NovelToon NovelToon
DI BALIK TOPENG KEBENARAN

DI BALIK TOPENG KEBENARAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Peran wanita dan peran pria sama-sama hebat / Misteri Kasus yang Tak Terpecahkan
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Yeni Sri Wahyuni

Alina: "Kenapa kamu kembali, Arka? Untuk menghancurkanku?"

Arka: "Aku datang untuk menghancurkanmu... tapi malah jatuh cinta."

Farhan: "Kalau begitu pergilah. Karena aku tidak akan membiarkanmu menyakitinya."

CINTA DAN DENDAM

Sepuluh tahun lalu, Alina menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri, Raka. Tanpa ia sadari, semua perhatian dan cinta yang diberikan Raka hanyalah topeng. Di balik senyumnya, tersimpan rencana keji untuk menghancurkan hidup Alina dan ayahnya demi membalaskan dendam keluarganya.

Tepat sepuluh hari menjelang pernikahan Alina dengan Farhan, Raka dengan identitas baru sebagai Arka. Di balik topeng pria yang tampak baik, berwibawa, dan penuh pesona, tersimpan dendam yang siap menghancurkan kebahagiaan Alina.

Namun, semakin dekat dengan Alina, hati Arka justru goyah. Dendam yang ia pelihara selama sepuluh tahun perlahan berubah menjadi cinta dan obsesi untuk memiliki wanita itu, meski harus merebutnya dari pelukan Farhan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yeni Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 26 : SUARA YANG SUDAH TERLALU LAMA DIKUNCI

...BAB 26...

...SUARA YANG SUDAH TERLALU LAMA DIKUNCI...

Malam itu hujan turun rintik‑rintik halus membasahi atap rumah papan sederhana di ujung desa, hampir satu jam perjalanan dari pusat kota. Di dalamnya, Bu Siti duduk kaku di kursi kayu, tangannya mengepal erat di atas kain sarung lusuh. Di hadapannya berdiri Alina dan Farhan, bahunya sedikit basah kuyup, tidak membawa senjata maupun surat perintah, hanya selembar foto kuning usang yang sudah memudar pinggirannya. Hampir dua puluh tahun lamanya wanita paruh baya ini menjadi saksi bisu segalanya. Dulu ia staf administrasi setia Haris Wijaya—bapak kandung Raka, lalu setelah Haris tiada mendekam lama di penjara, ia tetap tinggal membantu Raka yang saat itu masih remaja. Dulu, Ia sering melihat dari dekat bagaimana persahabatan dua orang sahabat berubah menjadi dendam mematikan, dan bagaimana semua kebahagiaan keluarga Alina diruntuhkan perlahan dengan tangan dingin. Selama lima tahun terakhir ia diam membisu, karena Raka pernah berbisik dingin tepat di telinganya.

“Kamu terima uang ini, pindah jauh, tutup mulut selamanya. Satu kata saja bocor, anak bungsu laki‑lakimu yang baru duduk di bangku SMP itu tidak akan pulang sekolah dengan selamat.”

Sejak hari itu ia mengunci segala yang diketahuinya rapat‑rapat di dalam hati. Tapi rasa bersalah tidak pernah pergi. Setiap malam ia tidur dengan dada terasa ditindih batu raksasa, seolah ia ikut memegang pisau yang menusuk dari belakang.

“Kami tidak datang memaksa, Bu,” ucap Alina pelan, lembut tapi tegas, sambil meletakkan foto itu perlahan di meja. Di foto tampak dua orang pria tersenyum akrab bergandengan bahu. Pak Aditya yang masih muda tegap, dan Haris Wijaya, Ayahnya Raka. Dulu semua orang menganggap mereka persahabatan sehidup semati.

“Kami cuma mau menyampaikan satu hal. Bapak Aditya masih hidup.”

Tubuh Bu Siti tersentak hebat. Matanya membesar menatap foto itu.

“Tidak mungkin… Raka bilang Bapak Aditya sudah lama tiada karena sakit parah. Dan soal Bapak Haris… Raka selalu bilang dialah yang dikhianati,” jawabnya parau, suaranya bergetar hebat.

“Dulu memang semua orang mengira mereka sahabat sejati,” potong Farhan pelan dari dekat pintu, matanya mengawasi sekitar dengan tenang. “Ternyata dari awal Haris sudah menyimpan niat jahat terselubung. Dia memanfaatkan kepercayaan Pak Aditya untuk mengalihkan aset, memalsukan tanda tangan, hingga akhirnya semuanya terbongkar. Haris dijatuhi hukuman berat, lalu ia meninggal membusuk sendirian di dalam sel penjara, tanpa ada yang menjenguk. Sejak hari itulah Raka remaja bertekad bulat. dia menyalahkan Pak Aditya seratus persen atas kematian bapaknya, dan dia akan membalas dendam sebesar‑besarnya, menghancurkan seluruh keluarga Aditya sampai tak ada yang tersisa, pelan‑pelan dan menyakitkan.”

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Bu Siti. Ia menggigit bibir bawahnya keras‑keras, berusaha menahan tangis. Ia tahu persis setiap kata itu benar, karena ia ada di sana saat semuanya terjadi.

“Pergi saja… saya tidak tahu apa‑apa,” katanya sambil memalingkan wajah, suaranya mulai pecah. “Saya cuma ibu rumah tangga biasa.”

Alina mengeluarkan ponselnya, menekan satu nomor, dan tak lama kemudian terdengar suara dari seberang sana, sangat lemah, parau, diselingi batuk pendek berulang kali, suara orang yang setiap detiknya pun harus berjuang keras hanya sekadar bernapas. Itu Pak Aditya, berbicara dari atas kasurnya yang selalu beraroma obat, terbaring lemah tak berdaya sepuluh kilometer dari tempat itu, sama sekali tidak sanggup bangun apalagi berjalan jauh.

[“Bu Siti… apa kabar, Bu?”] sapanya pelan sekali, lalu terbatuk panjang sampai suaranya putus‑putus. [“Saya Aditya. Maaf… badan ini tidak izinkan saya datang sendiri. Bahkan untuk duduk tegak saja lima menit, rasanya seluruh dada ini diremas‑remas terus. Saya ingat betul hari itu… hari yang sudah kami tunggu beberapa bulan lamanya, hari pernikahan putriku, Alina. Pagi‑pagi sekali kami sudah bersiap‑siap dengan gembira. Tapi tiba‑tiba saja datang panggilan mendadak dari kantor hukum, menyuruh Alina hadir segera ke ruang sidang besar. Saya berniat sekali ikut mendampingi, tapi tepat saat mau berangkat… dada saya mendadak terasa kencang sekali, napas terputus, badan lemas tak bertenaga sampai jatuh kembali ke kasur. Akhirnya cuma Bu Kirana, Farhan, dan Alina saja yang berangkat. Saya cuma bisa berdoa dari tempat tidur, sama sekali tidak menduga… bahwa di balik dinding sidang itu, sudah menunggu jebakan paling sempurna yang sudah disusun rapi oleh anak manusia.”]

Ia berhenti sebentar, mengatur napas, mengumpulkan sisa tenaga sedikit demi sedikit, lalu melanjutkan dengan nada makin pelan namun menusuk tepat ke hati pendengarnya.

[“Bu Siti tahu kan, persidangan pagi itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan perselisihan saya dan mendiang Haris bertahun silam. Tidak ada bahas soal aset lama, tidak ada bahas soal perkara pengadilan zaman dulu. Tuduhan yang dilontarkan ke Alina murni hal‑hal yang sama sekali tidak pernah dia lakukan, ada data aneh terkunci rapat di sistem, jejak pengalihan dana klien ke rekening tidak jelas, berkas‑berkas perkara penting isinya diubah, tanda tangannya dibuat mirip sekali, sampai catatan akses sistem yang menunjukkan dia sering membuka berkas terlarang di jam‑jam tidak wajar berbulan‑bulan lamanya. Lalu satu per satu orang maju bersaksi, tukang parkir, mantan staf, orang yang mengaku kenalan lama… semuanya bicara beriringan seolah mereka melihat sendiri semuanya. Sampai akhirnya Ketua Sidang memukul palu. Izin praktik hukum Alina dicabut sementara, dia ditetapkan sebagai tersangka utama, dan nama baik yang dia jaga mati‑matian belasan tahun… hancur lebur hanya dalam hitungan jam.”]

Di saat itu juga bahu Bu Siti terguncang hebat. Air matanya akhirnya tumpah deras tanpa bisa ditahan lagi. Dialah yang berkali‑kali tanpa sengaja melihat Raka—yang saat itu sudah dikenal semua orang dengan nama Arka—duduk berjam‑jam di depan komputer, mengutak‑atik angka dan berkas dari jarak jauh lewat akses belakang yang dia bobol diam‑diam. Dialah yang mendengar Raka berlatih melatih saksi‑saksi bayaran di ruang tertutup, mengajari mereka bicara sampai ke hentakan napasnya sekalipun. Dialah yang tahu betul, semua bukti yang ditayangkan besar‑besaran di layar ruang sidang itu, semuanya dia buat sendiri berbulan lamanya, dan dia sengaja mengatur waktunya persis di hari pernikahan, supaya lukanya terasa berkali‑kali lipat lebih dalam.

Dan dialah juga yang tahu satu hal lagi yang paling mengerikan, rasa sakit dada hebat yang menyerang Pak Aditya secara mendadak pagi itu, bukan datang begitu saja.

[“Dia berikan racun itu sedikit demi sedikit, diam‑diam, setiap ada kesempatan,”] lanjut Pak Aditya lagi, suaranya makin lemah. [“Masuk sebagai klien baru Alina, bersikap sopan, baik hati, selalu siap membantu, sampai kami semua menganggap dia seperti anak sendiri. Dia sering bawa makanan, sering isi ulang gelas minum saya, tidak ada yang curiga sedikit pun. Hari‑hari menjelang pernikahan takarannya ditambah pelan‑pelan. Makanya pagi itu saat mau berangkat ke sidang… badan saya langsung lumpuh total. Dia sengaja buat saya sakit mendadak, supaya saya tidak ada di sana saat dia hancurkan masa depan putri saya. Dia mau kami berdua sama‑sama jatuh di hari yang sama, saya jatuh sakit nyaris mati, Alina jatuh hancur nama baik dan masa depannya. Semua itu dia lakukan, karena di hatinya yang paling dalam… dia masih menyalahkan saya, karena bapaknya Haris mati membusuk sendirian di penjara.”]

Itulah kalimat yang akhirnya meruntuhkan seluruh tembok pertahanan hati Bu Siti yang sudah dibangun bertahun‑tahun lamanya. Ia menutup wajah dengan kedua telapak tangan, lalu menangis tersedu‑sedu seolah baru hari ini ia melepaskan seluruh beban yang membebaninya siang malam.

Bersambung....

1
Kam1la
cepet amat kak, alurnya. kesehatan Alina sendiri bagaimana? semoga cepat pulih
Kam1la
Sari tidak punya perasaan
Kam1la
pasti ada jalan keluarnya
Kam1la
malah sakit yang kerepotan sendiri , mama Sari kemana ?
Kam1la
ya Allah, ada apa dengan Alina...semoga tidak serius lukanya
Kam1la
keren.... akhirnya Mama Sari sadar juga...
Kam1la
untung saja, Nisa ketahuan kalau tidak bakal sembunyi terus🤭
Kam1la
kalau Alina bekerja lagi dan kaya. pasti Sari gk ngejek
Kam1la
kalau ditinggal beneran, baru tahu rasa Farhan...🤭
Kam1la
jangan2 akal -akalan Sari...
Kam1la
alhamdulillah...sudah lahir anak cewek. siapa nama bayinya ....
Kam1la
nah kan, Farhan bakal kena akibatnya
Kam1la
Alina yg kuat ya....mending di rumah sendiri saja, cari pembantu....🤭
Kam1la
syukurlah...hamil juga. selamat ya Alina...😍
Kam1la
semoga saja dikemudian waktu Laila bisa terbuka sama Fikri, biar Alina bisa tenang.
Kam1la
Laila punya banyak rencana, tapi Alina punya seribu cara untuk menangkisnya
Kam1la
nah ...kan, Farhan mulai bercanda nya kelewatan...jangan-jangan dia juga berencana poligami
Kam1la
greget sama Laila.... Farhan kira - kira bagaimana ya hatinya? kan dia begitu mengagumi Laila
Kam1la
rencana apa yang disusun Laila?
Kam1la
aku takut, jika setiap hal Farhan ingat Laila, justru jatuh cinta padanya...😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!