ajahh
ketwa akutuh
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus sukses
fifid dwi ariani
trus sehat
fifid dwi ariani
trus semangat
fifid dwi ariani
trus ceria
fifid dwi ariani
trus bahagia
fifid dwi ariani
trus sabar
fifid dwi ariani
trus sehat
fifid dwi ariani
trus sukses
fifid dwi ariani
trus berkarya
fifid dwi ariani
trus ceria
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!