Apa jadinya kalau seorang cowok korea nyasar di Jakarta dan bertemu dengan seorang gadis nomanden yang baru ditinggal bangkrut orangtuanya?
Demi menghilangkan rasa depresi akibat kematian orangtuanya, Lee Seo Jun merencanakan liburan ke Jakarta dengan berbekal kenalan dari sepupunya. Apesnya ketika sampai di bandara, ia tak kunjung dijemput oleh tour guide dan harus berurusan dengan seorang gadis manja yang menempel terus padanya. Liburan yang direncanakan itu nyatanya berjalan kacau, hingga ia bertemu Amanda Salim, driver online yang mengantarnya keliling ibu kota.
Pengalaman apa yang mereka alami bersama? Akankah keduanya akan jatuh cinta jika masa lalu mereka terkuak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chantie lee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17 DI MANA ADA KAMU, DI SITU ADA AKU!
Manda menatap punggung kekar Oppa dalam balutan jaket itu dengan tatapan bersalah. Gara-gara tidak kuat makan pedas, Manda memesan ulang seporsi biasa dan minta porsi yang tidak jadi dimakan Seo Jun itu dibungkus saja. Ia tidak rela membiarkan makanan dibuang, mubajir rasanya apalagi untuk makan saja ia sempat susah dan harus kencangkan ikat pinggang.
“Makasih ya Mbak, mampir lagi.” Ujar si Mas penjual yang merasa senang diborong, padahal ia tahu tadi sempat ada drama kepedasan dan bibir bengkak.
Manda hanya mengangguk dan senyum sembari melangkah pergi, menyusul Seo Jun yang gontai menuju mobil. Perasaan Manda kian ditimpa rasa bersalah, tidak enak dan sungkan tapi tidak tahu harus bagaimana menebus kesalahan itu.
“I’m Sorry ....” Manda mengucapkannya dengan lirih, ia sungguh menyesal apalagi melihat bibir Seo Jun yang masih bengkak.
Seo Jun diam, apa yang harus disalahkan? Gadis itu juga tidak tahu kalau ia tidak tahan pedas meskipun doyan. Seo Jun meminta ponsel untuk bicara, “Ya, tapi bibirku masih bengkak.” Keluhnya dan mulai sulit bicara dengan jelas akibat bibir yang menjendul.
“Kita ke apotik saja, beli obat.” Ujar Manda menawarkan solusi.
Seo Jun menggeleng, ia merebut ponsel lalu bicara. “Tidak, tidak perlu ... carikan aku es batu buat kompres.”
Manda yang bingung sekarang, di mana membeli es batu dan alat untuk kompres. Mereka harus ke supermarket dulu buat beli kantong kompres? “Kalo gitu kita mampir ke supermarket bentar, aku nggak punya alat kompres.”
“Sekalian beli beberapa cemilan, mie instan, aku sering kelaparan pas tengah malam.” Perintah Seo Jun.
“Oke.” Ujar Manda singkat. Ia tidak berpikir panjang bahwa permintaan itu terdengar seperti todongan.
Sesampai di sebuah minimarket di pinggir jalan, Manda memarkirkan di halaman yang kebetulan tengah kosong. Sebelum turun ia baru teringat nyaris melewatkan satu hal, “Bos, mana uangnya buat beli?” Akhirnya manda menyadari bahwa ia hampir saja membeli barang dengan tangan kosong.
“Loh, bukannya kamu habis gajian? Aku belum ditraktir loh.” Ujar Seo Jun seenaknya, bibir bengkaknya tersenyum hingga terkesan mengerikan.
Manda mengernyit, apa uang yang ia dapatkan itu uang panas sehingga mudah sekali digelontorkan? Baru saja ia dapat bayaran yang harus dipotong dengan jumlah yang lumayan, ditambah sekarang bosnya menodong traktiran? Amazing Manda, you are so amazing. Keluh Manda dalam hati.
“Ya udahlah!” Jawab Manda sewot, enggan adu mulut lagi. Anggap saja ini harga dari sebuah ganti rugi atas bengkaknya bibir pria itu.
Seo Jun tersenyum diam, ia sebenarnya hanya ingin menggoda gadis itu tetap malah ditanggapi serius. Jika sudah demikian, Seo Jun memilih mengikuti arus permainan sejauh mana gadis itu bertingkah nurut.
“Loh, nggak turun?” Tanya Manda ketika melihat Soe Jun tetap duduk diam dengan sabuk yang masih terpasang kencang.
Seo Jun memonyongkan bibirnya yang menggelikan, cukup dengan bertingkah begitu saja sudah sangat membuat Manda ilfeel. Gadis itu paham, pria itu tentu tidak mau terlihat dalam kondisi memalukan seperti ini. Ia melenggang pergi tanpa sepatah katapun.
Hampir setengah jam terhitung sejak Manda masuk ke dalam toko, gadis itu belum kembali juga. Seo Jun mulai gusar, belanja apa yang membuat gadis itu begitu tersita perhatiannya? Apa Seo Jun harus menyusul? Pria itu melihat pantulannya dari kaca spion, bibirnya masih bengkak mengerikan. Ia tidak punya masker untuk menutupinya, suatu keputusan yang rumit antara harus menanggalkan gengsi, menahan rasa malu dan turun menyusul atau tetap berdiam di sini menunggu dia kembali.
“Ah, biarin saja ntar juga kembali.” Ujar Seo Jun meyakinkan dirinya sendiri dengan tetap pada keputusan diam menunggu.
Tapi detik yang berlalu terus membuatnya gusar, ini sudah keterlaluan lamanya. Apa yang gadis itu lakukan? Seo Jun tak berpikir panjang lagi, ia bergegas melepas sabuk pengaman untuk menyusul Manda. Ia mengunci mobil lalu berjalan menuju pintu minimarket, tak menggubris tatapan pengunjung yang baru saja memarkirkan motornya dan meliriknya dengan tatapan jijik.
Langkahnya belum sampai di depan pintu, namun Manda terlihat keluar dari balik pintu kaca itu. Gadis itu menenteng belanjaan yang banyak hingga kerepotan membawa, Seo Jun dengan gesit meraih separuh kantong belanjaan gadis itu sampai-sampai Manda terkejut dan terharu mendapat perhatian yang begitu gentle dari seorang pria.
“Kenapa kamu keluar?” ujar Manda, tapi sayang dengan bahasa yang tidak pria itu mengerti tentunya. Ponsel tertinggal di mobil, tidak ada alat bantu buat mereka.
Manda menatap Seo Jun yang menenteng belanjaan dan tersenyum senang, dalam hatinya mulai mengumpulkan kebaikan pria itu agar layak disebut pria yang baik. Sayangnya, image baik itu hanya bertahan satu menit, saat ia melihat tindakan lebay si Oppa, kekagumannya menghilang total. Seo Jun mengambi alih separuh kantong belanjaan itu bukan untuk meringankan jinjingan Manda tapi untuk menutupi aibnya. Bermodal kantong besar itu dijadikan pengganti masker untuk menutupi bibirnya.
“Ngapain aja kamu lama banget belanjanya?” Pekik Seo Jun setelah menahan sekian menit sampai berhasil kembali ke mobil bersama Manda lalu mengomeli gadis itu via bantuan ponsel. Uneg-unegnya yang dibiarkan menunggu sekian lama itu segera tersalurkan.
Manda nyengir, sudah jelas ia sempat bingung mencarikan cemilan untuk pria itu malah ia yang jadi sasaran kemarahan. “Kamu minta cemilan, aku mana tahu kamu suka apa? Alergi apa? Udah gitu ponsel nggak ada, masa aku harus bolak balik buat tanyain kamu! Kalau tahu kamu bakal turun, ya mending dari awal aja ikut belanja biar
kamu milih sendiri mana yang kamu mau! Ngapain harus repotin aku, bukannya makasih eh dimarahin,” Jawab Manda sewot.
“Ng, sorry...” Seo Jun jadi tidak enak, ia salah sangka pada gadis itu. Sebuah kata maaf yang baru terlontar, mengalahkan keangkuhannya, itu karena ia takut membuat gadis itu marah dan pergi darinya.
Mendengar permintaan maaf yang lemah itu, Manda tentu trenyuh. Bagaimana pun pria itu bosnya, selama ia masih bekerja dan menerima uang darinya, Manda tidak boleh seenaknya. “Jadi, bos mau kemana lagi sekarang?”
Deg! Seo Jun yang malah bingung, ia sendiri belum tahu harus kemana lagi sekarang. Jam digital di mobil sudah menunjukkan pukul 9 malam, tempat rekreasi pun pasti sudah tutup. Rencana melancong harus dilanjutkan besok, tapi sekarang ia harus bermalam di mana? Hari yang panjang dan penuh drama ini membuatnya lupa tempat berteduh selama liburan di Jakarta.
“Ke rumahmu saja, aku ikut tinggal denganmu sementara.” Ujar Seo Jun santai.
Manda melongo, permintaan itu terlampau tak masuk akal. Dia sendiri sudah jadi tuna wisma, dengan percaya diri tinggi pria yang sanggup menggajinya dua puluh juta sehari ingin menebeng tinggal dengannya? Mau tidur di mana? Di jalanan?
“Di mana ada kamu, di situ ada aku!” Timpal Seo Jun, belum juga Manda merespon, ia sudah makin menjadi-jadi dengan khayalannya.
***
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu