Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Antara Pilihan Dan Penawaran
Di dalam ruang kerja, Devan yang mendengar laporan dari pengawalnya langsung meletakkan gelas kristalnya di atas meja. Pria itu berdiri tegak, merapikan jasnya sejenak, lalu melangkah lebar keluar ruangan. Langkah kakinya yang mantap dan tegas bergema di sepanjang lorong mansion yang sunyi, menuju ke lantai atas.
Sementara itu, Kirana masih berdiri terpaku di depan pintu kamar dengan napas ditahan. Rasa cemas dan kebingungan bergulat sengit di dalam dadanya. Siapa sebenarnya sosok bernama Tuan Devan yang dipanggil dengan begitu hormat oleh para pria berbadan tegap ini?
Belum sempat Kirana mencerna situasinya, suara langkah kaki yang berat dari ujung lorong menarik perhatiannya. Dari balik bayang-bayang lampu temaram, muncul seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan aura dominan yang amat sangat menekan. Wajahnya yang tegas, rahang yang kokoh, dan tatapan mata tajam bagaikan elang membuat Kirana refleks menahan napas. Suasana di sekitar pria itu memancarkan kekuasaan mutlak yang sanggup membuat siapa saja bergidik gentar.
Devan menghentikan langkahnya tepat di hadapan Kirana. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam iris mata Kirana, meneliti raut wajah gadis itu yang kini tampak memucat karena terkejut.
Tanpa menguarkan sepatah kata pun, Devan mengulurkan tangannya yang kekar. Ia meraih pergelangan tangan Kirana dengan cengkeraman yang kuat namun terukur—tidak cukup sakit untuk melukai, namun terlalu kokoh untuk dilawan.
"Ikut aku masuk," ucap Devan dengan suara bernada rendah dan dingin.
Sebelum Kirana sempat memprotes atau melepaskan diri, Devan telah menarik gadis itu kembali ke dalam kamar tamu. Pria itu mendorong pintu kayu jati hingga tertutup rapat dengan dentuman halus, memotong akses dari dunia luar dan menyisakan mereka berdua di dalam ruangan yang luas itu.
Devan melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangan Kirana, lalu berbalik membelakangi pintu. Ia melipat kedua tangannya di dada, berdiri menjulang menatap gadis di hadapannya yang tampak begitu mungil dan tak berdaya.
"Sekarang," ujar Devan dengan tatapan mata yang tak teralihkan sedikit pun, "jelaskan padaku, siapa kau sebenarnya dan bagaimana bisa seorang gadis sepertimu tergeletak hampir mati di tengah badai salju?"
Kirana berdiri terpaku di hadapan Devan, mencoba meredakan detak jantungnya yang bergemuruh keras. Suasana ruangan yang hening membuat setiap hela napasnya terdengar begitu jelas. Di bawah tatapan mata Devan yang tajam dan tak mengelip, Kirana memberanikan diri untuk angkat bicara.
Dengan suara parau yang bergetar menahan gejolak emosi dan sisa-sisa trauma, Kirana menceritakan seluruh kepahitannya. Ia menyebutkan namanya—Kirana Husein—dan mengurai bagaimana hidupnya dihabiskan dalam pengasingan di sekolah asrama hingga menuntut ilmu di Australia. Ia menceritakan rasa bahagianya saat melangkah pulang, yang justru dihancurkan oleh pengkhianatan ayahnya, kehadiran ibu tiri serta adik tirinya, Nara Malan, yang merebut kamarnya. Puncaknya, bagaimana ayahnya merampas akses finansialnya dan mengusirnya tanpa belas kasihan ke dalam terpaan badai salju yang membeku.
Devan mendengarkan setiap detail cerita itu dalam diam. Raut wajahnya tetap datar bagaikan patung pahatan, namun di balik mata elangnya, ia terus menilai kejujuran gadis di hadapannya.
Setelah menyelesaikan penjelasannya, Kirana menundukkan kepala sejenak sebelum menatap Devan kembali dengan tatapan memelas penuh keharapan.
"Saya benar-benar tidak punya tempat untuk pulang, Tuan Devan... saya juga tidak punya uang sepeser pun," bisik Kirana, menyatukan kedua jemarinya yang gemetar. "Tolong... izinkan saya bekerja di sini. Baju, cuci piring, membersihkan mansion ini, apa saja... saya mau jadi pelayan di sini asalkan saya punya tempat berteduh."
Devan tidak langsung menjawab. Pria itu menyipitkan matanya, mengikis jarak di antara mereka dengan satu langkah perlahan hingga bayang-bayangnya menutupi tubuh Kirana yang mungil. Tatapan mata elangnya menyapu wajah polos Kirana, memancarkan aura dominasi yang tak terbantahkan.
Sebuah senyuman tipis yang sarat akan dominasi terukir di bibir Devan.
"Menjadi pelayan?" tanya Devan dengan suara bernada rendah yang dingin dan berwibawa. Ia menggelengkan kepalanya pelan. "Aku tidak butuh pelayan tambahan di mansion ini, Kirana."
Kirana menahan napasnya, rasa cemas kembali melilit dadanya.
Devan menundukkan sedikit tubuhnya, menyejajarkan pandangannya dengan mata Kirana yang berkaca-kaca, lalu melontarkan penawaran yang di luar dugaan.
"Jadilah istriku," tegas Devan tanpa keraguan sedikit pun dalam intonasinya. "Jika kau tidak mau... pintu keluar ada di depan. Kau bisa kembali ke jalanan dan membeku di bawah salju."