Sìang itu pesawat Bomber Martin B-10 Belanda terbang rendah di langit RANCAGAOK
BOOOOM!!!
Cahaya putih menyilaukan membelah malam. Tanah terlempar ke udara. Atap rumah Pak Lurah terangkat lalu hancur berkeping-keping.
"Turun!" teriak Bayu.
Semua menjatuhkan diri ke tanah. Debu dan pecahan bambu menghujani punggung mereka. Bau mesiu dan kayu terbakar memenuhi udara.
*TAT... TAT... TAT...*
Suara tembakan dari udara menyisir tanah. Peluru menancap ke batang pisang dan pematang sawah. Bayu menarik Astri ke bawah parit.
Bayu, Karta, Ningsih, Astri bertekad untuk merebut kampung halaman mereka dari tangan belanda hanya bermodal tekad berjuang dan senjata seadanya.
Kisah perjuangan anak muda melawan penjajah, semoga jadi pengibar semangat anak muda Indonesia" MERDEKA"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Galuh pravitasari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : MENUJU TEMPAT AMAN
"Semua barang berlebih tinggalkan. Cukup yang menutup badan dan obat-obatan."
Bayu berdiri di mulut gua, menatap satu per satu warga yang sedang berkemas. Suaranya tenang tapi tegas, tak memberi ruang untuk debat.
Bu Siti memeluk erat kendi tanah liat peninggalan ibunya, matanya berkaca-kaca. "Tapi ini satu-satunya kenangan yang tersisa, Nak..."
"Aku tahu harganya, Bu. Tapi kalau membawa ini malah membuat Ibu tertangkap atau terluka, arwah beliau pasti lebih sedih," jawab Bayu lembut.
Ia mendekat, lalu menepuk pelan sisi kendi itu.
"Simpan baik-baik di sini. Nanti saat kita kembali, kita ambil bersama-sama."
Perlahan Bu Siti mengangguk, meletakkan benda itu di sudut gua yang gelap dan terlindungi.
Karta membagi barisan perjalanan.
"Yang tua dan sakit di tengah. Anak-anak digendong atau diapit orang yang paling kuat. Aku duluan memeriksa jalan, Dul Kalong di kanan, Jaka Kelitik di kiri. Bayu bawa barisan paling belakang."
"Kenapa aku di belakang?" tanya Embek Gombloh sambil membenarkan ikatan kain penyangga luka di lengannya.
"Karena badanmu paling besar dan kuat. Kalau ada yang mengejar, kau yang paling dulu menghadang," jawab Karta jujur. Embek Gombloh hanya mengangguk mantap.
Mbah Kartareja memimpin di barisan paling depan, tongkatnya mengetuk tanah berirama pelan memberi aba-aba aman. Langkahnya lambat, setiap jengkal tanah diperhatikan baik-baik.
"Jangan menginjak daun kering yang menutup lubang. Jangan patahkan ranting sembarangan. Angin berhembus ke arah kita, suara langkah bisa terdengar dua kali lipat," pesannya tanpa menoleh.
Mereka bergerak perlahan masuk ke belukar tebal. Tak ada yang berbicara, hanya suara napas tertahan dan gesekan halus kain menyentuh dedaunan. Ningsih menggandeng tangan Astri erat sekali, keduanya sesekali saling tatap menguatkan hati.
"Kita berjalan ke mana sebenarnya?" bisik salah satu bapak tua, suaranya gemetar.
"Semakin dalam ke hutan, semakin jauh dari peradaban."
"Justru di situlah mereka tidak akan mencari. Mereka pikir kita akan lari ke jalan raya atau ke desa sebelah. Mereka tak menyangka kita masuk ke tempat yang mereka anggap tidak berpenghuni," jawab Bayu yang berjalan tak jauh di belakangnya.
Tiba-tiba Dul Kalong memberi isyarat berhenti. Semuanya langsung berjongkok serentak. Ia merangkak kembali mendekat.
"Di depan sana ada pos jaga darurat mereka. Tiga orang, memegang senapan panjang. Memantau persimpangan jalan," bisiknya nyaris tak bersuara.
Bayu melangkah maju menyusulnya, mengintip dari balik rumpun pisang liar. Benar saja, tiga prajurit Belanda sedang duduk santai merokok, sesekali memandangi peta sambil menunjuk ke arah hulu sungai.
"Kita tidak bisa lewat jalan utama itu," kata Karta sambil mengusap dagunya.
"Harus turun ke tebing sungai, memanjat bebatuan basah."
"Apakah aman buat yang tua dan anak-anak?" tanya Wadana Raksapati cemas.
"Berisiko terpeleset jatuh. Tapi risikonya lebih kecil daripada tertangkap hidup-hidup," jawab Mbah Kartareja pelan.
"Dulu aku sering lewat jalur itu saat mencari obat hutan. Terdapat akar pohon yang kuat untuk pegangan."
Satu per satu mereka turun perlahan. Air sungai yang dingin menusuk sampai ke tulang. Batu-batannya licin tertutup lumut. Embek Gombloh memanggulkan dua anak sekaligus di bahunya, langkahnya berat tapi kokoh. Pak Somad membantu menopangi pinggang nenek tua yang hampir terpeleset.
"Pegangan akar pohon mangga itu. Tekan sekuat tenaga, akarnya tembus sampai ke dasar tanah," arah Mbah Kartareja.
Sesampainya di seberang tebing, langkah mereka kembali terhenti. Kali ini terlihat bekas roda kendaraan besar menembus semak belukar. Tanahnya masih tertekan baru saja.
"Tank," gumam Bayu.
"Mereka bahkan membawa kendaraan berat masuk sampai sejauh ini."
"Artinya jalan di depan sudah mulai dibuka oleh mereka. Kita harus memutar jauh ke kiri, melewati semak berduri," kata Jaka Kelitik sambil menunjuk ke arah tembok tanaman rimbun.
"Pakaian kita robek, kulit kita terluka. Tidak apa-apa?" tanya Astri pelan.
"Lebih baik kulit tergores daripada tubuh ditembus peluru," jawab Karta sambil segera membelah jalan di depan.
Duri-duri tajam menyayat lengan dan pipi. Darah menetes perlahan bercampur keringat, tapi tak ada satu pun yang mengeluh. Mereka terus merangkak melewati lorong sempit itu satu demi satu.
Bayu berhenti sejenak saat melihat sepasang sepatu bot besar berhenti tak jauh dari tempat persembunyiannya. Jantungnya nyaris berhenti berdetak. Ia memberi isyarat diam mutlak.
"Pasti mereka lari ke arah selatan. Percuma kita cari sampai ke hulu," terdengar suara kasar berbicara dalam bahasa Belanda.
"Komandan menyuruh periksa semuanya. Kalau sampai lolos ke kota besar, berita kekalahan kita akan menyebar cepat," sahut suara lain.
Langkah kaki perlahan menjauh. Hening kembali menyelimuti sampai tak terdengar apa-apa lagi. Baru saat itulah mereka berani mengeluarkan napas panjang serentak.
"Kita semakin dekat, tapi bahayanya juga makin besar," ucap Wadana Raksapati.
"Matahari akan terbenam satu jam lagi. Sebelum gelap total kita harus sampai di gua perlindungan kedua."
Mereka mempercepat langkah sebisa mungkin tanpa menimbulkan suara. Kaki yang lecet terasa makin menyakitkan setiap kali menginjak tanah kasar, tapi semangat tak pernah padam. Demang terus membisikkan doa pelan di setiap langkah, menguatkan hati siapa saja yang mendengarnya.
Akhirnya, saat cahaya jingga mulai memudar diganti ungu gelap, terlihatlah mulut gua yang lebih dalam dan tersembunyi di balik air terjun kecil. Mbah Kartareja tersenyum lega.
"Inilah tempatnya. Air terjun menutupi jejak bau dan suara kita. Tak ada hewan buas yang berani masuk ke sini," katanya.
Mereka masuk satu per satu dengan hati-hati. Bagian dalamnya luas, kering, dan terdapat mata air segar yang mengalir tenang di sudutnya. Semua langsung duduk berjejer rapat, mengusap wajah lelah, merawat luka satu sama lain.
Bayu berdiri di celah batu yang bisa melihat ke luar, memastikan tak ada yang mengikuti. Karta menghampirinya, berdiri tepat di sebelahnya seperti biasa.
"Kita berhasil membawa semuanya selamat sejauh ini," ujar Karta pelan.
"Belum selesai. Hanya baru sampai tempat berlindung," jawab Bayu tenang. Ia menatap bayangan warga yang mulai tenang di belakangnya.
"Tapi ya, setidaknya hari ini nyawa mereka aman."
"Kau hebat, Yu. Kau tak panik walau jalannya terus tertutup," puji Karta tulus.
"Bukan aku yang hebat. Kalau saja tidak ada kalian semua yang saling bantu mengangkat dan menopang, tak akan sampai di sini," balas Bayu menepuk bahu sahabatnya.
Di tempat gelap itu, jauh dari segala keramaian dan kehancuran, mereka akhirnya bisa beristirahat sejenak. Badan memang lelah luar biasa, tapi hati perlahan merasa tenang kembali. Mereka tahu perjuangan belum usai, tapi hari ini satu hal yang pasti: selama berjalan bersama, tak ada jalan yang tak bisa ditembus.